
Di dalam ruangan terapi, Ada Jum, Senja, Rose dan Radja juga ke empat bocah di sisi ruangan yang bermain dan kadang kala melirik Mentari yang meringis sakit memaksakan diri untuk berlatih berjalan. Di sisi Mentari ada Biru yang benar benar berpura pura sebagai Dokter hanya demi Mentari. dan didepan Mentari dengan jarak satu setengah meter ada Farel yang mengawasi terapi ini.
Kedatangan Senja bersama anak kecil yang di akui Senja adalah Anaknya, sempat membuat Mentari berpikir keras, kapan Daengnya itu menikah ? kenapa ia tidak bisa mengingat apapun, dan Jum...Ia dan Jum sudah tumbuh besar tapi kenapa ada yang aneh, Aneh Karena seingatnya ia dan Jum itu bertubuh gadis kecil, Tapi ini..astaga tubuh meraka berdua sudah terlihat dewasa, apa yang terjadi sebenarnya ?
dan gara gara berpikir keras... Mentari sempat merasakan sakit luar biasa di kepalanya membuat Biru dan yang lainnya benar benar khawatir. Dan akhirnya... Terapi di lakukan di sore hari menunggu Mentari rileks terlebih dahulu.
Aku pasti bisa ! Aaahh... kenapa susah sekali hanya untuk berjalan saja. Batinnya semakin memaksakan dirinya, tangannya pun mencekal kuat di Walker besi khusus terapi berjalan. Sudut mata itu pun tanpa sadar berair. membuat Biru merasakan sesak, ia tahu Mentari Sedang kesakitan tapi tidak mengutarakannya.
""Mentari, Sudah cukup ya terapinya hari ini !"" Bujuk Biru.
""Tidak ! Aku pasti Bisa !"" Kekeuhnya menolak, tapi pelipis itu sudah berkeringat dingin tanda tidak bisa. "" Tari kuat 'kan, Amma, Amang ! Tari bisa !"" Mentari kembali melangkah pelan tapi menapak sangat lah susah dan sakit.
""Jangan di paksakan Mentari !"" Cemas Rose.
""Nanti akan fatal !"" Timpal Radja pun cemas.
""Sayang, Besok ada waktu lagi !"" Senja maju mendekat. Jum pun sama, membujuk.
""Tidak Daeng, aku kasihan kepada kalian...pasti berobat lama di rumah sakit ini biayanya mahal kan ? Amang kan tidak punya uang banyak !""
Mentari semakin memaksakan diri, pekikan tetiba terdengar dari mulutnya bukan karena terjatuh melainkan si Om Cabu* mengendongnya tanpa permisi.
"Pasien seperti kamu tuh yang harus di suntik vitamin penurut."" Kesal Biru akan keras kepala Mentari. Menaruh tubuh Mentari duduk di atas kursi roda. dan tanpa permisi ia mendorong alat itu pergi dari ruangan terapi seraya menulikan telinganya atas ocehan Mentari yang mengumpatinya Cabu* terus.
__ADS_1
Biru bukan kesal ke Mentari, melainkan ia marah akan dirinya sendiri yang dari dulu menganggap dirinya tidak becus. Tidak becus karena kesalahannya dulu yang gagal menjaga istrinya sampai berakhir fatal begini.
""Diam ! Jangan cerewet, nanti yang sakit bukan hanya kaki mu saja melainkan mulut mu juga."" Dengan hati hati dan sangat pelan, Biru menaruh tubuh itu ke atas brankar dengan cara menggendongnya.
Tertegun, Mentari diam seribu bahasa melihat mata teduh itu seperti Sedang banyak beban.
""Istirahat lah !""
Biru pergi terburu-buru tanpa berani menatap Netra Mentari yang masih menatapnya intens dengan sudut mata itu masih berair karena menahan sakit terapi,tadi. padahal rasanya, ia ingin sekali memeluk wanita itu dan berkata Aku merindukan mu, Petite.
...*****...
