
Mata Biru tidak bisa terpejam dalam gelapnya kamar hotel. Ia membalikkan badannya menghadap Mentari yang sudah terpulas dengan air mata di sudut itu yang masih tersisa.
""Maafkan aku sudah membuat mu menangis, sudah menyentak mu, tadi."" Batinya seraya menghapus pelan air bening di sudut mata istrinya.
Biru memindahkan kepala Mentari untuk berbantalkan lengannya dengan sangat pelan agar Petite-nya tidak terbangun... Ia tidak akan bisa tertidur pulas jikalau belum memeluk istri tercintanya... Biarkan malam ini dalam posisi nyaman, Besok ia akan mulai lagi Akting marahnya....Ya, kejadian di Hitachi memang benar ia sangat marah, Tapi sebenarnya sekarang sudah tidak marah lagi...Ia hanya merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan kepada sang istri yang sedang....
""Happy birthday, My wife...I Love you, Very so much !"" Lirihnya mengecup bibir istrinya yang benar benar tidak terganggu akan ulahnya, mungkin Mentari kelelahan.
Biru melirik ke jam dinding, ucapan hangat itu sangat lah tepat sudah berganti tanggal tepat kelahiran istrinya. Setalah mengecup dan sedikit m3lamu* bibir Mentari, ia pun terpejam lelap, memeluk istrinya dengan erat tanpa ada rasa gelisah lagi karena kata maaf sudah keluar dari mulutnya, ya... walaupun tidak mendapat jawaban dari sang istri.
Kamar dengan Nomer 141, Yakni pasangan aneh antara Langit dan Senja masih saja berebutan tempat untuk siapa yang akan tidur di kasur.
""Ayolah mendung, izinkan gue untuk tidur di kasur....Lo mah kagak laki amat, kaki gue kan sakit, masa Lo tega amat deh ah, ngebuat gue tidur di sofa pendek ini."" Rengek Senja dengan kaki jenjangnya terjulur keluar melewati panjangnya sofa. Ini pertama kalinya.. ia kalah dalam berdebat bin berebut masalah siapa yang akan tidur di kasur. dan itu ulah kakinya yang lagi sakit.
""No ! Gue kagak perduli...mau Lo sakit kaki ke' , sakit apa pun itu..bodo amat, gue ngantuk mau tidur !"" Langit dengan santai memunggungi posisi Senja.
Senja dari sofa melemparkan bantal ke arah Langit dengan sangat kesal. Menyebalkan.
""Nasib ! nasib ku begini amat Tuhan.... mencintai orang namun tak di anggap dan tak di percayai...hu..hu..hu...ku menangis ! Oh Tuhan...Hilangkan lah rasa cinta dan nama Langit anak papa Chris dari otak ku, Gantilah nama seseorang di dalam sana yang mau ngebalas cinta ku.""
Penuturan Senja yang terdengar lebay di telinga Langit, membuat Langit terduduk dan beranjak ke sofa mendekati Senja.
Senja tak menyadari keberadaan Langit, Wanita itu Terus berceloteh racau dalam bantal menutupi wajahnya.
Langit menarik bantal yang ada di wajah Senja.
__ADS_1
Senja membulat mata terkejut dengan pergerakan Langit yang tetiba menindihi tubuhnya.
""Aaaargh."" Jerit Senja mendorong dada Langit agar pria itu turun dari tubuhnya namun tak kuat. ""Lo mau apa hah ? jangan macam-macam mendung !"" Suara itu tersirat ancaman di dalam kegugupan, apalagi jantungnya benar benar berdegup kencang.
""Menurut Lo apa, eum ? Kita berada di sini bulan madu bukan ? jadi ayo lakukan !"" Goda Langit menakuti Senja.
Jantung Senja semakin bergerumuh...Sampai detak itu terdengar oleh telinga Langit yang tidak ada jarak lagi untuk mereka.
Lidah Senja merasa keluh, pelipisnya berkeringat tak jelas di suhu pendingin ruangan. Ia tidak mampu menolak pesona itu. Matanya menatap dalam mata Langit.
""Kenapa ? apa kamu takut, eum ?"" Ledek Langit. ""Kalau Lo memang benar benar mencintai gue, harusnya Lo siap dong di sentuh, atau Lo takut ? apa Lo Takut ketahuan jikalau Lo sudah nggak perawan lagi ,Begitu ?!"" Hinanya menganggap Senja gadis murahan.
