
Suara handphone mengganggu aktivitas Biru yang sedang mengemudi kan mobilnya dengan Mentari yang ada di samping kemudi. Di lihatnya di layar pipihnya.
Sekretaris Sena is Calling...
Biru sebenarnya malas untuk berhubungan dengan Sena di luar kerja, Tapi takut ada yang penting masalah kerjaan, ia pun mendail ikon hijau setelah memasang earphone di indranya.
"Halo Bos !""
""Eum, ada apa ? Kalau tidak ada yang penting jangan menghubungi ku di luar kerja."" Dingin Biru Seraya melirik Mentari yang sedang menatapnya juga. Sebagai laki laki, ia tahu jika Sena selalu memancing birahi dirinya dalam setiap kesempatan. Dan Syukur, ia bukan tipe orang yang memanfaatkan tubuh wanita walaupun di umpan, Tapi jika yang menjadi mangsanya Mentari mungkin lain lagi ceritanya...Yuk, ngebet tancap gas naik pelaminan.
"" Penting Bos, masalah berkas yang harus di tanda tangani, tadi di kantor saya lupa memberikan berkas itu dan anda pula tadi sore terlihat buru buru pe-----?""
""Jadi ?"" Potong Biru tidak suka basa-basi jika menuntut pekerjaan.
" Jadi anda harus tanda tangani sekarang, berkas ini perlu saya antarkan ke klien kita pagi pagi sekali, permasalahannya...Saya atua anda yang menghampiri."" Di balik layar Sena menyeringai.
""Saya akan menghampiri mu di apartemen mu, Lagian saya berada di jalan tepat di dekat area gedung apartemen itu."" Biru langsung memutuskan sambungan. Ganggu saja waktu ku bersama Mentari. dumelnya dalam hati.
...****...
" Bos, ini Apartemen siapa ? kenapa aku di bawa kesini ?"" Tanya Mentari, Mereka sudah tepat berada di luar pintu unit Sena dengan Biru menekan Bel.
"Apartemen sekretaris ku-Sena ! kamu harus temenin aku masuk takut ada setan di dalam, Cuma sebentar kok."" Ceplos Biru tanpa sadar jika Petite-nya itu alergi Mendengar kata Setaaaan..
Mentari langsung mepet mepet ke Biru namun tak sampai menempel, Mencekal ujung baju Biru, Takut setannya langsung menerkam.
Menyadari itu, Biru terkekeh geli, pelan. Di susul pintu apartemen terbuka menampilkan Sena dengan pakaian Hot pants sepaha di balut T-shirt ketat di atas dengan senyum menggoda menyambut Biru. Namun senyuman itu luntur saat menyadari ada Mentari di samping Biru...Gagal sudah manjing hiu daratan.
__ADS_1
""Silahkan masuk Bos, Mentari !"" Sopan Sena ke Biru. Mata sinis ke Mentari.
Mereka pun masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu setelah di persilahkan masuk.
""Saya akan membuat minuman untuk kalian.!"" Sena beringsut ke dapur namun di hentikan oleh suara Biru.
""Tidak usah dan jangan repot repot, Saya hanya sebentar di sini, mana berkas itu yang perlu di tanda tangani.""
Sena pun mengambil berkas tersebut, dan tanpa ingat waktu Biru pun membahas pekerjaan bersama Sena dan itu akal akalan Sena agar Biru berlama lama berada di dekatnya... Sengaja mengabaikan Mentari, Tapi Mentari santai santai saja, tidak merasa ini itu.
Mentari yang tidak ingin menyela pembahasan mereka, merasa bosan sendiri, berangsur angsur mengantuk kecapean menjalankan harinya yang penuh perjuangan sendiri.
Biru yang melihat Petite-nya tertidur menyender dalam duduknya, berangsur menarik pelan tubuh mungil itu, menidurkan Mentari dengan paha Biru sebagai bantalan seraya terus membahas tentang pekerjaan bersama Sena.
"" Aaarg, Sialan ni gadis, Harusnya gue yang tidur di paha itu... seumur umur gue yang bermimpi ada di posisi itu tapi tidak pernah ada secuil kesempatan pun."" Kesal Sena dalam hati.
"Aaargh, Sialan...Gue balas Lo nanti, Mentari !" Marah Sena berteriak setelah Biru meningkalkan unitnya sebelum mendapat enak enak dari Biru.
Malam semakin larut, Biru tidak membawa tubuh nyenyak Mentari pulang ke kontrakan, Melainkan pulang ke unit apartemen nya sendiri, Bukan apa apa, ia tidak mau membuat masalah Fitnah untuk Mentari di seketiran rumah petak, Lain orang, lain pendapat, kan?
