RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 196


__ADS_3

Tadi, Mentari minta ijin ke Biru untuk khusus malam ini, orang tuanya harus di perbolehkan untuk menginap. Biru no problem, Namun yang berat adalah Rose dan Radja... Radja ? Entahlah... mungkin ia senang... Mungkin ! Karena Radja dan Rose di gabung satu kamar tidur oleh Mentari yang menganggap Radja adalah Dewa.


Dan di sini lah Rose dan Radja, di kasur sedang gelisah akan Pikirannya masing masing, Tiga tahun ini...Radja mati matian membuang rasa sukanya ke Rose, Namun semakin di hempaskan, malah terpental kembali karena setiap hari wajah Rose selalu mondar mandir di hadapan lubang hidungnya.


Sementara Mentari, ia sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, malam ini ia akan tidur bertiga di kamar si Triplets, yang di pinjamkan Biru untuk satu malam akan orang tuanya, Si Triplets sendiri malam ini tidur bersama Biru.


""Radja ! jaga jarak ya !"" Rose memberi pembatas guling di tengah kasur.


Radja tersenyum geli melirik bantal itu. ""Tidak janji ya, tahu sendiri orang tidur bagaimana ? Tidak sadar !"" Goda Radja.


Rose mendengus malas. ""Ya sudah, kamu tidur di sofa sana gih ! Kita bukan muhrim lho !"" Rose menunjuk sofa di sisi ruangan dengan dagunya.


"Muhrimin dong !"" Lirih Radja, Sangat lirih sehingga tak terdengar oleh Rose yang hanya seperti sedang berkumur kumur.


""Tadi bergumam apa, eum ?""


Radja menggeleng, ia malah berbaring enteng, tak mau membuat hatinya berubah mood, yang sebenarnya sekarang senang luar biasa dalam situasi ini. Yah.. entah dengan Rose... Batinnya. Tapi selama tiga tahun ini, Rose tidak pernah menjauhi dirinya, Rose tidak pernah mengelak akan perlakuan manisnya. Semoga Rose ada rasa pula untuk diri ini, Amiiin.Batinnya..Kan hati bisa berubah..iya kan ?


Rose beranjak turun dari kasur membuat Radja mengkerut kan dahinya. ""Mau kemana Rose, jangan bilang kamu yang akan tidur di sofa dan meninggalkan aku dan Mentari tidur di satu kasur bersama, Dan di pastikan, besok kepala ku sudah terpisah dari tempatnya karena ulah menantumu yang posesifnya pakai banget. iiiiih, Mantu mu itu seram...greeek !"" Radja memperagakan sedang menebas lehernya sendiri.


Tersenyum tipis seraya menggeleng, Rose membenarkan perkataan Radja akan sifat ajaib menantunya yang satu itu, jika menyangkut Mentari, maka apapun Biru akan perbuat.


""Makanya, kamunya yang harus tidur di sofa kalau masih sayang kepala."" Ledek Rose tersenyum mengejek.


""Kenapa begitu ?""


Mentari menyela yang baru datang dari arah kamar mandi. duduk di sisi kasur dekat Rose. Radja dan Rose kompak berkelit. dan Mentari tak mempermasalahkan lagi.


""Amma, Rasanya kamar dan semua ruangan di sini seperti tidak asing untuk Tari. Tapi Tari pikir pikir lebih keras malah kepala ini terasa sakit."" Lanjutnya memukul pelan dahinya.


Rose sigap menahan tangan Mentari, bernafas cemas melihat Mentari yang terlihat memprihatinkan selama ini, Tuhannya Begitu Sayang akan rumah tangga anaknya yang di uji begitu berat. Tapi di sisi lain, Rose mengutip satu hikma yang paling berharga yaitu Biru, Sang mantu begitu sangat sangat setia dan juga sangat ?luar biasa menyayangi anaknya


""Ayo tidur, tidak usah berpikir keras begitu...ingat kata Dr. Kamu di larang berpikir keras. Mengerti !""

__ADS_1


""Eum, ayo tidur...badan Tari harus prima Karena esok hari adalah hari pertama menjadi pengasuh.""


Mentari mengambil tempat berbaring di pinggir, menyisakan Rose di tengah tengah antara dirinya dan Radja.


""Rose !"" Dengan senyum jumawa, Radja menepuk nepuk bantal yang kosong tepat di samping Kepalanya. menyuruh Rose untuk tidur di sana.


Mata Rose memicing sinis, menyubit pinggang Radja tanpa sepengetahuan Mentari yang berangsur terpejam.


""Hais, Sakit Rose !"" Ringis pelan Radja.


