RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 224


__ADS_3

Hoaaaam...


Jum mengeliat lepas, merenggangkan otot otot nya yang baru tersadar dari tidur panjangnya. pegal ? itu yang ia rasakan tubuhnya di pagi ini.


Se...Se...Se.. ! ia ada di mana ini, seperti bukan kamarnya ? What ? apa yang terjadi ? terakhir semalam ia ada di mobil perjalanan pulang dari luar kota bersama Geeema. GEMA ?


""Nyenyak woman ?"" Gema bangkit dari sofa dengan penampilan sudah segar, bersiap melanjutkan perjalanan semalam yang tertunda karena kasian kepada wanita yang tak bisa di gapainya ini.


""Pa-Pak, ko anda---saya di sini ? anda tidak macam macam kan ?""


Baru kali ini Gema melihat wanita somplak di hadapannya menampakkan raut ketakutannya, dan itu sangat lucu di mata Gema.


""Menurut mu ?""


Ck, dasar bos irit suara.


""Mana saya tahu, orang tidur mana sadar !"" Ketus Jum, mata itupun mengintip tubuhnya di balik selimut, aaah...masih lengkap ! Batinnya legah.


Lagi lagi Gema tersenyum tipis, sangat tipis sehingga Jum tidak menyadarinya.


""Kamu pikir saya laki laki apa eum ? brengsek begitu kah di pikiran kamu ?""


""Saya tidak mengatakan anda brengsek ya pak , mulut anda sendiri lho barusan. Dan ya...mana mungkin anda berani menyentuh wanita, anda kan dingin seperti kulkas tiga pintu, kaku... tidak ada hangat hangatnya, juga tidak punya rasa asyik hanya...datar tar tar tar....""


Setelah berbicara nyamplak, Jum membekap mulutnya sendiri, rasanya ia ingin menggigit lidahnya yang tidak punya rem.


Gema yang sudah membelakangi Jum yang baru turun dari peraduan, kembali berbalik penuh ke hadapan sekretaris yang kadang kadang nyebelin ini, Tadi apa dia kata ? dingin kaku datar dan tak ada hangat hangatnya ? Ok, mau hangat kan ? mari kita artikan arti hangat di hadapan woman ini.


""Mau ap--- Hmmmpp.""


Saat Jum Ingin mundur satu langkah, Gema langsung menahan tengkuk itu, memangut bibir dan memilin lidah Jum dengan ganas yang barusan mempertanyakan kehangatan, kalau masih kurang hangat, apa masih perlu di atas ranjang ? Ck, Gema otomatis naik darah di pertanyakan kelakiannya, Harga dirinya di pertanyakan, Coeg ! Jadi sedikit memberi pelajaran berharga ke woman ini nggak apa-apa kan ya...Minta tanggung jawab ? Ya ayuk ke pelaminan... andai dia laki laki pengecut ia mungkin sudah makan wanita di hadapannya ini, Tapi ia masih punya harga diri yang tak mau di anggap menjadi laki laki perebut calon istri orang.


Hos hos hos, Aduuuh...Jum kehabisan nafas pemirsa... Tapi trenggiling ini masih saja menahan tengguknya dan masih mengabsen rongga mulutnya yang belum kumur kumur apalagi sikat gigi, Ahhh...Anggap saja ia sedang sikat gigi ektrim pagi ini, Tapi sumpah...ia di buat olahraga jantung di pagi hari oleh trenggiling ini.

__ADS_1


Merasa kehabisan nafas pun, Gema mengakhiri live cip cup cip cup nya, Menatap datar Jum yang juga menatapnya dengan mulut melongo.


""Masih kurang ?""


Dengan bodoh masih LingLung, Jum manggut manggut sejenak menggeleng, Saolaah...ada apa ini ? Si datar trenggiling membuatnya jantungan setengah koid. Jum...ingat calon suami yang entah kapan mau melamar resmi. Batinnya mengingatkan Satria.


""Bagaimana woman, masih kurang hangat, atau mau yang panas."" Ledek Gema, dalam hatinya ia tersenyum jumawa sudah membuat wanita ini Skakmat, ia yakin Jum akan me-rem mulutnya jika ingin bertutur kata kepadanya.


""Masih kurang pedas pak, Kan bapak cuma nyium saya doang yang terasa cuma mencium gemas anak bayi, tak ada nada nada getar nafs nya, datar seperti wajah bapak sekarang ini, di mana mana tuh ya pak , sehabis ciuman itu yang tersenyum kek atau tersipu malu gitu, ini persis seperti tembok tamvan."" Ledek Jum, Geram !!!


Aiiih,. Ini woman satu terbuat dari apa, sudah di beri masih saja tidak punya rem itu mulut somplak, mau di beri plus plus apa, mumpung mereka ini masih di dalam kamar hotel.


