
Dua hari setelah penyuntikan penawar di tubuh Rose. Kini Amma dari dua anak itu sudah sadar dan mulai membaik. Radja datang berkunjung dengan buah sebagai pegangan tangan.
Rose menoleh saat pintu ruangan terbuka dan pelakunya adalah Radja-kaka iparnya.
""Hay, Rose ! Aku ganggu nggak ? Tumben sekali sepi, anak anak pada kemana ?"" Heran Radja yang tak biasanya Rose di tinggal sendiri. Pria itu duduk di sigle kursi di sisi tempat peraduan Rose. ""itu buah untuk mu !"" Tunjuk Radja ke bingkisan buah yang sebelumnya di taruh di meja.
""Terimakasih ! Anak anak sudah pada kesini tadi, Mentari pergi bersama Gema dan Jum masalah kerjaan, Senja pun sama, sudah pergi bersama Sam ke kantor, katanya lagi deadline produk wewangiannya."" Jelas Rose masih terdengar parau. "" Boleh minta tolong ?""
Radja mengangguk. ""Apa ?""
""Tolong kupasin buah ?"" Senyum lemah itupun terlukis tipis.
""Kirain apa ?"" Balas Radja tersenyum, Radja pun beranjak sebentar mengambil buah dan mengelupas kulit buah itu. ""Oya, Rose. Masalah musibah ini, Aku mau meminta maaf ! Maaf karena ini ulah mantan istri ku dan juga Ponakannya. Maaf karena kami lalai menjaga mu padahal kamu ada di dalam rumah tapi dengan mudah mereka bisa menyakiti mu !"" Sesal Radja merasa bersalah. ""Tapi tenang saja, Mantan istri ku sudah mendapat tambahan hukuman, dan Ponakannya itu pun kayanya sudah mendapat hukuman dari menantumu, Biru !"" Jelasnya kembali agar Rose merasakan aman dan nyaman lagi tinggal di kediaman Batara setelah keluar dari rumah sakit.
""Lupakan semuanya, Ini sudah kehendak Allah untuk ku. Aku tidak akan menaruh dendam ke mantan mu itu."" Hati Rose memang lah pemaaf, dan sisi itu di wariskan ke sisi hati Mentari yang lugu... Ibarat kata...Jika terjadi ya...memang harus terjadi, itu musibah dari sang pencipta melalui perantara siapa pun itu.
""Terimakasih atas kebaikan hati mu !"" Senyum Radja memberi sepotong buah untuk Rose makan. Rose sedikit susah untuk meraihnya.
""Buka saja mulut mu !"" Dari awal Radja memang bermaksud untuk menyuapkan buah itu, Bukan untuk menyuruh Rose menggapainya pakai tangan yang masih terimpus lemah.
""Hah. ""
""Aaa, Buka mulut mu, tangan mu masih lemah walau hanya maraihnya kan, apalagi untuk memasukkan ke mulut, yang ada buah ini malah masuk ke lubang hidung mu."" Goda Radja yang tetiba canggung sendiri karena sikap manisnya ke adik iparnya.
""Jangan mulai ya, apa kamu sudah rindu beragumen ketus dengan ku, eum ? Nanti kalau aku sudah sembuh, pasti aku akan meladeni mu.!"" Rose pun sedikit canggung menerima suapan buah dari tangan Radja.
Pintu ruangan kembali Terbuka, Radja dan Rose menoleh penasaran. Chris yang tertangkap di mata mereka dengan sebuket kecil bunga di tangan.
""Hohoho...Ada kemesraan di sini cuy, gue balik aja kali ya !"" Godaan itu terdengar menyebalkan di kuping Rose, Besan satu ini sama saja... punya mulut sangat tajam.
""Mana ada begitu ?"" tepis Rose.
""Begitu begitu juga tak apa, Satu janda, satu duda lapuk...tak masalah dong !"" Goda Chris yang sudah berdiri di sebelah Radja. Tak lupa alis itu bermain naik turun untuk menggoda.
Radja menghadiahkan tendangan di betis tulang kering Chris. ""Lo yang duda lapuk...Coba hitung berapa tahun Lo menduda, eum ?"" Ledek Radja ketus. Chris hanya melengos tercengir kuda ke Rose. Seraya meringis pelan.
__ADS_1
""Ck, Kalian kalau mau bercanda mending pulang saja, kuping gue rasanya congean."" Usir Rose.
""Ch---!""
Ceklek...
Pembelaan Radja terhenti saat pintu terbuka kembali. dan sekarang tersangkanya adalah pasangan suami-istri Titan dan Vane. Tak lupa buah tangan pun ada.
""Hay, Semuanya....Hay Rose.... sudah baikan ?"" Ujar Vane. Di balas anggukan anggun dari Rose seraya tersenyum lembut.
""Itu buat kamu !"" Timpal Titan membawakan bunga untuk Rose.
""Terimakasih semuanya. Kalian sudah repot repot kesini."" Senyum haru di lemparkan bergantian pada ke empat kepala yang ada di hadapannya.
