RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 57


__ADS_3

""Beeh...Bi, Jika gadis manis itu di bawa ke ranjang gue, angat kali ya, Bi !"" Goda Nata ke Biru, Sengaja ingin membuat Biru kecacingan.


Biru melirik malas sepupunya yang gila hal ranjang, ia belum sadar jika maksud Nata, Gadis manis itu Mentari.


""Terserah Lo, mau panas dingin menggigil ke' Gue nggak perduli !"" Biru dengan malas menjawab, Matanya hanya sibuk memperhatikan Mentari yang menjamu makanan di meja Kusumah Grup milik keluarga Langit. Jika Langit menggoda Mentari pas di matanya, maka berakhir di Ostia lagi dengan tulang remuk remuk. itulah arti tatapannya.


Nata melirik Biru dengan smirk setannya, Rupanya Si Biru belum sadar. Pikirnya.


""Tapi bantu gue buat kenalan ya...Lihat tuh Bi ! Beeeh... senyumannya meluluhkan hatiku, meleleh Bi... apalagi senyum pipi bolongnya, klepek klepek Gue."" Nata terkikik geli. ia pun dapat plototan dari Vane, agar menghentikan cekikan tidak jelasnya.


Biru langsung menoleh cepat ke Nata dengan alis terangkat penuh tanya mendengar pipi Bolong.


""Maksud Lo, Gadis waiters berpakaian batik itu ?"" Tunjuk Biru ke Mentari, memastikan.


Nata mengangguk dengan cengir kudanya.


""Yaaaak...Gue gibeng Lo, itu milik Gue, lirik mata mesum, gue pecat Lo jadi Kaka sepupu, Lo tidak boleh dekat dekat dengan dia...awas !"" Ancam Biru, Menendang keras betis Nata di bawah table.


Nata terkikik sudah berhasil menggoda sepupunya dengan wajah meringis, Akhirnya tinggal dirinya yang sedang jomblo siang hari, enak enak malam hari di ranjang. itulah dia, Casanova.

__ADS_1


""Shut up."" Bentak Titan tertahan. "" Nat, balik sana ke table sendiri jangan ganggu Biru yang lagi buta dengan wanita bertopeng naif."" Sindirnya sinis.


Nata dengan bingung perkataan Omnya, meningkalkan table Sunjaya Grup kembali ke tablenya sendiri tanpa ingin bertanya, Om Titan lagi PMS, gumamnya .


Sementara Biru hanya diam tak ingin membalas sindiran Papanya, ada saatnya untuk melawan tapi tidak untuk sekarang.


""Jangan berkata sembarangan, Tuan Titan ! Aku tidak suka !"" Dingin Vane ke Suaminya, Entah apa yang membuat suaminya itu hilang kepercayaannya atas pilihannya, Biasanya Titan selalu menuruti kemauannya apa pun itu, Tapi saat ia menyukai calon menantu seperti Mentari, malah di tolak.


""T---""


""Jika ingin ngajak ribut jangan di sini. permisi...aku gerah di sini !"" Potong Biru saat Papanya ingin melawan kata mamanya, Biru pun meninggalkan table tanpa arah mau kemana. Vane melotot mengancam ke Titan. Malam ini sampai satu bulan tidak ada jatah jatah di kamar. itulah plototannya.


Suara mangkuk masakan berkuah panas itu jatuh di tangan Mentari dengan kuah panas langsung mengenai kulit tangan, dan itu ulah Zila yang membuat Mentari seakan akan tersandung saat Mentari menghidangkan masakan di table RD Batara, ia sudah gugup di hadapkan oleh keluarga dari Amang-nya di tambah di hadang kaki oleh Zila dan alhasil jatuh bermandikan kuah sop panas.


""Aaah, panas, panas."" Pekik Mentari mengibas ibaskan tangannya. Radja paling sigap menolong, di susul Arkan, Tegar dan kedua Ompung Mentari pun ikut berdiri ingin membantu, Beda dengan Raisa, wanita itu diam dan tak perduli, juga anak anak kembar Radja, begitupun Zila yang hanya menyeringai puas.


Biru langsung berlari cepat ke arah Mentari yang hampir keluar dari pintu Ballroom. Ni gadis tidak di perhatikan sebentar saja sudah terkena masalah. Sesalnya yang lengah menjaga Petite-nya.


"" Minggir !"" Bentak Biru ke Radja dan Arkan yang meniup niup tangan Mentari yang sudah memerah. ""Kalian bodoh atau apa sih, Bukan-nya langsung di beri pertolongan pertama malah asyik tiup tiupan."" Sungut Biru dengan nada marah, tidak sopan. Titan hanya menggeleng muak dengan tingkah kurang ajar anaknya demi menolong Wanita bertopeng naif.

