
"" Jelaskan !""
Aduh Mak Jang, Mertuanya ternyata pintar mengintimidasi dengan satu kata saja. Biru jadi gugup ini... ia lebih memilih berdebat dengan para pejabat di luaran sana dari pada harus beragumen dengan Rose.... wanita yang di hormati selain orang tuanya sendiri.
""Enak ya di peluk oleh wanita wooow.. Cantik...!"" Radja pun bersuara menyindir, sengaja menjeda. berhasil membuat Rose semakin berkobar untuk memberi kultum ke menantunya. "".... Tapi lebih cantikan juga ke Natural ponakan saya !"" imbuh Radja.
""Wa--!""
""Mana nyampai rumahnya lama lagi ! Pasti habis saling tukar cakap...No hp, sosmed atau apapun."" Imbuh Radja menjadi jadi. Sangat menyebalkan di telinga Biru... Awas kau Om mertua !
""Diam lah, Radja !"" Lerai Rose memberi plototan peringatan. Radja membungkam mulutnya langsung. Janda adiknya rupa rupanya seram juga kalau lagi kesal.
Rose beralih menatap Biru. Mengerti tatapan itu, Biru menarik nafas panjang terlebih dahulu dan membuangnya perlahan.
""Amma, Ooooom !"" Biru berseru panjang di saat menyapa Radja, kesal ke dosen killer ini. "" Aku telat datang karena ban mobil ku bocor saat mengejar laju mobil Bara..bukan karena hal yang Om tuduhkan tadi."" Jelas Biru akan keterlambatannya. Rose masih menunggu penjelasan inti. Radja manggut-manggut percaya sajalah...Dalam hatinya, ia percaya ke anak Sunjaya ini....ia tahu bahwa Biru sangat lah mencintai ponakannya... cuman., ia cuma iseng saja ingin memberi pelajaran ke Sagara tengil ini yang kadang kala menyebalkan di mata.
""Wanita tadi, aku akui itu adalah mantan ku tapi ... Sumpah, tadi pertemuan pertama kalinya semenjak kami berpisah, kami tidak berhubungan lagi... Mungkin tadi dia memeluk ku karena hanya menyapa saja. dan yang lebih penting...Aku tidak mungkin menghianati istriku, aku mencintai istri ku lebih dari nyawaku sendiri."" Jelas Biru hati hati. semoga Ammanya ini tak banyak bertanya lagi....ia ingin cepat cepat menemui Mentari. Matanya pun sesekali melirik pintu kamar hangat mereka... tapi malam ini kayak kayaknya....bukan hangat lagi, melainkan panas terbakar karena kemarahan Mentari. Amit amit... jangan sampai !
Rose nampak manggut-manggut, mendengar penjelasan Biru, Masa lalu ? Ok...! Semoga Hanya masa lalu yang tidak akan masuk kemasa depan ketenangan anaknya.
""Tapi walaupun masa lalu, tetap saja kamu salah. Salah karena Amma lihat tadi...kamu begitu menikmati pelukan sang mantan."" Tembak Rose. Radja malah menahan geli melihat air muka Biru nampak berubah ubah.
""Tadi hanya sedikit kagak konek.""
__ADS_1
Bertambah geli lah seorang Radja, Mendengar jawaban Biru yang terdengar bodoh.
""Kamu tahu tidak ? Kalau di kampung, kamu terlihat di mata umum sedang berpelukan di depan mata mertua atau istri kamu sendiri dengan wanita lain... sudah habis kamu di arak warga... Dengan tubuh dalam keadaan di lucut*... syukur syukur tidak di kebiri sampai habis tuh pedang kamu."" Tukas Rose membuat Biru menelan ludahnya dengan paksa seraya memepetkan kedua pahanya dalam duduknya. Di kebiri ? Oh no, Sagara junior saja belum ada, udah mau di eksekusi saja ni pedang... mengerikan !
""Pfufufu...."" Radja sampai tidak kuat menahan tawanya sehingga keluar dari mulutnya suara layaknya sedang kentut. Mata Radja pun geli saat Biru reflek menyembunyikan pedangnya di sela sela duduknya.
""Apa ada yang lucu ?!"" Ketus Rose ke Radja. Kembaran almarhum suaminya itu sigap menutup mulutnya seraya menggeleng geleng. Rose jika dalam keseriusan, seram amat deh ah.
""Tapi kan..Aku tidak nakal, Amma ! bahkan aku kan tidak membalas pelukan dari wanita tadi. Sungguh...di hatiku cuma ada Mentari seorang, cukup nama anak Amma saja yang ada di sini."" Belanya memelas dengan telunjuk menekan dadanya....bila perlu bedah lah dadanya untuk membuktikan bahwa hanya Mentari yang ada di sana. Ia pun merutuki kebodohannya dalam hati, iya juga ya.... kenapa tadi ia hanya diam di peluk oleh Shanum... Mentari oh Mentari.... jangan marah sayang... I Only love you.
Rose kembali manggut kecil. ""Semoga saja bukan bulsyit belaka ya...Di harapkan jaga hati dan mata, Bi. Dalam rumah tangga memang banyak lah cobaan dan godaan...bukan hal mudah, dan jangan sampai kamu menyakiti anak Amma.... Kalau sekali saja Amma mendengar kalau Mentari menangis karena kamu menghianatinya...maka Amma pastikan, Mentari akan saya tarik kembali dari kehidupan kamu...Mau menangis darah pun saya tidak akan mengijinkan kamu untuk mendekatinya lagi."" Rose berucap panjang penuh dengan ketegasan namun terdengar nada kelembutan.
""Mengerti, Mak ! Tapi ngomong ngomong, Istri saya di mana ?"" Tanya Biru tak sabaran ingin cepat cepat bertemu dengan istrinya yang pasti...pasti lagi marah besar.
Sementara di unit Senja. Langit terus merengek manja tidak jelas, mengendus endus wangi rambut Senja dalam kesibukan Senja yang lagi memasak untuk makan malam karena di resto tadi mereka belum sempat makan, hanya minum saja.
""Bisa minggir tidak ?!"" Senja mengacung acungkan sendok penggorengan di hadapan Langit, sekilas. kembali dalam kesibukan yang sedang menggoreng ayam crispy.
Langit tak menghiraukan, kembali nakal merayu istri nya yang masih sedikit dingin kepadanya. Tangan itu merangkul perut Senja dari belakang...Nafas panasnya menghirup Curug leher Senja yang sangat menggairahkan si Otong di bawah sana.
""Hohoho, Terus saja merayuku, eum ! Jangan salah kan aku jika minyak ini mengenai tangan mu yang lagi bertengger mesu* di perutku."" Sadis Senja mengancam.
Reflek Langit menarik tangannya. ""Itik, kita main yuk ?" Ajaknya ambigu.
__ADS_1
""Main ? Ya sudah sana main ! Aku ogah... sudah malam, mendingan juga tidur damai di kasur."" Senja kagak konek arti main dari kata Ambigu Langit.
""Ck, maksud ku...kita main di kasur.. berduaan !"" Langit mengedipkan matanya saat Senja berbalik penuh ke hadapannya. Seketika si Itik konek juga arti kata main di sini.
""Kagak bisa !"" Tolak Senja. seketika ia Dejavu, Betapa seramnya Langit saat menyerangnya dengan sangat paksa dan kasar di kala kesuciannya di ambil oleh si mendung ini. Bibir itu reflek meringis.
Alih alih di setujui dan di maafkan...Air muka Senja malah memerah...kayak kayaknya marah kah ? Atau sedang tersipu malu ?
""I---""
""Makanlah ! "" Senja berlalu pergi setelah mematikan kompor.
Langit mengekor langkah Senja, ia tahu sekarang Senja mungkin lagi trauma karena dirinya yang pernah bermain kasar saat memakan Senja.
""Maaf !"" Sesal Langit. Memeluk Senja dari belakang yang hampir menekan handle pintu kamarnya.
""Lepaskan tanganmu...Jika kamu tidak sabar menunggu ku, maka pergi lah...aku tidak akan melarang mu... karena aku istri yang tak bertanggung jawab..kamu aku bebaskan !"" Bukan hal mudah untuk berucap seperti itu dari mulut Senja, rasanya pun sesak di dalam sana. Tapi inilah kenyataannya...Ia takut untuk melaksanakannya yang kedua kalinya...ia takut. Hari itu.... Langit seperti monster yang sedang menggerogoti setiap inci tubuhnya. Apakah ia trauma.. Entahlah... Tapi untuk saat ini, ia benar-benar menolak keras ajakan Langit.
""Tidak, aku tidak akan pergi...Aku akan menunggu mu...dan ini sebenarnya salahku...Maaf, Sungguh...aku meminta maaf atas kelakuan ku yang sudah secara paksa dan kasar mengambil kesucian mu."" Sesal Langit bersungguh-sungguh, Ini di bilang ia masih beruntung... karena Senja masih mau menerima sosok dirinya yang pernah membuat istrinya ini jatuh akan hinaannya.
Senja tak menjawab, ia merenggangkan tangan Langit yang masih mendekapnya dari belakang. Melangkah masuk ke dalam kamarnya. Langkanya kembali berbalik di kala Langit membuntutinya masuk.
""Pergi lah, aku ingin tidur !"" Usirnya tak mengijinkan Langit untuk tidur di kamarnya.
__ADS_1
""Baiklah. Aku mencintaimu !"" Cium Langit akan di dahi Senja dengan sangat Lembut Sehingga mampu membuat jantung Senja berdentam cepat di dalam sana. Langit pun pergi menuju kamarnya sendiri.