
Ujung ke temu ujung sisi ballroom di acara pernikahan Gemi dan Satria. Itulah jarak Mentari dan Senja sekarang, Renggang ! Mentari terpaksa menjauh, berempat dengan anak anaknya duduk jauh dari keluarga besarnya demi menghindari kejadian yang bisa merusak acara Gemi-saudaranya.
Senja memang tak mengatakan apa pun padanya saat tidak sengaja berpapasan di pintu masuk, bahkan saking cueknya Daengnya itu tak melirik nya barang ujung mata pun, miris sekali dirinya di hukum yang nyatanya ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Biarkan.... Biarkan semua orang memusuhinya hari ini, esok lusa entah kapan hari itu, kepercayaan akan ia raih lagi...Itu pasti, hanya waktu saja yang akan menjawab.
""Nda, Kenapa kita duduk di sini ?"" Protes Badai.
""Adai mau sama Petil dan lainnya, boleh ?"" ijinnya ingin menghampiri keluarga besar Bundanya.
""Boleh dong Sayang ! Tapi kalian saja ya, Bunda di sini nunggu Ayah."" Jawab Mentari menatap ke tiga anaknya yang mengangguk. berbohong, namun tak sepenuhnya, karena ia memang menunggu kedatangan Biru yang mungkin suaminya itu tidak hadir, dari duduknya ini sangat tepat untuk membidik pintu masuk ballroom.
Mentari sempat dapat pertanyaan dari Rose, Apakah suaminya itu memperlakukannya semena mena ? dengan terpaksa Mentari berbohong lagi, demi kehormatan suami nya dan demi keutuhan rumah tangga nya, ia masih bisa bertahan sampai saat ini, ia berbohong ke Rose agar Ammanya itu tidak memaksanya agar pergi dari kediaman mertuanya. ini masalahnya jadi sebisa mungkin ia tidak mengijinkan para orang tuanya ikut campur.
Senja duduk tenang memperhatikan Gemi dan Satria menerima tamu, Tatapan nya seperti memburu seseorang, bukan mempelai yang sebenarnya yang menarik matanya di atas sana, melainkan Shanum dan kedua temannya yang memang di undang Satria Karena mereka satu angkatan, dulunya.
Tatapan mata kucingnya terganggu akan ponsel nya yang berkedip ada chat masuk. di raih nya benda pipih itu.
"Nona Shanum beberapa kali terlihat temu janji dengan dua gambar pria asing yang sudah saya kirim kan ke anda dan tidak ada lagi yang mencurigakan Selama anda menyuruh kami mengikutinya.""
Laporan dari anak buah Chris yang di pinjamnya, Membuat Senja memfokuskan beberapa gambar dua pria berbeda yang terlihat seperti bukan WNI, Tidak ada yang mencurigakan, memang. Cuma hati kecilnya berkata, untuk terus menyuruhnya membuntuti Shanum saat perkataan Ambigu Shanum di mall kemarin kemarin selalu saja menyakiti kuping nya, teka teki di otaknya.
Bagaimana keadaan rumah tangga mu, bahagia ? Itu lah pertanyaan Shanum, entah wanita itu ada maksud lain bertanya seperti itu atau hanya kebetulan saja dengan keadaan rumah tangga nya yang berada di pinggir jurang.
Setelah dari sini, aku harus bertemu Nata. Batinnya ingin meminta Bantuan, menunggu bukti dari Langit tidak ada kemajuan, Suaminya itu mentok di jalan dalam beberapa hari ini. dan entah di mana lagi suaminya sekarang, tadi ada di sekitaran anak nya tapi entah ? Mata kucingnya pun tak sengaja Melirik Mentari yang hanya duduk melamun di tengah keramaian seperti ini, adiknya terlihat kurus di matanya, apakah Mentari sakit ?
Perduli apa kamu Senja, Tahan diri... walaupun hati kecil mu berkata bahwa adik lempengmu tak akan menusuk mu dari belakang. Tapi bukti sedang memberatkannya. Batinnya prustasi.
Jam semakin bekerja sesuai poros nya berputar, Mentari lama menunggu kedatangan Biru tapi tak ada batang hidungnya.
dia tidak akan datang, Mentari. batinnya mengingat kan.
__ADS_1
""Hey, tuan rumah sendiri aja, mana suami tercinta mu, Mentari ?"" Shanum, Tetiba duduk di sampingnya. Suaranya begitu senang melihat penampakan sedih di hadapannya. ""Di anggurin ya ?"" Ledeknya.
Mentari hanya diam, ia lelah luar dalam hanya untuk sekedar beragumen biasa, apalagi harus membeli ledekan Shanum, ia hanya perlu jadi patung saja, maka pasti yang sekarang Tersenyum misterius di hadapannya ini akan pergi yang merasa di cuekin.
""Kenapa tak bersemangat begitu sayang, hahaha.. menyedihkan, sudah punya suami tapi di table Seperti wanita sigle saja.""
Sabar Mentari...
Shanum semakin menggila, terus menerus berbicara aneh aneh yang lama lama membuat telinga Mentari berdengung. ini orang mau nya apa sih ?
