
Senja berlarian buru buru menuju kamar kecil yang terdapat di belakang rumahnya di dekat sumur, ia kebelet... meninggalkan keluarganya dan keluarga Biru yang masih bercengkrama.
Saking kebelet menahan air kecil, ia main menyelonong masuk ke kamar mandi tanpa curiga dengan pintu yang tertutup rapat tapi tidak terkunci.
" Huawaaaargh."" Sontak Senja berteriak saat melihat seorang pria yang sedang membuang air kecil. Senja terpaku dengan kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya reflek, matanya ternodai dengan melihat senjata Kramat milik pria untuk yang pertama kalinya. iiihhh, ia pun bergidik. ""Kenapa tidak di kunci pintunya ?"" Kesal Senja, Saking shocknya melihat senjata pria tersebut sampai kebeletnya sudah tertelan kembali.
""Cih, sudah melihat juga pakai tutup mata segala ! bilang saja mau berkenalan dengan saya makanya kamu menggunakan cara ini."" Tuduh pria itu, tidak lain adalah Langit Shyaputra Kusuma. Langit masih santai membuang air kecil di hadapan Senja yang masih menutup matanya.
""idih, Kenalan ? dengan pria Jorok semacam kamu, No way !"" Serka Senja. Memukul kepalanya bodoh, ia baru sadar yang tidak langsung kabur dari hadapan pria jorok ini. Senja pun beranjak ke arah pintu. namun tangannya di cekal oleh Langit.
""E eh, mau kemana ? ini airnya mana ? kok tidak ada sih ? Gentong dan embernya kosong !"" Tangan satu Langit membenarkan celana asal asalan hingga tidak sadar masih berantakan. Dan satunya sibuk menahan Senja agar mau membantunya mengambilkan air.
""Ih, Lepas ! saya teriak nih !""Ancam Senja. takut, ia meronta tanpa melihat kebelakang yang di tahan tangannya oleh Langit. Matanya ogah tercemar kembali. sebenarnya ia juga belum jelas sekali wajah orang yang menahannya karena sedari tadi ia menutup matanya.
""Ngancam ? Lucu sekali ! Dengar orang kampung ! Saya, Langit Syaputra Kusuma tidak akan takut oleh siapa pun, apalagi hanya dengan teriakan oleh gadis kampung seperti mu, berteriak saja ! saya akan membungkamnya menggunakan bibir saya. sebelum suara mu keluar !"" ancam Langit. ia masih uring uringan tidak bersahabat atas kekalahannya oleh Biru, plus harus menghadiri acara musuhnya itu...dan kemarahannya mungkin mereda jikalau sudah di lampiaskan ke orang siapa pun itu.. . termasuk gadis yang entah siapa namanya ini.
Sontak Senja berbalik Mendengar nama lengkap itu, Itukan nama orang yang sudah di tolak lamarannya oleh Mentari..Jadi ini rupanya...! Pantas adiknya menolak... orangnya saja jorok dan songong, nyebelin lagi yang sudah main mencengkeram tangan orang. Terus ? apa dia kata ? membungkam mulut pakai bibir ? Cih ! Serkanya dalam hati.
""Lepas !" Galak Senja.
Langit tersungging miring. "" Tidak !"" Dari pada bosan,mending mengerjai gadis kampung, pikirnya pasti tidak akan bertemu lagi ini. Dengan nakal, Langit memajukan wajahnya ke hadapan wajah polos Senja. Menggoda.
""Yaak, Minggir tidak ?"" marah Senja. namun Langit semakin memajukan wajahnya sehingga ujung hidung mancung Senja dan hidungnya sedikit lagi akan bersentuhan.
Langit malah menantang masih menggoda. ""Kenapa ? takut ? hahaha, saya juga ogah mencium wajah wanita itik buruk rupa."" Hina Langit ceplos asal asalan. Cantik alami semampai di bilang itik buruk rupa, Tidak tahu saja Si Langit ini, kalau Senja kumat...ia sama dengan watak Dewa-Amang-nya, Licik-Licik misterius tidak setara dengan wajahnya yang lugu.
Senja murka mendapat julukan itik buruk rupa. Ia balik menantang Langit dengan memasang wajah berani, Sekarang dirinya yang memajukan wajahnya dengan sedikit memiringkan seakan akan mau mencium bibir Langit. Tapi.....
""Aaargh, Gadis drakula ! Lepas !"" Pekik Langit dapat gigitan di lehernya.
__ADS_1
"Hahaha, Rasain !"" Senja tergelak seraya kabur meninggalkan Langit setelah menggigit, sehingga di leher itu sedikit terlihat kemerahan dan juga bekas tancapan beberapa garis gigi bagian depannya.
Emang enak saya gigit, makanya jangan remehin saya apa lagi menghina langsung di depan bolong hidung ku.
Satria yang tadinya menikmati hijaunya tanaman Rose seketika berlari menghampiri ke arah kamar mandi setelah mendengar jeritan Langit.
""Ada apa bro !"" Tanya Satria-Sahabat sekaligus rekan kerjan Langit.
""Gue habis di gigit cewek drakula berupa itik."" Adu Langit seraya mengelus lehernya yang masih terlihat merah di mata Satria.
