
Javanka dan yang lainnya pun turun ke lantai bawah dengan menaiki eskalator, kala sedang memandangi toko yang menarik tiba-tiba saja javanka di senggol oleh Lala yang berada tepat di samping javanka.
Sontak javanka pun menatap ke arah Lala, dan Lala pun menunjuk ke arah lantai dasar dengan bingung javanka pun mengikuti arah yang di tunjuk sahabatnya.
Terlihat lah dua orang pria yang tak asing berdiri menatap ke arahnya, spontan javanka pun sedikit berlari menuruni anak tangga eskalator itu.
" Jangan berlari, nanti kamu bisa terjatuh. ucap seseorang yang tak lain adalah Alex.
Mendengar ucapan sang papah javanka pun berjalan biasa, lalu menghampiri papahnya.
" Papah. panggil javanka ragu-ragu setelah berada di hadapan sang papah.
" Kamu sudah selesai? tanya Alex langsung tanpa menjawab sapaan diri putrinya, namun perlakuannya masih tetap lembut seperti biasanya.
Javanka hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Lala, Bianca, dan yang lain pun sampai di tempat Alex dan javanka berdiri. Lala, Bianca, dan juga Vivi menyapa Alex dengan sopan, Alex hanya mengangguk saja.
Berbeda dengan Edward dan teman-temannya yang ikut menyapa Alex dengan sopan, namun Alex tampak begitu dingin dan mengabaikan mereka.
" Kalau begitu javanka Om bawa pulang yah. ucap Alex setelah berbasa-basi langsung membawa putrinya pergi.
Kepergian javanka di ikuti dengan sorot mata tajam Alex menatap Edward dan teman-temannya, Edward tampak tak bergeming dengan tatapan mata yang Alex lemparkan padanya.
Sementara sekertaris Aldo hanya diam-diam memperhatikan, lalu berjalan mengikuti kemanapun tuan mudanya pergi.
Selama di mobil dalam perjalanan pulang, javanka maupun Alex tampak diam seribu bahasa. Sedangkan sekertaris Aldo hanya sesekali melirik ke arah belakang melalui kaca.
" Kamu di larang keluar tanpa pengawal dari papah. ucap Alex tiba-tiba.
" Baik pak. jawab javanka yang sudah tahu akan terjadi hal seperti ini jika papahnya mengetahui kalau dirinya keluar dengan seorang pria.
" Dan untuk satu Minggu ke depan semua jadwal kegiatan tambahan di akademi di liburkan. sambung Alex lagi dengan tegas.
" Baik papah. jawab javanka dengan patuh, gadis remaja itu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tanpa membantah perkataan sang papah sedikit pun.
Lalu mereka pun diam lagi, Alex tampak begitu marah pada putrinya. Dia merasa jika putrinya telah membohonginya, namun dia tak berani meluapkan amarahnya pada putrinya, jadi dia memilih untuk diam.
__ADS_1
Sementara javanka yang merasa bersalah terhadap papahnya pun hanya bisa diam-diam menangis, gadis remaja itu menangis begitu sedih.
Mendengar Isak tangis dari arah sampingnya, Alex langsung membawa putrinya ke dalam pelukannya lalu dia pun mengecup kening putri semata wayangnya.
" Maaf pah.... ucap javanka lirih di sela-sela tangisnya.
Sepanjang perjalanan pulang javanka terus menangis, saking capeknya gadis remaja itu pun tertidur pulas dengan masih sesenggukan.
Setibanya di Mansion, sekertaris Aldo dengan sigap membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya, Alex pun turun dengan membopong tubuh putrinya keluar dari mobil.
" Letakkan semua barang-barang milik javanka di kamarnya, dan cara tahu asal-usul tentang ke tiga pria tadi. perintah Alex sambil berjalan pergi.
" Baik tuan muda. jawab sekertaris Aldo yang seakan tahu perintah itu di tunjukkan untuk dirinya.
Aldo pun menyerahkan semua barang-barang milik nona nya pada kepala pelayan, lalu dia pun kembali masuk ke dalam mobilnya lalu bergegas pergi.
Di lain tempat yaitu di sebuah kafe di mall yang sama, Bianca, Lala Vivi, Edward dan teman-temannya pun sedang duduk mengobrol.
" Jadi apa yang akan terjadi pada javanka? tanya Edward dengan cemas.
" Aku memang sahabatnya tapi tidak begitu tahu banyak tentang javanka, yang paling tahu adalah Lala, dia yang sudah lama bersahabat dengan javanka semenjak taman kanak-kanak. jawab Bianca sambil melirik ke arah Lala yang terlihat sedang melamun.
