RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 195


__ADS_3

Mentari menangis kejer di hadapan ketiga anaknya yang dengan songong Pelangi dan Badai malah berbisik kalau Bunda mereka tengeng. cadelnya. Tapi mata tajam Topan menyala tertuju ke Ayahnya, Topan tidak suka melihat Bundanya menangis walaupun dalam misi Sedang berakting. Topan malah beranjak kehadapan Mentari dan menghapus air mata Bundanya tanpa ada suara dari bibir kecil itu sedikit pun. Mentari seketika damai di sentuh anak dari Om cabu*.


Kepala orang tua di ruangan itu, berdesir hangat akan tingkah Topan yang menggambarkan jika anak kecil yang mempunyai pikiran orang besar ini, begitu menyayangi Bundanya.


Itu baru lima bulan Petite ! Maaf...bukan niat hati untuk memberi mu beban dengan cara memperlihatkan pengeluaran itu, Tapi ini demi kita, anak anak kita sayang.


Radja dan Rose serta Senja mendekat, Radja menarik surat itu.


""Bi---!""


""Orang tua mu meminjam uang kepada ku demi membayar biaya pengobatan mu Mentari, Yang sangat mahal itu !"" Biru langsung menukas Radja yang terlihat bingung di dominasi akan mencercanya.


apa maksudnya ini, Bingung Radja yang tak tahu rencana Biru, Rose juga Senja tidak di beri tahu sebelumnya jadi seperti orang bodoh di sini. Radja dan Senja tentu saja sanggup membayar pengobatan Mentari.


""Amang akan mem--!""


""Kamu harus menjadi pengasuh anak anak ku untuk membayar hutang orang tua mu yang banyak itu"


Penuturan Radja kembali di tukas oleh Biru. Langka Radja pun seketika tertahan yang sempat berniat ke administrasi. Ia sedikit paham di sini.


Senja yang tadinya mau nyap nyap juga tertelan sudah yang seketika pun mengerti arah pembicaraan Biru.


""Maafkan Amma ya Tari ! Tidak apa kan kamu menjadi pengasuh si kembar demi membayar hutang kami ?"" Rose tetiba berakting pula, Si kembar dalam diamnya memuji nenek tercintanya.


Mata Mentari menatap ke-tiga si bocah berbantian yang di balas senyum manis dari ketiga anaknya. Tidak, Hanya Pelangi dan Badai yang tersenyum manis, Si Sulung Topan hanya tersenyum tipis dan senyuman itu pantasnya di bilang Menyeringai. Anak satu itu mirip bapaknya, pikir Mentari yang menatap Biru dengan tatapan kesal. di balas senyum ejek dari Biru, tebak Mentari. Tapi Biru sebenarnya tersenyum tulus.


""Pengasuh ? Ketiga anak ini ?""

__ADS_1


Dua bocah manggut-manggut gemes akan pertanyaan Bundanya.


""Baiklah, yang penting jangan mengasuh bapaknya yang cabu* itu !"" Deliknya ke Biru.


""Siapa bilang, aku pun sama...minta di asuh dalam segala mengurus keperluan ku, Seperti menyiapkan baju, makan, di mand----Ah maksud ku di dongengin pun seperti anak anak karena aku punya penyakit insomnia dalam tiga tahun belakangan ini, jadi tanpa ada dongeng maka aku akan susah tidur.""


Terlihat Radja dan Farel menahan senyumnya, yang di pikir mereka, Biru hanya berpura-pura mempunyai penyakit insomnia atau susah tidur. Tapi tanpa mereka semua tahu, Biru dalam tiga tahun ini memang sangat susah untuk tidur karena candunya begitu tega menghukumnya. masalah di dongengin itu sebenarnya memang benar, modus doang ! Tapi dengan cara itu, otomatis ia dan Mentari akan bisa menghabiskan banyak waktu dalam satu kamar.


""Idiiiih, sudah Om Om juga keinginannya seperti bocah !""


Aih, tak tahu diri... sudah punya buntut tiga tapi masih mengira bocah kelas lima SD, Satu sama Petite. geli Biru dalam hati menyahut cetusan Mentari.


