
Sesampainya di kelas Bianca, Vivi dan juga Lala yang sedang terduduk di kursi masing-masing pun terkejut dengan kedatangan javanka.
" Avannnnn........ panggil Vivi setengah berteriak sambil berlari menghampiri javanka.
" Iya kenapa Vi? jangan berteriak yah kasian yang lain merasa terganggu. jawab javanka lembut memberi tahu Vivi.
" Iya maaf aku lupa. ucap Vivi sambil menutup mulutnya dan melihat ke arah sekelilingnya yang ternyata siswa lain sedang menatap dirinya.
" Iya, lain kali jangan seperti itu yah. jawab javanka sambil tersenyum pada Vivi.
" Katanya kamu mau pindah akademi? jangan pindah. kata Vivi sambil bergelayut manja pada javanka.
Mendengar ucapan Vivi seketika seluruh siswa yang ada di kelas javanka pun langsung ribut, mereka langsung mengerubungi javanka.
" Kamu mau pindah Van? tanya temen javanka yang duduk tepat di depan kursi javanka.
" Beneran mau pindah? tanya lagi yang satu.
" Mau pindah ke akademi mana emang Van? tanya yang lain yang ikut penasaran.
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang di tanyakan oleh teman-teman satu kelas javanka, yang membuat javanka pun bingung harus menjawab apa.
" Stoppppp.......... pekei Lala, suaranya menggelegar di seluruh kelas.
Sontak semua siswa yang tadinya ribut seketika menjadi tenang dan menatap ke arah Lala, Lala pun berjalan menghampiri javanka.
" Kalian salah faham Avan gak akan pindah kok, Vivi cuma salah dengar aja kemarin. ucap Lala lagi berusaha membantu menjawab pertanyaan untuk javanka.
" Tapi...... belum sempat Vivi berbicara, Bianca dengan sigap menutup mulut Vivi.
" Iya si Vivi kemarin salah faham. tambah Bianca berusaha menyakinkan teman-teman kelasnya.
" Oh gitu, kirain bener. Jantung kami hampir copot mendengar nya, syukurlah kalau gitu. ucap siswa yang lain, lalu satu persatu dari mereka kembali ke tempat duduk masing-masing karena ball sudah berbunyi.
" Nanti ceritakan pada kami yah Van? bisik Bianca pada javanka.
Javanka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, karena guru sudah masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Pelajaran pun di mulai, semua siswa mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh guru dan mencatat semua yang perlu di catat.
Setelah pelajaran selesai, kini tiba saatnya bertukar kado. Javanka pun memberikan gitar yang sudah dia beli pada teman sebangku nya.
" Leon aku tidak tahu kamu sudah membelinya atau belum, tapi terakhir kali aku melihat kamu memakai gitar, gitar itu senarnya putus dan aku memilih untuk memberikan gitar pada mu. Semoga kamu menyukainya yah. ucap javanka lembut sambil tersenyum manis dan memberikan gitar itu pada Leon teman sebangku nya.
" Te terimakasih javanka, aku memang tidak ada rencana untuk membeli yang baru dan memilih untuk membetulkan senarnya. Aku benar-benar berterima kasih. ucap Leon dengan senang bercampur gugup sambil menerima kado dari javanka. " Aku pasti akan menjaga dan memakainya dengan baik. sambung Leon lagi sambil melihat gitar tersebut.
" Ini juga untuk mu javanka, maaf aku tidak bisa memberikan sesuatu dengan mewah dan mahal. Tapi aku menyiapkan dan membuatnya sendiri, walaupun di bantu sedikit oleh mamihku. ucap Leon lagi sambil memberikan kotak yang tidak terlalu besar dan sudah dihias dengan rapih dan cantik.
" Bolehkah aku membukanya sekarang? tanya javanka dengan antusias menatap kotak tersebut.
" Tentu, semoga sesuai dengan selera mu yah. jawab Leon sambil tersenyum gugup.
Javanka pun membuka bungkusan kotak itu dengan perlahan-lahan, lalu dia pun mengeluarkan suatu yang ada di dalamnya yang ternyata sebuah dress yang sangat cantik dengan desain unik khas tangan.
" Wahhhhhh....... bagus sekali, terimakasih Leon. ucap javanka dengan mata yang berbinar-binar menatap ke arah baju yang berwarna peach itu.