Langit semakin menakuti Senja dengan tangan kurang ajar itu ingin menyentuh kancing baju Senja, seakan akan ingin membukanya.
""Langit, minggir !"" Tepis Senja di tangan Langit.
""Hahaha, Ternyata Lo hanya berpura-pura mencintai gue, itik !"" Langit turun dari tindihannya. Senja kembali menatap Langit tidak terima dengan perkataan si Mendung ini.
""Oh, jadi Lo Tadi hanya menggoda begitu, eum ? Dengar ya Langit, hati gue memang mencintai Lo, tapi Logika jernih gue menolak godaan Lo yang tadi.. kenapa ? karena gue masih punya harga diri, harga diri yang harus gue junjung tinggi ! Cinta ku memang nyata...tapi punya logika. Gue bukan lah gadis yang gampangan, Gue bukan gadis murahan yang mau saja di manfaatkan oleh Lo dengan kata karena gue mencintai Lo dan Setelahnya apa ? hah ? Lo pasti menghina gue habis habisan."" Kesal Senja mendapat penghinaan. dan.. oh astaga, si mendung juga mempertanyakan kesuciannya.
Senja turun dari Sofa. berdiri di belakang Langit yang membelakanginya dengan mata kesal geram memukul kepala Langit dari belakang. Langit terperanjat.... seketika berbalik dengan tangan reflek mengelus kepalanya yang berdenyut.
""Ish, Sa---!""
""Gue begitu bodoh, mencintai pria brengsek seperti Lo, Pria yang hanya memandang gue hina...Lihat lah diri Lo sendiri Langit ! Lihat diri Lo... apakah diri Lo itu nggak pernah melakukan kelicikan ? kesalahan ? atau apakah Lo pikir,Lo itu nggak hina, eum ? Bukannya wanita hina dengan adanya laki laki hina seperti Lo itu yang sering bermain main dengan wanita hina di luar sana hah ?"" Tunjuk Senja di hadapan wajah Langit.
__ADS_1
""Diam !"" Sarkas Langit membentak. "" Gue memang hina, tapi gue kagak munafik !"" tepis Langit.
""Munafik ? hohoho, sama...gue juga nggak munafik, Gue nggak munafik dengan itu gue mengakui bahwa gue sangat mencintai Lo, sebenarnya....apa sih yang Lo ingin kan, eum ?""
Langit terdiam seribu bahasa dengan mata terus menatap manik Senja. Hatinya sakit melihat mata Senja yang memancarkan kesedihan.
"" Jujur....lama lama gue akan capek juga dengan hati ini, iya... sekarang gue memang masih berusaha mendapatkan hati Lo dengan cara gue yang apa adanya. Tapi mungkin, esok, lusa atau pun jam jam berikutnya...Hati gue bisa dingin karena penghinaan Lo jika terus menerus terdengar... jikalau sudah dingin maka susah akan hangat lagi untuk selamanya.""
Senja beranjak menuju ke arah pintu, Setelah panjang lebar tanpa jeda berceloteh dengan nada tenang tapi penuh ketajaman.
""Mau Kemana ?""Langit yang melihat Senja akan pergi dengan cepat menghentikan langkah wanita itu dengan cara memanggul tubuh semampai Senja layaknya karung beras di pundak.
""Mendung, hey...apa yang Lo lakuin ? turunin gue !"" Ronta Senja memukul mukul punggung Langit.
""Diam, dan jangan pernah keluar malam malam begini di negeri orang ! apa Lo ingin memancing buaya sipit lagi di luaran sana hah ?"" Langit menjatuhkannya tubuh Senja kekasur. dengan cepat merangkup tubuh itu bagaikan guling agar tidak bisa berkutik lagi yang ingin pergi meninggalkan kamar dalam keadaan marah kesal kepadanya.
Senja meronta minta di lepaskan.
""Tidak, Tidur lah...dan Maafkan aku !"" Suara itu terdengar Lembut tidak seperti sebelumnya dengan terus mendekap tubuh Senja tanpa ada jarak.
""Hah ? tadi apa ? Maaf !"" Seketika Senja diam seperti kucing manis.
""Eum...maaf, puas !"" Ulang Langit akan pengakuan salahnya.
""Tunggu dulu.. Ma---!""
__ADS_1
""Diam dan tidur lah... atau gue bisa saja makan Lo sekarang jikalau masih berceloteh."" Ancam Langit. Senja langsung terpejam Bohong.