
Mentari mengetuk kamar Biru secara perlahan yang aslinya Biru baru masuk kamar, bahkan Mentari pun belum sempat menaruh tasnya sepulang dari Ospek yang melelahkan.
Biru membuka pintu dengan kemeja sudah terbuka kancingnya. Mentari salah fokus jadinya ah, melihat dada berotot itu. Jangan Omes jangan Omes Jangan Omes, Hafalnya dalam diam.
Biru menaikkan satu alisnya. ""Apa ? kangen ?"" Goda Biru main cium pipi saja.
""Ish, Bos, nyebelin. !"" Cemberutnya dengan bibir mengerucut akut seraya memegang pipinya. Biru selalu seenak bibir main kecup sana sini.
""Aku mau ngasih ini ?"" Mentari melayangkan undangan yang dari Langit. Biru meraihnya, dengan dahi mengkirut.
""Dari siapa ?"" Tanya Biru.
""Dari Langit eh pak Langit.!"" Sahut Mentari santai berlalu akan pergi.
Juadeeeeeer....
Biru menjatuhkan undangan yang hampir di bukanya. Menarik kuat tangan Mentari hingga gadis rantau itu berbalik keras menubruk dada Biru yang polos. Bibir Mentari menempel pas di benjolan seperti tahi lalat hidup di bagian dada Biru.
""Apa sih, Bos.!"" Mentari menjauh dengan tatapan sinis.
""Kenapa Langit bisa menitipkan undangan itu ke kamu, hah ? apa si bulu menyakitimu ?"" Biru memaksa memutar tubuh Mentari, mencari apa kah ada luka di tubuh gadis mungilnya. Mentari berputar pasrah. "" Ayo jelaskan, dia mengatakan apa saja ? pasti yang jelek jelek tentang ku yang di bicarakannya. Kalian bertemu di mana ? jangan lagi lagi berdekatan dengan pria penebar bulu gatal itu."" Cerca Biru.
Mata Biru menebarkan kobaran bendera peperangan. Mentari yang melihatnya bergidik bahu. Bosnya kenapa ? kok marah cuma dirinya di titipkan undangan oleh Langit.
Mentari sendiri bingung mau menjawab yang mana dahulu, dan ia tidak mungkin bisa menjauh dari Langit yang selaku dosen tempatnya akan berkuliah.
""Tidak bisa bos, saya tidak bisa menjauhi pak Langit seratus persen karena dia menjadi dosen di tempat saya kuliah. dan pak Langit baik kok, tadi dia menawarkan makan untuk aku tapi aku tolak."" Jelas Mentari ragu ragu, tapi kebenaran harus di utarakan di larang berbohong, dosa. Biru merasa dongkol, Mentari memuji Langit dengan kata 'baik', Cih. Baik karena ada maunya. Huuuh, mau marahin Mentari tapi Petite-nya itu tidak salah.
__ADS_1
""Apa ? dosen ?"" Pekik Biru. Damn it ! Si Langit benar benar sudah kumat lagi. Ok ! Biru akan membelinya, tidak mungkin kan si Langit mengasih undangan persahabatan untuknya. itu undangan permusuhan.
""Undangannya, Bos !"" Mentari yang ke dua kalinya menyodorkan undangan itu yang sempat di jatuhkan oleh Biru.
Biru meraih kertas kampret namun sayangnya sangat mewah untuk di lihat.
""Pesta topeng ?"" Bacanya malas malasan. ""Berpasangan ?"" Biru melirik punggung Mentari yang akan meninggalkannya. Kalau berpasangan kan, otomatis ia harus mengajak Mentari padahal malas banget harus memamerkan keindahan sebenarnya dari gadis rantau itu, Petite-nya. takut takut si Langit benar benar tertarik dengan petite-nya. Mentari jika di tancap make up sedikit saja dan memakai pakaian mewah pasti langsung terpancar. aah...Biru ngegana jika gebetannya di gait oleh Langit seperti yang dulu dulu. Tapi tidak lagi....dulu dirinya mengalah sebab merasa tidak ada yang istimewa di diri wanita wanita dulu yang terlalu gampang berpindah hati. Sekarang No besar jika wanita itu Mentari.
""Mentari, Malam ini kita akan ke pesta, bisa ?!"" Biru akan memamerkan kemesraan ke Langit jika Mentari adalah punyanya tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Mentari tertahan lagi, dan kembali berjalan ke arah Biru.
""Bisa sih, tapi....."" Mentari mempunyai tugas ospek yang harus di selesaikan, Sungguh... pasti akan capek dirinya jika setelah pesta baru akan mengerjakannya, Lima kertas HVS bolak balik yang harus di coret coret alias menyalin tugasnya. Kriting tuh tangan.
""Tapi kenapa?"" Tanya Biru.
""aah.. tidak bos, saya akan menemani bos dan biarkan saya mengerjakan tugas Ospek terlebih dahulu."" Mentari melirik jam dinding, Waktunya hanya Dua jam berpikir dan menulis tugas pertamanya.
