
Pukul dua dini hari, Mentari bangun dari tidurnya, membuka pintu kamar dan matanya mendapati Biru tertidur di sofa masih bertelanjang dada seperti semalam.
Kenapa tidak tidur di kamar sebelah sih ?
Mentari menyelimuti tubuh suaminya sampai sebatas leher. mencium dahi Suaminya dengan kasih sayang, ia sadar.... Suaminya ini tidaklah salah sepenuhnya, jadi tidak adil dong kalau ia marah terlalu berlarut larut, yang ada keharmonisan rumah tangganya akan renggang, nantinya. Ia tidak mau itu... Hulk-nya adalah miliknya, layaknya Biru terlalu posesif menjaganya dari pria lain, ia pun harus dong, menjaga suami tampannya ini dari wanita manapun...baik dari wanita masa lalu maupun wanita masa depan, pengganggu.
pertahankan jika masih layak di pertahankan, lepas lah jika sudah memang tidak layak di pertahankan... Teori hidup mudah bukan ? Tapi menjalankannya lah yang berat ?
Setelah mengecup sayang, Kaki telanjangnya melangkah masuk kedalam area dapur, Ia memang bangun karena terusik dengan perutnya yang di jam dua dini ini meminta makanan, entah kenapa belakangan ini, ***** makannya bertambah dua kali lipat.
Di apartemen Senja. Jam dini pun, ia bangun dengan kepala berdentam dan perut seakan di obok obok di dalam sana. Senja berlari cepat ke arah kamar mandi. Hoeeek... Hoeeek.. Memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air keruh. Lidahnya terasa pahit seketika.
Langit yang tidak bisa tidur nyenyak mendengar samar samar suara aneh itu. Beranjak cepat ke arah kamar Senja. ""Itik !"" Ketuknya di kamar Senja, berkali kali.
Tidak ada respon, ia menajamkan pendengarannya kembali. Dan suara aneh itu kembali terdengar. Dengan rasa panik, Langit tak berpikir dua kali lagi untuk mendobrak pintu kamar Senja yang di kunci rapat dari dalam.
Berhasil terbuka, matanya tak menangkap sosok Senja di atas peraduan, ia kembali mendengar suara aneh di dalam kamar mandi.
Langkah panjangnya pun dengan cepat menerobos kamar mandi.
""Sen---!""
""Hoeeek !""
Langit terkesiap, suara aneh yang terdengar adalah dari mulut Senja yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
""Kamu sakit ?"" Langit memijat tengkuk Senja yang masih menunduk setia di wastafel.
Dirasa sudah tak ingin muntah, Senja mendongakkan kepalanya yang terasa berdenyut denyut pening. menatap selidik keberadaan Langit.
""Kenapa kamu ada di sini ?!""
""Aku dob---e e eeh !"" Langit sigap menangkap tubuh Senja yang akan limbung ke lantai. ""Senja, hey ! Kamu kenapa ?"" Tepuknya lembut di pipi Senja yang sudah pingsan.
__ADS_1
Langit meraup tubuh Senja. Menaruh tubuh Senja ke tempat peraduan. menarik bantal untuk menumpuh kaki Senja. Orang pingsan salah satu pertolongan pertama ya itu.... mengangkat kaki hingga tiga puluh derajat atau setara lebih tinggi sedikit dari kepala, supaya peredaran darah lancar terus ke atas kepala.
""Senja, bangun Sayang ! jangan buat aku panik ?"" Langit memberikan aroma minyak angin ke hidung Senja. berupaya sebisa mungkin untuk membuat istrinya sadar.
Tak ada kemajuan, ia menarik handphone Senja di atas nakas, Hanya dokter Farel yang bisa menolongnya kali ini.
"" Hallo, Nja...ada apa ? Etdah... malam malam begini nelpon gue ? Lo kurang di kerjain apa Ama si Langit mendung, E---""
"" Bacot Lo ! Dari pada Lo bergulat Ah uh ah di sana, mendingan Lo ke apartemen Senja, Lebih berfaedah...Bini gue pingsan ini, gue bingung harus bagaimana ?""
"" Pingsan ? Hayuuu...Lo apain coba anak orang hah ? Lo garap kagak berhenti kali ya...Mentang mentang sudah sah, main garap sesuka hati aja Lo, Nyuk.!""
""Berisik ! Buruan ke sini, gue kagak mau tau ya...Lima belas menit sudah harus di hadapan gue...Kalau ti----""
Tut...Tut...Tut....
Percakapan mati di pihak Farel di seberang sana. Langit tersenyum simpul, ia yakin...di sana Farel pasti lagi buru buru akan menghampirinya.
...*****...
Biru terperanjat kaget dari tidurnya, Saat ada suara nyaring di dalam dapur.
""Mentari kah ?""
Dengan kesadaran Linglung, ia beranjak lari ke arah suara. Mendapati Mentari yang sedang mengobrak abrik isi kulkas.
