RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 66


__ADS_3

Dagu yang di angkat tinggi tinggi Mentari sekarang menunduk redup, Air matanya tak terbendung lagi saat menuturkan kata katanya yang bertahun lamanya ia coba kubur. Ibarat luka lama yang hampir sembuh di korek korek hingga terluka busuk kembali.


""Mentari, Maafkan kami, terutama saya, Nak !"" Bima-kakek tua itu menghampiri dan memegang kedua pundak Mentari yang merosot tak berdiri tegak. ""Maafkan kakek mu ini, kakek menyesal sudah menolak menolong Dewa-amangmu. !"" Mohonnya sangat.


Mentari mengusap air matanya cepat dan mencoba menghentikan air laknat yang membuat dirinya lemah di hadapan semua orang.


""Tuan ! Kenapa Anda minta maaf ke saya ?Anda sama sekali tidak punya salah ke saya. Anda sangat tidak cocok merendah ke gadis anak dari buangan ini.!"" Sindir Mentari.


""Mentari ! Dia adalah kakek mu, Keluarga mu ! jangan memanggil beliau Tuan atau pun Anda." Radja tidak suka sama sekali panggilan Tersebut yang keluar dari mulut Mentari.


""Maaf jika saya lancang tuan, Ok... mumpung semuanya pada kumpul, Dan sebelumnya maaf seribu maaf jika ada kata kata saya yang tersinggung setelah ini..."" Mentari mendesah kasar sejenak menghilangkan sesak di dadanya.


""Kata keluarga ? Keluarga harusnya saling memaafkan dan saling bantu satu sama lain, Bukan ? Apakah tuan tuan terhormat ini, ada yang membantu Amang Saya-Dewa Batara keluarga kandung kalian saat sedang memohon seperti pengemis ? Tidak ! di mana Keluarga itu ? Itukah namanya keluarga ? Dan apakah ada pula yang mengasihi pengemis Kecil ini di waktu itu memohon mohon di seberang telepon, demi tidak siapnya anak kecil itu menjadi yatim ? Tidak juga ! Jadi itukah keluarga maksud anda....?"" Suara Mentari nampak lembut namun berefek mencubit hati orang yang kesinggung.


Hening lagi.... tidak ada yang menyela karena memang kata kata Mentari memang benar.


Mentari tersenyum paksa. "" Amang saya mungkin membuat kesalahan yang membuat kalian tega mengusirnya ! Tapi apakah tidak ada kata maaf baginya dari kalian ? Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan bukan, tidak ada yang suci ! Apa kalian mau tahu betapa tersiksanya Amang di setiap merindukan kalian ? Amangku, Tiap tengah malam menangis tanpa isakan di samping ku yang di kiranya Mentari kecil sudah terlelap. Amangku dalam mimpinya menyebut nama Anda tuan Radja sebagai saudara kembarnya, Amangku kadang pula bergumam dalam tidurnya.. mengucapkan maaf seribu maaf ke Anda tuan Bima dan Nyonya Risma tak ada hentinya jika anak kecil ini tidak membangunkannya di tengah malam, beliau sampai tiap malam tidak pernah tidur nyenyak sebelum memeluk pigura kalian...Dia tersiksa tuan."" Mata Mentari baru sadar jika di rumah mewah ini sama sekali tidak ada potret Amang-nya, benar benar terlupakan.


"".. dan hal itu pula membuat Amma saya sedih dan ikut bersalah dalam pengasingan Dewa Batara, Amma ku bahkan rela membiarkan suaminya pergi meninggalkannya hanya demi membuat Amang bisa bersatu dengan kalian, tapi Amang ku menolaknya sebagai laki laki yang bertanggung jawab dengan keluarga kecilnya. Amma ku pun tersiksa jika memikirkan kesedihan suaminya itu, wanita yang anda katai tidak berpendidikan itu sama saja tersiksanya yang menyalahkan dirinya atas kesedihan suaminya. itulah hidup rumah tangga kedua orang tua ku yang bagaikan tersangkut duri di tenggorokan tidak bisa masuk dan tidak bisa keluar pula.""

__ADS_1


Nafas Mentari mulai memburu lagi, Kepalanya seakan mau pecah jika terus memaksakan diri mengingat kepedihan hatinya.


Risma dan Bima tak berhenti menangis, orang tua itu nampak sangat menyesal hati paling dalam, kini mereka sangat lah malu mengangkat wajahnya di hadapan Mentari.