__ADS_1


Dan Biru pun membantu Mentari untuk bangkit dari duduknya di lantai.


Rasa sakit yang Mentari dapatkan di tangan, tak terasah saat Tulang rupa Amang-nya ada di depannya memberi perhatian, sungguh ia rindu sekali dengan Amang-nya, boleh kah ia sedikit egois hanya untuk sesaat menganggap jika di hadapannya ini adalah Amang-nya yang sedang mengkhawatirkan anaknya yang terluka. Mentari ingin memeluknya lagi untuk mengobati rindunya ke Amang-nya, tapi ia sadar dengan posisinya saat ini, ia harus menyembunyikan identitasnya dan tidak ingin menambah masalah hidupnya pula.


"Kamu tidak apa apa, eum. ?"" Lembut Radja perhatian. dengan mata menatap nahas ke tangan Mentari. Dan perhatian itu menimbulkan rasa semakin tidak suka Raisa ke Mentari. ini mah benar benar cabe-nya suamiku di luaran sana, tunggu saja kau, pelakor cilik. tuduhnya menyeringai.


""Tidak apa apa, Tul---Tuan, Permisi ! "" Pamit Mentari di tuntun Biru dan berbalik pergi memunggungi Keluarga Batara. Arkan pun ikut mengekor dan membuat Zila mendengus kesal.


Di Pantry, Biru membawa Mentari ke sana, mengangkat tubuh mungil itu ke atas meja pantry.


"' Kamu kenapa sih ? harus terluka eum ? Dan kenapa kamu malah menangis, jangan cengeng dong, apa sangat perih.? maafkan aku yang tak bisa menjaga mu !"" Biru mengoleskan salep anti perih di kulit tangan Mentari yang sudah terlihat berari ari membisul dengan sangat hati hati dan penuh kelembutan. sesekali ia meniup luka itu dengan sayang.


Biru pikir Mentari menangis tiba tiba karena rasa sakit kebakar yang di terima, padahal salah besar. Gadis itu sesunggukan karena sesak dada yang di tahannya setelah beberapa menit yang lalu saat bertemu dengan keluarga besar Amang-nya. ia rindu kasih sayang orang tuanya, ia iri dengan keluarga bahagia itu yang tidak pernah kekurangan sedikit pun sesuatu apapun itu dalam hidup mereka, Sempurna....di bandingkan dengan dirinya yang pontang panting bekerja keras demi uang receh untuk di bagi dua ke Ammanya dan tabungan untuk membayar hutang-hutangnya ke Biru. makan nasi pun ia hanya kadang satu kali sehari demi apa ? demi bisa menyisakan uangnya agar Ammanya yang tua di makan terik matahari capeknya berkebun itu bisa hidup layak. makan tanpa ngutang dulu di warung sembako.


""Iya bos, Sakit sangat sakit...boleh kah aku me--melukmu !"" Pintanya. Sekuat apa pun Mentari menahan diri akan sesaknya, ia masih wanita lemah yang kadang kala butuh di lindungi dan di perhatikan manja. Ia sakit hati dan sesak apalagi jika mengingat Amang-nya yang minta pertolongan biaya medis di kala itu ke keluarga Batara, tidak di kabulkan oleh mereka, Mereka menganggap penyakit Amang-nya hanya alasan saja, berbohong di anggap mereka. Duitnya pasti buat istrinya yang tak berpendidikan itu, bisa bisanya berbohong sakit demi memberi nafkah istri dan anaknya. Mentari kecil dengar salah satu dari mereka berkata pedas hingga selalu terngiang di otak polosnya dan ia dengar itu di saat Amang-nya diam diam menelpon keluarga besarnya bahkan Amma-nya pun tak tahu penyakit asli dari Amang-nya, Hanya ia seorang yang tahu penyakit mematikan itu di waktu itu. dan walaupun di waktu itu ia masih duduk di bangku SD, ia tahu arti penyakit ginjal itu sangat berbahaya.


""Peluk lah, Sayang ! Bahkan di karungin pun aku rela."" Sahut Biru mencoba mencandai si Petite agar lukanya sedikit terobati dengan hiburan konyolnya.


Mentari berhambur masih sesunggukan, ia butuh sandaran, dirinya menjadi cengeng saat bertemu mereka, Batara.

__ADS_1


Vote dan Bunga bunga 🌹🌹


__ADS_2