RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 70


__ADS_3

Biru beranjak masuk ke Pantry untuk melihat keadaan Mentari. apa kah si Petite masih meletup letup dengan kemarahannya atau sudah menjadi kucing kecil manis. ia bodoh amat dengan peringatan di pintu...Di larang masuk kecuali Staff yang berkepentingan !


Sementara sang tersangka yang di cari Biru sedang berada di gudang Pantry, tempat perabot restoran berada.... Gadis itu memang menyukai suasana yang sepi apalagi sedang kacau pikirannya.


Hidup itu seperti kado, surprise misterius ! jalanilah apapun ! Nyalakan hidup dengan keseimbangan ya, nak ! Harus kuat ! ya senang, ya sedih, ya marah, ya apa pun itu harus di jalani dengan ikhlas, Sayang ! ingat ada sang pencipta di atas, selama hati anak Amang ini masih jauh dari kata dengki dan dendam, maka Amang yakin sang pencipta ada di dekat Mentari, melindungi mu !


Mentari selalu mengingat ingat pesan sang almarhum Amang-nya untuk menguatkan dirinya sendiri. Tapi rasa di dadanya makin di rasa makin sesak saja. Mentari rasanya ingin sekali menjerit. Meneriakan rasa susah hati dan rasa ketidak Adilan yang selama ini ia terima dari orang orang bermulut lebar yang menghinanya ! Tapi siapa yang akan mau mendengarkannya ? Tidak ada yang perduli ! Bahkan Bos Biru-nya saja tadi membela Sena, Pikirnya. Di kampung maupun di Rantau sama saja, orang orang pada tidak menginginkan dirinya tenang ! padahal ia tidak pernah mengganggu hidup orang tapi timbal baliknya kok begini ?


""Amma, Mentari rasanya tidak betah lagi di rantau, Ingin pulang tapi hutang Tari masih banyak di Bos Biru. Amang ! Hidup Tari kok susah amat ya, Jadi orang baik tuh berat, Amang !""


Mentari mulai berbicara sendiri mengadukan rasa sesak hati kepada orang tuanya yang tidak ada dan tidak akan mungkin di sahuti oleh Amma apalagi Amang-nya yang sudah almarhum.


Bu Bina dan para pekerja lainnya hanya bisa memandang dari kejauhan dengan prihatin. tak ada yang berani mendekat dan mengganggu Mentari yang sedang berbicara ke Amang imaginernya.


"" Ingat nak ! Tuhan ndada hea modom.""


Mentari terdiam. ia seolah olah mendengar ada suara Amang-nya yang menyahuti pengaduannya dengan kalimat pendek tapi sangat bermakna. Ya...benar kata Amang-nya ! Tuhan tidak pernah tidur. ia hanya butuh waktu bersabar untuk menggapai cita cita dan Mungkin kebahagiaannya. Sedikit waktu lagi !


Mentari pun menangadakan Kepalanya ke atas, agar air matanya tidak jadi tumpah, Itu adalah trick paling ampuh baginya agar air matanya kembali masuk lagi dan trick ajaib bin konyol itu ajaran kakanya semasa mereka masih kecil.


""Kalian pada ngapain, pelanggan di depan pada kabur noh, ada Arkan pada kena semprot lho !"" Seru Biru membubarkan Bu Bina dan para staff lainnya yang tadinya masih setia menatap prihatin Petite-nya.


Setelah menarik segelas air putih di atas Pantry, Biru pun menghampiri Mentari yang masih duduk memojok membelakanginya.


""Minum dulu !"" Tawar Biru tersenyum manis, Seraya duduk bersila di samping Mentari.


Mentari melirik air bening tersebut sekilas dan kembali menatap Biru dengan datar.

__ADS_1


""Di larang masuk ke Pantry kecuali karyawan !"" Tegur Mentari tanpa ingin meraih air putih dari tangan Biru.


""Benarkah ? Kalau begitu...."" Biru meraih topi koki yang entah milik siapa ? memakainya dengan santai. ""...aku akan menjadi koki di sini !"" Serunya menggoda.


""Tidak ada lowongan, pergilah dan jangan ganggu para pekerja di sini, tamu tuh duduk cantik di table depan !"" Dingin Mentari ingin beranjak berdiri tapi di tarik oleh Biru hingga gadis itu duduk di pangkuan Biru.


Mentari ingin beranjak kembali dengan tenaga penuh, tapi apalah daya kekuatannya seperti anak kecil saja di bandingkan oleh tenaga berotot Biru.


""Lepaskan Bos ! ini tempat kerjaan ku jangan mempersulit ku ! "" Tekan Mentari tapi Biru makin erat memangkunya. ia pun melirik ke arah Pantry, aman tidak ada orang. Bisa malu nanti ! ""iish...Sana temui Sena, bukannya tadi Bos membela dia."" Cibiknya cemberut.