" Sebenarnya ini yang selalu aku takutkan, dulu waktu kami masih duduk di sekolah menengah pertama. Hal serupa pernah terjadi, ada seorang anak laki-laki yang begitu tertarik pada javanka, pria itu mengajak javanka berkencan namun seperti biasa javanka dengan lembut menolaknya. Hingga tiba suatu waktu aku dan javanka tidak sengaja bertemu dengan anak laki-laki itu di sebuah restoran kami pun mengobrol bersama, tampak anak laki-laki itu masih tetap tertarik pada javanka, dan sialnya anak laki-laki itu kembali mengutarakan perasaannya pada javanka, dan terdengar oleh papahnya javanka yang kebetulan akan meeting di restoran tersebut. ucap Lala sambil mengenang kembali masa lalu kala itu.
" Lalu apa yang terjadi setelahnya? tanya kenz dengan penasaran.
" Javanka langsung di bawa pulang oleh papahnya, dan tak sampai disitu saja javanka juga harus pindah ke akademi lain. Sambung Lala lagi sambil menatap ke arah Edward.
" Ohhhhhh...... jadi itu alasannya javanka pindah ke akademi ku waktu itu. celetuk Bianca yang baru mengetahui kepindahan sekolah javanka.
" Jadi Avan akan pindah akademi? ahhhhhhhhh........... tidak mau. kata Vivi tiba-tiba sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Ihhhhhhh......... diem dulu Vi, itu kan belum pasti. Jangan buat aku takut deh. ucap Lala dengan kesal pada Vivi yang seenaknya mengambil kesimpulan.
" Jadi Avan gak jadi pindah akademi? tanya Vivi lagi pada Lala dengan wajah polosnya.
" Ihhhhhhhhh...... Vivi tau ah. ucap Lala merasa frustasi dengan Vivi.
__ADS_1
" Iya Vi, Avan gak akan pindah akademi kok. jawab Bianca dengan sabar sambil tersenyum.
Kemudian keenam anak remaja itu pun hanya bisa mendengus, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Kembali lagi ke Mansion, kini javanka pun terbangun dari tidurnya. Gadis remaja itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah beberapa saat dia pun keluar dari kamar mandi tentunya setalah mengganti pakaiannya.
Javanka langsung keluar dari kamar papahnya, begitu pintu di buka terlihat sosok pria paruh baya sedang terduduk lesu di lantai.
" Pak, kenapa duduk di sini. tanya javanka langsung bingung sambil berjalan menghampiri pria tersebut.
" Maaf nona, maafkan saya. Karena saya tuan muda jadi marah besar pada nona. ucap sang pria paruh baya itu yang tak lain ada supir pribadi javanka.
" Tidak pak, ini bukan salah bapak. Lagi pula sudah menjadi tugas bapak untuk melaporkan semua tentang Avan pada papah, jika bapak tidak menjalankannya bapak pasti di marahin oleh papah. Avan malah lebih tidak suka jika ada seseorang di marahin karena kesalahan Avan pak, jadi sudah yah pak, di sini Avan yang salah. Maafkan Avan yah pak karena kelalaian Avan bapak jadi terseret ke dalam masalah ini. ucap javanka panjang lebar, gadis remaja itu langsung cepat-cepat membantu pria paruh baya itu untuk berdiri.
Si sopir pun langsung mengucapkan banyak-banyak terima kasih sebelum pergi pada nona nya karena tidak memecat dirinya.
Setelah itu javanka pun berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, gadis remaja itu masuk ke dalam dapur dan terlihat dia sedang membuat sesuatu.
Para pelayan, koki dan kepala pelayan pun hendak membantunya namun javanka menolaknya dengan halus, setelah selesai javanka pun keluar dari dapur dengan membawa nampan.
Dengan perlahan dia masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di lantai dua, javanka meletakkan nampan itu secara perlahan.
Lalu setelahnya pandangannya tertuju pada sosok pria yang sedang duduk membelakanginya, dengan hati-hati javanka berjalan lalu memeluk sosok pria itu.
" Maafkan aku pah. ucap javanka dengan suara lembut sambil memeluk sang papah dengan hangat.
Alex hanya diam saja, dia hanya membalas pelukan putrinya. Alex memang akan selalu diam jika sedang marah pada putrinya, walaupun sangat jarang putrinya melakukan hal patal mungkin bisa di hitung oleh jari apa saja kesalahan yang javanka perbuatan.
" Aku tahu aku salah pah, tapi aku tidak mau papah melakukan ini padaku. Tolong jangan seperti ini, Avan gak mau papah begini. ucap javanka lagi kini air matanya mulai mengalir deras di pipi mulusnya.
Alex tetap diam sambil mendudukkan tubuh putrinya di pangkuannya, lalu membawa tubuh mungil putrinya kedalam pelukannya dengan sesekali menyeka air mata putrinya.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐💐