
Mentari di angkat dan di dudukan oleh Biru di atas pantry dapur dengan gaya duduk desonya. kakinya itu lho....menyilang lipat di atas pantry yang sebelahnya ada Bos super keren yang lagi mencincang bumbu...ini seperti ke balik, bos memasak, Asisten jadi mandor.. Sexi hot Bos...Tampan, tajir, pintar memasak lagi..... Perfeck. pujinya...Tapi, sangat di sayang kan menakutkan jikalau dia sedang marah.
Mentari menopang dagunya dengan tumpuhan sikut tangan di atas duduk silangnya, meneliti dalam wajah Biru yang sedang serius meracik bumbu. Ia mengakui bosnya paket lengkap suami idaman, Tapi....Biru itu masih abu abu, misterius di matanya, terlalu cepat mencintai ! apa kah aslinya begitu ? apa dia pikir kalau dirinya orang deso terus mau saja di permainkan, Entah lah...Ia hanya memperoritaskan keluarga dan pendidikan agar kelak ia bisa menjadi orang sukses seperti bosnya. ia masih muda, labil, ia sadar diri, jikalau ia dan Biru sangat jauh berbeda derajatnya. dan permintaan Biru palingan juga hanya candaan saja. dan ia tidak menanggapi serius, otaknya sudah penuh memikirkan nasibnya ke depan di rantau ini.
""Aku tahu kalau aku itu Bembe, biasa saja jangan sampai terbuai memandangiku.!"" Goda Biru tersenyum pede. ""Kalau masih menatap ku begitu aku akan menerkam mu langsung."" Ancamnya bercanda.
Mentari memutar bola matanya. "" Bos, aku lapar. jadi jangan kebanyakan bicara."" Malas Mentari.
""Ya sabarlah, petite, makanan mu akan segera jadi, tapi setelah makan aku akan mendapat hadiah bukan..?"" Biru berbicara tanpa menoleh dengan tangan lincahnya memanggang daging, ia akan membuat kan steak spesial untuk gadis spesial di hatinya.
Mentari berloncat dari atas pantry, ia jadi was was mendengar kata hadiah, hadiah apa coba. ? dirinya kan tidak punya apa apa untuk di berikan. Bos nya itu benar benar tidak bisa di tebak.
""Hey, mau kemana ?"" Tahan Biru menarik kaus belakang Mentari, Hingga gadis itu berjalan mundur tertubruk punggungnya ke dada Biru.
""Ish, Bos. Lepas.! saya tidak punya uang untuk memberikan anda hadiah, jadi malam ini saya akan berpuasa saja dan memilih tidur."" Polos Mentari.
Biru terkekeh geli dengan pemikiran lurus lurus Mentari, benar benar polos, tidak bisa mengerti kode kode ucapannya. harusnya menghadapi orang polos itu tanpa bermain kata.
""Hadiahnya tidak perlu di beli pakai uang ko, tapi yang ini."" tunjuk Biru ke bibirnya.
Mata Mentari mendelik malas, lebih baik menghindar dari pada di cium lagi.""Aku puasa saja bos."" Mentari kembali berjalan ke depan yang masih di pegang ujung kausnya oleh Biru.
""Eits..."" Biru menarik kuat baju Mentari agar tertahan kembali. ""Aku hanya bercanda patite jadi duduk lah, lagi."" Biru kembali mengangkat tubuh mungil itu untuk duduk di atas pantry. Mentari menurut saja... Jadilah wanita penurut ! itulah yang di minta bosnya, gampang, jadi ia pun akan bebas dari kemarahan bos penolong Ammanya, namun dirinya tertahan di penjara berjeruji emas....yang penting Bosnya tidak merusak kesucian wanitanya saja sudah cukup bersyukur.
__ADS_1
""Bos, aku besok di rumah atau masuk kantor.?"" Tanya Mentari.
Biru melirik wajah polos itu. "" Kalau kamu masih mengedarkan koran, maka kamu tidak boleh masuk ke kantor lagi, dan gaji mu hanya cair lima puluh persen."" Ancam Biru bersungguh sungguh. ia tidak mau Mentari kelelahan mengelilingi lorong lorong Apartemen.
Mentari mendelik tak berkedip. Heran ""Kok bos, tahu ? Aku kan pengen cepat cepat lunas hutang ku ke Bos, lumayan sedikit demi sedikit akan kumpul dan semakin sedikit pula jumlahnya."" Ceplos jujur Mentari. Gagal sudah, lepas lebih cepat dari cekraman Biru.
