
Bu Tita dan Bu Susi hanya menatap wajah Javanka dalam-dalam, mereka tidak tahu harus berbuat apa pada gadis remaja yang ada di hadapannya. Keduanya berpikir keras apakah mereka pernah melakukan hal yang kurang sopan pada Javanka atau tidak.
Awalnya aku berpikir mereka memang mirip, tapi aku tidak tahu jika keduanya adalah satu orang yang sama. Ya ampun apakah aku sudah berbuat salah sebelum-sebelumnya pada nona muda ini, kalau memang ada aku harus buru-buru minta maaf nih, ayo berpikir apakah ada? batin Bu Susi dan Bu Tita sambil berpikir keras.
Melihat raut wajah tegang dari kedua ibu-ibu yang ada di hadapannya, Javanka pun tampak merasa bersalah dan menyesal.
" Mohon maaf sebelumnya jika Avan tidak berterus terang tentang identitas Avan, Avan benar-benar tidak ada niat apapun pada Bu Susi maupun Bu Tita. ucap Javanka lembut sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Bu Susi dan Bu Tita.
" Sebenarnya Avan melakukan ini hanya karena ingin di perlakukan bisa-bisa saja, jika Bu Susi dan Bu Tita mengetahui identitas asli Avan ibu pasti merasa tidak nyaman atau canggung pada Avan itu yang tidak Avan inginkan. Avan ingin di lihat oleh orang lain sebagai mana orang lain melihat dan memperlakukan gadis remaja pada umumnya, bukan sebagai putri semata wayang dari pebisnis sukses atau putri dari seorang Alexander Graham Mahendra. sambung Javanka lagi sambil menundukkan kepalanya sedih.
Mendengar kata-kata dan penjelasan Javanka Bu Susi dan Bu Tita pun akhirnya mengerti dan paham dengan perasaan yang Javanka rasakan.
" Namun terlepas apapun alasannya Avan memang seharusnya tidak menyembunyikan kebenaran, sekali lagi maafkan tindakan Avan yang kekanak-kanakan ini. ucap Javanka lagi meminta maaf pada kedua ibu-ibu itu.
Bu Tita dan Bu Susi pun langsung merangkul Javanka seperti biasanya, sambil mengambil menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa Javanka tidak salah.
Sementara Sam, Diona dan Edward hanya diam memperhatikan semua kejadian itu.
Jika Avan adalah anak dari tuan muda Alex berarti gadis remaja ini juga pemilik panti jompo ini dong, pantas saja semua para pekerja di sini sangat sopan pada Avan.
batin Bu Tita sambil menatap wajah Javanka.
Lalu suasana pun kembali normal, Bu Susi dan Bu Tita pun kembali memperlakukan Javanka seperti biasanya mereka pun mengobrol sambil melihat nenek-nenek dan kakek-kakek yang ada di panti jompo, sesekali Javanka membantu para pekerja yang sedang mengurus nenek yang sudah tidak bisa berdiri.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka pun berjalan bersama-sama menuju parkiran mobil.
Namun tiba-tiba setetes darah menetes keluar dari hidung Javanka, sontak Bu Susi dan Bu Tita pun khawatir sekaligus terkejut. sementara Sam, Edward dan juga Diona hanya menatap Javanka saking terkejutnya.
" Nona. ucap pengawal pribadi Javanka yang entah dari mana munculnya dan kini sudah ada di hadapan Javanka.
" Siapa kalian? mau apa kalian? ucap Bu Tita pada segerombolan orang-orang tinggi, besar dan menyeramkan yang mengelilingi Javanka.
" Apa yang akan kalian lakukan? minggir kalian. sambung Bu Susi yang khawatir dengan kondisi Javanka.
" Maaf Bu ini sudah menjadi tugas kami untuk melindungi nona kami yang berharga, ibu tidak ada hak untuk menghentikan kami. ucap salah satu pengawal pribadi Javanka.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Bu Tita dan Bu Susi pun tidak tinggal diam mereka berusaha memukul para pengawal itu.
" Mah, stop mah. ucap Sam menghentikan mamahnya.
" Bunda berhenti, Bun. ucap Edward yang menghentikan sang bunda.
" Kamu kenapa mengehentikan mamah bukannya membantu mamah. kata Bu Tita dengan marah pada sang putra.
Javanka merasa kepalanya terus berputar-putar namun dia berusaha tetap tenang, walaupun darah yang mengalir dari hidungnya sudah membasahi baju putih yang dia pakai.
" Jangan ceritakan pada papah yah? ceritakan saja pada sekertaris Aldo. pinta Javanka pada pengawal pribadinya, Javanka takut dan tidak mau jika sang papah mengetahui kondisinya, papanya akan sangat cemas dan pulang lalu meninggal pekerjaannya.