""Hey !"" Lembut Biru menyapa di belakang tubuh Mentari yang mencondong kepalanya masuk kedalam kulkas. ""Hendak apa, Petite ?"" Imbuhnya.
""Aku lapar !"" Sahutnya masih setia dengan posisinya tanpa menoleh ke asal penanya. "" Tapi tidak ada makanan instan sama sekali, Mie instan perasaan sebelum tidur masih banyak di lemari penyimpanan...Tapi kenapa pada hilang ?"" Imbuhnya heran dengan nada putus asa. Ia tidak mau berlama-lama memasak, perutnya sudah tidak sabaran minta di isi.
Biru tersenyum simpul. Sebelum memaksa kan tidur, tadi. Ia sudah menyembunyikan makanan instan yang tidak baik untuk di konsumsi secara berlebihan. Apalagi Biru sempat melihat istrinya hampir makan makanan instan yang di dominasi cabe semua. Jadi ya...mau kagak mau... Farewell !!!
""Aku akan menjadi koki mu di dini hari, ini !"" Biru menarik lembut Mentari untuk minggir di hadapan lemari pendingin.
__ADS_1
""Aku maunya mie instan seperti yang kamu buang tadi !"" Rengeknya mengerucutkan bibir, membuat Biru tergoda akan bibir candunya itu.
Mengetes, apa kah Mentari masih marah atau tidak...ia pun mengecup bibir Mentari dengan cepat sedikit lamuta*, mencuri ! Se...Se..Se ! Mentari tak marah lagi kah ? Yes...Yes...Yes.. ! Soraknya dalam hati. Mentari tak protes akan kecupannya. malah membalas sekilas ciuman mesra itu.
""Petite, apa kamu tidak marah lagi sayang ?"" Tanyanya hati hati.
""Aku ingin makan !"" Mentari mengalihkan pertanyaan Biru, ia tidak mau mengingat itu lagi, menguras tenaga saja. dan kalau ia terus marah.... Siapa yang akan rugi ? yang jelas dirinya dan rumah tangganya sendiri...Shanum akan senang, pikirnya jika rumah tangganya berantakan. toh, Biru juga sudah minta maaf, dan Suaminya juga terlihat menyesal... masih bisa di toleransi dengan kesalahan Biru kali ini.
""Ok, sayang ! tunggu di sini !"" Biru mengangkat tubuh Mentari naik ke atas Pantry. ""Karena hanya ada telur dan sayuran ini maka Hulk mu ini akan membuatkan mu Omelet saja.""
di hari masih dini, Biru terlihat semberinga cerah, Petitenya sudah tidak marah, Yes dauble yes...Bantal guling pun Ferewell !
""Tapi aku hanya ingin makan mie plus cabe rawit yang banyak !"" Kekeuh Mentari tidak bisa di tawar tawar lagi. Entah mengapa ia begitu menggebu gebu ingin makan makanan yang sudah gagal di makannya sebelum tidur, tadi. Wajah itu nampak memelas hanya karena makanan.
""Sayang ! Jangan ngeyel ya, makanan itu tidak bagus untuk perut mu di pagi buta seperti ini. Nurut ya ?"" Dengan Lembut, Biru menjelaskan... tangan kekar itu pun menyingkirkan poni Mentari yang hampir menutupi mata.
""Baiklah !"" Nurutnya terpaksa. ""Ayo buatkan sekarang Omelet nya !"" Senyumnya terpaksa dan Biru tau, itu adalah senyum terpaksa.
""Pfuuu.... Baiklah, sekali ini saja kamu makan makanan itu, tapi dengan syarat tidak boleh menggunakan cabe banyak cukup tiga saja !"" Ujar Biru mengizinkan.
Mata Mentari langsung berbinar, menatap Hulk-nya dengan wajah manis pipi bolongnya. ""Hulk, tiga kurang... Sepuluh itu terbilang sedang kok."" Bujuknya menawar.
""Dua biji !"" Tolak Biru, menurunkan.
""Yaa, Sembilan deh !""
""Satu biji."" telak Biru.
Mentari kembali memerengut, membuat Biru tersenyum geli, tangan itu pun menjawil mesra pipi Mentari yang terlihat cabi belakangan ini.
""Lima biji saja, diam di sini...aku akan mengambil mie instannya terlebih dahulu !"" Ujarnya akan beranjak. Namun tangan itu di raih cepat oleh Mentari yang duduk santai di atas Pantry. ""Eum, apa lagi sayang ?"" Heran Biru.
""Jangan khianati cinta dan kepercayaan ku."" Peluknya langsung di leher Biru. Dada polos Biru pun terasa hangat seketika mendapat pelukan dan maaf dari Petite-nya.
__ADS_1
Sampai mati pun, aku tidak akan berpaling dari mu, Mentari.