
Sudah beberapa jam lamanya menunggu Alex dengan setia duduk di depan ruang operasi tentunya di temani sekertaris Aldo dan pak Rudi, sementara David pamit untuk mengurus kasus Javanka menggantikan sekertaris Aldo.
Dengan wajah lelah Alex terus berusaha untuk tetap tenang dan berpikir bahwa putrinya akan baik-baik saja.
Tak berselang lama Caca keluar dari ruang operasi beserta dokter yang membantunya, Alex yang melihat itu langsung bangkit dan berjalan menghampiri Caca.
" Tenanglah Avan kita selamat, operasinya berjalan lancar. ucap Caca sambil tersenyum pada Alex yang sudah ada di hadapannya.
Sekertaris Aldo dan pak Rudi pun akhirnya bernafas lega, karena nona yang mereka amat sayangi selamat.
" Makasih, Terima kasih sudah berusaha untuk menyelamatkan putriku. ucap Alex pada Caca sambil berlinang air matanya.
Caca hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Alex, dia pun melepaskan pakaian operasinya lalu mengelap keringatnya yang bercucuran.
Melihat Alex yang diam saja sambil menatap putrinya yang terbaring tak sadarkan diri di balik pintu, Caca pun menepuk pelan pundak Alex.
" Masuklah, temui putrimu kau pasti sangat cemas. ucap Caca seakan-akan mengerti dan tahu perasaan yang sedang Alex rasakan saat ini.
Mendengar ucapan Caca Alex pun dengan sumringah masuk kedalam ruangan putrinya, sekertaris Aldo pun mengikutinya dari belakang.
" Eeeeeeeehhhhh........ kau mau kemana? tanya Caca pada sekertaris Aldo yang sudah ingin ikut masuk.
" Masuklah, mau melihat nona. jawab sekertaris Aldo enteng.
__ADS_1
" Tidak usah, lebih baik kau ikut aku untuk mengurus ruang rawat Avan. Karena setelah dua atau tiga jam lagi obat bius nya habis dan harus di pindahkan ke ruang rawat. ucap Caca lalu menarik tangan sekertaris Aldo dan paksa agar mengikuti nya.
Dengan patuh sekertaris Aldo pun mengikuti sahabat nya itu, sedangkan pak Rudi hanya mengikuti di belakang sambil mempersiapkan apa saja yang ada butuhkan tuan muda dan nonanya.
Sementara itu di ruang operasi Alex hanya duduk diam sambil menggenggam erat tangan kecil milik putri tercintanya, pandangannya terus tertuju pada sosok gadis kecil yang terbaring. Seakan dia tidak ingin kecolongan lagi.
" Sayang, ini papah nak. Maafkan papahmu ini sayang, papah gagal melindungi mu nak. Mungkin kata maaf pun masih kurang karena kesalahan papah yang terlah Lalay melindungi mu nak, pasti saat itu kamu sangat ketakutan. Maafkan papah nak, tolong jangan benci dan tinggalkan papah lagi sayang. ucap Alex pada putri semata wayangnya, saat ini tidak ada lagi sosok Alex yang galak dan angguk itu sekarang dia hanya terlihat seperti pria yang menangis di hadapan putrinya yang terbaring sambil memegang tangan kecil itu.
Alex terus mengatakan maaf pada putrinya, sesekali dia menciumi tangan mungil itu yang sedang di genggaman olehnya.
Setelah puas menangis tanpa sadar Alex pun terlelap di samping putrinya dengan masih menggenggam tangan kecil javanka dengan erat.
Tampak jelas terlihat raut wajah lelah Alex, sudah enam hari terakhir dia tidak bisa tidur dan makan dengan teratur karena terus menerus mencari keberadaan putrinya.
Tak berselang lama Caca pun masuk ke dalam ruangan itu, melihat pemandangan di depannya tanpa sadar sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman kecil.
Kau pasti lelah yah Lex, beristirahat lah kawan karena sekarang mataharimu sudah kembali.
Caca adalah salah satu orang yang tahu apa yang selama ini Alex kerjakan selama Javanka menghilang, dia mengerti betul seberapa lelahnya Alex.
Sekertaris Aldo dan beberapa suster pun ikut masuk karena Avan sudah boleh di pindahkan ke ruang rawat yang khusus di siapkan untuk gadis kecil itu.
Dengan perlahan sekertaris Aldo melepaskan tangan tuan mudanya yang menggenggam erat tangan nonanya, karena ada pergerakan dari tangannya Alex pun bangun dari tidurnya.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan? tanya Alex dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur, matanya menatap sekertaris Aldo dengan sinis.
" Avan sudah boleh di pindahkan ke ruang rawat, sekertaris Aldo hanya membantu ku saja agar kau tetap beristirahat. jawab Caca yang sudah tahu karakter Alex.
" Harusnya kau membangunkan ku saja. kata Alex dengan ketus.
" Sebenarnya aku ingin membangunkan mu, tapi melihat wajah mu yang sangat kusut itu aku mengurungkan niatku dan meminta tolong pada sekertaris Aldo. jawab Caca tak kalah ketusnya.
" Lebih baik kau urusan urusan mu, lagi pula aku tidak merasa lelah sama sekali. kata Alex masih dengan gaya angkuhnya.
" Hah, coba kau lihat dan bercermin sendiri, bagaimana keadaan mu sekarang. Aku yakin jika Avan tahu dia pasti tidak akan mau berdekatan dengan kantong plastik bau sepertimu. jawab Caca tidak mau kalah dia malah menyindir Alex dengan pedas.
Mendengar ucapan Caca sekertaris Aldo pun hanya bisa menahan tawanya, sambil mencubit pahanya sendiri agar tidak tertawa.
Mereka pun bersama-sama memindahkan Avan ke ruang rawat, sementara gadis kecil itu masih menutup matanya sebenernya dia sudah bangun namun dia hanya tetap diam dan menutup matanya.
.
.
.
💐💐💐
__ADS_1