RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 252


__ADS_3

Di depan meja rias, Mentari mematuk matuk penampakan wajahnya, air mukanya sangat lah pucat bak orang sakit, Tubuhnya pun terasa lemas dengan tulang tulang berasa ingin lolos dari tempatnya.


""Apa kah kamu sadar Hulk, Kamu pulang setiap larut malam dengan membawa aroma alkohol dan berujung memakai ku secara kasar.""


Mentari Berbicara sendiri dengan pantulannya di cermin. menutup ruam merah di leher bekas kepemilikan Biru semalam, Bibirnya selalu berakhir bengkak ulah dari Biru pun dan sekarang berakhir terluka Seperti sariawan. Tidak adalagi Biru yang sekarang lemah lembut memperlakukannya. Hulk...sama seperti itulah panggilannya......berubah menjadi monster dingin.


Di poles nya bekas bekas sialan itu, serta di poles nya pula wajahnya agar terlihat fress, tapi satu yang tak bisa Mentari poles dengan topeng, Perutnya... Perut nya berakhir keram Setelah Biru memakai nya secara kasar dan berakhir akan membaik dengan sendirinya. Entah mengapa perutnya selalu tidak bersahabat belakangan ini.


Hari ini ia dan semuanya akan menghadiri acara Gemi dan Satria. ia tidak mau terlihat pucat di depan semua keluarga besarnya, sebenarnya ia sangat malas untuk hadir karena di sana pasti ada Langit berikut Daengnya sendiri yang pasti sekarang hanya tatapan kebencian lah yang akan ia dapatkan dari sinar mata Senja.


""Wow, Ada yang begitu bersemangat ternyata."" Sindir Biru yang belum siap sama sekali. Entah dari mana suami nya ini.


Mentari hanya diam, memperhatikan Biru dari cermin yang akan berlalu di belakangnya..


""....dan pasti karena akan bertemu seseorang, makanya berdandang sempurna. !"" Lanjutnya lagi dengan terus melangkah.


Nyeeees, Darah Mentari berdesir ngilu, mengalir membawa jarum jarum tak kasat mata untuk menusuk hatinya. ia menunduk untuk membunyikan mata sepatnya. memejamkan matanya sekilas dan menarik nafas dalam dalam guna untuk membuat dirinya kuat. aku berdandang karena menutupi wajah menyedihkan ku, Bahkan kamu tidak menyadari nya sedikit pun, kalau kamu sudah menyakiti ku, baik fisik maupun batin ku.


""Hulk, aku sudah menyiapkan baju mu."" Tunjuknya di atas kasur, tak memperdulikan sindiran kasar Biru. ia dan Langit tidak ada affair. titik.


""Aku tidak suka pilihan mu yang itu, mulai sekarang jangan menyiapkannya lagi atau mengurusi semua keperluan ku Sebelum kamu membuktikan kelakuan mu itu tidak benar adanya."" Pedas Biru.


Mentari bangkit dari kursi rias, memeluk erat tubuh Biru dari belakang, Sungguh...ia merindukan suaminya untuk berbicara lembut kepada nya, merindukan kehangatan suaminya yang selalu menggodanya sayang. Merindukan aroma tubuh bersih suaminya tanpa adanya campur aroma alkohol. Ia merindukan semua nya dari Biru, apakah ia akan masih mendapatkan nya ? Entahlah ? ia hanya takut hatinya berubah dingin pun untuk Biru, Jadi sebelum hatinya lebih dalam Terluka...ia akan menegaskan lagi kalau dirinya masih lah Mentari yang berhati polos dan Mentari yang masih amat sangat menjaga kesuciannya hanya untuk suaminya seorang.

__ADS_1


Biru mematung dari pelukan erat itu. Hatinya pun sakit menyadari perkataannya barusan yang pasti melukai hati Mentari. Tapi harus bagaimana lagi, Emosinya selalu menguasai hatinya jika bayangan bayangan foto yang selalu ia tepis kebenarannya malah menyerang pikiran jernih nya terus menerus. Dan berakhir keluar lah ucapan pedas untuk Mentari dengar, ia selalu mengingat perkataan Nata untuk bersikap biasa-biasa saja dulu, Namun ia selalu gagal untuk menetralkan emosinya.


Di dalam hati Biru sekarang bercabang, ada yang berteriak teriak untuk menyakiti penghianat ini, ada pula sebagian hatinya yang berteriak teriak untuk mempercayai istrinya dan melupakan bayangan foto itu. Pasangan mana sih yang tak terluka melihat ada foto tak senonoh yang tertuju ke pasangannya ? ia hanya manusia biasa yang mempunyai kekurangan, yang ada rasa salah dan rasa benar dalam bertindak. dan ia bingung, apa kan tindakannya ini benar atau salah ?