""Amang...Amang... Jangan pergi, jangan tinggalkan Tari, Amma dan kaka, Amaaaaang hiks....!"" Racau Mentari di balik mata tertutupnya dengan kepala menggelang pilu dan tangan terulur di udara. Seakan akan ingin menghentikan langkah seseorang.
Amang arti ayah dalam panggilan Batak Toba, Dan Mentari adalah asli anak darah campuran Sulawesi dari Amma dan Sumatera dari Ayah. Namun Mentari tidak pernah sama sekali tahu asal usul silsilah keluarga besar Amang-nya, ia hanya mendengar dari Ammanya jika Amang di usir gara gara menikahi Ammanya yang tak pernah makan bangku sekolah di waktu Amang-nya sedang melakukan proyek kerja di daerah Sulawesi-Sekitaran daerah Amma-nya.
Suara racauan Mentari di tengah malam dengan air peluh dingin keluar dari pori porinya mengganggu tidur Biru yang berbaring di sofa panjang terdapat tidak jauh dari ranjang. Biru menghampiri Mentari.
"" Mentari hei, Mentari, Bangun !"" Guncang lembut Biru di lengan Mentari.
__ADS_1
Mentari terkesiap dan langsung duduk di setengah kesadarannya. Amang-nya kembali ! Mengira suara dan tubuh Biru adalah Amang-nya yang duduk di sebelahnya dengan lampu tidur remang remang.
"" Amang...hiks, Kau kembali Amang, Tari rindu, Kaka dan Amma pun pasti rindu."" Mentari meracau terisak di dalam pelukan Biru.
Biru sendiri terdiam, kurang paham dengan permasalahan Mentari. ia hanya menenangkan Mentari dengan gerakan tangan mengelus rambut Mentari penuh sayang.
"" Amang, Kenapa Amang diam saja ? Jangan bilang, Amang akan pergi lagi meninggalkan kami, Tari tidak mau Amang, Tari tidak mau bangun dari mimpi ini, Biar Tari bisa memeluk Amang terus !"" Racaunya masih tak sadar dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Biru.
"" Petite, ini aku, Mantan Bos mu tapi calon suami mu !"" Tak ingin membuat Mentari semakin meracau, Biru pun bersuara menyadarkan kehaluan Mentari. Tapi ujarannya itu lho, kepedean abis. Calon suami ? eaaaa... jempol buat Biru.
Mentari melemas di dalam dekapan itu, melepaskan pelukannya dan menatap wajah Biru dari cahaya remang.
""Bos ! maaf aku ki--- Yaaak, Sedang apa di kontrakan ku malam malam begini ?!"" Tepuk guling di kepala Biru. Kesadaran Mentari kembali seutuhnya tapi belum tahu dirinya tengah dimana.
""Yakin ? ini rumah petak kamu ?"" Biru menyalahkan lampu langit-langit dan seketika Mentari sadar dan tahu persis kamar ini adalah kamar nyaman milik Biru.
""Yaak, kenapa aku di sini ? aduh...Jam berapa ini, bos ? aku mau pulang, Selain mau ke pasar dini hari, Aku pun takut ketahuan oleh Tuan Titan. Aku masih ingin bertahan di kota ini demi membanggakan Amma ku, aku tidak mau melanggar perintah tuan Titan.!"" Takut gelagapan Mentari akan peringatan Titan. Beranjak cepat ingin turun dari ranjang.
""Tenang lah, Petite ! Dan jangan hiraukan peringatan Papa ku, Beliau aslinya orang baik, papaku tidak akan tega melukai batin dan fisik seseorang apalagi calon mantu manis seperti kamu."" Biru menarik tangan Mentari agar kembali duduk di ranjang.
""Tap---?""
""Hust... kembali tidur ini masih tengah malam aku akan membantu mu kepasar dini hari, Jadi tidur lah atau tidak boleh tidur sama sekali !"" Potong Biru dengan suara terselip ancaman, wajahnya pun di majukan kehadapan wajah Mentari, Menggoda.. seakan akan ingin kembali merasakan bibir mungil itu yang sudah lama tidak di rasakannya.
""Selamat malam !"" Mentari menoyor jidat Biru agar menjauh dari wajahnya. Merebahkan tubuhnya dengan selimut menenggelamkan seluruh tubuh mungil itu.
""Menggemaskan."" Kekeh Biru geli, Mentari sangat berbeda jadi walaupun susah sebagai pria normal, sebisa mungkin ia akan menahan diri untuk tidak menerkam anak gadis orang. Halal lebih asoi di lakukan di malam pertama. Ya Tuhan, kapan waktu itu. Panjatnya berdoa. Petite-nya masih berniat membayar hutang piutangnya dan tidak mau menikah sebelum membanggakan Ammanya. Nasib...Harus sabar.
__ADS_1
Vote dan Bunga bunga š¹š