Biru mendekat, ia kembali mengenakan kancing kemejanya, duduk di atas sofa yang ada Mentari duduk di lantai hadapannya.
""Ngerjain apa.?"" Tanyanya.
""Tugas Bos, aku harus mengerjakannya sekarang jika tidak nanti malam aku tidak akan sempat mengerjakannya atau tidak sempat menemani anda ke pesta. dan tolong jangan di ganggu.""
Biru langsung terdiam, membiarkan Mentari berusaha sendiri tanpa ada bantuan darinya. Biru memperhatikan wajah serius anak Rantau itu dengan seksama. Manis ! apa kah cuma itu, kelebihan Mentari yang bisa membuatnya klepek klepek sampai Bucin seperti sekarang. Tentu bukan karena kecantikan, jika masalah cantik, di luaran sana begitu banyak cewek cantik yang di tolaknya. Tentu bukan hanya sekedar cantik, Mentari seakan punya magnet untuknya. Pokoknya kata kata untuk menggambarkan ke sukaannya ke Mentari itu susah di gambarkan oleh kata kata karena hatinya lah yang berbicara.
Sudut bibir Biru terangkat geli saat Mentari malah terkantuk-kantuk di saat menulis. Kepalanya yang kadang ingin jatuh sendiri di angkat kembali. Menggeleng gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa ngantuknya. Tapiiiii....rasa ngantuknya itu sangat lah kuat sehingga tanpa sadar gadis rantau desa itu tertidur di atas duduknya dengan kepala menumpu di atas meja.
__ADS_1
""Aku akan membantu mu, petite."" Biru menarik bolpoin yang masih tersangkut di tangan Mentari, mengerjakan tugas yang harusnya di kerjakan oleh MABA sendiri. Mentari di dalam masalah jika ketahuan di bantu orang mengerjakannya.
Sesekali Biru melirik tidur Mentari yang sekarang gadis itu tertidur di atas pahanya. Hatinya damai melihat wajah polos itu, ah... rasanya ia ingin sekali meminang Mentari sekarang juga, Supaya ia bisa bebas memiliki wajah polos itu. dan bisa melakukan lebih dari sekedar mencium saja.
Biru mengibaskan tangan kanannya yang terasa kebas, ini yang punya tugas siapa ? kok dirinya yang keriting jarinya.
""Lumayan capek ini tangan !"" Keluh Biru. Namun saat melirik kebawah, bibirnya tersenyum senang melihat Mentari bergerak dalam tidurnya yang malah memeluk erat perutnya.
Hangat itulah yang di rasakan Mentari saat memeluk Biru yang di prediksinya memeluk guling.
""Kamu harus membayar ku Mentari."" Biru menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Mentari. Menundukkan kepalanya. Cup..Mencium bibir itu dengan lembut, Niatnya hanya sekilas tapi rasanya ia sudah menyandu akan bibir sensual itu sehingga yang tadinya cium biasa malah berubah menjadi ciuman penuh nafsu dan ganas.
Tidur Mentari terganggu dengan kurangnya pasokan oksigen, rasanya kok, bibirnya di timpa es panas...basah basah hangat dari nafas Biru.
""Mmmmp.."" Mentari menarik bibirnya dengan gerakan kepala. membunyikan wajahnya di perut Biru agar bibirnya tidak kembali jadi korban, Mau bangun tidak bisa dengan adanya wajah Biru yang masih setia menghadang.
""Bos ! apa yang bos lakuin ? menyebalkan.!"" Ucapan Mentari tidak terlalu terdengar karena wajah itu sangat lah di tenggelamkan ke perut Biru.
""Apa lagi ? kalau bukan mencium mu !"" Santai Biru masih menahan posisi Mentari agar tetap memeluknya.
""Tidak boleh begitu bos, ah.!"" Ketusnya.
Biru terkekeh. ""Anggap saja tadi kamu sedang membayar hutang, bagaimana kalau kita membuat perjanjian.!""
Mentari memberanikan memperlihatkan separuh wajahnya. "Maksud, bos ?""
""Satu ciuman panas, lunas dua juta..dan berapa kali aku mencium mu kamu bisa langsung mengurangi hutangmu, di catat saja di dalam smartphone mu."" Biru meraih smartphone Mentari tanpa menunggu persetujuan Mentari, mengurangi dua juta dari hutang seratus juta. Jika Mentari menolak pun tidak akan bisa, Titahnya harus di iyakan oleh Asistennya itu. mau tidak mau harus mau.
__ADS_1
""Dasar bos gila, seenak gundul main menaruh keputusan saja, aahh...Bibirku akan penuh dosa...ammaaaa...anakmu benar benar dalam masalah."" Jerit hati Mentari. aku tidak mau bos Bembe, mafia, Tedong...aku tidak mau. Lagi lagi Mentari hanya bisa pasrah. Sekarang hutangnya tinggal sembilan puluh delapan juta yang berarti empat puluh sembilan ciuman panas. Gilaaaaa! Damn it !
Like, komen Vote dan bunga bunga š