RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 180


__ADS_3

Mentari mematuk matuk tubuh melarnya di depan cermin besar di kamar. Benar kata kakanya, ia sudah seperti gajah yang sana sini bengkak semua. Ia jadi tidak pede sekarang ini.. masalahnya ia di ajak Biru menghadiri resepsi acara pernikahan salah satu kenalan bisnisnya. ia takut membuat Biru menjadi objek olok olok kan.


""Hulk, aku di rumah saja ya !""


Walaupun kepingin ikut, namun Mentari mengerti keadaannya sekarang, ia hanya berdoa agar Biru tidak melirik sana sini wanita seksi di luaran sana. Laki laki tetap saja laki laki bukan ? Tempatnya khilaf katanya ?


""Kenapa sayang ?""


Biru mengkode Mentari untuk membantunya menggunakan dasi, Setelahnya... tangannya malah nakal meraba raba perut buncit istrinya.


""Karena perut yang kamu pegang !"" Wajah Mentari terteduh. "" Bukan isinya, tapi kemelaran tubuh ku. Nanti akan membuat mu malu, sayang"" Lanjut membatin.


Alis Biru terangkat satu, Meneliti air muka Mentari yang sangat gampang untuk di baca. Mengangkat dagu Mentari untuk menatapnya. "" ada masalah ? Ini bukan Petite ku, Petite ku akan senang dan sangat aktif jika di ajak jalan bersama, Daeng dan Langit kan juga ikut, masa kamu tega sayang membuat aku seperti patung yang tidak mempunyai pasangan, kalau ada yang ngelirik aku bagaimana coba ?"" Candanya di akhir kata katanya. Mentari meredup kembali mendengar penuturan terkahir Biru. Dan Biru semakin meneliti air muka Mentari yang semakin di tekuk saja.


""Mentari ! Katakan...pasti ada sesuatu yang membuat mu tidak bersemangat...Aku tahu itu, tapi alasannya apa ? Kamu tidak bisa menyembunyikan kegelisahan mu sedikitpun dari aku."" Tekan Biru menyelidik.


""Sudah !"" Mentari mengusap usap jas suaminya, Bukan berniat merapikan tapi untuk mengelak dari mata selidik Biru.


"Jawab aku ?"" Paksa Biru mengangkat dagu Mentari kembali untuk mendongak wajahhya.


"""Aku hanya lelah sayang ! Jadi pergi lah.. biarkan aku di rumah saja, Lagian rasa rasanya perasaan ku sedikit tidak tenang. Dan Amma kan sakit juga...jadi biarkan Amma aku yang jagah !"" Kelitnya... Namun perasaan yang tidak enak, memang benar adanya.


""Mentari !" Tekan Biru, ini bukanlah jawaban sesungguhnya, Tebaknya yakin. Ia tidak bisa di bohongi oleh istri Lempengnya.


""Ap--!""


""Sesungguhnya !"" Tekannya kembali.


Alamatjang....Ngibulinnya susah amat.


""Ah..i-i-itu, Mm...Aku tidak mau membuat kamu malu dengan tubuh ku yang tidak petite lagi."" suara itu sangat lirih tapi masih jelas di telinga kelinci Biru, matanya pun ia tak berani menatap mata elang suaminya.

__ADS_1


Biru menghembuskan nafas panjang, ternyata masalahnya penampilan fisik, istrinya mulai tidak PD, Tapi jauh dari lubuk hati Biru, ia malah suka melihat keseksian istrinya yang sedang mblendung begini. Di pandangnya saja kadang kala membuat kepala bawa dan otaknya bertraveling omes. Seandainya bisa... maka mungkin tiap tahun Biru akan membuat Mentari hamil terus.


""Dengar ya sayang, entah apa penyebab otak polos mu ini kemana mana tentang masalah penampilan fisik, Namun satu yang harus kamu tahu dan tanamkan di otak polosmu, Ini dan semuanya...."" Biru menunjuk keseluruhan tubuh Mentari "... Semuanya adalah candu ku, walaupun bentuknya..Mm, ibarat kata buruk rupa, aku tetap memilihmu. karena apa ? Karena mata telanjang dan mata hati ku hanya ada diri mu, tidak ada yang lain lagi. Mengerti ?!"" Biru mencium dahi Mentari, memeluknya sayang.


""Maafkan aku yang sempat meragukan mu, Hulk !"" Sesalnya membuang pikiran negatifnya.


""Gitu dong, ayo kita berangkat..selain rekan Bisnis, Pengantin pria yang akan kita temui adalah teman sekolah ku juga... makanya Langit, Satria, Farel bahkan dokter Anita pun ada ! jadi kamu tidak mungkin bosan !"" Jelasnya. Mentari mengangguk...Tapi di dalam hatinya masih ada perasaan aneh yang sangat membuatnya untuk menolak ajakan oleh Biru kali ini. Tapi demi membuat Hulk-nya senang...maka mau tidak mau ia harus ikut meski bertolak belakang dengan keinginannya.


...***...


Langkah Radja tetiba berhenti saat melewati depan kamar Rose yang masih tertutup. Tadi..ia belum sempat melihat keadaan wanita itu, ia tidak enak mengganggu Rose yang katanya Sedang istrihat karena tidak enak badan, Tapi...Rasa penasarannya sangat tinggi kali ini untuk tidak masuk. Apakah masih sakit ? Batinnya.