""Hahaha, Lo kumat kali menggoda cewek, berubah sedikit tuh kelakuan, dan terima kekalahan sedikit saja, berlapang dada itu tak seram, bro ! Mendingan kita jalan jalan di sana ada kebun isinya bunga semua...Indah bro ! pasti yang nanamnya cantik dan wangi seperti bunganya."" Satria beranjak memunggungi Langit.
""Palingan juga yang nanam ibu ibu atau nenek nenek !"" gerutu Langit mengikuti Satria dari belakang.
...****...
Braak...
""Ada apa Daeng !"" Mentari kaget. Bang Sam juga kaget yang ada di dalam bersama Mentari sedang melepas rindu.
Senja tak menjawab, melirik tajam ke arah bang Sam.
""Kenapa ada laki laki di dalam kamar kita ?"" Senja masih menatap tajam Bang Sam yang di kiranya pria tulen.
""Mana laki lakinya, Dia.."" Tunjuk Mentari ke Bang Sam yang lagi tersenyum tipis. "Dia itu bang Sam, Pria berjiwa seperti kita."" Jelas Mentari geli dengan keadaan Bang Sam.
Senja mengangguk mengerti, ia pun menghela nafasnya lemah. Kelakuan orang orang kota sangat lah aneh dan mengerikan, termasuk Biru juga.... adeeeeh, bagaimana nanti kalau saya sudah di kota, bisa stres kali ! Senja merebahkan tubuhnya setelah berkenalan dengan bang Sam.
"Pipi Bolong, Kaka Lo cantik juga ! Tapi kok bisa di langkahi sih ? Lo keterlaluan !, kata orang sih, Famali tau nggak ! melangkahi Kaka itu, Nanti Kaka Lo akan jadi perawan tua."" Lirih Bang Sam. Ia pikir Senja memejamkan matanya benar-benar terlelap namun di balik pejamnya ia menyeringai yang belum sempat mengajukan syarat yang sudah di langkahi oleh Mentari.
__ADS_1
Senja pun langsung duduk, membuat Mentari dan Bang Sam terkejut, lagi.
""Daeng !"" Kaget Mentari memegangi dadanya.
""Gue juga kaget Lho, Daeng !"" Gemulai Bang Sam menyentil dahi Senja. Senja kerisihan.
""Tangan di kondisikan dan kau adik pipi Bolong ! Saya mau mengajukan syarat pelangkah !"" Sungging Senja.
""Apa ? uang ! tidak masalah, saya sudah memegang uang banyak dari Bos Biru."" Tunjuk Mentari bangga ke arah koper.
""Bagus ! nah kalau begitu, apa kau melihat jejeran botol Parfum itu.""
Mentari dan Bang Sam mengikuti arah tunjuk Senja di lemari kecil yang banyak botol tipis bening dengan isinya.
""Itu parfum buatan saya dari hasil tanaman bunga bunga yang saya tanam pun, Cita cita saya...Ya itu ! Penghasil minyak wangi berkelas, tapi saya butuh modal dan dukungan... sekarang saya minta dukungan dan modal dari mu atas syarat pelangkah saya, mengerti adik manis !""
Mentari dan Bang Sam saling lirik dengan menelan ludahnya susah payah mendengar syarat tinggi kakanya.
""Nih, ambil lah !"" Mentari menyerahkan satu koper uang yang di berikan Biru kepadanya. ""Saya hanya ada segitu untuk mendukung cita citanya daeng ! Terus dukungan marketing saya akan juga usahakan bisa."" Ikhlas Mentari.
""Saya juga mau membantu kalau bidan fashion, saya juga suka hal berbau begituan, jadi saya akan membantu Mentari menjadi marketing pemasaran ala ala saya."" Timpal bang Sam semangat menawarkan.
Senja tersenyum manis memeluk adiknya, ia hanya menggoda dengan hal biaya, ia tidak butuh biaya lagi karena sudah mendapatkan dari peninggalan Dewa, ia hanya butuh doa dan dukungan arahan tempat nantinya di kota.
""Saya hanya menggoda adik manis, Kaka do'akan pernikahan mu bahagia luar biasa dan terhindar dari kerikil kerikil apa pun itu." Tulus Senja. ""Terimakasih banyak tawaran dananya tapi Daeng mu ini sudah punya dari peninggalan Amang. Dengar ini ! Saya Senja Putri Batara meminta pelangkah dari adik Saya yang bernama Mentari Putri Batara dengan sebenarnya adalah menyuruh dan tidak menolak untuk mu adik ku, agar mau memimpin perusahaan RD Batara yang di wariskan keluarga untuk ku dan kuserahkan untuk mu. Tidak boleh menolak ! itulah sebenarnya yang Daeng mu inginkan karena Daeng akan memulai cita cita daeng sendiri dengan botol botol itu.""
Senja tersenyum jumawa melihat Mentari kalah telak yang tidak bisa mengelak lagi, Senja yakin akan kecerdasan adiknya dalam memajukan perusahaan RD BATARA bersama dengan Gema nanti.
""Baiklah ! kau menyebalkan Daeng !"" Cemberut Mentari.
__ADS_1
""Hahaha, kamu kalah licik dari saya Mentari !""