RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 61


__ADS_3

Biru menjatuhkan jinjingan makanan dan penuh buah di tangannya saat mendapati tubuh ringkuk lutut Mentari di lantai dengan air mata tanpa isakan.


""Ada apa petite ? kenapa kamu di lantai dengan derai air mata, eum ? ada apa sayang ?"" Cercanya panik. Bangun dari pingsan, menangis lagi...Ada apa apanya ini, mah ? Pikirnya. Sungguh...Biru tidak ingin melihat gadis yang di cintainya meneteskan air mata sedikit pun, ia ingin membahagiakan Gadis di hadapannya ini, tapi apa lah daya.... Mentari seperti tidak menganggapnya.


Mentari masih enggan mengeluarkan suara.


""Jangan di lantai !"" Biru menggendong tubuh mungil itu naik ke brankar.


""Ayo cerita kan masalah mu ! malam ini kamu kebanyakan menangis, apa ada yang sakit, eum ?"" Lembut Biru mengusap air mata itu. Sedetik kemudian ia menepuk jidatnya, konyol. ""Pasti kamu lapar, kan ? aku suapi, ya sayang !""


Biru yang ingin mengambil plastik yang di jatuhkan tadi di ambang pintu seketika ujung bajunya di tarik oleh Mentari.


""Saya tidak lapar, bos ! Saya ingin pulang dari sini.! aku tidak sakit fisik"" Pintanya seraya mengusap air matanya dan berhenti menangis. Aku bukan orang lemah hanya karena cacian dari mereka. Mentari menguatkan hatinya, berkilah. padahal batinnya sakit hati dengan cacian dari Raisa.


Biru memandangi wajah itu seksama, kebohongan lagi yang ada di mata itu, sampai kapan ia harus bersabar agar Petite-nya ini akan terbuka kepadanya, Sedikit saja.. Pintanya dan ingat ! sabar ada batasnya.


""Kita akan pulang, tapi... setelah kamu sehat seratus persen."" Biru hanya menghembuskan nafas beratnya sebagai tanda ia tidak suka dengan


Mentari ingin menolak namun ada dua suster masuk keruangan dengan kursi roda entah buat apa ? bukannya Biru menolak permintaannya untuk balik malam ini juga, mau apa suster itu membawa kursi dorong.


""Ruangan yang anda inginkan sudah siap pak !"" Ucap Sang perawat. Ternyata Biru memesan ruang VIP untuk Mentari.


""Eum, terima kasih !"" Sahutnya datar, tidak seperti jika berbicara dengan Mentari, mesra.


Sejurus kemudian Biru mengangkat tubuh Mentari, ia tidak perduli dengan tolakan Mentari yang katanya Saya tidak mau, bos. ruang inap ini saja sudah pasti mahal, apa lagi ruangan VIP. Hutangnya semakin numpuk deh... pikirnya bertambah pusing, yang kemarin saja masih banyak...ini...Ampun Dj.

__ADS_1


Nah, disini.... kursi roda yang di bawahkan oleh dua suster buat apa ? Tidak ada gunanya ! Dua suster ini menatap Biru dengan tatapan memuja, Romeo dari abad dongeng ke dongeng sudah lahir ke dunia nyata.


""eeh...Waduh..!"" Cegat Vane ke Biru saat mereka bersipapah di koridor.


Titan menatap intens Biru dan Mentari yang tiba-tiba memucat dengan bergantian.


""Mau kemana anak tengil !"" Sarka Titan, anak gadis orang kok di gendong gendong...Modus lagi sepertinya. Pikirnya.


Mendengar suara tanya yang nampak tak bersahabat. Biru meyakinkan..jika Papanya tidak suka dengan pose dirinya dengan Mentari saat ini.


""Ma, jika mau bertutur pedas maka tolong pulang saja, Saya sudah besar lho bisa menentukan pilihan ku sendiri. Baik buruk itu, aku akan menanggungnya."" Ucap Biru dingin, ia memang menyebut 'Ma' tapi mata elangnya melirik ke Titan yang nampak datar.


Mentari getar getir di gendongan Biru, Bahkan Gadis itu mencengkeram baju Biru saking takutnya ke Titan.


Sementara Vane, ibu dari Biru itu menatap anaknya penuh kagum...ah romantisnya...ia pun ingin di gendong Seperti itu...Tapi Dulu ! sekarang mah... tidak lagi ! sudah biasa di gendong oleh Titan di dalam kamar.


