RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 198


__ADS_3

Mentari menunggu Rose di walk in closet khusus milik Om Cabu* Eh Om boss maksudnya dengan sangat terpaksa karena ia hanya berbalutkan handuk, setelah mengurus Pelangi dan Badai dalam berpakaian, ia pun mandi di kamar mandi milik pribadi Biru, sekalian pikirnya mempersingkat waktu, Tapi dengan bodohnya ia kan tidak punya pakaian ganti satu pun, mana di bawa sana ada darah darah apa gitu yang membuatnya risih.


Bagaimana ini ? Bingungnya, pas bin Kebetulan ada Topan yang masuk ke walk in closet untuk mengambil jaket bomber kecilnya, Mentari pun menitip pesan ke Topan agar Rose membawakan Roti.


""Ah, Amma lama amat sih...Masa masih kecil udah dapet aja sih ?"" Racaunya yang masih mengira ia sepantaran anak kecil yang duduk di bangku SD.


Mentari mondar-mandir dengan hanya mengenakan handuk melilit seksi di tubuhnya.


Ceklek..


Nah, itu pasti Amma, Batinnya namun oh ternyata... Oh, not my Ammmaaa, Si Om cabu* yang muncul ! Mata Mentari membulat sempurna, ia malu dengan penampilannya yang di bilang setengah naked.


""Ap--Apa yang anda lakukan di-di-di-sini ?""


Mentari reflek menutup bagian dadanya dengan Silangan tangannya. ia malu yang hanya menggunakan lilitan handuk, mana handuknya dua puluh senti di atas lutut lagi.


Glek glek ! wajah Biru langsung menghitam mupeng, di suguhkan pemandangan indah yang sudah lama tak di lihatnya dan tak di rasakannya lagi.


Semenjak Mentari koma, Di luaran sana ia memang sering mendapat kode kode negatif dari kenalan wanitanya, apalagi Shanum yang pernah terang terangan datang ke Apartemennya dalam sekedar merayunya. Tapi...ia menolaknya dengan kasar dan dingin juga sebagai peringatan ke para hawa yang masih berani mendekat maka ia akan memberi hukuman khas dari Sagara, dan itu hanya demi ingin mempertahankan Mentarinya, istrinya yang paling ia cintai.


""Aku ? ngapain ? hahaha, ini kan walk in closet ku, jadiiii...siapa yang semestinya ada di sini, eum !"" Biru semakin mendekat, Mentari berjalan mundur pelan.


""Om cabu*, Bisa sopan tidak sih, saya kan malu dengan penampilan begini, anda sangat tidak sopan."" Mentari memegang erat handuknya agar tak melorot, bahaya euy..!


Tak menghiraukan perkataan itu, Biru semakin berjalan ke arah Mentari yang mundurnya sudah mentok di gantungan baju yang berderet rapi, dan baju itu adalah baju Mentari sendiri yang masih tersusun terawat oleh Biru.


Deg.. deg.. deg..


Jantung Mentari bertabu kencang, Saat Biru dan dirinya hanya berjarak satu jengkal. Si Om tampan tapi cabu* ini mau apa coba ?


""Pa-pak, Tolong jaga kesopanan.""


Semakin gugup saja dirinya saat kedua tangan kekar itu, seakan menghimpit dirinya, ya.. walaupun kulitnya belum tersentuh, Tapi ini sudah tidak sopan, coeg ! Umpatnya dalam hati.


""Saya hanya mau mengambil baju kok !"" Biru berkelit, Dengan santai ia memilih baju di gantungan itu dengan Mentari masih di hadapannya yang tak bisa berkutik, Mentari ingin mengelak ke sisi kiri, ada tangannya yang sok sibuk memilah milah baju perempuan, begitu pun di sisi sebaliknya.

__ADS_1


""Ta-tapi kan, i-itu pakaian wanita Om ca-- Pak Om---- !""


""Eum, saya tahu !"" Mata nakal Biru tertunduk ke arah belahan mulus itu. "" Karena ini memang baju mu, Petite."" Batinnya.


""Hais.""Menyadari tatapan nakal itu, Mentari memukul dada Biru.


""Tangan ini sangat kurang ajar rupanya."" Santai Biru menangkap tangan kanan Mentari.


"" Anda yang kurang ajar.""


Tidak petite, semuanya adalah milik ku yang sudah halal, sayang.


Biru kembali menangkap tangan kiri Mentari yang berniat memukulnya, Sehingga kedua tangan itu di dalam cengkeramannya.


""Jangan bergerak, atau handuk kamu akan kabur dari tempatnya."" Lirik Biru ke belahan itu, Aku menginginkan mu, Petite. Batinnya menahan hasratnya.


""Pa-Pak, Huawaaa !""


""Eh, Cup cup cup.""


