RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 86


__ADS_3

Suara sedakan tiba tiba terdengar berpaduan suara saat Dibi yang kurang kerjaan menanyakan Banci itu apa ? Namanya juga bocil, nakal nakal pintar, ya... apa pun itu di tanyakan dengan cerewet. Dan keluarganya tidak ada yang mau melarang Dibi yang banyak tingkah ke Mentari, Hitung hitung melatih kesabaran Mentari jikalau sudah punya anak kelak nanti. bahkan Biru pun tak bersuara seakan menikmati kelakuan Dibi, padahal mah di dalam hati sudah mengumpati Dibi....mau di lawan terang terangan, apalah daya....pasti akan di cibir berpaduan suara pula dari pihak keluarga. Masa sama anak kecil saja cemburu... Betapa tidak etisnya kan kalau di lempar kata kata seperti itu, pasti nanti ia akan di anggap gila oleh keluarga sendiri karena logikanya sudah hilang gara gara terlalu memuja si Petite.


Mentari terdiam sejenak, memikirkan jawaban pas untuk Dibi, Pertanyaannya memang mudah di jawab, tapi ya...begitu, anak kecil itu harus di beri pengertian yang spesifik dan tepat agar cepat di cerna oleh otak versi anak anak, Dan biasanya anak kecil itu kalau di beri jawaban yang belum memuaskan maka akan terus bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"" Banci itu laki laki sayang. Tetapi penampilannya, Cara ngomongnya, dan juga cara jalannya seperti perempuan, Misalkan atau contohnya, Lihatlah Uncle mu !"" Mentari menunjuk Biru yang ada di hadapannya tapi tersekat antara meja makan. Dibi memainkan bulu matanya mengejek, Saat ia melirik ke Biru, Niat hati sih ingin mengedipkan satu matanya tetapi tidak bisa mempraktekkannya. Dan yang di lirik menampilkan wajah manisnya, Tapi di dalam hatinya sudah busuk busuk kecut sudah mengumpati bocil kesayangan Keluarganya ini.


""Uncle mu kan seorang laki-laki tuh ! Tapi Dibi bayakan saja sebagai contoh, Kalau Uncle mu sekarang sedang mengenakan pakaian wanita seperti baju yang mama Dibi kenakan saat ini...Nah, itu yang di namakan Banci, sayang. Paham ?""


Kompak semua ! Bukan hanya Dibi saja yang menghalu kalau Biru sekarang menggunakan pakaian Bintang yang saat ini sedang memakai Dress selutut berwarna soft pink, plus memakai riasan wajah, ahai... lipstik merahnya itu lho...Hm, bikin merinding... Auto yang normal bergidik.


""Otak di kondisikan ya !"" Ketus Biru yang mendapatkan tatapan geli terhadapnya dari semua penghuni meja, Si Petite nya lagi ! Kenapa harus dirinya sih yang di jadikan kelinci perumpamaan.


""Hahaha.."" Dibi dan semuanya kecuali Mentari terpingkal pingkal menertawakan wajah cemberut Biru. ""Uncle Bownis, Cantik !"" Celetuk Dibi.


""Yaak, Bin ! anak mu mi---!""


""Anak ku memang pintar, Aunty Bownis."" Bintang menirukan cara bicara Dibi, memanggil Biru pun bukan Uncle melainkan Aunty. Biru pasrah di tertawakan oleh semuanya.... Tertawakan lah diri ku sepuasnya.


""Aunty, Dibi mau nanya lagi, Tuhan itu apa sih ? Dan kenapa katanya kita harus takut ?""


Kali ini Dibi memang bertanya sungguh sungguh, Karena setiap ia menakali anak dari sahabat orang tuanya, pasti anak kecil itu yang bernama Kinara mengutuknya atas nama Tuhan yang katanya hebat.


Mentari mencari kata kata yang spesifik dan masuk akal untuk Dibi cerna.


""Tuhan itu yang menciptakan Manusia, hewan, tumbuhan, matahari, bulan dan pokoknya semuanya yang ada di bumi ini, Jadi pasti Tuhan itu hebat kan, ya ? Terus kita memang harus takut kepada Tuhan sayang, karena Tuhan yang menciptakan kita melalui perut seorang Mama dan tuhan juga serba membuat. Ia membuat kita hidup, melihat, mendengar, bergerak dan lainnya. Tapi Tuhan juga bisa membuat kita Tuli, buta, dan meninggal, makanya kita harus takut kepadanya tidak boleh nakal apalagi melawan orang tua Dibi, takut takut Tuhan marah. Mengerti sayang ?""

__ADS_1


Kepala kecil itu pun mengangguk takzim, makin lama makin banyak pertanyaan yang muncul di otak kepengin tahuannya, ia nyaman mendengar jawaban Mentari yang mudah dimengerti olehnya. Dan Kepala dewasa yang ada di ruangan makan makin menilai Mentari dengan positif, wanita kecil tapi punya pesona luar dalam sampai seorang anak kecil seperti Dibi pun yang nakal bisa takluk di tangannya.


