
Serangkaian pemeriksaan umum dokter Farel sudah terapkan di tubuh Senja yang masih saja dalam keadaan pingsan.
""Ngit, gue mau nanya nih !"" Tanya Farel hati hati. Langit menaikkan satu alisnya.
""Apa Lo sudah pernah nanam bibit Lo ke rahim Senja."" Selidik Farel, harusnya ia tidak bertanya seperti itu, tapi harus bagaimana dong, Farel kan tahu asal muasal pernikahan bodoh mereka di tambah Farel sampai perna merekayasa hasil medis Chris demi membuat kedua insan ini bersatu.
"" Pernah...sekali ! Kenapa emang ?"" Reflek Langit polos. Membuat Farel geli sendiri. Seorang penjahat kelamin seperti Langit baru di kasih jatah sekali... Kasihan.
""Tunggu dulu... Selama pernikahan Lo ? Lo baru sekali gitu, Ah uh Ah nya, Begitukah ?!"" Ledek Farel menahan geli.
""Kampret Lo...""Langit menendang pelan tulang kering Farel yang menertawakannya. ""Iya... sekali ! Itu pun gue maksa dengan penuh tenaga.... Puas !"" Sadar akan keceplosannya, terlanjur... sekalian ia ceplas-ceplos saja. Biar Farel puas terbahak menertawakannya dengan ria, kagak usah di tahan tahan lagi tu tawa laknat.
"""Hahahaaha.""
Dan Benar saja....si babang tamvan Dokter muda ini terbahak bahak dengan ria ria manja.
Langit jengah, kembali menendang tulang kering Farel sedikit tenaga "" Berisik tau nggak ! istri gue kenapa itu, Gue nyuruh Lo kesini untuk membuat dia sadar, Bukan untuk mendengar Lo terbahak bahak menertawakan penderitaan gue, bau Naga Lo kemana mana tau nggak !""
Hap... Farel langsung menutup tawanya di katain mulutnya mengeluarkan bau Naga, mengendus sendiri nafas dari mulutnya. "" Iya ya bau !"" Absurd nya bodoh, padahal tidak sama sekali. Dokter mana mungkin mengabaikan kesehatan gigi dan mulut.
""FARELLL!!!!"" Tekan Langit tidak sabaran ingin mengetahui penyebab Senja tiba tiba limbung pingsan.
""Ck, iya iya...Istri Lo pingsan karena hamil !"" Farel kembali merapikan alat medisnya. Memunggungi Langit yang menampakkan air muka terkejutnya. Sangat terkejut.
Mangep mangep makan nasi panas layaknya kepedasan saking terkejut mendominasi senang luar binasa eh biasa.
""Aih, jijik Gue lihat mulut Lo kayak ikan ****** habis berkelahi dengan pantulannya di cermin, Koid."" Farel membantu menaikkan dagu Langit agar bibir itu mengatup. Langit menepisnya... sejurus memeluk Farel dengan hati bersorak ria.
__ADS_1
""Aaaah, Rel... I Love you, Aku bahagiaaaaa."" Saking senangnya, Mulutnya sampai licin menyatakan cintanya yang sebenarnya tertuju ke Senja namun lidah tak bertulangnya tergelincir ke nama Farel. Membuat Farel bergidik jijik, apalagi Si Langit ini memeluknya reflek dengan rasa bahagia.
"" Etdah... Nyebut bro, bentar lagi Lo mau jadi bapak bapak, Masa ragara baru di kasih jatah sekali sudah mau berbelok ke pedang sih, Gue masih normal ini.... lebih baik gue meluk mayat wanita dari pada di peluk sama Lo sekarang ini."" Farel berbicara tersenggal senggal kekurangan oksigen akibat eratnya pelukan Langit.
""Hahahaha, Sorry bro...gue terlalu senang !"" Langit melepas pelukannya dan berjalan ke sisi kasur sebelah Senja. ""Lo boleh pergi, Nanti gue transfer lebih."" Usirnya. Habis manis...di usir kau Farel.
""Ck, Gue juga kagak mau lama lama di sini, Tapi sebelum gue pergi dengarkan baik-baik ini nyuk, Lo besok pagi bawa Senja ke rumah sakit untuk memeriksa lebih lanjut kondisinya di Dr Anita, khusus ibu hamil. Paham pak Langit....bye !""
