Papahku Yang Hebat

Papahku Yang Hebat
Chapter 172


__ADS_3

Javanka pun memilah-milah beberapa barang seperti penjepit dasi, beserta dasi yang telah ia samakan dengan jas yang ada di meneken. Pak Rudi pun memberi tahu ukuran lengan lingkar dada dan pinggang tuan mudanya.


Karena memang baju itu bukan tersedia begitu saja, jika ada yang membeli harus memesan terlebih dahulu dan mengukurnya baru lah bajunya dibuat setelah beberapa hari pesan yang sudah jadi akan di antar ke rumah pelanggan.


Javanka juga meminta pada si manajer untuk pesanannya di peking dengan sangat rapi, lalu karena kebelet pipis Javanka pun meminjam toilet pribadi milik toko itu dengan senang hati si manajer mempersiapkannya.


Setelah memastikan nonanya masuk ke dalam toilet bersama pengasuhnya, pak Rudi pun mulai aksinya. Beliau sudah benar tidak bisa menahan rasa geramnya pada si pekerja toko tadi yang malah berpura-pura tidak merasa bersalah.


" Apa ada lagi tuan? tanya si manajer dengan sopan.


" Aku tidak tahu kau tunggu saja nonaku kembali, karena beliau lah yang sedang berbelanja. kata pak Rudi dengan acuh.


" Baik tuan. jawab si manajer sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkir milik pak Rudi.


" Hanya satu yang sedari tadi mengganggu pikiran ku. kata pak Rudi dengan memicingkan matanya ke arah si pegawai itu.


" Apa itu tuan? tanyanya dengan penasaran sambil berharap jika pak Rudi mau membeli lagi beberapa barang di tokonya.


" Bisakah kau pecah pegawai mu yang itu. ucap pak Rudi penuh penekanan di setiap kata sambil menunjuk si pegawai tadi.


" Baik tuan. jawab si manajer tidak sadar. " A a apa di pecat tuan. terkejut karena banyak sadar dengan apa yang di ucapkan oleh pak Rudi.

__ADS_1


" Iya, aku ingin dia di pecat sekarang juga. jawab pak Rudi menegaskan kembali keinginan nya.


" Mo mohon maaf tuan, sebenarnya apa yang telah karyawan saya lakukan pada tuan? tanya dengan gugup.


" Karena dia tidak bisa bekerja dengan baik di sini. jawab pak Rudi singkat.


" Ma maksud saya bukan itu tuan.


" Aku tahu. pak Rudi langsung memotong ucapan si manajer. " Kau boleh menanyakannya langsung padanya atau kau juga bisa melihat melalui cctv yang ada di toko mu. kata pak Rudi lagi pada si manajer.


Sementara si karyawan itu hanya bisa menundukkan kepalanya, gemetar ketakutan. Dia benar-benar tidak tahu jika dirinya akan menyinggung orang yang salah.


" Kau boleh menghina pria paruh baya yang menurut mu kotor ini, tapi tidak untuk nonaku yang berharga. ucap pak Rudi telak pada si karyawan itu.


" Apakah nona masih ingin membeli sesuatu yang lain? tanya pak Rudi dengan sopan pada Javanka.


" Hemmmmm...... Javanka terlihat berpikir. " Ada but not in this shop, the shop is on the second floor. jawab Javanka sambil tersenyum manis.


" Baiklah nona, kalau begitu nona bisa pergi ke toko itu dengan pengasuh sementara saya akan mengurus pembayaran pesanan nona tadi. ucap pak Rudi dengan lembut pada putri tercinta tuan mudanya.


Javanka pun menganggukkan kepalanya, lalu gadis kecil itu terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia pakai, setelah menemukannya dia pun memberikan kartu yang bewarna hitam dari dompet kelinci miliknya pada pak Rudi.

__ADS_1


" Bapak bayal-bayal cemuah-cemuah pake ini yah. kata Javanka sambil menyerahkan kartu itu pada si kepala pelayan.


" Tidak nona, saya akan membayar dengan uang saku milik nona yang selalu tuan muda berikan pada saya selama ini. jawab pak Rudi mengembangkan kartu itu pada nonanya.


Javanka pun menggelengkan kepalanya dan bersikeras meminta pak Rudi untuk membayar dengan menggunakan kartu miliknya, pak Rudi pun tidak bisa berkata-kata dan menuruti keinginan nonanya.


Sebenarnya Alex selalu menyiapkan uang jajan bulan untuk putrinya, lalu dia berikan pada kepala pelayannya karena memang dia tidak bisa selalu menemani putrinya di rumah.


Namun selama ini Javanka tidak pernah memakai untuk itu sama sekali, dan uangnya masih utuh dan malah setiap bulannya bertambah. Sedangkan kartu yang di pegang oleh Javanka adalah kartu milik mendiang mamahnya, dan Alex memberikan itu pada putrinya.


Si manajer dan para karyawan toko termasuk karyawan angkuh itu pun menyaksikannya, mereka benar-benar takjub dengan apa yang mereka lihat. Anak perempuan yang baru berusia sekitar empat tahun sudah memegang kartu itu, mereka hanya berpikir sekaya apa orang tuanya sampai-sampai memberikan kartu itu pada putrinya yang masih kecil.


Pak Rudi pun langsung membayar semua tagihan nonanya, sementara Javanka memilih beberapa benda di toko lagi dan membelinya. Para pengawal dan mengasuhnya pun membawa belanjaan nonanya yang sangat banyak.


Setelah selesai Javanka pun langsung pulang, tentunya setelah dia membelikan minuman dan makanan ringan untuk semua pengawal dan mengasuhnya beserta pak Rudi.


.


.


.

__ADS_1


💐💐💐


__ADS_2