
Singkat waktu sudah satu Minggu lebih semenjak Avan telah usai menjalani operasi nya, gadis kecil itu di kurung oleh sang papah di dalam ruang rawatnya.
Jalankan keluar ruangan nya, untuk masuk ke kamar mandi pun Avan harus di temani, papah benar-benar menjaganya dengan ekstra hati-hati, jika Alex tidak bisa menemani putrinya maka sekertaris Aldo lah yang menemani gadis kecil itu.
Bukan tanpa alasan Alex melakukan itu pada putrinya, dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya.
Gadis cantik itu sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk papahnya agar tidak terlalu khawatir padanya, namun usahanya tetap sia-sia, sang papah tetap teguh pada pendiriannya dan sampai akhirnya gadis mungil itu pun menyerah juga.
Dari mulai makan, pergi ke kamar mandi dan lain sebagainya. Avan di bantu oleh papahnya atau pengasuhnya, tak jarang dia suka bersi tegang dengan papahnya. Namun setelahnya Avan akan selalu meminta maaf pada papahnya.
Kini gadis kecil itu sedang menjalani pemeriksaan oleh dua dokter, rencananya hari ini perban yang ada di mata Javanka akan di lepas.
Alex, si pria tampan nan gagah itu terlihat gugup. Dia terus memperhatikan sang dokter yang memeriksa keadaan putrinya, begitu pula dengan sekertaris Aldo yang berada di luar ruangan bersama dengan Caca, David, pak Rudi, beberapa pelayan dan pengasuhnya Javanka.
" Hey....... ada apa dengan wajah itu? tanya Caca tiba-tiba pada Aldo.
__ADS_1
" Kenapa dengan wajah ku? bertanya balik sambil meraba-raba wajahnya sendiri.
" Kenapa wajah mu tegang seperti ibu-ibu yang sedang mengantri sembako sih. kata Caca nyeleneh pada sekertaris Aldo.
Semua orang hanya bisa menahan tawanya tidak berani menertawakan si tangan kanan tuan muda, berbeda dengan David yang tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Caca.
Aldo hanya diam dan menghiraukannya setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sahabat nya itu, pria itu tetap datar tanpa ekspresi.
Caca pun terus-menerus membully Aldo habis-habisan, tapi sekertaris Aldo hanya diam saja. Lalu pintu pun terbuka terlihat Alex yang muncul dari ruangan itu.
" Jangan terlalu banyak bergaul dengan orang-orang stupid seperti mereka berdua. Kata Alex lagi sambil menunjuk ke arah Caca dan juga David dan ikut masuk ke dalam ruangan.
" Yahhhhhhhh........ kok aku di kena juga sih, kan aku diam saja tadi. kata David tidak terima di salahkan oleh Alex.
" Kau sih Ca aku jadi tidak ikut masuk ke dalam kan. kata David lagi menyalakan sahabat nya.
__ADS_1
" Iya, iya aku minta maaf. Aku tidak tahu jika Alex akan menyelamatkan sekertaris kesayangan nya dan mengijinkan nya masuk. kata Caca pada David.
Hehhhhhhhh....... siapa suruh kalian berdua berisik di depan ruangan nona, padahal tuan muda sedang cemas kalian malah sibuk tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu di dalam ruangan si dokter sudah mulai membuka secara perlahan-lahan perban yang ada di mata Javanka, gadis kecil itu tampak tenang tidak seperti sang papah dan sekertaris nya yang begitu cemas.
" Nona, boleh buka matanya secara perlahan-lahan saja. Jangan di paksa oke. ucap si Dokter pada Javanka, setelah selesai membuka semua perbannya.
Perlahan-lahan gadis kecil itu membuka matanya, walaupun agak sulit namun Avan tetap tenang dan berusaha membukanya.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