"" Tidak merepotkan kok ! ini memang seharusnya begini... peduli sesama keluarga."" Tutur Vane.
Radja berdiri dari kursi. ""Duduk Van."" Mempersilahkan wanita anggun itu. Vane pun dengan senang hati duduk di sisi brankar Rose.
Ketiga kepala pria itu sendiri berangsur duduk di sofa panjang khusus ada untuk pengguna kamar VVIP.
Rose menoleh, bahkan semuanya pun melirik ke orang yang tetiba menanyakan cucu. Selain menjenguk...Chris juga ada busuk busuk rencana licik untuk mempersatukan anaknya dengan Senja.
""Cucu ?"" Ulang Rose, Vane pun mengulang kata yang terdengar hangat itu.
"Aku mau !"" Vane yang menjawab cepat dengan penuh rasa semangat.
""Ck, Aku pun mau...Lo semangat amat Van ! minta dong ke Biru sama Mentari.!"" Ucap Chris.
Rose tetiba tak enak akan persyaratannya ke Biru di waktu lamaran yang berbunyi....Biru harus menunda kehamilan Mentari demi pendidikan... Melihat Vane yang begitu berbinar membuatnya benar-benar tak enak di hatinya.
""Apa Senja hamil, Chris ?"" Tanya Rose
""Wah, Beruntung sekali !"" Senang Vane.
""Selamat bro !"" Tepuk Titan di bahu Chris dengan tekanan tenaga.
__ADS_1
""Kabar baik !"" Timpal Radja ikut senang.
""Aih.... Siapa yang bertutur kalau Senja hamil ? Gue kan cuma nanya... apakah Lo mau punya cucu Rose ? kalian keduluan sudah terbayang bayang indah."" Wajah Chris terlihat konyol di beri tatapan horor Empat orang sekaligus.
""Ck, Kirain !"" Delik Vane malas.
""Biar cepat hamil, Lo suru mereka bulan madu gih ! siapa tahu sepulang honeymoon kan berisi tuh !"" Chris memang licik sengaja mensugesti Rose agar nanti janda dari Dewa ini memaksa Senja dan Langit untuk pergi bulan madu. Senja dan Langit tak akan menolak jika Rose yang meminta.. pikirnya.
""Tidak boleh !"" Vane yang mencibik. ""Di antara kita tidak boleh ada yang punya cucu terlebih dahulu sebelum Mentari sudah di boleh kan menjalani program hamil oleh Rose."" ngambek Vane. Titan geleng geleng kepala melihat istrinya seperti anak kecil.
""Setdah Van, Dengar ya nyonya Malik Sunjaya...Itu DL...Lo harus sabar dong ke Mentari, dia kan lagi sibuk benar jadi anak...Pagi sampai Sore sibuk di kantor, malam lanjut kuliah... Larut malam tertidur deh tanpa ada en* en* gara gara kecapean, Kan kasihan kalau mesti harus menambah jadwal mengurus anak lagi."" Tajam Chris tanpa di rem depan tuh mulut.
""Huawaaa...Papa, Chris minta di tabok."" Lebay Vane berakting sedih. Titan dengan santai benar benar mensentil bibir lemes Chris.
""Hahaha."" Tawa Radja melihat Chris mendengus kesal akan pergerakan Titan.
""Padahal kan Gue bisa lho mengurus junior Sagara sampai dua puluh empat jam... Biarkan Mentari bebas tangan Setelah melahirkan....Mau kerja kek..mau kuliah kek...Mau nambah anak lagi kek...No problem dengan kehadiran Baby-nya nanti. Gue siap jadi babysitter."" Vane memasang memelas di hadapan Rose...Siapa tahu kan, Syarat dari Rose di kala itu di tiadakan.
""Nanti.... Setelah aku keluar dari sini akan berbicara kepada anak anak kita tentang keinginan para orang tua."" Tutur Rose mengalah ke Vane yang menginginkan cucu, sebenarnya ia pun sangat tak sabar salah satu anaknya memberikan cucu.
""Yes !"" Chris bersorak gembira dengan kepalan ke udara. Radja dan Titan yang duduk berdekatan melirik aneh ke Chris.
""Lo kagak gila kan, Chris !"" Tukas Titan.
Radja dengan tangan reflek memeriksa kondisi suhu Chris. ""Kagak panas ! tapi terlihat stress !"" Tajam Radja.
""Ck, Singkirkan tangan keriput Lo di kulit Gue.!"" Tepis Chris.
""Rose..! Anak anak ? apa itu juga berarti Mentari ?""
""Eum, Mentari dan Senja ! Biarkan mereka bebas memilih... Besok aku di perbolehkan pulang... Kalian datang lah kerumah Batara dengan anak anak...Nanti di situ biar aku yang menjelaskan ke anak anak tentang keinginan Kalian....apa tuh namanya ? Hon--Hon--""
"" Honeymoon !"" Kompak Chris dan Vane semangat.
""Eum, itu pokoknya !""Geleng Rose akan kelakuan kedua besannya.
__ADS_1