"" Kami sadar kami salah, Mentari. Dan untuk itu beri kami kata maaf darimu sabagai pengganti Dewa.! mau ya sayang ! tinggal lah di sini ! kamu punya hak di sini sebagai keluarga Batara , anak dari Adik-ku. Mau ya nak !"" bujuk Radja, Mungkin dengan cara memberi hak Dewa ke Mentari bisa membuat sesalnya hilang. pikirnya


""Saya di ajarkan oleh Amma yang katanya tak berpendidikan itu, untuk tidak membenci dan mendendam, Tuan Radja. Jadi Anda tidak usah minta maaf ke saya, saya tidak berhak untuk itu.!"" Mentari memang tidak membenci orang orang di hadapannya, ia hanya Kecewa saja.


""Kalau begitu kamu mau kan tinggal di sini bersama kami ?"" pinta Radja kembali. Raisa mengeraskan kepalan tangannya, ia tidak sudi satu atap dengan anak seorang pelakor yang entah bagaimana rupa wanita itu yang berhasil merebut Dewa darinya.


""Kalau itu maaf ! saya menolaknya, Saya tidak ada hak menikmati kemewahan yang bukan hasil kerja keras saya, Sa-saya ini anak dari pria bu--buangan dan anak dari wanita yang tak di inginkan menjadi menantu kalian, Jadi sangat tidak pantas untuk saya di sini. Tinggal di rumah mewah anda malah lama lama saya akan tercekik yang mengingat kan saya jika saya ini anak dari anak buangan."" Tolak Mentari keras dengan masih suara yang tak bertenaga, Lembut. namun dasar hatinya ada kekecewaan berat.


""Kalau kamu tidak mau tinggal di sini, Tinggal lah di apartemen bekas peninggalan Dewa-Amangmu ya nak. !"" Bujuk Bima lembut.


""Maaf juga tuan, jika Amang ku saja tidak mendapat ke welcoman kalian, berarti saya pun sama, tidak ada hak sama sekali sedikit pun dari harta kalian walaupun sekedar menumpang saya menolaknya tuan. Pikir logika saja ya tuan, Apa kah keberadaan kami selama ini ada yang menanyakan atau mencari keberadaan kami ? Tidak bukan ! berarti kalian benar-benar tidak menginginkan kehadiran Amang sampai ke bibitnya pun. Mohon maaf dengan sangat atas kelancangan saya yang sudah berbicara panjang lebar. Saya permisi !""


Mentari berbalik cepat, Nafasnya akan tercekik habis jika masih berada di antara mereka lebih lama lagi.


Biru yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengekor langkah Mentari yang ingin pulang

__ADS_1


namun langkahnya berhenti saat Mentari tiba tiba berbalik.


""Tuan Radja, Apakah tanda terima kasih saya sudah di terima atas kejadian insiden punggung anda !""


Radja mengangguk dengan air mata kembali menetes, Ponakannya sangat lah polos entah mirip siapa...?


""Terimakasih atas itu, dan saya minta maaf lagi atas makan malam anda yang tidak sesuai rencana. Hancur karena adanya saya !"" Sesal Mentari. dan kembali beranjak cepat, ia tidak Mau kembali lemah di hadapan orang orang kaya yang sudah membuang Amang-nya.


Risma dan Bima langsung merosot ke lantai dengan masih terisak pecah.... anaknya sudah meninggal lama dan tidak akan pernah kembali karena kebodohan gengsi mereka sendiri di tambah cucunya menolak kehadiran mereka... Menyesal itulah yang sekarang ada di hatinya.


""Dja, Kalau begitu kami pamit pulang juga ya ! suasana tidak mendukung lagi untuk makan malam bersama !"" Titan menepuk lembut bahu temannya.


""Maaf untuk kalian yang sudah menyaksikan yang seharusnya tidak kalian lihat dan dengar, Bro.... tolong sampaikan ke Sagara untuk selalu menjaga keponakan ku, tahu sendiri kan, Mentari menolak kami tapi tetap saya pun akan menjaga dia dari jauh, berangsur mungkin Mentari akan menerima kami !""


Raisa ingin menyela namun bukan waktu yang pas....Biru adalah milik Sena, untuk Sena ! anak dari sepupuku... Mentari tidak pantas untuk pengusaha muda dan tajir itu. Itulah kata kata yang tertelan dari mulut Raisa.


""Eum...pasti ! anak ku itu tanpa di suruh pun sudah melakukannya dari dulu dulu...apa kamu lupa dengan watak mantan mahasiswa mu itu....jika sudah mencap miliknya maka tidak ada yang boleh mengganggu gugat sekali pun di larang oleh ku."" Ucap Titan dan segera beranjak pun setelah mengkode Vane untuk ikut tanpa banyak bertanya lagi.


Vote dan bunga bunga..😘

__ADS_1


__ADS_2