""Eum, akan ! tapi Nanti malam aku akan menemui Sena ! mau ikut sayang, kita akan bermain !"" Seru Biru penuh maksud. Tapi mana peka si otak polos Lempeng ini. ia pikir akan bermain kelereng, layangan atau apa pun itu.


""Pergi sendiri ! aku bukan anak kecil yang butuh bermain, jadwal hidup ku sudah habis untuk mencari nafkah dan belajar ! awas lepaskan !"" Pukul kuat Mentari di lengan Biru tapi tak berefek.


Biru menggeleng geli ""Kamu cemburu sayang, eum !"" Godanya.


Ia juga ya ? Gumam Biru yang tak pernah mendapat titel resmi dari Mentari. Biru berpikir keras bagaimana caranya agar Mentari peka dengan rasa kecemburuan yang sebenarnya. Gadis itu pun sesungguhnya suka dengannya tapi tidak di sadarinya saja.... Begini nih repotnya menjadi budak cinta dari orang yang Kepekaan rasanya lima persen di kalahkan anak SMP...harus menjelaskan dulu dengan menyamahi materi akademis.


Biru lebih mempererat pangkuannya agar si kucing manis tidak lepas. ia akan berbicara panjang lebar untuk memberi sugesti di otak polos Mentari.


""Dengar ya Petite ! Aku tuh tidak membela Sena, bahkan aku sudah menyuruh Nata-sepupu ku untuk meretas keamanan CCTV di sini agar Sena tidak mempunyai bukti yang bisa saja kamu di tuntut UU pasal 352 dan pasal 354 KUHP tentang penganiayaan ringan dan berat ! walaupun pemantik apinya adalah Sena yang membakar sisi sensitif hati mu tapi hukum berlakunya ya itu...si pemukul pertama alias kamu, Mengerti sayang ?""


Mentari mengangguk paham dengan penjelasan Biru, ia jagonya pasal pasal tapi Nol besar dengan kepekaan.


""Bagus ! lanjut ke masalah cemburu ?""


Mentari begitu serius ingin menangkap pembelajaran dari dosen dadakan, tanpa sadar gadis itu mengalungkan satu tangannya di leher Biru dengan tatapan serius ingin cepat cepat tahu arti cemburu dari khas Bos yang baik tampan tajir pula....paket lengkap !

__ADS_1


"" Jika aku memangku gadis lain seperti posisi saat ini ? apa kamu suka melihatnya.?""


Mentari menggeleng. ""Tidak suka !""


"" Kenapa ?""


""Ya.. karena Bos yang pertama memangku ku dan berati kesucian pantatku yang di lapisi benang sudah tidak suci lagi karena mu, aku tidak suka !"" ucapnya polos. Biru tersenyum geli.


""Kalau aku mencium bibir wanita lain di depan mu, apa kamu suka ?""


Lagi, Mentari jawab tidak suka. "" Apa lagi itu, aku tidak mau melihatnya, Bos itu ke enakan tahu tidak ? masa satu bibir dari ku saja tidak habis habis malah ingin nambah bibir orang, aku pun makin sangat tidak suka ! aku tidak suka bekas bibir dari gadis lain"" Cibiknya cemberut kesal dengan ekspresi berjingkut bahu, jijik.


""Berarti itu namanya cemburu sayang ! seperti aku, jika laki laki lain manapun menyentuh sedikit kulit mulus mu dengan sengaja penuh arti, maka aku pun tidak suka alias cemburu buta, paham petite ! jadi kamu itu sebenarnya juga mencintai ku, sayang !"" Biru dengan nakal semakin memajukan wajahnya ke Mentari yang tak bergeming mencerna pengertian cemburu darinya.


Mentari menoyor jidat Biru pelan. ""Beri jarak !"" serunya. ""Berarti kita tuh sepasang kekasih, begitu kah bos ?"" Tanyanya polos dengan ekspresi konyolnya.


""Eum begitu lah ! jadi suami istri pun aku siap sekarang !" Tengil harap Biru tersenyum menang.


""Hemm.... nunggu jadi sarjana dan lamar aku ke Amma jangan seenaknya, Bos !""


""Baiklah !"" Lemas Biru menurut. ""Tapi sayang ! Rumah tangga seraya berkuliah pun bisa lho."" Bujuknya semangat.


""No ! Hasil memuaskan itu jika di jalani satu persatu dengan tekun jangan sampai di pecah !"" Mentari memencet hidung Biru agar dirinya terlepas dari erat pangkuan Biru.


""Mentari ! aku tidak bisa bernafas, lepas !"" pinta Biru. Bicara pun seperti sedang pilek parah.


""Ya...ya..ya..aku lepas."" Kalah Biru, Mentari tertawa ceria melihat hidung Biru memerah. Hanya Bosnya ini, di rantau yang memberi warna di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2