
Satria menyeringai lebar, ia berhasil membuat Jum pingsan dengan menggunakan obat bius saat tepat ia memarkirkan mobilnya di pelataran apartemen milik Langit. ia akan meminjam unit apartemen Langit untuk memiliki Jum. Dengan ini, mungkin Gema akan mundur, Pria seperti Gema ini adalah tipe orang yang tidak suka bekas, Jadi pasti Gema akan mundur dalam perselisihan ini, iya kan ? Picik dan gila memang, Tapi itu lah cinta, Logika akan hilang.
Di gendongnya tubuh itu memasuki pelataran lobby, banyak mata yang ia abaikan di lobby saat ia menggendong bayi besarnya dengan Raut wajah santai gembira. Kedua pihak orang tua mereka, mau tidak mau akan menerima mereka jika bibitnya ada di rahim perut Jum, bukan ? So, let's party !
""Uhh !""
Sialan !!! Baru juga di taruh di atas kasur bin belum di apa apain sudah sadar juga pujaan hati ini. Lirihnya saat mendapati Jum melenguh.
Rileks, Lakukan dengan lembut Satria, bangkit kan jiwa horn* nya dengan cara menyentuh kulit sensitivenya. Batinnya yang ingin membuat Jum mengikuti alur permainannya, suka sama suka kan lebih menyenangkan.
Dan benar Saja, Jum belum sempat membuka matanya, Satria sudah menyerang bibir itu dengan bermain lembut di sana, seraya tangan kurang ajarnya seketika menyelesup masuk ke dalam baju Jum dan memainkan balon ku ada dua.
Jum yang risih, berusaha membuka matanya yang masih setengah sadar, juga dalam kepala berdentam sakit hebat akibat obat bius yang di pakai Satria.
Hmmmmp, Mata Jum membola di bawah permainan Satria yang menjabah tubuh bagian dadanya. Berontak, Tentu saja ! Sekuat tenaga ia ingin terlepas dari kuncian Satria. Ku mohon, jangan ! Batinnya terluka sakit, kecewa... Sangat kecewa dengan sikap kurang ajar Satria.
Tes...Tes...Tes...Takut ! Jum sangat takut, kehormatannya sebagai wanita berada di ujung tanduk, sosok mata jahil itu sekarang tak berdaya sehingga meneteskan air matanya begitu deras layaknya hujan tak permisi membanjiri.
Satria yang menyadari Jum menangis, melepaskan pangutannya dan tangan kurang ajarnya pun seketika berhenti. Namun masih mengunci pergerakan Jum.
""Hiks... Hiks."" Lidah Jum keluh, umpatan dan cacian terasa tidak sanggup untuk keluar mencerca Satria, tercekat karena sesak dan Sakit mendalam yang di rasakannya, ia tidak menyangka, pria yang sempat mewarnai hidupnya begitu tega melukai dirinya yang sangat dalam, lebih sakit dari penolakan restu orang tua Satria, inilah titik terendah kekecewaannya ke Satria.
""Jum, aku menginginkan mu, dan inilah caranya agar kita bisa bersatu ke depannya.""Satria mencoba membujuk dengan lembut.
""Brengse* ! bajinga* !"' Maki Jum, ia bukanlah gadis bodoh. ini bukan solusi tapi jurang kematiannya. Batinnya menolak keras kegilaan Satria. ""Lepasin gue, Sat ! Gue benci dengan cara lo yang busuk ini, Lo sudah ngebuat imege Lo sendiri buruk di mata gue, dan gue ilfeel akan Lo sekarang ini."" maki dan geram Jum Seraya memukul mukul dada Satria yang masih saja enggan untuk melepaskan kunciannya.
__ADS_1
""Maaf, Jum ! Tapi saya harus melakukan ini, inilah yang paling benar jalan untuk kita."" Kekeuh Satria dan kembali Ingin menyentuh kulit Jum dengan tatapan mupeng.
""Aaargh, Gue nggak mau, gue benci !!! Gue nggak akan maafin Lo."" Jum berhasil lepas dari kuncian Satria dengan cara menendang benda keramat milik Satria. ia segera bangkit dari ranjang, dan berlari di mana pintu kamar berada. Sial ! Terkunci. Batinnya mengeram marah.
Satria yang melihat gelagapan Jum, jadi Tersenyum santai, bangkit dari jatuhnya dan berjalan pelan ke arah Jum.
""Ayo lah, Jum...Apa kamu tidak menginginkan hubungan kita bersatu, eum ?""
""Tidak, Karena gue benci dan jijik dengan Lo sekarang setelah kejadian ini."" Teriak Jum, prustasi. Alamat..matilah dirinya kali ini. Satria sekarang sudah bukan Satria yang ia kenal baik. Sekarang mata itu terlihat monster. Gila dan pyshico.
Jum berniat berkelit, menjauh dari Satria, tapi apalah daya, kamar itu bagaikan ruangan sempit saja tanpa ruang untuk berkelit, dan berujung berlarinya ia malah membuat Satria mencengkeram baju bagian belakangnya, dan berakhir terjabik tak berbentuk lagi. Punggung mulusnya sekarang terekspos dan semakin gila lah Satria melihat pemandangan mulus itu.
""Kenapa kamu begitu susah di ajak bekerja sama sih, Jum. Apa susahnya menikmati permainan ini, aku jamin.... setelah ini, kamu akan kecanduan untuk melakukannya.""
"Tapi aku tidak terima kalau batin mu berhasil di miliki Gema."