" Syukurlah kalau kamu menyukainya. jawab Leon senang sambil menatap wajah cantik javanka.
Aku sangat bersyukur Avan menyukai kado yang aku berikan, melihatnya tersenyum manis seperti itu membuat hatiku makin berdebar-debar rasanya. Beruntungnya aku belum meminta mamih membelikan gitar baru untuk ku, aku pasti akan menjaga, merawat dan menyayangi gitar ini Avan pasti. ucap Leon dalam hatinya sambil menatap dalam-dalam wajah javanka.
Lala membawa tiga sahabatnya untuk mengantri mengambil makanan di kantin terlebih dahulu, setelah mendapat makan siang mereka pun duduk.
" Ceritakan pada kami Avan. ucap Lala langsung sambil menatap ke arah javanka.
Javanka pun menarik napas panjang sambil memegang sendok dan garpu lalu memakan makanannya, sementara ketiga sahabatnya menatapnya dengan intens.
" Papah meminta ku untuk libur satu Minggu ke depan dalam kegiatan tambahan di sekolah. ucap javanka santai sambil terus memakan makanannya.
" Serius? tanya Lala tidak percaya.
Javanka hanya menganggukkan kepalanya dengan pasti.
" Lalu bagaimana dengan kegiatan OSIS mu? tanya Bianca.
" Mungkin aku akan mundur dan menyerahkan posisi Ketua OSIS kepada anggota lain. jawab javanka simpel.
__ADS_1
" Kamu serius Van? tanya Bianca lagi tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Sejak awal aku tidak pernah mau apalagi mengajukan diri untuk menjadi ketua OSIS Bii, selama ini aku menjalankan tugasku semata-mata karena tanggung jawab ku dan juga aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayakan posisi itu padaku. jawab javanka dengan jujur yang membuat ke tiga sahabatnya tidak bisa membantahnya.
" Aku tidak mau mempertahankan sesuatu yang menyebabkan papahku bersedih. sambung javanka lagi yang kini matanya sudah memerah.
Melihat javanka yang akan menangis Lala pun langsung memeluk sahabatnya itu.
" Maafkan aku, aku tidak terlalu mengerti perasaan mu Van. ucap Lala sambil memeluk javanka.
Lala tahu betul javanka bukanlah anak yang cengeng, tapi dia akan sangat sedih jika sudah membuat sang papah kecewa pada dirinya sendiri. Bagi javanka papahnya adalah segalanya begitu juga sebaliknya.
Bianca dan Vivi pun ikut memeluk javanka, mereka berdua memang tidak begitu tahu tentang javanka namun mereka tahu jika javanka pasti mempunyai alasan kuat.
Setelah itu mereka pun kembali seperti biasanya mengobrol, bercanda, tertawa dan bercerita tentang hal-hal lucu.
Sampai waktu pun tak terasa ball pulang sekolah pun bernyanyi, sesuai perintah sang papah javanka pun berpamitan lebih dulu pada sahabat-sahabatnya yang memang ada kegiatan lain.
Javanka pun berjalan keluar menuju gerbang utama yang ternyata sudah ada sosok pria berdiri tegak menatap ke arahnya, melihat sosok tersebut javanka pun berlari terburu-buru menghampiri sosok tersebut.
" Jangan berlari nona, itu berbahaya. ucap sekertaris Aldo.
" Hng..... sudah lama menunggu yah? tanya javanka sambil tersenyum manis setelah berada di hadapan sekertaris Aldo.
" Seberapa lama pun waktunya, saya akan selalu menunggu nona. jawab sekertaris Aldo sambil membukakan pintu belakang mobil dan mempersilahkan javanka masuk.
Javanka pun melihat ke dalam mobil yang ternyata kosong. " aku duduk di depan saja yah sekertaris Aldo? aku tidak mau duduk sendirian di belakang. ucap javanka memelas pada sekertaris Aldo dan langsung masuk sendiri ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari sekertaris Aldo.
Sekertaris Aldo hanya tersenyum simpul lalu kembali menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam mobil, dan mobil pun berjalan meninggalkan akademi itu. di bawah sorot mata dua kelompok yang sedari tadi memperhatikan javanka maupun sekertaris Aldo.
Siapa pria itu? dan mengapa mereka terlihat begitu dekat? batin seseorang.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐💐