
Di tempat yang berbeda di akademi, Bianca, Lala dan juga Vivi keluar dari ruang kerajinan, mereka baru selesai kelas tambahan.
Tiba-tiba Edward dan teman-temannya menegur Bianca dan yang lain.
" Hey, kemana javanka pergi? tanya Edward langsung to the point.
Sontak Bianca, Lala dan Vivi pun melihat ke arah suara itu berasal.
" Kemana javanka pergi? mengulang kembali pertanyaan yang sama namun kini Edward sudah ada di hadapan ketiga gadis remaja itu.
" Lebih baik kakak tidak usah mencari Avan lagi. jawab Lala tiba-tiba.
" Memang apa masalahnya? tanya Edward lagi dengan wajah bingung.
" Ini harusnya Avan sendiri yang mengatakannya, tapi aku tidak mau Avan kesulitan jadi aku mohon dengan sangat tolong menjauh dari Avan. jawab Lala lalu berlalu pergi meninggalkan Edward dan teman-temannya di ikuti oleh kedua sahabatnya.
Sementara Edward terdiam di tempatnya, dia merasa bingung dengan kata-kata yang diucapkannya oleh Lala barusan.
Memang apa yang telah aku lakukan pada javanka? sampai-sampai aku harus menjauh dari javanka, apakah aku melakukan kesalahan yang tidak sadar aku lakukan pada javanka? Ucap Edward dalam hati kecilnya.
" Lebih baik kau tanyakan langsung pada Avan bro. ucap Edo membuyarkan lamunan Edward.
Edward pun mengangguk saja lalu mereka pun pergi.
Kembali lagi ke kantor, kini Alex sudah berada di ruangannya pria itu sedang berjibaku dengan pekerjaannya yang selalu menumpuk tidak pernah ada habisnya, begitu pula dengan sekertaris Aldo.
" Do, Avan sudah makan siang? tanya Alex pada sekertaris Aldo, dia khawatirkan keadaan putrinya, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
" Sudah tuan muda, nona mengatakan pada saya jika nona sudah makan siang di kantin sekolah. jawab sekertaris Aldo langsung.
Alex pun mengangguk mengerti, lalu dia kembali mengerjakan pekerjaannya. Namun tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh suara pintu yang terbuka.
" Papah. ucap javanka dengan suara serak khas bangun tidur, gadis remaja itu berjalan menghampiri papahnya sambil mengucek matanya seperti layaknya anak kecil kemudian dia duduk di pangkuan papahnya.
" Sudah jangan di cucak terlalu lama nanti mata kamu bisa sakit. kata Alex sambil memegang tangan putrinya, lalu memberikan air putih pada putrinya.
" Papah masih kerja yah? tanya javanka setelah meminum air yang diberikan oleh sang papah.
" Masih sayang, kenapa? mau pulang? jawab Alex sambil melempar kembali pertanyaan pada putrinya dan dengan lembut Alex merapikan rambut panjang putrinya yang sedikit berantakan.
" Tidak, papah lanjutkan saja pekerjaan papah. jawab javanka lalu bangkit dari pangkuan papahnya kemudian dia berjalan menuju sofa dan kembali tertidur pulas di sana.
__ADS_1
Alex yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku putrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan putri semata wayangnya.
" Ayo cepat Do, selesaikan pekerjaan mu agar kita cepat pulang. kata Alex pada sekertaris nya.
" Baik tuan muda. jawab sekertaris Aldo.
Kedua pria itu pun cepat-cepat mengerjakan pekerjaan, sementara javanka si gadis cantik itu malah asyik tertidur pulas.
Setelah beberapa saat lamanya akhirnya pekerjaan Alex maupun sekertaris Aldo mulai beres, keduanya pun bersiap untuk kembali karena hari sudah menjelang malam.
Alex menggendong putrinya yang masih tertidur menuju lobby utama kantor, sementara sekertaris Aldo mengikuti di belakang sambil membawa tas dan keperluan sekolah nonanya.
" Tuan muda, apakah nona baik-baik saja? tanya sekertaris Aldo yang sedang menyetir mobil sambil sesekali melirik ke arah belakang.
" Untuk awal-awal aku memang khawatir, tapi sekarang-sekarang aku lebih membiasakan diri. Malah menurut ku bagus jika dia seperti ini berarti aku tahu dia sedang mengalami kelelahan dan aku harus mengurangi jadwalnya agar dia tidak merasa lelah. ucap Alex sambil mengelus lembut kepala putrinya tak lupa Alex juga mengecup kening putrinya.
Jadi javanka akan mengalami Pase tidur yang lumayan panjang jika dia sedang mengalami kelelahan pisik maupun mental, karena di akibat kecelakaan masa kecil sewaktu dia di culik.
Peristiwa penculikan itu tidak hanya meninggalkan bekas luka di tubuhnya saja namun di mentalnya javanka juga, javanka memang sering makan namun dia memakan makanannya hanya sedikit akibat operasi pemotongan ususnya, dia juga masih sedikit takut bertemu dengan orang baru terutama seorang wanita.
Ke esok harinya seperti biasa javanka di antara ke sekolah oleh sang papah, gadis remaja itu sedang berjalan menyusuri tiap-tiap lorong sekolah namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
Javanka menatap ke arah Manding lalu dia pun membacanya, setelah itu dia pun berjalan kembali menuju loker miliknya untuk mengambil sandal dan meletakkan sepatunya.
" Sudah mau di adakan lomba yah ternyata. gumam javanka sambil terus menatap sekelompok siswi tersebut.
" Hey...... sedang apa? sapa seseorang dari arah belakang yang membuat javanka terkejut.
" Ti tidak. jawab javanka gugup sekaligus terkejut.
" Mau melihat dari dekat? tanya orang itu, kini dia sudah berada di hadapan javanka.
" Kamu.... ucap javanka sambil menunjuk sosok pria yang ada di hadapannya.
" Apakah kamu mengingat ku? tanya sosok pria tersebut sambil tersenyum sumringah.
Javanka pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung.
" Lebih baik kita berkenalan terlebih dahulu, namaku Don. Aku dari klub basket. ucap pria itu sambil memperkenalkan diri dan mengeluarkan tangannya tak lupa dia juga tersenyum manis pada javanka.
" Aku javanka. jawab javanka sambil menyambut menjabat tangan Don dan tersenyum manis.
__ADS_1
" Mau melihatnya lebih dekat? ajak Don pada javanka.
" Tidak terima kasih, aku mau masuk ke kelas. tolak javanka dengan lembut sambil mempertahankan senyumannya.
" Ya sudah, biar aku antar, Ayo. kata Don yang langsung mempersilahkan javanka berjalan lebih dulu, Don seakan-akan bertindak tidak menerima kata tolakan dari javanka.
Karena tidak bisa menolak javanka pun mengikuti kemauan Don, mereka berdua pun berjalan beriringan.
Jadi javanka dan Don itu pernah beberapa kali bertemu dan bertatap muka, namun mereka tidak pernah berbicara atau mengobrol satu sama lain. Untuk tempat nya sudah pasti di perusahaan cabang yang di kelola oleh papahnya Don.
Kepergian keduanya di ikuti dengan tatapan mata dari sekelompok team chiliders.
" Siapa wanita yang bersamaan Don? tanya Diona kapten team chiliders.
" Siapa lagi kalau bukan si gadis menyebalkan yang selalu berpura-pura lemah itu. jawab Vike bersungut-sungut, dia adalah teman Diona.
" Dia tidak berpura-pura Vike, dia benar-benar lemah. sahut Frisiela yang juga teman Diona.
" Apa sih? orang dia cuma gadis kampung yang selalu haus akan perhatian dari seorang pria saja kok. jawab Vike menggebu-gebu, Vike benar-benar kesal melihat Don mendekati javanka.
" Ahhhhhhh...... katakan saja kalau kau cemburu Vik. sahut Jesi yang juga satu kelompok Diona.
" Aku sarankan kau jangan berani menyentuhnya, jika kau masih ingin bersekolah di sini, karena kau harus tahu dulu siapa lawanmu. sambung Jesi lagi mengingatkan Vike.
" Hehhhhhhh....... dia hanya beruntung saja terlahir dari keluarga konglomerat. jawab Vike sinis.
Diona hanya diam dan mendengar percakapan teman-temannya saja, sejujurnya dia juga tidak perduli Don mau mendekati siapa pun asalkan jangan Sam. Karena Sam adalah pria yang sudah lama di incar oleh Diona.
" Javanka, nanti jam istirahat datang yah ke lapangan untuk melihat ku latihan basket. ucap Don di sela-sela waktu berjalan menuju kelas javanka.
" Hmmmmmmm....... javanka terlihat berpikir dia bingung harus menolak permintaan Don dengan cara apa.
" Datang yah, pokoknya harus datang. Aku menunggumu. ucap Don lalu pergi meninggalkan javanka setelah berada tepat di depan kelas javanka tak lupa dia juga melambaikan tangannya pada javanka.
javanka hanya bisa melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kelas dengan lesu, dia benar-benar merasa tidak enak pada Don jika dirinya tidak datang, namun javanka juga kurang merasa nyaman jika berada di lingkungan asing.
.
.
.
__ADS_1
💐💐💐💐