RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 248


__ADS_3

"" Nda, kami mau pulang.""


Badai, anak manja Mentari dan ke-dua kembarannya, menarik narik tangan Mentari yang sedang berbicara serius bersama Langit tentang masalah satu menyangkut dua keselamatan rumah tangga sekaligus. Mereka hanya di fitnah, Langit dan Mentari yakin itu karena sesadar sadar diri mereka, satu Jam pun tak pernah mengobrol hanya berdua apa lagi melakukan itu.


""Pergilah Mentari, bicara kan dengan kepala dingin bersama Biru, Tenang saja, aku akan mencari Buktinya kalau kita tak ada affair ."" Jelas Langit. Di angguki Mentari, Benar kata Langit, ia harus berbicara serius dengan Biru.


""Ayo sayang, kita pulang lagian ini sudah mau malam.""


Mentari beranjak hanya pamit pulang ke Pak Rahmat yang ada di ruang keluarga, Ammanya entah lagi apa bersama Senja di dalam kamar. Langit masih terpaku di tempat seraya menatap terus menerus daun pintu yang di dalamnya ada Senja dan mertuanya.


"" Papa, Petil pun mau pulang, Petil ingin main sama Opa Chlis aja !"" Pinta Petir memainkan jari jemari Langit.


""Kita nunggu Mama sebentar ya, Mama ada urusan penting sama nenek Rose."" Jelas Langit di angguki Petir. sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan diri mu Senja.


...******...


"" Nat ?""


""Asli Bi, Senja tidak salah...foto ini bukan editan melainkan asli.""


Persendian Biru terasa melunak di kala Nata pun menyebut foto Penghianat itu asli, Padahal ia berharap Senja salah, makanya ia menemui Nata untuk minta bantuan, Tapi sama saja jawabannya. Jawabannya Membuat ia kecewa, Ingin mempercayai Mentari tapi apalah daya, buktinya sudah di depan mata.


""Apa kamu tidak curiga tentang foto ini Bi ?""


Biru menautkan alisnya, berpikir.


""Hohoho, jangan bilang kamu sudah bodoh sekarang !"" ejek Nata. ""cinta memang kerap kali membuat mata, hati dan otak, buta sekaligus satu paket bodoh. Benar kata orang di luar sana. Sakit hati boleh lah... Tapi jadi orang jangan bodoh bodoh amat."" Lanjutnya pedas.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, apa yang ada di otak kamu, Nat. Aku memang lagi buta karena cemburu melihat foto foto sialan itu."" Biru menendang geram kaki meja Nata. Sekelebat bayangan Mentari berkhianat sedang menari nari di otaknya dengan adanya Langit pun melakukan aktivitas sialan.


""Mungkin ini hanya tipuan Bi, Mungkin ada orang yang ingin membuat kalian hancur, atau mungkin juga ada saingan bisnis yang ingin membuat diri mu mempunyai masalah keluarga yang mereka ketahui itu adalah kelemahan terbesarmu diiii..... Mentari, dan berujung saingan bisnis mu bisa menarik klien klien mu dengan mudah. Berpikir lah ?"" Nata menunjuk kening Biru menggunakan pulpen.


Biru menepisnya dan kembali melirik foto sialan itu yang berjejer di atas meja. Matanya memicing di kala menyadari obyek foto itu seperti di unit hotel mereka sendiri.


""Lagian kan, Mentari setiap detik terus bersama mu, atau bersama si kembar, jadi kapan mereka melakukan nya eum ?"" Ucap Nata Lagi, bukan untuk membela Langit ataupun Mentari, Tapi di otaknya ada aja yang aneh.


""Tidak Nat, Mentari dan Langit pernah kepergok seharian penuh ada di hotel kita di waktu satu bulan lalu, dan obyek foto itu adalah unit kita. Senja pun ada bersama ku di kala memergoki mereka yang terlihat berantakan, Mentari beralasan kalau dia ketiduran sepanjang hari, Langit pun sama ! Apa menurutmu itu kebetulan atau memang mereka kompak ?"" Sesekali Biru memijit pelipisnya, ia masih berharap ini hanya salah paham, dan berharap perkataan Nata benar, hanya di adu domba. Ia masih berharap kalau Mentari-nya tetap Mentari Lempengnya yang tak mungkin berkhianat. Karena Penghianat yang paling menyakitkan itu adalah Penghianat cinta. Seribu orang menghianatinya, Tak masalah baginya. Tapi kalau istrinya lah pelakunya rasa rasanya dunianya berhenti berputar.


""Aku akan membantu mu menyelidiki nya Bi, Tapi ku mohon, jangan gegabah dulu dalam bersikap ke Mentari, Aku tidak mau kamu akan menyesal di kemudian hari."" Pesan Nata. Biru pergi Tanpa menyahut, entah ? sekarang ia lagi tidak bisa berpikir jernih. mana yang benar dan mana yang salah ? Hatinya ingin mempercayai Mentari, Tapi melihat foto tersebut darahnya langsung mendidih ingin menghancurkan segalanya. Awas saja kenyataannya persis di foto, maka Mentari dan Langit tidak akan tenang karena ia tidak suka Penghianat.


...****...


Ceklek...


Biru sudah kembali kerumahnya dengan penampilan berantakan, Sepulang dari Nata, nyatanya ia berbelok ke Club untuk mencari obat penghilang penak di otaknya.


