RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 202


__ADS_3

Plaaak


Satu tamparan sedikit keras mendarat di pipi Mentari dari tangan Biru yang sekedar ingin membuat sadar istrinya itu yang masih histeris akan perutnya yang tadinya mblendung di pikirnya hilang sekarang, Biru sadar betul akan tangan kasarnya..Dan pasti tangannya ini akan mendapat hukumannya, Nanti !


Bukan apa apa ia bertindak kasar, melainkan ia hanya tak mau Mentari drop akan pemikirannya yang salah, yang menganggap isi perutnya hilang atau keguguran akan kejadian tragedi di malam itu.


"" Shut up Mentari !"" Sendu Biru menangkup wajah itu dengan sedikit paksa Karena Mentari masih saja histeris tangis tidak terima akan kehilangan isi perutnya.


""Hiks...anakku, aku tidak becus !"" Mentari menangis menyalahkan dirinya.


""Anak kita ad---Mentari ! Petite !"" Tepuk lembut Biru di pipi Mentari.


Tangis histeris itu berhenti, Tapi malah membuat Biru panik, Mentari malah pingsan karena mungkin jiwanya sedikit terguncang.


Ahh, Shi* , bakalan gue potong tangan ini kalau Mentari kembali kenapa kenapa. Biru dengan cepat menjalankan mobilnya kembali menuju Apartemen.


...****...


Di Desa, Tepat di kampung Mentari sama dengan kampungnya Jum juga. Satria turun dari mobil, baru tiba di kampung itu, Ia datang ke kampung itu karena ia sering mendengar Jum berkata.... Saya tidak mau pacaran !!!


Dengan menebak nebak arti kata itu, maka dengan nekat ia datang ke kampung halaman Jum untuk menemui orang tua Jum yang ingin langsung melamar pujaan hatinya, Kalau tidak mau pacaran, berarti mau nikah dong !!! Ok, Satrai akan menyiapkan segalanya dan sekaligus Ingin Membuat kejutan untuk Jum dengan cara memboyong orang tuanya Jum ke Kota.


""Assalamualaikum.""


Tidak ada yang menyahut dari rumah panggung itu, pintunya pun tertutup rapat, keadaan sekitar pun sangat sepi.


""Assalamualaikum.""


""Waalaikum salam.""


Salam kedua, di jawab oleh seseorang dari belakang Satria, dan Satria kenal ibu ini, yang ia yakini adalah ibu dari Jum.


""Nyari siapa ya ?"" Tanyanya.


""Nyari anda, calon ibu mertua."" Tembaknya tak basa basi.


Sang ibu menautkan kedua alisnya, penasaran. ia tidak asing dengan wajah kota itu, pernah melihat tapi di mana.


""Satria, Saya teman dari Suaminya Mentari yang dulu pernah kesini dalam rangka meramaikan acara pernikahan Mentari di waktu dulu."" Jelas sopan Satria.


Sang ibu mengangguk dan menyuruh Satria untuk mengikutinya, ke arah belakang rumah di mana bapak Jum berada. Bicara bicaranya sekalian bersama suaminya, pikirnya mungkin ada yang penting sehingga salah satu teman Biru datang, padahal kan keluarga Mentari sudah di kota semua.


""Assalamualaikum.""


Sang bapak yang bernama pak Rahmat, menyahut sapaan dari Satria. Menyuruhnya duduk di bangku yang terbuat dari anyaman.


""Perkenalkan, saya Satria, dari kota !""


Dan Satria pun dengan Gentleman menyampaikan niat baiknya kepada orang tua Jum tanpa basa-basi dan bertele-tele.


Nampak ada kebingungan dari wajah orang tua Jum perihal lamaran singkat padat jelas dari pria yang berperangai indo ini, Bukannya apa apa, Kan Jum ada di kota, tapi pria ini malah ke kampung halaman seorang diri dalam menyampaikan niatnya yang terdengar serius, mana sang anak tidak pernah bercerita akan kedatangan Satria, bahkan Jum sering di tanya oleh pak Rahmat, kapan nikah dan kawinnya, eh...sang anak menjawab, Calonnya masih di dalam perut orang tuanya, gelap !!! Tapi sekarang, tak terduga...ada pria yang datang dengan niat baik...


calon anaknya yang tengil nakal sedikit mesum sudah terlahir, rupanya !!! ok, kabar baik, Batin pak Rahmat. Ibu Anna-Amma Jum terlihat bahagia pula, Ada juga orang kota yang suka akan Anaknya yang kadang menyebalkan itu.

