RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 137


__ADS_3

Empat hari telah berlalu atas waktu yang di ucapkan Sena, yang jika Rose tidak segera di kasih obat penawar maka dengan sangat menyesal, nyawa Rose akan melayang. Tapi belum genap waktu lima hari, Rose sudah menandakan Keadaannya semakin buruk. Detak jantungnya semakin melemah.


Dokter Farel yang sedang melakukan pemeriksaan bertahap dalam, di bikin cemas dan panik. Kebetulan Mentari dan Senja berada di rumah sakit sekarang ini.


""Dok, Amma kami kenapa ? kenapa detaknya semakin turun di layar itu."" Tunjuk Mentari di layar EKG dengan wajah cemas takut.


""Senja, saatnya ! apa kamu sudah menyelesaikannya bersama Om Vero.?"" Pinta Dokter Farel akan obat penawarnya. "" Amma kalian dalam masa kritis sekarang, Ancaman Sena bukan main main, waktunya benar lima hari, jadi dari sekarang kita harus memberikan penawar itu, Kalau tidak ! hari kelima akan fatal bagi nyawa Amma kalian.""


Mendengar itu, Kaki Mentari seketika melemas terjatuh duduk di kursi dengan kepala di tenggelamkan dalam kaki Rose yang sedang terbujur.


""Tunggu, Tunggu ! tolong jagah Amma ku."" Senja dengan rasa panik, berlari keluar ruangan berniat untuk pergi ke Lab mengambil obat yang di buatnya oleh bantuan dari Vero.


""Hey, ada apa ?"" Kaget Satria yang setia menemani istri dari sahabatnya. Langit dan Bang Sam juga Jum ada diantara mereka.


""Tolong antar saya, kita ke Lab..Amma dalam kritis."" Tarik Senja ke tangan Satria dengan terburu-buru. Dan itu membuat Langit merasa tidak nyaman lagi.


Langit melangkah menghampiri, dengan kasar menarik tangan Senja yang masih bersentuhan tangan dengan Satria. ""Biar gue yang antar, mobil Satria Sedang kumat !"" bohongnya asal asalan. Satria tersenyum tipis atas kebohongan bodoh Langit.


""Kata siapa, mobil gue baik baik saja."" Satria kembali menarik tangan Senja, dengan sengaja ingin membuat Langit merasa panas. Satria pun sudah tahu kejadian di kolam renang tersebut dari bang Sam. jadi biarkan Langit sadar akan kebenaran hatinya... jikalau Mendung ini juga sebenarnya menyukai Senja, tapi terlalu Ogeb sehingga tidak menyadari dan tidak mau mengakui akan keinginan hatinya, Niat rasa Hati Langit tertutup ego tingginya. dan si mendung ini juga takut dengan kelicikan permainan Senja lagi.... Bagaimana kalau Senja hanya berakting mencintai nya ? Siapa yang akan terluka ? Dirinya ! Bukannya Senja pernah mengatakan akan membuat dirinya akan jatuh cinta ke Itik ini... Kalau ia terperangkap lagi, apa yang akan terjadi... pfyuu...Patah hati. pikir Langit.


""Kalian ini kenapa, hah ? ini bukan waktunya main main, Amma ku di dalam sedang kritis, butuh pertolongan cepat, tapi kalian sangat menyebalkan. Jangan ada yang bergeming, gue bisa sendiri !"" Oceh kesal Senja akan kelakuan kanak-kanakan Langit dan Satria. Senja pun dengan kesal banjak pergi tanpa ingin di temani siapapun.


Satria buang muka mendapat plototan seram dari Langit. Sejurus kemudian si mendung mengikuti langkah Senja tanpa perduli dengan peringatan Senja.


""Bang Sam, menurut Lo gimana ?"" Tanya Satria meminta pendapat tentang keanehan Langit.

__ADS_1


""Sahabat Lo, Begini....Cemen !"" Bang Sam menurunkan jempolnya ke bawah. "Gue yang akan menjadi penepuk ria pertama menertawakan pak Langit kalau masih Kekeuh ingin pisah... Sahabat Lo itu Ogeb...pengin gue gr*pein sekelain jika masih bersikap banci."" Nilai Bang Sam kesal akan sifat bodoh Langit.


""Kalian ngomongin apa sih ?"" Konyol Jum yang tidak mengerti apa apa di sini.


""Ah, nggak ! Gue sedang lagi nyari pacar....itu yang gue omongin ke bang Sam. Bagaimana Lo mau kagak ?"" Tembak Satria langsung tanpa basa-basi ke jum.


Jum mencebikkan bibirnya. "Hadeeh, Laki laki kota tuh kagak ada romantisnya ya ? Burung kali gue...main di tembak, kena... klepek-klepek deh.... Sorry dori Berkeley...Gue kagak kemakan gombalan, perut gue udah kenyang dengan nasi ayam penyet.! ayo Lady man kita temani Mentari di dalam."" Jum melingkar kan tangannya ke dalam lingkaran lengan Bang Sam. pergi meninggalkan Satria yang tersenyum geli akan ceplas ceplos Jum yang apa adanya.