Hooeek...


Mentari berlari di mana kamar mandi berada, menuntaskan hasrat perutnya, Dan kembali di mana Biru berada. Namun Langkahnya di hadang Biru di depan kamar mandi.


""Hahaha, Petite ! apa kamu sedang sakit ?""


Mentari menggeleng, dan mendorong dada Biru di kala suaminya mengurungnya di hempitan tembok. ia tidak suka aroma sialan Biru.


""Kamu menolak ku Mentari hah ? Apa kamu sudah tidak mencintai ku, eum ? kemari lah aku merindukan mu, Aku sangat mencintai mu Mentari, Sampai aku buta di buat mu.""

__ADS_1


Mentari kembali mendorong tubuh kekar Biru yang sialnya malah tak bergeming, Biru semakin menghimpitnya. Kenapa harus mabuk sih, inilah yang Mentari tidak sukai dan kadang Cerewet agar Biru tidak lagi menyentuh alkohol.


""Menjauh lah, Hulk ! Aku tidak menyukai aroma mu"" Seru Mentari, perutnya kembali di obok obok, Ingin muncrat namun yang keluar hanya air saja sedari tadi di dalam.


""Menjauh, hahahaha ! Kamu Bahkan menolak ku mentah mentah Mentari, Sini kamu !"" Biru di dalam pengaruh alkohol, menarik kasar Mentari dan menghempaskan tubuh mungil itu ke peraduan.


Mentari terpekik hebat, ia takut melihat keberingasan Biru sekarang, ini bukan lah Suaminya yang lemah lembut memperlakukannya.


""Yang mana ? Yang mana yang di sukai Langit dari tubuh mu, aku akan menghapus jejaknya, aku tidak suka berbagi Mentari, apa ini...ini...ini ?""


Baju Mentari tak berbentuk ulah Biru, tubuhnya serasa sakit karena Biru menyentuh kulitnya dengan ganas, Bibirnya pun di gigit oleh Biru sampai berdarah namun suaminya ini mana menyadari ada bau amis yang di sesapnya bercampur Saliva.


Sekasar apa pun kamu mencumbui ku, Biru. aku masih bisa menahannya. Tapi dengan sikap mu seperti ini, sungguh....aku tidak kuat. apalagi kamu begitu mudahnya mempercayai lembar hela lembar kertas sialan itu, semoga hanya malam ini kamu bersikap dingin kepada ku, semoga besok berubah indah.


Mentari mencengkeram erat kain di sekitarnya, hanya demi menahan rasa sakit di mana Biru bermain hentakan. Sungguh...Rasa sakit itu sangat menyiksa sudut inci perutnya.


""Yang mana lagi yang kamu suguhkan untuk Langit ? apa yang ini ? Ini adalah candu terkhusus ku, bahkan anak anak ku pun belum pernah menyentuhnya. Tapi kamu dengan lancangnya memberikan ke orang lain.""


Biru mengulum kasar ujung balon ku ada dua milik Mentari. Mentari menangis dalam diamnya, bibir bawahnya semakin terasa bengkak karena Terus menerus menggigitnya sendiri agar kelemahannya tak di dengar oleh Biru. Ia ikhlas ridho di se_tubuh_i Biru secara kasar, tapi kata kata tak berfilter nya Biru lah yang menusuk nusuknya serasa tembus ke belakang punggungnya saking tajamnya lidah itu menuduhnya. Walaupun Mentari tahu, Biru dalam keadaan tidak sadar berbicara, Tapi sakit saja rasanya di tuduh yang tidak pernah ia lakukan.


Perlahan, Biru ambruk masih di atas tubuhnya, Mentari mendorong kuat beban yang menghimpit tubuhnya, sehingga Biru terkulai ke sampingnya, Ia melirik wajah suaminya, ujung matanya menangkap kelopak itu bengkak dan sembab. Mentari yakini, Suaminya ini terluka luar biasa dengan adanya masalah yang menyudutkannya sampai Biru menangis dalam diamnya.


"" Hulk, aku tidak menghianati mu, percayalah ! dan aku harus bagaimana lagi untuk membuat mu mengerti, kalau aku masih setia untuk mu, sampai berbusa busa mulut ku pun menjelaskan kalau kamu tidak bisa berpikir jernih, maka percuma saja...""


Mentari menciumi lembut kedua mata Biru, belakangan ini pasti ia akan susah menyentuh kulit suaminya dalam keadaan sadar, Karena Biru sekarang dalam sugesti negatif akan pemikiran sempitnya sendiri.


Berangsur, Mentari turun dari ranjang, masuk kedalam kamar mandi. menyalakan shower dan membasahi tubuh polosnya, Perih...Di beberapa inci tubuhnya ada yang merasakan perih akan permainan kasar Biru.

__ADS_1


Aku akan bertahan sekuat tenaga ku, dan aku akan mundur di saat aku sudah berada di titik terendah.


Di tengah malam di bawah guyuran air dingin, Mentari menjerit dan menangis sesenggukan. Masalahnya akan mudah terselesaikan kalau Biru di pihaknya, namun kali ini, ia serasa menanggung beban Berton ton di pundak kecilnya kalau melihat kemarahan serta pancar kekecewaan Biru terhadapnya. Hulk-nya tidak berada di pihaknya, ia tidak sanggup itu.


__ADS_2