
Entah seharusnya bersyukur atau bangga yang Alex rasakan, aku tahu Avan memang anak yang cerdas. Tapi kalau melihat dan mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut gadis kecil yang belum genap empat tahun usianya aku benar-benar bingung menghadapi nya.
pikir Caca.
Nona benar-benar kelewatan jenius dan pengertian terhadap apa pun berputar di sekelilingnya, beliau tidak ingin merepotkan atau membebani orang lain termasuk orang yang ada di sekelilingnya. Begitulah nona kami yang berharga.
pikir sekertaris Aldo.
Seusai menangis Caca langsung membawa Javanka ke ruang pemeriksaan untuk pengecekan apakah donor mata yang ada cocok dengan Javanka atau tidak.
Walaupun beberapa waktu yang lalu sekertaris Aldo dan juga dokter Caca sudah mengkonfirmasi bahwa itu cocok, namun Alex hanya ingin memastikan kembali sebelum operasi di laksanakan.
Javanka sudah berada di dalam ruangan di temani oleh Caca dan dua rekannya yang memang bertugas untuk melakukan operasi pada Javanka.
Sementara Alex dan sekertaris Aldo hanya bisa menunggu di luar ruangan, keduanya tampak gelisah. Tapi Alex lah yang paling parah, melihat tuan mudanya yang terlihat cemas sekertaris Aldo pun duduk di samping tuan mudanya.
" Saya yakin tuan muda, ini pasti akan cocok untuk nona. ucap sekertaris Aldo pada Alex meyakinkan.
" Semoga saja begitu. jawab Alex yang berusaha tenang.
" Lagi pula tuan muda tidak perlu terlalu cemas, nona adalah gadis pemberani. Nona pasti bisa menghadapi nya, tuan muda harus percaya pada nona. ucap sekertaris Aldo lagi meyakinkan bahwa Javanka adalah gadis yang kuat dan tidak lemah.
" Benar apa yang kau katakan, Avan adalah anak yang kuat. Aku harus percaya padanya. ucap Alex sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.
__ADS_1
Lalu mereka pun menunggu dan menunggu, sampai akhirnya Caca keluar dari ruangan tersebut.
Melihat Caca keluar, Alex pun langsung bangkit dan berjalan menghampiri Caca.
" Bagaimana? bagaimana hasilnya? tanya Alex panik.
" Selamat Lex, putrimu pasti bisa melihat kembali. jawab Caca dengan sumringah dan menepuk-nepuk pundak Alex.
Alex yang mendengar pun tak kuasa menahan air matanya, namun dengan cepat dia menghapusnya agar tidak ketahuan oleh Caca mau pun sekertaris nya.
" Sesuatu dengan jadwal operasi nya, aku akan mempersiapkan semuanya agar berjalan dengan baik. tambah Caca lagi.
"Baiklah aku mengerti, lalu kenapa Avan belum keluar? tanya Alex pada Caca.
Alex yang melihat itu pun langsung memeluk putrinya dengan hangat, dia amat sangat bersyukur atas apa yang terjadi hari ini.
Malam harinya, Alex, sekertaris Aldo dan juga Javanka datang ke rumah mendiang yang mendonorkan matanya untuk Javanka.
Sesuai keinginan putrinya Alex dengan senang mengabulkan permintaan putrinya itu, Alex tidak akan menentang atau melarang putrinya jika menyangkut kebaikan.
Ketiga pun sampai di sebuah rumah tua yang ada di pinggiran kota, pak Rudi dan beberapa orang suruhan sekertaris Aldo pun ikut menemani.
Alex turun dari mobil sambil menuntun putrinya, dia menggandeng tangan mungil putrinya lalu dia juga mengetuk pintu yang terlihat rapuh itu dengan tangannya.
__ADS_1
Tokkkk..... tokkkkk...... tokkkkkkk...... suara ketukan pintu rumah yang hampir ambruk itu, Alex melihat sekelilingnya.
Apakah rumah ini masih bisa di huni oleh manusia, sebenarnya pekerjaan apa yang di kerjakan oleh orang ini sampai-sampai dia tidak bisa memiliki rumah yang layak.
pikir Alex bertanya-tanya.
" Iya, iya tunggu sebentar. ucap seseorang di dalam.
Lalu tak berselang lama pintu pun terbuka, terlihat lah nenek yang sudah sangat tua membukakan pintu untuk Alex.
Nenek itu pun memandangi orang-orang yang ada di hadapannya dengan cemas, raut wajah tampak risau.
" Maaf tuan, jika tuan adalah suruhan juragan yang ingin membeli rumah ini. saya tidak berniat menjual nya. jawab sang nenek dengan lemah.
Beliau begitu terlihat ketakutan ketika melihat Alex dan orang-orang yang ada di belakang Alex, saking takutnya beliau sampai tidak menyadari adanya gadis kecil di depannya.
.
.
.
💐💐💐
__ADS_1