Setelah terapi pertama tadi berakhir, Biru bergegas meninggalkan rumah sakit menuju apartemennya yang dulu ia tempati bersama Mentari, Tripletsnya ia titipkan dalam pengawasan Jum juga Senja. Hatinya tergores sakit melihat istrinya meringis sakit... Aku tidak becus. Batinnya masih menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah berhasil membuka pintu utama, Biru melangkah ke arah dapur, menarik sebuah kater dan dengan sengaja menggoreskan benda tajam itu ke kulit dua puluh senti di atas persendian lututnya. Masing masing satu goresan membuat paha itu berdarah darah dengan kain yang di kenakan pun ikutan sobek.
Mata Biru kian terpejam pelan lemas dengan asal asalan di lantai dengan punggung kekar itu bersandar dinding. begitu lah.... setelah melukai tubuhnya sendiri, maka ia akan cepat terlelap dan setelah bangun nanti ia baru mengobati luka segarnya itu.
Deg...Deg...Deg...
Di tempat ruangan Mentari, Tetiba jantung itu berdentam hebat terbangun dari tidurnya yang setelah Terapi ia langsung di beri obat penenang. Ia mimpi buruk, sangat buruk yang melihat pria yang wajahhya begitu samar di penglihatannya sedang menangis sesenggukan entah kenapa ?
Pria itu menangis kenapa ? siapa dia ?
__ADS_1
...*****...
Terapi setiap hari di laksanakan dalam beberapa hari yang sudah terlewat, Hari ini Terapi untuk yang terakhir kalinya karena Mentari sudah bisa menapak dengan benar walaupun belum normal seratus persen.
Wajah Mentari berbinar ceria yang hari ini sudah di perbolehkan pulang, ia sudah bosan di tempat yang terasa membosankan ini, ia rindu akan bermain bersama Jum.
""Amma, Amang, Daeng ! ayo kita pulang ke rumah.""
Deg.
Tiga kepala itu bingung sekaligus kasian Kepada Biru dan ketiga bocah lucunya.
""Pulang kemana ?"" suara itu terdengar tegas keluar dari mulut Biru. Si Topan dan kedua adiknya beranjak berdiri di sisi Ayahnya dengan wajah polosnya, ini saatnya rencana anak bapak itu di langsungkan demi membuat Bunda mereka satu atap dengan mereka, kata Ayah...Pikir Pelangi dan Badai dalam hati, Wajah Cuby itu sangat menggemaskan untuk di jawil jawil.
Tepat, sesuai rencana...satu suster masuk dengan membawa satu amplop putih panjang, lalu memberikannya ke Biru. Biru sendiri tanpa membuka amplop itu memberikannya ke Mentari yang menatapnya kurang suka terhadapnya. ia bodo amat akan hal itu, ia sudah tidak sabar untuk membawa istrinya pulang ke apartemennya bersama dengan anaknya, Ya... walaupun rencananya di sini Mentari akan menjadi pengasuh bocah-bocahnya sendiri, bukan sebagai suami istri... Sabar waelah ! pikirnya.
""Ini apa ?"" Bingung Mentari membolak balik amplop itu.
""Buka dan baca ! bisa baca kan ?"" Sahut Biru, yang lainnya tak berani menyela padahal mereka sangat kepo, Amplop apa itu ? Farel diam diam menggeleng geli yang tahu rencana si Biru.
Mentari menurut, membuka amplop itu dan Membacanya seksama. Jedag jedug terasa jantungnya setiap angka angka pengobatannya yang tertulis tiap bulannya dalam lima bulan terakhir ini, Terlihat wow...Mehong sekali. Butiran keringat mengenang di pelipisnya. Lima Bulan ? ia sakit selama itu dan di rawat di sini selama itu, Kasian sekali Amma dan Amang-nya yang orang miskin, bagaimana mereka akan bisa membayar biaya pengobatannya.
Ah, Tetiba kakinya melemas lagi...ia memberi beban yang sangat berat ke Amma dan Amang-nya yang seingatnya Mereka hanya sibuk menggarap tanah di kampung. Amang-nya mana punya uang sebanyak itu ?
__ADS_1
Hiks hiks,. Tetiba Mentari meraung raung membuat semuanya terkejut.
"" Huawaaa, Amang ! Maafkan Tari, celengan mirip gentong yang berisi koin Angklung tidak mungkin bisa melunasi biaya pengobatan Tari... Huawaaa !""