"" Bisa pergi tidak Shanum, suara mu seperti beo Tante mertua ku saja, jelek !"" Semprot Mentari geram. Sedetik ada anak sulungnya datang datang menumpahkan minuman ke pangkuan Shanum entah sengaja atau tidak, yang jelas Mentari puas akan kelakuan tidak sopan anak sulungnya, dengan begitu pasti Wanita glamor ini pergi dari hadapannya.
""Owh, Damn it !"" Maki Shanum tertahan, reflek mencubit lengan Topan begitu geram dan kuat.
""Hiks, hiks !"" Topan menangis yang memang mungkin sakit atau hanya pura pura, anak ini sangat susah di tebak oleh Mentari.
Kreeek..
""Aku sudah pernah memperingati mu dulu, Jangan pernah nampak di depan wajah ku, Apalagi menyakiti salah satu anak ku, apa kamu lupa wanita berkelas ?"" Mentari semakin geram tak sadar.
Pergerakan Mentari mengundang banyak mata di tempat itu, Mentari tidak terima anaknya di sakiti oleh orang lain, Dengan spontan, Mentari memelintir tangan kurang ajar Shanum, ia sendiri sebagai orang tuanya tidak pernah menyentuh anaknya secara kasar, ini wanita sedari tadi di sabarin sangat ngelunjak minta jantung.
Dan tanpa sepengetahuan Mentari. Topan Tersenyum devil, Bundanya keren juga, bisa memelintir tangan ondel ondel. dan Topan memang sengaja, ia kesal...dari tadi mendengar Bundanya di hina tapi Bundanya ini hanya diam saja, maka mau tak mau ia harus memancing ke ibuan orang tuanya ini.
""Ada apa ini ?"" Radja datang melerai, di ikuti keluarganya yang sudah berdiri di belakang Radja.
Dan Mentari pun tersadar akan kelakuannya yang sudah membuat rusuh di pernikahan Gemi, ia segera melepaskan tangannya dari Shanum yang sudah meringis sakit dari tadi.
""Maaf, aku lupa situasi. Amma.... Tari minta Tolong, titip anak anak, badan ku lagi tidak bersahabat.""
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Rose dan Juga mengabaikan Tatapan prihatin dari yang lainnya, Mentari beranjak. Topan ingin mengekor, namun langsung di tahan oleh Jum.
""Tante."" bujuknya ke Jum ingin menghibur Bundanya.
"No ! Bunda mu perlu istirahat !"" Cegah jum di tangan kecil Topan.
Namun tanpa orang sadari, Bang Sam lah yang mengikuti langkah Mentari yang sudah hampir tertelan pintu masuk.
""Mau kemana ?""
Gemi yang melihat dari kejauhan akan keluarganya yang berdiri dari table, ingin turun dari pelaminan. Namun terhenti akan Satria yang berdiri menghadangnya langsung.
""Minggir !"" Cetusnya.
""Iya, tapi kamu mau kemana ? acaranya belum selesai, Jangan berbuat ulah Gemi, aku di sini bersungguh sungguh---!""
""Bersungguh sungguh memandang wajah istri kembaran ku, itu yang ada di otak mu, cih !"" Potongnya menuduh dengan suara pelan namun penuh tekanan di telinga Satria.
""Cemburu kah ?"" Satria malah menggoda, jodoh dadakan nya ini rupanya manis juga jika terdengar ketus.
""Cih, kita menikah hanya karena ini ?"" tunjuk Gemi akan perut nya yang masih rata. ""Bukan karena Cinta, tapi kecelakaan !"" Lanjutnya menatap sinis, Hormon kehamilannya Membuat emosinya yang memang cepat marah bertambah sensitif memuncak. ia tidak percaya Satria yang katanya akan bersikap santai di hadapan Jum, kupingnya berdengung saat mengingat dulu Satria memakan dirinya tapi racaunya menyebut nama Jum dalam setiap erangan kenikmatan menggalinya. Sialan kan ?
""Bagaimana kalau kita adakan cinta itu, Mengingat sudah ada hasilnya di dalam sini."" Satria meraba lembut perut Gemi, langsung di sentil kuat dari pergerakan reflek istrinya ini. ia pun tersenyum manis menggoda kegalakan Gemi.
"Cinta ? Maem tuh Cinta... yang ada Lo hanya meracau Jum...Jum...Jum.."" Sindirnya. ingin beranjak lagi. tapi lagi lagi Satria menahannya.
""Malam ini aku akan menyebut nama mu, Gemi Gemi Gemi !!!" Godanya berbisik di telinga Gemi dengan suara sensualnya.
""Ngarep !"" Tolak Gemi dengan kepalan tangan di depan wajah Satria, mengancam. Tidak ada lagi adegan ehem ehem di antara mereka, Hanya kesalahan malam itu saja. cukup dan Titik. Menolak keras kehadiran Satria.
__ADS_1
""Enak lho Gemi !"" Lagi lagi Satria merayu dan berharap ada adegan ranjang malam ini, ia laki laki normal, walaupun tanpa cinta sekarang ini, tetap saja ia nafs* di buat oleh Perangai Wanita halalnya, siapa tahu saat terus menerus melakukan nya kan, ada tumbuh rasa cinta. iya kan ? Dari ehem ehem menjadi Cinta.