""Hust... biarkan saja...cinta memang gila sayang... jangan ikut campur ! kamu sih bertanya seakan ingin memakan gadisnya...ya marah lah brownies ku...dan Aku pun salut dengan anak ku itu, jika suka dan cinta dengan seseorang maka Pepet terus ! jangan kaya Papanya, masa penginnya di Pepet tanpa ingin memepet di waktu masih muda. ""Sindir Vane telak.


Titan memutar bola matanya malas. Mereka pun tidak jadi menjenguk Mentari, melainkan ke ruangan Radja Batara langsung.


...*****...


Dengan sayang, Biru sudah memberi makan Mentari dengan penuh kesabaran, karena gadis menyebalkan lempeng ini selalu menolak untuk mengisi perutnya. Dan sekarang waktunya istirahat di malam hari.


""Geser sedikit Petite, saya ngantuk mau tidur.""

__ADS_1


Mentari langsung membelalak kan matanya. Bos gila ini mau nginep satu ranjang dengannya, ngelindur atau tidak waras apa ? Dikata ini tempat penginapan atau hotel ? main nginep sembarangan saja. jika Tuan Titan tahu bisa nambah masalah lagi untuknya. Dumel nya dalam hati.


""Bos, apa apaan sih ? Kenapa harus tidur di sini ? S--!""


""DIAM ! Aku ngantuk mau tidur sekarang !!!.""


Mentari sudah membuka mulutnya, siap ber-argument, debat.


""Kalau masih bersuara aku pastikan kamu akan mendapat ciuman maut dari ku, mau ?!"" Ancam Biru kembali berucap cepat. ia sedikit Kesal, si gadis polos lempeng ini tidak mau memberikan alasannya kenapa sedari tadi wajah manis itu terlihat kusut.


Mentari kembali mengatupkan mulutnya dengan terpaksa, yang waras mengalah saja ! dari pada ancaman si bos emosional ini terlaksana, bahaya bagi bibirnya.


""Amma...cobaan apalagi ini ?"" batinnya berkeringat dingin. Saat tubuh Biru naik rebahan di sampingnya, tubuh Mentari menjadi kaku. ia merasakan sisi sebelah kanannya terasa sedikit melesak sebelah dengan adanya tubuh kekar Biru.


Dan...Damn it, Mentari gugup menahan nafas hampir kehabisan nafas malah ! Saat tangan Biru memeluknya seperti memeluk guling saja. Mau protes takut ancaman berlaku, bagaimana dong ? ia pun dengan terpaksa memejamkan matanya walaupun susah tertidur.


Mentari mengintip membuka matanya sedikit, saat nafas teratur dari Biru menerpa kulitnya. si bos sudah tertidur rupanya. Bos Biru benar mengantuk. Di perhatikan wajah tampan itu dengan intens.


""Bos makin tampan jika sedang damai seperti ini, lebih baik jangan bangun bangun lagi kalau marah marahnya belum hilang."" Mentari bergumam dengan mata sudah tertutup kembali, ia tidak sadar jika ada seulas senyum manis yang mampir di bibir seksi Biru. Ya....si Sagara tengil modus ini hanya pura pura tertidur.


Biru malah semakin mempererat pelukannya, saat Mentari benar benar sudah terpulas nyenyak, bahkan dengan nakal, Biru mencuri ciuman singkat dari bibir Mentari. Tidak ada pergemingan dari gadis itu.


Gantian, Sekarang Biru lah yang memperhatikan wajah manis Mentari dengan sangat dalam, di telusuri wajah itu menggunakan satu jari.


""Kamu hanya milik ku, Petite ! tidak ada yang boleh mengambil ini dari ku..."" Biru berhenti di bibir Mentari. Bibir itu adalah candunya. ""....jika ada yang berani, maka orang itu akan menjadi cacat sebelum memiliki mu...Good Night !"" Biru kembali memejamkan matanya setelah mengecup bibir kenyal itu. lagi.

__ADS_1


Sedangkan di ambang pintu yang hanya terbuka dengan cela sedikit, mengintip. Arkan mengepalkan tangannya, ia tidak suka melihat itu, entah cemburu atau apa...? Tapi...Damn it.... setelah membuat cela di keluarga Tulangnya. Mentari malah asyik rebahan dengan pria lain...perlu di Cheered, Huuuu... untuk Mentari.


Jejak ikhlas...šŸ™šŸ˜˜


__ADS_2