Biru terkekeh kecil. ""Aku kan Bos mafia, apa pun aku tahu.?!"" Kelitnya bercanda. "" Lupakan hutang itu, tetap lah menjadi wanita penurut jika mau dalam Sona nyaman. "" seringainya.
""Ada ya ? bos mafia tampan seperti anda ? aku lihat di TV Jum tuh, Tampannya serem serem, banyak tatonya."" Mentari dengan polosnya spontan menaikkan lengan kaus baju oblong Biru, memeriksa apakah ada tato di sana, padahal sebelumnya ia sudah melihat telanjang dada Biru beberapa menit yang lalu.
Biru terkekeh geli melirik tangan nakal itu menyilap bajunya, adanya Mentari tinggal di unitnya membuat dirinya jadi rileks tanpa ada beban pekerjaan yang menumpuk tertunda, Mentari adalah penghibur untuknya.
""Ada, buktinya aku.""
""Sudah jadi, makanlah."" Ujar Biru. tanpa aba aba, pria itu menurunkan Mentari dengan cara menggendong seperti bayi mengangkat di sela ketiak Mentari.
""ih, Bos... turunin, aku bisa sendiri berjalan."" Mentari memeluk leher Biru dengan spontan, ia sudah seperti koala yang di gendong oleh induknya dari depan.
""Wanita penurut, petite !"" Seringai Biru mengingatkan.
""Baiklah."" nurutnya. "" jika Ammaku melihat anaknya di peluk begini maka habislah aku di goroknya, hukum di kampung sangatlah berbudaya turun temurun dari nenek moyang, bersentuhan begini saja maka langsung di dinikahkan."" Cerewet Mentari tak sadar.
Biru menyeringai menaruh bayi gedenya di atas kursi , ia mempunyai ide fantasi liar.
__ADS_1
""Kalau begitu, aku akan memotret dengan begini."" Biru mencium pipi Mentari yang sedang menyantap lahap masakannya dengan cepat ia langsung memotret adegan cium pipi itu.
""Bos."" Delik Mentari kesal. Biru tak perduli ia malah menyapu wajah itu dengan sekali elusan menurun memakai telapak tangan lebarnya.
""Aku akan mengirim foto ini ke Amma mu."" Godanya.
""Bos..!"" Gondok Mentari menaruh sendoknya, ia sudah tak berselera makan. pengin sekali ia mencongkel otak Bosnya itu jika mudah. Bosnya susah di tebak. Kecerewetannya malah membuat dirinya masuk ke masalah baru, kalau biru sampai benar-benar mengirim foto itu bagaimana.? ahh.... tidak akan bisa, Ammanya lewat apa coba melihatnya Jum kan hanya punya hp abal abal seperti punya bang Sam yang tidak mempunyai kamera..... jadi aman.
""Lewat apa ? lewat telepati ?."" Mentari tersenyum meledek.
Biru ikut tersenyum meledek. ""Aku sudah menyuruh anak buah ku mengirim smartphone untuk Amma mu dan Kaka mu, serta teman mu yang bernama Jum itu, mereka sudah menggunakan smartphone canggih, dan itu..."" Tunjuk Biru di sebuah paper bag. "" Smartphone buat kamu."" Lanjutnya tersenyum penuh kemenangan.
Mentari tercengang, ia semakin percaya kalau bos nya itu benar benar mafia gila yang bisa melakukan apapun.
""Ammaaaa, hiks.. jangan kirim foto itu ke kampung, bisa gahwat buat aku, ah."" Rengeknya menggoyang goyangkan lengan Biru.
""Tidak akan, aku tidak sejahat itu kok, tapi tergantung sih.!"" Biru tersenyum menang, tangannya mengelus rambut Mentari seperti kucing dengan sayang. "" ayo kelarkan makan mu, dan cepat istirahat, jangan lupa bawa smartphone itu kemana mana.!"" Lanjutnya lembut.
""Aku sudah kenyang, dan aku tidak mau mengambil smartphone itu, nambah nambahin hutang saja."" Mentari mengira akan menyicil itu juga. ia pergi tanpa patuh dengan perintah Biru.
"" petite bawa!"" Titahnya dengan suara mengancam, Namun di dalam hatinya ia tergelitik geli melihat wajah polos itu cemberut akut.
""Iya... iya... selalu saja mengancam."" meletnya Sebelum menghilang dari hadapan Biru seraya menarik smartphone yang di kiranya akan di hitung dalam hutangnya.
__ADS_1
""Astaga, wajahnya...lucu amat...aku Bos Mafia.?"" Lirih geli Biru mendengar julukan bengis dari Mentari.