""Tuh kan ! Anda memang cabul, masa sama anak SD doyan sih.!"" Polosnya masih menangis. ""Bahkan anak SD ini baru mengalami menstruasi pertama... Huawaaa.""


Biru masih setia memandang wajah cantik Istrinya yang menangis, Bibir itu tersungging geli mendengar menstruasi pertama. Topan, Pelangi dan Badai...Siapa dong ?. ingin sekali Biru menjitak otak Petitenya agar kembali normal.


""Ini, pakai baju yang ini."" Setelah melepas kan tangan Mentari, Biru menarik baju favorit Mentari yang masih tersimpan rapi. ""Semua baju wanita di sini adalah milik mu sekarang...Dan Roti itu juga, pakai lah ! Kalau tidak bisa mengenakan yang katanya baru pertama mengalami menstruasi saya siap untuk memasangnya."" Godanya beranjak ke arah pintu.


""Aaargh, Dasar memang cabu* !"" Teriak Mentari menarik kasar satu bungkus roti dan melemparnya kesal ke arah Biru. Hap... Jatuh tepat di bagian belakang kepala Biru. membuat Biru kembali menghentikan langkahnya dan melirik geli ke Mentari.


""Mau di pasaang------Kan, Glek !"" Terdiam dengan mata membulat menyaksikan tubuh itu yang sudah naked sepenuhnya karena handuk yang di gunakan Mentari tetiba melorot.


""KYAAA !"" Jerit Mentari tersadar jika tubuhnya sudah polos, cepat cepat ia menarik handuk itu. "" KELUAAAR.""


"" Hahaha !""


Biru terbahak dalam hati, Bergegas keluar demi dua hal... Pertama, takut Mentari marah dan malah kabur dari apartemen. Kedua, Takut yang di bawah sana ngeberontak karena sudah karatan dalam berpuasa selama tiga tahun lebih sedikit. Sabar ya otong, kita ke Tante Lux aja dulu. Bujuknya ke sang sahabat di bawa sana.

__ADS_1


...****...


"Anak manis ! Amma Rose dan Amang Dewa di mana ?""


Setelah rapi dalam berpakaian, Mentari Bergegas keluar dari kamar Biru, berdiri di antara duduknya Pelangi dan Badai yang menunggu Ayah dan Bundanya untuk sarapan bersama. Ia sebenarnya ingin menolak baju mahal yang di pakainya yang entah milik siapa, paling juga milik Bunda kandung Si kembar, pikirnya menebak.


""Oh Nenek.... dah pelgi, nda !"" Jawab Pelangi menarik tangan Mentari, memberi kode kalau ia kepingin di pangku saja.


""Ada ulasan katanya !"" Timpal Badai. Topan hanya diam memperhatikan tanpa ingin bersuara.


Wajah cantik alami tanpa make-up Mentari tertunduk lesu di dalam duduknya yang sudah memangku Pelangi, Ammanya pergi tanpa ada kata pamit, ia kan takut di tinggal sendiri di sini, eh maksudnya tinggal bersama Om cabu* tanpa adanya Rose yang menemani. Tapi mengingat hutang orang tuanya ke Om cabu*, Maka dengan terpaksa ia harus bertahan.


""Pagi !""


Biru duduk di samping Topan yang baru bergabung, sudah rapi dengan setelan kantornya.


Mentari yang menyadari Biru telah meliriknya, membuang muka, seenak jidat ini itu menyibukkan diri, gelagapan...ia malu akan kejadian di walk in closet, tadi. dan dengan santai, Biru malah tengil menggoda dengan kedipan matanya Membuat Mentari merinding.


""Princess, kenapa di pangku begitu,eum ? Turun dan makan sendiri sarapan mu sayang !""


""Baik Ayah !"


""Tidak apa sayang ! Bunda akan menyuapi mu dan jangan turun, Ok !" Lembut Mentari, menahan ronta Pelangi yang akan beranjak dari pangkuannya.


""Dai, juga mau Nda !"" Cemburu Badai minta di suapin.


"Dengan senang hati, Tampan !"" Mata Mentari melirik Topan. "" Topan, Kamu bagaimana ? mau di suapan juga ?"" Tanya Mentari yang melihat diamnya Topan yang sangat datar.


""Topan sudah besar !"" Lembutnya menolak. Mentari melirik Biru dengan bingung akan sikap anak Sulungnya. Tapi yang di lirik hanya mengedipkan bahu, kode kalau tidak usah di pikirkan.


""Ayo buruan anak anak, habis kan sarapan kalian, kamu juga Mentari...hari ini kita ke kantor sebentar dan Setelahnya kita jalan jalan, Setuju !"" ajak Biru Ingin meluangkan waktu banyak bersama keluarga kecilnya.


""tetuju ayah, hole."" pekik Badai dan Pelangi senang.


Mentari Tersenyum tulus dan hangat damai menerpa hatinya saat melihat anak anak di hadapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2