__ADS_1


""Kita lanjutkan pembahasan serius ini di kota bersama Jum, bapak dan ibu akan setuju setuju saja asalkan anak bapak menerimanya.""


Ahhsyoiiih... Tunggu sebentar lagi Jum, Abang datang bersama keluarga mu. Batinnya tersenyum jumawa dan akan men-skakmat Jum yang selalu berkelit dari dirinya.


...****...


Di Apartemen, Biru memberikan aroma terapi pas di pengendusan Mentari, berupaya untuk membangun kan istrinya dari pingsannya, Si Triplets pun ada di sisi Mentari yang tergeletak lurus di atas peraduan kamar orang tuanya.


Pelangi meniup niup mata Mentari, pikir polosnya agar Bundanya terbangun.


""Princess, ngapain ?"" Biru memberi kode agar Pelangi berhenti dari upaya upaya konyolnya.


""Badai, Tangannya diam !""


Sang Bungsu lebih konyol, Di mata Biru...Badai tertangkap sedang menggelitik telapak kaki Bundanya. Mata elang Biru pun memburu Topan, Siapa tahu anak datarnya itu pun bertingkah konyol. Namun yang di tatap membalas tatapannya yang seakan-akan berkata... Topan sudah besar, sudah mengerti !!!


""Di tium Ayah, taya di leptop ante muay !"" Pelangi menyuruh Biru agar Ayahnya memberikan nafas buatan untuk Bundanya.


Pelangi memanggil Gemi dengan sebutan muay, alasannya karena Tantenya itu piawai dalam seni bela diri Muay Thai.


Dasar Gemi, anak kecil di beri tontonan dewasa. Fix, Biru tidak akan mengijinkan anak anaknya bermain di kamar Gemi lagi kalau berada di kediaman Batara.


""Tidak boleh di tiru ya Sayang, itu bukan ciuman melainkan pertolongan pertama, Mengerti Pelangi ?""


Kepala kecil itu pun mengangguk polos dengan senyum manisnya. Mengerti atau tidak yang penting mengangguk saja, dari pada dapat plototan dari sang Ayah.


Uuh, Tak lama... Suara lenguhan Mentari terdengar, mata itupun perlahan membuka, Membuat empat kepala itu bernapas lega.


""Yeay.!"" Senang Pelangi menatap Mentari dengan mata berbinar.


"" Jangan nakal !"" Dingin Topan menarik paksa ujung baju belakang Badai agar menjauh dari tubuh Bundanya yang butuh udara banyak. Badai pun tertarik paksa, memberi tatapan tajamnya ke Topan seraya lidah nya di julurkan meledek.


""Huk----!""


""Anak kita selamat petite, dan di hadapan mu ini adalah anak anak kita yang ada dalam perut mu di waktu tiga tahun yang lalu."" Biru segera menjelaskan dengan cepat agar Petite-nya tidak histeris kembali.


""Bukan twins tapi Triplets, lihat sendiri di hadapan kedua mata mu ini, mereka...anak anak kita sayang."" Suara Biru bergelombang, teringat kesedihannya yang berlalu.


""Tiga tahun ? Triplets ? Hulk, A--Aku ti---!""


""Koma ! setelahnya kamu bangun dan melupakan suami mu ini."" Akhirnya, mata Biru berair, antara sedih jika mengingat luka hidupnya dan haru akan penantiannya tak sia sia.


Melihat air mata suaminya untuk pertama kalinya dalam hidup Mentari bersama Biru dalam berumah tangga, Mentari sedikit paham, Kalau Suaminya pasti menjalani kehidupan tanpa dirinya dalam kesedihan yang sangat dalam.


""Hiks, hiks, maafkan aku hulk !"" Mentari sesunggukan, memeluk erat tubuh kekar Suaminya di hadapan anak anaknya yang terdiam manis seakan akan mengerti kesedihan orang tuanya.


""Kamu jahat Mentari, kamu menghukum ku begitu lama dan aku benci melihat kamu Terluka dalam ketenangan terpejam mu, aku adalah suami yang tidak becus menjagamu, aku yang harus minta maaf, ini salah ku... Karena aku yang membuat mu koma !""


Semakin erat pelukan itu dengan Biru terus mengecup pucuk kepala istrinya yang sesunggukan, Tumpah sudah air mata Biru membasahi kepala Mentari dengan derasnya tak bisa terbendung lagi.


Mentari menggeleng dalam dada Biru, mendongak ke wajah Suaminya yang terlihat sedih, sangat sedih dengan adanya pancaran penyesalan di sana.