""Dibi, Kan Aunty bolong sudah menyuapai Dibi sampai tak tersisa tuh isi piring, dan Juga sudah memberi Jawaban dari semua pertanyaan Dibi, jadi ayo turun dari pangkuan Aunty bolong, Nanti Tuhan marah lho ke DiBi kalau menolak."" Ucap Biru dengan Sindirannya, Dan dapat hadiah seruan pelit dari Dirgan dan Bintang, kompak. Orang tuanya Dibi kan senang, anaknya yang nakal dapat pencerahan dari Mentari, Tapi ini...Si Sagara terlihat kecut....Awas saja nanti !


""Baiklah !"" Pasrah Dibi, Takut mendengar nama Tuhan yang di bawa bawa oleh mulut Uncle-nya. ""Tapi satu lagi pertanyaan."" Syarat nya kemudian.


Mentari mengangguk manis, ia tidak keberatan memberi penerangan ala dirinya ke Dibi, justru ia sangat menikmati.


""Aunty, Kenapa Papa mempunyai ekor di bagian depan ?"" Tanya Dibi polos.


Mata Mentari dan mata lainnya menoleh ke arah Dirgan berjamaah, Bintang yang di dekat Suaminya terkikik geli tertahan, Ia tahu pertanyaan anak nakalnya itu, Tapi biarkan saja otak polos Mentari yang bekerja keras menjawabnya.


"" Astaga anak nakal ini, ada ada aja pertanyaan bodohnya, itu bukan ekor anak pintar pintar bodoh, Tapi sumber kenikmatan papa untuk di konsumsi mama mu, setiap malam di ranjang, dan tanpa ekor itu...kamu tidak akan tercipta di rahim mama mu ! Anak Tengil, Tapi itu anak ku !"" Batin Dirgan merutuki pertanyaan anaknya.


""Hahaha."" Biru, Nata, bahkan Gion serta Vero dan bahkan Titan tawanya sudah pecah terpingkal menertawakan Dirgan yang nampak bodoh. Meca dan Vane serta Bintang sampai ingin menetaskan air matanya saking tidak kuat menahan tawanya.


""Dir, Gue mau lihat dong ekor depan Lo itu."" Goda Nata.


""Haha, iya...gue juga penasaran, panjang berbulu tidak ?"" Timpal Biru.


Dirgan melemparkan tissue kotor ke arah Biru dan Nata sebagai jawaban ledekan mereka. dan kembali tawa riwuh terdengar. Hanya Mentari dan Dibi yang kebingungan di sini. padahal Dibi tidak sadar kalau ia pun mempunyai ekor di bagian depan.


Tidak ada yang mau beranjak dari tempatnya, karena jujur.... kehadiran Mentari dan Dibi membuat suasana makin meriah.


Mentari bingung mau menjabarkan pertanyaan bocil yang satu ini. Otak polosnya juga aneh mendengar ada orang yang mempunyai ekor di bagian depan, Otak Mentari hanya tahu, Manusia sebenarnya memang mempunyai tulang ekor belakang, tapi itu tidak terlihat sama sekali di bagian luar kulit manusia melainkan di dalam tapi pendek sekali. Naik turun mata Mentari meneliti Dirgan ! Mentari angkat tangan dengan pertanyaan Dibi satu ini, Otaknya tidak peka dan konek ! Ya iyalah pasti tidak peka...mana ngarti Mentari hal hal yang berbau mesum, ia hanya konek dalam akademis dan mencari nafkah untuk Amma.

__ADS_1


""Itu bukan ekor Dibi, sayang ! Tapi Peni* !"" Dirgan langsung ke inti pertanyaan anaknya, ia tidak mau menjelaskan separuh separuh keingin tahuan Dibi.


Glek ! Mentari menelan salivanya saat matanya reflek ke melirik ke inti Dirgan saat papa Dibi itu menyebutkan benda inti. Wajahnya langsung memerah malu.


""Peni* itu buat apa, Pa ?""


Nah..kan makin melebar kemana-mana pertanyaan bocil tengil ini. Mentari semakin malu di hadapan orang, apalagi matanya bersibobrok dengan mata Biru yang mengedipkan mata ke arahnya.


""Peni* itu kegunaannya untuk pipi*, dan pipi* itu berguna dan penting untuk membuang kotoran di dalam tubuh kita agar penyakit organ kita yang bernama ginjal jauh dari kata sakit. MENGERTI Dibi ?""


Dibi mengangguk takzim, puas dengan jawaban dari papanya.


Sekarang waktunya Dirgan menggoda dua orang sekaligus, setelah para orang tua beranjak dari tempatnya dengan membawa Dibi untuk beristirahat. Hanya lima kepala muda yang tersisa di tempat.


Dirgan menyeringai memperhatikan Biru dan Mentari secara bergantian, Setelah kompak berbisik ria dengan Bintang istrinya.


""Mentari ? apa kamu juga mau di jabarkan secara rinci tentang ekor depan pria ?"" Dirgan yakin, otak lempeng ini sepertinya tidak peka Sebelumnya, makanya Mentari terlihat menyerah akan pertanyaan Dibi tadi, di matanya.


Biru melotot horor akan hal itu. Mentari langsung menggelang cepat, Ia kali belajar anonim manusia secara detail dengan suami orang, istrinya ada pula....ia masih sayang dengan kulitnya yang tidak mau di kuliti oleh Bintang.


"" Tidak usah kampret, kalau sudah halal, Gue sendiri yang akan mengajarinya."" Ketus Biru.


Tawa pun mengiring keketusan Biru.


Dukungan penyemangat deh ah...šŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2