""Walaupun saat ini kamu berhasil menodai ku, Aku pun pasti kan, Aku tidak akan mau menjadi milik dari seorang pengecut seperti mu, Hanya bisa melakukan kepicikan dalam meraih satu tujuan. Lebih baik aku mati dari pada harus di miliki oleh mu, seterusnya !"" Marahnya. Satria tak perduli. dan berhasil menghempaskan tubuh molek Jum, jatuh di atas Kasur.
Dan di saat itu, pintu kamar terbuka paksa, ulah Gema dan Langit.
Yap, Gema yang bingung melihat mobil Satria masuk ke pelataran apartemen, menghubungi Langit dan mencari info sebagai sahabat, Langit pasti tahu, Pikir Gema. bertanya ? apakah Satria punya unit di apartemen tersebut ? di lantai berapa dan unit no berapa ? Tapi kata Langit, Satria tidak ada unit apartemen di situ melainkan miliknya. Dan Satria memang belakangan ini menggunakan apartemennya Karena alasan tidak betah di rumah dengan adanya Monica serta mamanya.
Dan Langit yang sedang di jalan, tak jauh dari lokasi, segera menyusul Gema, dan akhirnya mereka berdua berhasil masuk begitu mudahnya, karena pemilik apartemen tahu seluk beluk kode unit sendiri.
""Bajinga*, Lo Sat ! Lo memang memilih liang kubur dari peringatan gue kemaren.""
__ADS_1
Satria terkejut hebat, Gema tetiba memukulinya membabi buta, dirinya yang memang tidak siap mendapat serangan, menjadi tersudut kalah, apalagi Gema sekarang naik pitam, logikanya hanya ingin membunuhnya.
Jum yang shock hanya diam di atas ranjang dengan tatapan kosongnya, ia terpukul akan kejadian ini, Langit yang menutupi tubuhnya pakai selimut akan baju bajunya yang sudah tidak berbentuk baju normal, tak menyadarinya, hanya air mata ketakutan terus berbicara membasahi pipinya.
""Lo, yang harus di masukin ke liang kubur, Lo sudah menghancurkan harapan gue untuk bersama Jum, Lo datang sebagai penikung ulung.""
Satria tak terima dengan pukulan pukulan keras dari Gema, Dengan itu ia mencoba melawan kekuatan Gema yang bagai badai siap menghujam tubuhnya. Perkelahian sengit pun terjadi, Langit masih diam saja, justru sahabat Satria ini malah duduk santai di atas sofa, menonton. Toh sudah pada gede ini, nanti palingan juga akan berhenti kalau salah satu dari mereka ada yang kalah, palingan pun hanya patah tulang saja kok yang di terima salah satu banteng yang mengamuk ini, Lagian mau membela Satria, Sahabatnya ini salah besar.
Amis darah sudah menyeruak bercampur udara yang menusuk Indra pengendusan Jum, membuatnya tersadar dari shocknya, Ia meneliti duo banteng yang masih saling terjang.
""Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku, jangan sentuh aku !"" Racaunya saat melihat wajah Satria yang di hajar terus oleh Gema. Jum meracau Satria lagi tersenyum mesu* kepadanya.
Langit yang mendengar racauan Jum, jadi cemas juga, Di tambah Gema hampir men- Skakmat Satria yang hampir ambruk. Ini sih liang kubur benaran kalau tidak di hentikan. Batin Langit takut kehilangan sahabatnya sampai saat ini ulah dari keberingasan jurus jurus Muay Thai dari Gema. Terlihat boxing biasa tapi penuh dengan kekuatan dalam. itu yang di tangkap oleh Langit dari kekuatan Gema. Sementara Satria, cemennya pakai banget. hanya mempunyai bela diri acak Adul. Lagian salah sendiri Satria ini, Dulu kan ia sering ngajak latihan di club Ostia tapi si Cemen ini malas malasan. kalah kan !
""Gema, Lihat lah Jum, dia terlihat ketakutan, Cepat bawa pergi dari sini." Langit mencoba beralibi dengan membawa nama Jum, tapi tak sepenuhnya berbohong, karena Jum memang terlihat kosong dengan terus meracau gemetaran.
Gema Tersadar dari keberingasannya yang hampir men jab terakhir wajah Satria tepat di hidung Satria penuh dengan kekuatan, Tangan kurang ajar itupun sudah di beri patah tulang oleh Gema.
""Eeehh, sudah...bro ! Nanti Lo malah akan masuk penjara, bukan masuk ke gedung pernikahan."" Langit segera menahan tangan Gema yang ingin kembali memukul Satria.
"" Lo Beruntung ada Langit di sini, sialan ! Kalau tidak, bukan pintu rumah sakit yang Lo dapat, melainkan pintu neraka."" Kesal Gema, sekali lagi menendang tubuh Satria yang sudah babak belur, Setelahnya...ia menghampiri Jum, yang sedang komat Kamit ketakutan dengan meringkuk memeluk lekukan ke-dua lututnya. Si woman somplak ini ternyata manusia biasa juga, bisa ketakutan bergetar hebat, rupanya.
""Hey, Tenang lah, Sayang !"" Gema menarik selimut yang ada di punggung Jum. Mengumpat kasar dalam hati saat melihat pemandangan tak senonoh yang di lakukan Satria ke calon istrinya ini, Awas kamu Satria ! Batinnya yang belum puas memberi Satria.
""Ayo kita pergi !"" Gendongnya di tubuh gemetaran itu setelah memakai kan jasnya di tubuh Jum, Jas itu sudah seperti selimut saking kebesarannya di pakai oleh poster tubuh wanitanya. Jum hanya diam dalam tubuh bergetaranya, sampai Gelap yang ia rasakan tetiba, Jum pingsan di atas gendongan Gema.
__ADS_1