Cup cup cup cup

__ADS_1


Saking leganya, Biru sampai lupa kalau ada si kembar melihat aksinya yang mengecup sana sini wajah Bundanya dan sedikit lama di bibir itu.


"" Nda, Yah !"' Pelangi berakting cemberut.


Pelukan hangat Mentari terlepas, Menatap satu persatu perangai anak anaknya penuh rasa keharuan, mengusap air matanya dengan kasar. ""Sini."" Rentang tangan Mentari, ketiganya tanpa ragu pun berhambur bersama dan Biru sigap menahan tubuh belakang Mentari yang hampir terhuyung akan kelakuan putra putrinya yang berebutan.


Dan terjadi pelukan Teletubbies lebih satu personil dengan jeda begitu lama.


""Aaarg, Pelangi..!"" Protes Badai yang susah bernafas karena dirinya yang paling terhempit dalam pelukan itu.


""Topan, bukan Pelangi !"" Pelangi tak terima di salah kan, Karena ia pun dapat himpitan keras dari Topan.


""Panggil Kaka dulu !"" Ancam Topan tak mau melepaskan pelukannya.


""Nggak !"" Kompak Pelangi dan Badai. "" kita kembal"" Lanjut Badai. dan semakin erat lah pelukan Topan menghimpit Pelangi agar kedua adiknya ini jera.


""Hulk."" Mentari Bingung akan pertengkaran anaknya, Ia belum tahu bagaimana cara ampuh menghadapi ke-tiga anak anak nya.


""Topan tidak suka penolakan, Jadi Sebelum kedua adiknya yang tengil nakal ini memanggil Kaka, maka jangan harap si Datar Topan memberi ampun...Coba saja lerai.""


Dan Mentari pun melerainya dengan suara penuh kelembutan.


""No, Bunda !"" Tolak Topan keras kepala.


""Pelangi, Badai, benar kata Topan, panggil dia Kaka karena dia lebih tua dari kalian."" Bujuk Mentari. Biru membiarkan kegaduhan itu.


""Ya Nda."" Ucap keduanya menurut.


""Kaka, sesak !"" Badai berucap dengan suara tidak ikhlas. Pelangi masih tak bersuara.


""Pelangi !"" Bujuk Mentari lagi


""Baiklah, Kaka jeyek minggil dali kulit ku, atau ku gigit nanti.""


Sejenak Topan kembali mengeratkan pelukannya, ia tersenyum tipis, persis seperti menyeringai. ia pun melepaskan sepenuhnya dan beranjak cepat.


""Topan jeyek !"" Pelangi dan Badai tidak terima, mengejar langkah kakanya yang berjalan santai tanpa takut akan kedua adik adiknya yang kesal Kepadanya.


Kegaduhan hangat itu di hadiahi senyuman dan tangis haru Mentari. Menatap sendu wajah Biru yang juga menatapnya lembut.


""Terima kasih ! Kamu melalui hari sulit tanpa diri ku, Kamu adalah segalanya Hulk...Apa yang harus aku lakukan untuk membayar hari lama yang sudah aku buang bersama mu Hulk.... Katakan ?"


Air matanya mengalir lagi yang susah di tahannya di hadapan suaminya, Kata Terima kasih sangat tidak mungkin terbayar akan pengorbanan Biru.


""Tidak ada kata Terima kasih di antara kita, Petite, Kamu lupa akan hal itu, eum ! apa kamu mau di hukum berat sayang ?""


Mentari mengangguk. ""apa pun hukumannya, asal jangan meninggalkan aku !"" Lagi lagi pipi itu banjir, Hidungnya pun kembang kempis memerah.


Dengan sayang, Biru mengatup kedua pipi Mentari, mengusap lembut air mata istrinya dengan kedua jempolnya. ""Cukup dengan adanya kamu di sisi ku, maka akan tergantikan hari kesedihan itu sayang ! dan ini...ish, jorok sekali !"" Mengusap hidung Mentari yang berair, mencandai.


""Hiks, hiks hiks, Hulk !"" Mentari semakin terisak dengan nafas tersengal.


""Aih, jelek sekali."" Biru Tersenyum, menarik kepala Mentari dan menaruhnya di dada bidangnya. Dan dekapan itu di balas erat oleh tangan Mentari, sangat erat yang seakan akan takut untuk jauh dari suaminya, lagi.

__ADS_1


Tiga tahun Hulk ? Tiga tahun itu akan aku bayar sayang!!!


__ADS_2