" Tapi nona....... belum sempat melanjutkan Javanka menatap pengawal itu dengan tatapan memohon, yang membuatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Lalu pandangannya Javanka berpaling kepada Bu Susi dan Bu Tita yang begitu mengkhawatirkan dirinya, sampai-sampai pengawal pribadinya di pukuli oleh dua ibu-ibu itu.
" Bu Tita, Bu Susi tenang, ini adalah para pengawal pribadi Avan yang papah Avan pilih untuk menjaga Avan. kata Javanka dengan suara lemah menjelaskan pada kedua ibu-ibu itu agar tidak khawatir pada dirinya.
Setelah mendengar ucapan Javanka Bu Tita dan Bu Susi pun berhenti memukul-mukul pengawal pribadi Javanka, Javanka pun tersenyum manis melihat kedua ibu-ibu itu lalu Javanka pun jatuh pingsan.
" Nona. ucap salah pengawal.
" Sam apa yang harus kita lakukan untuk Javanka? tanya Bu Tita yang kini sudah ada di dalam mobil bersama sang putra.
" Aku tidak tahu mah. jawab Sam singkat sambil terus memikirkan kejadian tadi.
Di sisi lain Bu Susi pun terus menanyakan tentang Javanka pada sang putra.
" Apa yang sebenarnya terjadi pada Avan? tolong beri tahu bunda Edward? tanya Bu Susi pada sang putra yang sedang menyetir mobil.
" Aku tidak tahu Bun, cuma yang aku tahu kondisi tubuh Javanka memang lemah. jawab Edward yang berusaha tetap tenang, dia menggenggam tangan sang bunda agar sang bunda tenang. Walaupun sejujurnya dia juga sangat khawatir dengan kondisi Javanka, namun dia juga tidak tahu harus melakukan apa.
Di sisi lain Javanka pun langsung di bawa ke rumah sakit kembali oleh para pengawalnya, Caca yang tadinya akan pulang tiba-tiba berlari menghampiri Javanka kala melihat Javanka sedang di gendong oleh salah satu pengawal pribadinya.
Di tambah melihat baju putih yang di pakai oleh Javanka di penuhi dengan darah, Caca pun sangat frustasi dia berpikir Javanka telah mengalami kecelakaan.
__ADS_1
" Apa yang terjadi? tanya Caca pada pengawal itu, lalu mengambil alih tubuh mungil Javanka.
" Tidak tahu, nona hanya tiba-tiba mengeluarkan darah dari hidung lalu jatuh pingsan. jawab sang pengawal jujur.
Suster jaga pun langsung mengambil ranjang dorong, Caca pun meletakkan tubuh Javanka di atas ranjang lalu dengan cepat mendorongnya.
Caca pun langsung membawa Javanka masuk ke dalam ruang ICU, lampu yang berada di atas pintu ruang ICU pun berubah merah, sedangkan para pengawal hanya bisa menunggu di luar ruangan.
" Cepat kabari sekertaris Aldo. ucap salah satu pengawal pada pemimpinnya.
Mendengar ucapan bawahan kepala pengawal itu pun langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi sekertaris.
Tutttttttt........ tutttttttt........ tuttttttttttttt cukup lama panggilan itu tersambung.
📞 Ada apa? tanya sekertaris Aldo dingin begitu mengangkat panggilan. Seolah-olah mengatakan jangan menggangguku dengan laporan tidak penting yah, karena aku sedang sibuk.
📞 Anu tuan, itu tuan...... ucap si kepala pengawal terbata karena takut pada Aldo.
📞 Jadi kau tidak langsung mengatakannya akan ku tarik lidahmu itu. ancam sekertaris Aldo yang sudah marah.
📞 Anu tuan...... itu nona...... jawabnya lagi semakin takut dengan ancaman sekertaris Aldo.
📞 Ada apa dengan nona? apakah terjadi sesuatu pada nona? apakah nona baik-baik saja? rentetan pertanyaan yang terus menerus di lemparkan pada si pengawal oleh sekertaris Aldo, dengan suara yang berubah khawatir.
📞 N nona mengeluarkan darah dari hidung lalu jatuh tak sadarkan diri, sekarang nona sudah ada di ruang ICU tuan Caca sedang memeriksa kondisi nona. akhirnya si pengawal berhasil mengalahkan hal yang ingin di sampaikan pada sekertaris Aldo.
Mendengar ucapan si pengawal sekertaris Aldo sempat terdiam sejenak, pria itu berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif.
📞 Halo tuan, tuan. panggil si pengawal karena sekertaris Aldo diam saja.
📞 Jaga nona baik-baik. ucap Aldo lalu menutup panggilannya.
.
.
__ADS_1
.
💐💐💐💐