""Jadi bagaimana ? Setuju ? Kalau Setuju sekarang juga kita pulang ke tempat tinggal saya, dan ah...Satu lagi, kamu juga tinggal bersama kami tidak boleh pulang pergi karena anak anak ku terkadang malam malam itu terbangun saat mengingat bundanya yang sakit.""


Glek glek glek... Tiga kali Mentari menelan ludahnya susah payah, Apa si Om cabu* ini kata ? tinggal satu atap bersama ! Tidak, ia tidak mau nanti bisa bisa si Om cabu* ini malah memutalasi dirinya lagi... Iiiiih, Serem.


"" Baiklah tidak apa apa, Tapi maaf aja ni yah...kedua orang tua mu harus saya masukkan ke dalam penjara karena tidak bisa membayar hutang kepadaku.""


Radja dan Rose Kompak mengumpat dalam hati, Mantu durhaka...!!! Cebik Rose.


Biru pun mengeluarkan ponsel pintarnya bersiap siap menelpon Om Gionnya yang sebagai polisi. tersenyum miring atas air muka Mentari yang tetiba memucat.


""Nah, Tersambung."" Biru sengaja menghubungi Gion dengan cara VC, agar Petitenya ini melihat orang yang berseragam polisi di seberang sana, menanggalkan ponsel pintarnya itu di hadapan mata Mentari yang langsung bertatapan muka bersama Gion yang kebetulan sedang ada di kantor dengan seragam polisinya.


""KYAA ! Jangan, jangan ! saya mau, mau pakai terpaksa eh pakai banget.!"" pekik Mentari menjawab. Biru langsung mematikan ponselnya setelah berbye bye ria dengan Gion yang belum sempat berucap satu kata pun dengan Gion.


Rose dan lainnya tersenyum tipis, Mereka mengijinkan rencana Biru berlangsung keinginan Biru seperti apa, karena Rose berpikir, ini saja belum seberapa untuk membayar penderitaan dan kesetiaan Biru selama di tinggal koma oleh anaknya.

__ADS_1


""Ayo pergi !"" Pungkas Biru telak. "ayo anak anak, sambut pengasuh rasa bunda kalian."" Lanjutnya berbisik ke Pelangi dan Badai.


""Hole..!""


""Hole..!""


Pelangi dan Badai berhambu bergelayut manja di masing-masing kaki jenjang Mentari.


Entah kenapa, Jika kulitnya di sentuh oleh ketiga bocah ini, hatinya merasa damai, tenang dan senang. Bingungnya. Mulutnya malah tersenyum senang ke arah bocah bocah ini yang sempat tadi ia menolak untuk menjadi pengasuh, Ah...ia hanya menolak Om cabu* ini kayaknya deh. Bagaimana ia tidak mau, masa Om Om minta di nina boboin pakai dongeng, aneh kan ?


...****...


Mobil Biru terparkir di pelataran parkiran Apartemen miliknya. Rose dan Radja ikut mengantar atas permintaan Mentari yang katanya masih canggung dan takut takut oleh Om cabu* ini.


Mentari turun dari mobil, sekelebat ia merasa Dejavu melihat pelataran lobby tersebut dan matanya pun tak sengaja melihat seorang berseragam OB, ia merasa aneh dengan hal itu. Namun ia hanya diam, berjalan gontai mengikuti langkah Biru dan orang tuanya di hadapannya dan di sisi kedua tangannya ada Pelangi dan Badai yang berceloteh ria, Sementara Topan..si sulung itu tak ada hentinya menatap wajah Bundanya yang terlihat berkeringat dingin berjalan di sebelah Badai.


""Ayah, Bunda sakit lagi ya ?""


Setelah mengejar langkah Ayahnya, Topan bertutur tanya ke Biru, Dengan Tetiba... langkah Biru yang ingin berbelok kearah lift berhenti dan menatap dalam wajah Mentari yang memang terlihat sedikit pucat di tambah banyaknya buliran keringat dingin.


Apakah Mentari Sedang berpikir keras lagi ?


""KYAA !""


Mentari menjerit sport jantung, Biru Tetiba menggendongnya di tempat umum dan lebih parahnya di hadapan sepasang mata orang tuanya.


""BERISIK.""

__ADS_1


Om cabu* nyebelin !!!


__ADS_2