
Dengan wajah yang memar Caca berjalan melewati lorong menghampiri ketiga sahabatnya, dengan senyuman jenaka khas Caca.
" Wedehhhh..... pagi-pagi sudah kumpul saja nih para tante-tante arisan. ucap Caca pada ketiga pria yang tak lain adalah Alex, David dan juga sekertaris Aldo.
" Bukan lho, kita itu lagi nunggu sumbangan besek. jawab si David nyeleneh.
" Hahahahhhhh..... bisa saja kau centong nasi. tawa Caca menggelegar di seluruh lorong.
" Ca, kondisi suara tawamu. Kita sedang ada di rumah sakit bukan di hutan rimba. ucap sekertaris Aldo yang menutup mulut Caca dengan tissue.
Sontak Caca pun berhenti tertawa dan mengeluarkan tissue yang ada di dalam mulutnya.
" Sudah pada sarapan belum nih? tanya Caca pada ketiganya sambil membuang sisa-sisa tissue yang menempel pada lidahnya.
" Aku sih belum dan sepertinya Alex dan juga Aldo pun sama. jawab David karena melihat Alex maupun Aldo pasti tidak akan mau menjawabnya.
Dengan wajah tanpa ekspresi Alex terus menatap ke arah dalam, terlihat jelas di wajahnya kekhawatiran dan kecemasan. Begitu pula dengan sekertaris Aldo yang tidak jauh beda.
" Sudah, ayo kita sarapan dan minum kopi dulu biar gak tegang pagi-pagi. kata Caca lalu menarik tangan Alex pergi, sekertaris Aldo dan juga David hanya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
" Kalian pesan saja apa yang kalian mau, hari ini biar aku yang traktir. kata Caca sesampainya di kantin rumah sakit.
" Wahhh..... tumben-tumbenan kau mau traktir kami bertiga, biasanya kan Alex yang selalu membayar makanan mu. kata David yang merasa heran pada sahabatnya itu.
" Aku lagi seneng saja hari ini, walaupun pipi ku terasa sangat sakit karena kejadian tadi malam. ucap Caca cengengesan sambil memegang ujung bibirnya yang memar.
" Memangnya kau kenapa semalam? tanya Aldo yang iseng, padahal dia tahu betul siapa yang membuat wajah Caca seperti itu.
" Kata David aku di hajar orang karena aku berani menggoda wanitanya saat mabuk. jawab Caca yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Aldo pun melirik ke arah tuan mudanya berada, melihat Alex tetap tenang Aldo pun merasa lega.
Alex Hanya meliriknya sekilas lalu kembali membuang pandangannya ke sembarang arah.
" Lalu siapa yang akan mengontrol pekerjaan para dokter yang melakukan operasi pada putriku? tanya Alex tanpa melihat Caca.
" Soal itu kau tidak perlu khawatir karena aku sudah menyerahkannya pada rekan kepercayaan ku. jawab Caca dengan yakin.
" Lakukan lah seperti yang kau ucapkan, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada putriku karena ulah mu. kata Alex sambil menyeruput kopinya.
__ADS_1
" Oke, kau tak perlu khawatir semuanya pasti berjalan dengan lancar. ucap Caca sambil memberikan kedua jempolnya pada Alex.
Selama sarapan dan mengobrol Alex lebih banyak diam dan merenung, seberapa pun dia berusaha untuk tetap tenang namun pikiran dan hatinya selalu tertuju pada putri semata wayangnya.
" Do sampai dimana proses pembangunannya? tanya Alex tiba-tiba pada sekertaris nya.
" Sudah dalam tahap finishing tuan muda, sesuai dengan apa yang tuan muda ucapkan pada saya. jawab sekertaris Aldo yang tahu apa yang di maksud oleh tuan mudanya.
" Bagus, tolong kau pantau terus perkembangannya dan kirimkan ke email ku. kata Alex sambil menepuk pundak sekertaris nya pelan.
Sementara Caca dan juga David hanya menggaruk tengkuknya, mereka sama sekali tidak memahami dan mengerti maksud dari pembicaraan Alex dan juga sekertaris Aldo.
Caca maupun David tidak berani bertanya, mereka hanya berpikir mungkin membicarakan soal pekerjaan.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