Radja mengetuk pintu beberapa kali, Tidak ada jawaban... sudah tidur kah ? ia pun mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan Rose, Namun...ia kembali melirik pintu yang terbuka sedikit. Tidak di kunci ? Memberanikan membuka pintu itu perlahan, Terbuka lebar... Matanya langsung menangkap tubuh Rose yang tertidur di kasur dengan memeluk pigura.


Pigura ? Radja semakin penasaran, Pigura siapa yang di peluk Rose sampai dalam keadaan tidur pun benda itu masih di peluknya erat.


Senyum tak bisa terbaca terbit di bibir Radja setelah berhasil mengambil pigura tersebut. Dewa ? Pigura Dewa yang di peluk oleh Rose saat ini, sudut mata wanita itupun sedikit basah mengenang. Habis menangis rupanya.


...****...


Kerlap kerlip lampu LED berwarna warni mengelilingi taman sekitaran danau kecil dengan pantulan cahaya bulan di atas singgasananya. Langit bukannya menghadiri pesta pernikahan teman sebayanya, Tapi berbelok haluan menuju taman yang ada danau buatannya. Membuat Senja bingung.


""Mendung ! Kenapa kita malah kesini ?"" Heran Senja.


Langit tersenyum manis, merangkul pinggang Senja posesif seraya terus berjalan ke sisi tepi danau. Suasananya sangat romantis di malam hari.


""Tidak apa apa ! Hanya kepingin berdua saja, lagian acara pestanya masih panjang ini, jadi tidak salah dong, kesananya di pending sementara."" Langit Mengedipkan matanya jenaka, menggoda Senja.


""Hmm, Dari tadi juga berdua terus kok, pakai acara ke tempat begini lagi, Sok romantis kamu, mendung."" Nada itu terdengar sinis. Namun bertolak belakang dengan ekspresi Senja yang malah mencium pipi Langit. membuat Langit tersenyum bahagia kalau istrinya ini memang menyukai danau yang sedikit dapat bocoran dari Mentari.


""Terimakasih sudah membuat ku tersenyum senang !"" Jujur juga tuh mulut membuat Langit semakin semberinga.

__ADS_1


""Apa pun untuk mu !"" Berangsur Langit berdiri di belakang Senja. Memeluk mesra tubuh semampai Senja dari belakang, dagunya bertengger di pundak Senja. "" Calon anak ku sayang, Setelah kamu keluar nanti, kasih sayang mama mu jangan kamu rebut semua ya..sisahkan untuk ku juga, 50:50 biar adil."" Langit mengecup langsung bibir Senja yang menengok cepat ke arahnya setelah mendengar penuturannya. tersenyum manis setelahnya.


Senja berangsur memutar tubuhnya menghadap Langit seutuhnya. Ia mengerti clue itu adalah isi hati suaminya yang sesungguhnya. Ternyata si Mendung takut tersisihkan rupanya oleh anak sendiri. Sangat lucu di telinga Senja. Bibir itu tersenyum geli akan isi hati si mendung ini.


""Cemburu ke anak sendiri itu tidak bagus, mendung ! Kamu aneh tahu nggak ! Nanti kalau anak kita lahir..Di ajarkannya hal yang berfaedah ya.. jangan unfaeda seperti dirimu ini."" Goda Senja menjawil ujung hidung Langit. ""Sudahlah, ayo kita pergi... Mentari dan lainnya pasti sudah di sana !"" Senja membelakangi Langit, berniat meninggalkan tempat. Namun tangan itu di hentikan oleh Langit sampai tubuh itu pun menghadap sempurna ke wajah suaminya Langit.


""Lihat itu !"" Tunjuk Langit ke atas langit.


Senja mengikuti arah tunjuk suaminya, hanya ada hamparan kegelapan langit malam di atas sana. ""Ap---!""


Juaaader....


Juaaader....


Juaaader....


Ledakan kembang api tetiba muncul di atas langit menghias kegelapan malam. Senja mendongak tak berkedip dengan senyum merekah di bibir sensual itu.


"" Happy birthday. "" Ujar Langit tetiba meraih jemari Senja dan menyelipkan cincin berlian di sana.


Senja semakin senang di buatnya, bukan karena hadiahnya... namun ketulusan Langit dan perjuangan Langit yang sudah sabar akan dirinya yang kadang kala bertingkah cuek, nyebelin dan kasar dengan kesengajaan untuk menguji kesabaran si mendung ini. Mata Shine pun timbul di bola mata Senja.


"" *I Love you, Senja !""


"" Me, Too*. !!!""


Nyeeees, Darah Langit berdesir hangat...kali ini Senja membalas pernyataan cintanya yang biasanya hanya mendengarkan doang...Senja sepertinya sudah sembuh dari kekecewaannya atas perlakuan buruknya di waktu awal mereka bersama.


"" Me, Too ? What does it mean ?""


Hmm...Si Langit pura pura bodoh atau mau minta lebih. Baiklah....Senja akan mengungkapkan dengan pergerakan saja. Dan pergerakan itu membuat Langit semakin semberinga di malam begini, Dapat vitamin bibir di selebar wajahnya dan sekarang dapat pelukan hangat Juga dengan perantara si cabang di tengah tengah mereka...Ahh, Rasanya ia ingin 'makan' Senja di sini, tapi di sayangkan... ini tempat umum.

__ADS_1


__ADS_2