""Hulk, ku mohon jangan seperti ini, Aku tidak akan membuktikan apa apa karena tanpa adanya bukti kelitku pun harus nya kamu selalu percaya kepada ku, Karena kamu pasti sangat tahu siapa aku sebenarnya...aku Mentari mu yang tidak tega melukai semut pun mana mungkin tega melukai orang tersayang ku. Aku tidak lah seburuk apa yang ada di benak mu, Hulk. aku masih Mentari mu yang selalu menjaga hati dan diri hanya untuk mu seorang. aku harus bagaimana lagi berucap agar kamu mempercayai ku. apakah aku harus mati dulu baru kamu sadar ?""


Biru meneteskan air matanya tanpa sadar, ia menangis dalam diam tanpa sepengetahuan Mentari pun. Memejamkan matanya dan tangan nya terurai ingin meraih tangan lembut yang terpatri di perutnya, Namun hanya mengudara saat mendengar bibir istrinya kembali terbuka.


""Aku tidak mungkin berkhianat, Aku punya otak Hulk, Langit adal---!""


""Langit... Langit.... Langit, aku benci mendengar suara mu mengucapkan nama itu."" Bentak Biru memotong ucapan Mentari. Menepis kasar tangan Mentari yang sedari tadi memeluk perutnya dari belakang.


""Ja--!""


""Kalian belantem ya ?""


""Siapa ?"" Pelangi pun muncul dari ambang pintu. di susul Topan yang dari kemarin mengetahui bahwa ayah bundanya dalam situasi tegang namun Topan belum tahu apa masalahnya.


Air mata Mentari segera ia hapus yang jatuh karena bentakan Biru begitu menusuk hatinya. dan Topan melihat pergerakan diam diam itu.


""Eh, tidak sayang...kami sedang drama ! iya kan Yah ?"" Bohong Mentari, meminta pembenaran Biru. Dan suaminya itu hanya mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


""Wah, kalian sudah rapih !"" Mentari berlutut, menyamakan tinggi Topan yang memandang punggung ayahnya dengan tatapan mata elangnya. anak nya yang satu ini rupanya tidak percaya akan dusta dramanya. "" Wangi lagi !"" Goda Mentari menciumi leher Topan agar anaknya melepaskan Tatapan elangnya dari arah Biru berjalan. Namun anak dinginnya ini masih saja misterius tatapannya.

__ADS_1


""Kami juga mau tium, Nda !"" Pinta Badai, cemburu.


""Tentu, Little boy."" Gemas Mentari mengabsen pipi gembul Badai.


""Dan.... Princess, Bunda !"" Mentari mengatup kedua rahang anak perempuannya sebelum menciumnya, Pantas saja Biru sangat dekat dengan anak perempuan nya ini, wajah Pelangi dan wajahnya sebelas dua belas dengan nya di versi wajah kecil ini.


""Topan tidak suka Ayah !""


Deg...


Mentari segera memusatkan perhatiannya penuh pada Perangai Topan yang tetiba berucap dingin.


""Topan tidak boleh berbicara seperti itu."" Lerai Mentari memperingati, anak anaknya harus sopan kepada orang tua. harus.


""Topan dengar Bunda tidak ?!"" Tanya Mentari, Namun hanya anjakan yang di dapati Mentari, anak sulungnya pergi begitu saja tanpa ada satu kata pun.


""Topan kenapa sih, Nda ?"" Bingung Pelangi, Kaka nya itu sangat susah di tebak.


""Tidak, Kaka mu lagi ngaur, ayo kita berangkat duluan ke acara Tante muay."" Seperti Biasa, Badai selalu minta gendong ke Mentari.


""Ayo Nda !" Antusias Pelangi. Namun tangannya menahan tangan Mentari.


""Ayah ?"" Tanya Pelangi yang suka di gendong oleh Biru, menatap daun pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


""Ayah lagi ada kerjaan lain dulu sayang, Tapi Ayah akan menyusul kita kalau urusan nya sudah selesai. tidak apa apa kan ?""


Dan Kepala kecil itu pun mengangguk lemas, Pelangi rindu Ayah nya, belakangan ini, Ayahnya selalu pulang malam dan berakhir tidak pernah di ceritakan cerita ektrim lagi sebelum tidur, hanya Bundanya saja yang masih setia dalam tugasnya, Ayah nya melupakan nya dan Pelangi tidak suka itu.


__ADS_2