" Ok, mau lebih sampai mblendung, begitu kah maksud mu ?"" Tantang Gema.


Jum tanpa kata lagi, ngacir masuk ke kamar mandi meningkalkan trenggiling ini yang sudah muram wajahnya. Sebagai wanita, ya pasti ogah lah di bikin mblendung begitu saja, enak saja si bos datar mau mencobanya...bisa mati ia di tangan pak peci bersarung yang terkenal tak ada ampun jika menyangkut Zina


Takut juga rupanya. Tengil Gema menggeleng geli.


""Bagaimana bos retas, Hasilnya ?""


Senja dan Nata temu janji di sela waktu makan siang, Nata sebenarnya sangat sibuk dengan kerjaannya sendiri, Tapi mau tidak mau ia harus datang supaya Istri Langit ini tidak menghantuinya sampai naik ranjang bersama wanita ONSnya, Kan tidak lucu kalau lagi enak enaknya di buat nanggung karena teror dari Senja.


"" Ck, ini ibu Kusuma !"" beri Nata menghadap kan layar laptop nya ke mata Senja.


Seketika mata kucing Senja menatap jeli layar di hadapannya, bibirnya tersungging tajam saat mengetahui siapa yang sudah membuat foto itu. Dan lebih Senangnya, Si mendung benar apa adanya akan ceritanya yang tidak ada kebohongan.


Ayo bermain, wanita !!! Sunggingnya seraya men Zoom gambar orang yang di sebutnya wanita.


""Kalian sedang apa ?!!!""


Langit yang ingin makan siang Pun di buat terkejut akan dua orang di hadapannya ini.


""Menurut mu, Sayang ? Kita sedang apa eum ?"" Santai Senja balik bertanya, seraya mendongak ke wajah Langit yang masih berdiri di sisinya

__ADS_1


Mata Langit melirik isi table di hadapan istrinya dan Nata. ""Makan !"" Sahut Langit menatap selidik Nata, Cemburu kah ? tentu saja.


""Nah itu tahu, duduklah...kita makan santai bersama, dan jangan natap gue seperti itu, Tenang aja boss, Gue memang pencinta lubang, Tapi yang punya suami, gue juga pikir sepuluh kali."" Sindir Nata layaknya tahu arti tatapan tak suka Langit. Senja hanya tersenyum kecil akan perangai kedua pria di hadapannya.


...*****...


Hari ini Mentari tidak mengantar kan makanan untuk makan siang Biru, kepalanya berdentam hebat, padahal kotak makanan sudah terisi cantik di wadah itu. Biarkan sopir yang membawanya kesana.


Topan yang melihat Bundanya hanya diam seraya mengawasi mereka bermain, mendekat.


""Ini punya Badai.""


"" Pinjam Dai.""


""Sayang, Jangan rebutan !""


Lerai Mentari, Kedua anaknya itu sedang memperebutkan remote mobil mobilan punya Badai tapi dengan nakal Pelangi merebutnya karena ia tidak punya mainan tersebut.


Pelangi dan Badai tak ada yang merespon, keduanya masih tarik tarikan remote.


""Pelangi, Itu mainan anak laki laki sayang ! berikan punya Badai ya, Kamu kan punya boneka, dan banyak lagi yang lainnya."" Mentari dengan lembut memberi pengertian, Seraya kening itu di pegangnya karena semakin berdentam saja. Membuat Topan jadi kesal ke Pelangi dan Badai yang sedari tadi tak punya telinga untuk mendengar penjelasan Bundanya.


Dengan kesal, Kaki kecil itu Mendekat ke arah ke-dua adiknya yang masih ribut. di sela Langkahnya, Topan menarik remote mobil miliknya dan menaruhnya di sela pinggang yang di apit celana Chino selututnya.


""Kalian tak punya kuping ya !""


Mentari tercengang dari duduknya, melihat Topan begitu santai menjewer kedua telinga adik adiknya dengan sangat kuat... Tapi, Pelangi dan Badai tak ada yang mengadu kesakitan padahal Topan menjewer telinga itu tak tanggung tanggung.


""Jangan rebutan, ini punya Kaka, ambillah !"" Beri Topan ke Pelangi, sekilas anak itu malah mencium daun telinga Pelangi dengan sayang. merasa bersalah !


""Dan kamu Dai, Jangan pelit !"" Sembur Topan ke Badai, Badai pun mengangguk patuh. Dan dengan jahil sebagai Pembalasan, Badai menoyor jidat Topan dengan keras seraya terkikik geli, kabur bersembunyi ke Vane yang baru keluar dari arah dapur.


Senyum manis nan legah pun terpatri di bibir Mentari di kala Topan dengan mudahnya mengatur kedua adiknya yang kadang kadang nakal, kadang kadang menurut manis...Topan- anak sulungnya bisa membuat keduanya akur walaupun sedikit ada kekerasan.

__ADS_1


__ADS_2