""Sat !""


Satria menoleh kebelakang saat namanya di panggil oleh orang.


"" Om."" Gumamnya saat mata sipitnya melihat kedatangan Radja, Titan juga Chris. ketiga kepala itu terlihat kompak... datang bersama sama.


""Kenapa hanya sendiri ? yang Lain di mana ?"" Mata Radja menggirlya.


""Trus...Mantu gue juga mana ? bagaimana keadaan Rose, ada kemajuan."" Timpal Titan, menanyakan Mentari dan Rose.


Satria garuk tengkuk mendapat pertanyaan cerca dari ketiga pria tua tapi masih terlihat wow ini.


""Untuk Om Titan, Mentari ada di dalam, Untuk Om Chris La----!""


""Ah, Mantan dosen mu yang bertanya duluan, malah di jawab belakangan !"" Dumel Radja menyerobot masuk ke ruangan Rose. Titan dan Chris pun masuk tanpa menunggu Jawaban Satria.


""Astaga ! Uda pada tua tapi kelakuannya... Hebat.... Hebat ngeselinnya.""

__ADS_1


...****...


Beberapa menit yang lalu, Senja yang sedang menunggu taksi di depan jalan rumah sakit. Di tarik paksa oleh Langit untuk naik ke mobil... Langit kekeuh ingin mengantar Senja. Senja yang memang susah mendapatkan taksi, terpaksa ikut, Sebenarnya...dari kejadian di kolam renang... Senja sebisa mungkin menghindari Langit, sekedar untuk tidak ingin membuat hatinya semakin dalam dan semakin sakit pula.


Dan di sinilah mereka....dalam perjalanan tanpa ada suara sedari tadi hanya ada suara kendaraan mobil yang menghiasi.... Sepenjang perjalanan cukup hening.


""Jangan G-R dulu, gue ngantar Lo sekarang karena gue ingin cepat cepat selesai, Setelah pemakaian obat penawar itu, Lo kan janji akan ngomong ke papa masalah kita."" Langit mulai bersuara.


Senja menoleh dengan mata Kesalnya. Langit benar benar menyebalkan...apa tidak bisa menunggu kah, sebentar saja untuk tidak mengungkap masalah ini....kali ini saja, jangan membuat dirinya kembali terluka ! Hatinya sekarang dalam getar getir memikirkan keadaan Ammanya...dasar tidak ada rasa iba nya sama sekali.


""Tenang saja, Gue memang orang licik, tapi kelicikan gue bukan kelicikan buruk...Gue juga bukan tipe orang pengingkar janji, Setelah ini...Gue akan mendatangi Om Chris, Untuk menceritakan perpisahan kita."" Kesal Senja. Namun dengan penyampaian tenang...setenang air tak tersentuh.


""Bagus ! Pisah lebih cepat, lebih baik hidup ku."" Smirk Langit.


Senja kembali tersulut kesal. ""Dengar ya Langit, Hari ini dan detik ini, Hati gue memang masih mencintai mu sampai saat ini dan itu bukan rekayasa tipu tipu, Gue juga bukan penggila harta yang akan membuat rekayasa cinta agar gue bisa menahan mu, pikiran mu sangat lah sempit akan penilaian mu itu. Hari ini gue berhenti mencintai mu, hari ini dan detik ini Lo berkuasa menang sudah berhasil membuat hati gue...besss. !"" Senja meremas tangannya di depan mata Langit begitu Geram. ""Lo sudah mematahkannya sebelum gue memiliki Cinta itu. It's Ok ! No problem...I'am fine ! ini salah ku ! Semoga hari Lo kedepannya bahagia dan semoga kedepannya kita tidak saling bertemu dan tidak saling bertukar sapa...! Kalau sampai hari itu datang, Maka dengan maaf ! Gue akan berpura pura untuk buta."" Senja melepaskan cincin pernikahannya dan melemparkan itu kedada Langit.


Chiiiiiit......


Langit membanting setir ke pinggir jalan, kuping dan hatinya panas. ini maunya... perpisahan ! Tapi kenapa...ada secuil sakit di dalam sana.


Dahi Senja terbentur dasboard mobil. "" Aww."" meringis dan memegangi dahinya.


"" Turun !"" Pinta Langit tanpa menatap Senja.


Senja tak banyak bacot Lagi, turun setelah meninggalkan pancaran mata sakit hatinya ke Langit. Ini air mata terakhir kalinya untuk Langit.

__ADS_1


Langit menekan pedal gasnya begitu cepat, menjalankan mobilnya dengan ugal ugalan hanya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Ia marah tak jelas....kesal tak jelas juga sakit tak jelas....Ia akan melampiaskan kekesalannya dengan cara ngebut....ia tidak mungkin membawa Senja dalam keadaan laju mobil dengan yang tidak stabil, Ia masih punya pikiran yang tidak mau membunuh orang jika amit amit... mobilnya mendapat musibah akan ugalannya yang di buat sendiri.


__ADS_2