
Sepanjang jalan David dan Aldo tampak mengobrol dengan santai, wajah keduanya sudah kembali normal seperti sedia kala. Tak ada lagi raut wajah panik dan cemas, kini yang ada hanya rasa lega yang terpancar dari keduanya.
Sesekali terdengar tawa dari keduanya, keduanya berjalan beriringan dengan wajah tampan dan gagah. memiliki tinggi badan yang sama membuat keduanya terus menerus di lirik oleh para wanita dan juga suster-suster di situ.
" Do, berarti Javanka tidak boleh keluar sama sekali dong? tanya David tiba-tiba membahas tentang Javanka.
" Tidak juga, nona masih bisa keluar jalan-jalan. Namun harus ada batasannya. jawab Aldo sambil memencet tombol lift, keduanya pun masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka.
" Lalu bagaimana cara nya agar kita tahu kalau tiba-tiba Javanka merasa lelah? tanya David yang ikut masuk ke dalam lift, wajahnya tampak serius memandangi Aldo. " Mengingat sifat Javanka yang seperti itu. sambung David, dia tahu betul jika Javanka adalah tipe anak yang selalu memikirkan perasaan orang lain terlebih dulu ketimbang perasaannya sendiri.
" Apakah kau tahu proyek apa yang sedang aku, tuan muda dan juga Caca sedang kerjakan akhir-akhir ini? bukannya menjawab Aldo malah balik bertanya pada David.
David pun hanya menaikkan sebelah alisnya dan mengangkat bahunya tanda dia tidak mengetahuinya.
" Sebenarnya ini adalah ide dari tuan muda, aku dan Caca hanya tinggal mengerjakan tugas yang di perintahkan oleh tuan muda saja. Tuan muda sedang menciptakan semacam alat yang bisa mengetahui temperatur suhu tubuh dan detak jantung. kata Aldo dengan wajah serius.
" Lalu apakah alatnya sudah berhasil di ciptakan? tanya David sedikit berteriak karena penasaran.
" Hey brengsek, Kecilkan suaramu. Kalau sampai proyek ini bocor di pastikan akan gagal. ucap Aldo kesal sambil menendang kaki panjang milik David.
" Sorry, sorry. Aku melepaskan. kata David meminta maaf pada Aldo sambil mengerenyitkan kening menahan rasa sakit.
Aldo hanya menghela nafasnya panjang.
" Lalu bagaimana hasilnya? tanya David lagi, namun kini suaranya sudah dia kecilkan.
__ADS_1
" Sudah kami coba, dan hasilnya berjalan sesuai dengan rencana kita. jawab Aldo lalu masuk ke dalam ruangan nonanya.
Ketika pintu di buka ruangan itu tampak begitu kosong, tempat tidur nya pun tak ada. Aldo dan David pun saling berpandangan, mereka pun buru-buru keluar dari ruangan itu, karena mereka berpikir mereka salah masuk ruangan.
" Ini benar ruangan nya, lalu kemana perginya Alex dan juga Javanka. ucap David bingung, dia pun celingak-celinguk melihat ke arah sekelilingnya.
Sementara Aldo hanya terbengong bengong menatap ruangan yang kosong melompong, David pun langsung menarik Aldo kala melihat seorang perawat yang membawa ranjang pasien yang kosong.
" Sus, kemana pasien yang ada di ruang ACU itu. tanya David setelah berada di hadapan sang suster sambil menunjuk ruangan yang di pakai oleh Javanka selama koma.
" Ohhhhhh..... nona Javanka yah, nona Javanka baru saja di pindahkan ke ruang rawat di lantai paling atas. Karena beliau menangis meminta pulang, tuan muda dan dokter Herman tidak mengizinkan nya karena nona baru saja siuman. jawab sang suster dengan sopan.
" Kalau begitu terima kasih yah sus. ucap David lalu menyeret Aldo menuju ke ruangan Javanka.
Sesampainya di sana, Alex sedang berusaha menenangkan putrinya yang tengah menangis meminta-minta pulang. Sementara Caca hanya berdiri di samping Alex, wajahnya terlihat bingung harus berbuat apa agar Javanka berhenti menangis.
" Avan mau pulang. jawab Caca dengan gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara.
David pun mengangguk mengerti, lalu dia pun mencuci tangan terlebih dulu. Baru dia berjalan mendekati Javanka.
" Sayang sudah yah nangisnya, kan capek nangis terus. Kamu juga kan masih belum sembuh nak, kalau kamu sudah sembuh kamu pasti akan pulang kok. ucap David dengan lembut pada keponakan kesayangannya itu.
" Ta tapi Avan enda mau di cini. jawab Javanka dengan sesenggukan, hidung dan pipinya bahwa sudah memerah karena terlalu lama menangis.
" Iya uncle ngerti, tapi kan kamu harus dengerin apa kata dokter juga nak. kata David sambil menggendong Javanka dengan hangat.
__ADS_1
Alex yang sudah sedari tadi kewalahan hanya bisa memperhatikan putrinya, yang sedang ada dalam gendongan David.
David pun terus berusaha untuk membujuk dan menenangkan Javanka, hingga beberapa saat lamanya akhirnya gadis kecil itu pun tertidur pulas karena terlalu banyak menangis.
Dengan lembut David meletakkan Javanka di tempat tidur, sementara Alex beralih duduk di sofa bersama dengan Caca dan juga Aldo. Setelah menyelimuti tubuh mungil Javanka, David pun ikut bergabung dengan ketiganya.
" Lex, benar yang di katakan oleh Aldo kau sedang menciptakan alat yang memudahkan kita mengetahui jika Javanka sedang merasa lelah? tanya David lalu ikut duduk di samping Aldo.
" Iya, aku sengaja membuatnya untuk putriku. Tapi karena alatnya berjalan sukses, Caca ingin aku meluncur alat ini, agar bisa di jual untuk di pakai oleh masyarakat umum. jawab Alex santai sambil membuka bekal makanan yang di bawakan oleh pak Rudi.
" Wahhhhhh........ bagus itu Lex, itu bisa di sebut alat yang bekerja dalam bidang ilmu kedokteran yah. kata David dengan semangat.
" Iya bisa di bilang begitu, tapi aku masih bingung harus membuat alat itu menjadi benda apa yah? yang bisa di pakai kemana saja tanpa membebani orang yang memakai nya. ucap Alex sambil berpikir.
" Bagaimana kalau cincin? ucap Caca memberikan ide.
" Kalau cincin, komponen dalam alat itu tidak akan cukup. Nanti yang ada alat itu akan gagal, dan menyebabkan kesalahan yang fatal untuk si pengguna. jawab Alex sambil menghela nafasnya.
" Kalau berupa gelang yang tipis gimana? tanya Aldo pada tuan mudanya.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