""Eum, Thanks !"" Langit mengabaikan teman lamanya yang akan beranjak keluar, dengan santai ia masuk ke dalam selimut yang di kenakan Senja dalam terpejamnya. Mencium bibir itu dengan lembut berkali kali penuh dengan rasa cinta dan kebahagiaan, tangannya pun menggerlya ke perut Senja yang masih ramping rata. meraba raba dengan pergerakan lembut.
"" Cepatlah tumbuh di dalam sana, Daddy mu menunggu mu di sini, Daddy janji akan memberikan kebahagiaan untuk kamu dan tentu saja untuk mommy juga. Daddy menyayangi kalian.""
Berangsur angsur, mata Langit pun berat... tidur nyenyak dengan wajah sengaja di tenggelamkan ke leher Senja.
...****...
Setelah mandi, Mentari menjajal pakaiannya yang rasa rasanya terasa sempit. Biru memperhatikan istrinya masih di atas peraduan kasur dengan dada masih terlihat polos saja, memperlihatkan tatto di kedua lengannya itu dengan nama Mentari.
"" Hais, kenapa pada sesak semua sih ?"" Dumelnya prustasi. Matanya pun tertuju ke Biru. "" Hulk, lihatlah pakaianku...pada terasa sesak."" Keluhnya.
"" Beli lagi sayang ! Suruh Bang Sam membawa kan koleksi bajunya di butik baru sahabat mu itu."" Biru memperhatikan buah dada Mentari yang memang semakin hot saja.
Iya juga ya... Bang Sam sudah mulai merintis cita citanya sendiri, Seraya membantu Daeng.
Tak sadar karena melamun, Biru sudah berada di hadapannya dengan tatapan mesum menjalar memperhatikan tubuhnya dari atas kebawah berkali kali. ""Tubuh mu, makin indah di pandang sayang !"" Goda Biru nakal.
Selalu... Suami tanpa menggombal itu akan hampa kering udara di dalam rumah tangga.
__ADS_1
"" Ya...Ya..Ya.. Suami ku ini memang pintar, istri jelek pun di puji puji, Sudah sana mandi, sarapan, antar aku ke kantor."" Kissmorning Mentari jatuh ke seluruh lebar wajah Suaminya dan terakhir mengecup singkat bibir Biru yang akan mau mengeluarkan suaranya.
""Aku bukan puji puji bo----!""
""Iya...sana mandi sayang !""
Dengan tenaga, Mentari mendorong dorong punggung tegap Biru menuju kamar mandi. Urusannya akan panjang kalau meladeni ke tengilan Suaminya di pagi penuh kesibukan dirinya di kantor yang sudah menunggunya.
Setelah pada rapi, Mentari dan Biru sudah duduk di meja makan.
""Selamat makan !"" Suara itu penuh semangat menyambut sarapan paginya, Mentari begitu nafs* akan makanan di hadapannya saat ini, nasi goreng,susu, buah.. semua di absennya.
Beda dengan Biru, entah kenapa baru sesuap saja yang masuk sudah terasa mual menyeruak di dalam perutnya.
""Petite !"" Biru reflek membekap mulutnya, ia tidak mungkin munta di hadapan isterinya yang begitu nafs* akan makanannya. Biru berlari ke wastafel untuk menuntaskan yang tertahan di perut.
Hoeek
Lega rasanya, Namun tubuhnya merasakan lemas tak jelas... Kenapa begini ?
Melihat itu, Mentari meninggalkan makanannya yang sayang di mata dan di perut. Ia tidak mau egois membiarkan suaminya yang Hoek hoek begitu saja. Menuntun Biru untuk kembali duduk di kursi.
""Kamu sakit sayang, lihatlah wajah mu sangat pucat !"" Mentari mengusap membersihkan sisa sisa air di sudut bibir Biru dengan tissue. Keringat dingin pun ia usap dengan perhatian lembut.
""Entahlah ! tubuh ku terasa lemas, apalagi di isi dengan makanan, rasanya ingin munclak langsung."" Keluhnya. Mentari pun memijat mijat pelipis itu dari belakang duduknya Biru.
""Kita kerumah sakit, biar ku Telpon Bang Dito untuk mengantar kita, kamu tidak boleh menyetir."" Seraya menunggu Dito menjawab di seberang telpon, Mentari masih sempat sempatnya menyomot buah di atas meja makan. Biru semakin menelan ludahnya yang terasa mual melihat Mentari menelan makanan, ia membayangkan makanan itu masuk kedalam tenggorokannya sendiri, dan detik berikutnya...ia kembali muntah muntah.
__ADS_1