""Biarin dan geser lagi kepinggir."" Rose mau tak mau harus berbaring, ia tidak mungkin mengatakan ke Mentari bahwa laki laki mirip Dewa ini bukan lah Amang-nya.


""Mentok Rose !"" Keluh Radja bersungguh sungguh, geser sedikit...Lantai siap menyambutnya.


Rose tak menyahut lagi, Ia memberi punggungnya ke Radja dan memilih untuk memeluk perut anaknya.


""Jangan ngentut ya Rose !"" Goda Radja mencandai dengan posisi menghadap ke punggung Rose.


""Beris--Mmp.""


Mata Rose membulat penuh, merutuki kebodohannya yang tetiba berbalik dan berakhir Ia mencium Radja, Wajah itu pun panas malu seketika, cepat cepat ia menarik bibirnya.


""Ma-maaf !"" Gugup Rose kembali memunggungi Radja.


Radja tak menjawab, ia Speechless di dominasi jedag jedug berdisko ria. seketika ada semerbak bunga bunga mencuil hatinya.


Ah, Rose...ke KUA yuk... Batinnya seraya memegangi bibirnya yang di kecup Rose dalam kecelakaan weeenak baginya. Ah, mulai sekarang ia akan kembali memperjuangkan keinginan hatinya, siapa tahu Rose berbaik hati yang mau mencoba membuka lembaran baru. Ia memang sudah tidak muda lagi, Tapi boleh dong menikmati indahnya dunia di masa umur yang terbilang mau menginjak usia tuir.


Mata Radja pun mulai berat terpejam dengan tangan lebaynya masih saja menyentuh bibirnya.


...****...


Malam semakin larut tak terasa bagi Rose dan Radja tanpa sadar masing-masing sedang berpelukan terlihat di mata Mentari yang terjaga karena mimpi buruk menyerangnya.

__ADS_1


Kenapa aku mimpi melihat orang kecelakaan dalam kondisi hamil ?


Hati Mentari tak enak terasa, ia bangun dari tidurnya dan melirik ke nakas mencari minum, Tapi tak ada kebugaran air di sana, mau tidak mau ia beranjak keluar dari kamar.


Seraya berjalan ke dapur, mata itu mengerlyat ke sana kemari mencari Pigura keluarga kecil si Om cabu* Tapi satu pun tak ada, hanya ada pigura si Triplets di mana mana, ia penasaran akan rupa Bunda dari si kembar, pasti cantik... pikirnya, karena anak anak nya saja begitu menggemaskan.


""Sedang apa ?""


Etdaaah, Mentari terloncat kaget mendengar suara bariton di depan ruang TV yang tamaran akan cahaya.


""Ma-mau ke dapur, ya...haus !"" Mentari gelagapan dalam menyahut karena masih terasa terkejut.


""Masa ? dapur di arah sana, Tapi kebetulan di sini ada minum, maka tidak usah repot-repot ke dapur, minumlah.""


Karena memang haus, Mentari segera meraih gelas di tangan Biru. Tapi Baru juga akan meneguk, di hentikan lagi oleh si Om ini.


""Kalau minum tuh ya.... kudu menghargai cara yang benar dan betul, dan juga demi kesehatan. Duduk dulu...baru minum.""


Mentari pun menurut manis, duduk di lantai dengan wajah polosnya.


""Yaak, jangan di lantai juga, emang kamu pikir saya raja mu, Pet---Mentari, duduk di sofa dekat saya.""


Nah, ini yang ia sukai oleh Biru dari istrinya... Penurut !!! Walaupun terlihat waspada terhadapnya, Tapi Mentari tetap duduk di sampingnya tanpa satu kata protes pun, Meminum air putih itu sampai tandas membuat Biru tersenyum bahagia, Mentari minum air setengah sisa dari minumnya.


""Mumpung kamu sudah ada di sisi saya, maka mulailah kerjaan mu, Saya susah tidur...Ayo cerita kan dongeng untuk pengantar tidur ku.""


""Di sini ?""


""Yap, maunya di mana ? di kamar pribadi ku, ayo kalau begitu.""


Mentari menggeleng geleng cepat. Menahan tangan Biru yang akan beranjak. ""Di sini saja Om eh Pak !""


Mentari pun mulai bersuara, dengan sesekali menguap lebar yang seakan-akan membuat wajahnya terbelah karena saking lebarnya uapan kantuk itu.

__ADS_1


Eits...Si pendongeng yang malah tertidur dengan kepala itu jatuh di bahu suaminya.


""Hahaha, kamu selalu lucu sayang, aku bahagia walaupun hanya sekedar begini saja, tapi kebahagiaan ku akan mengubun kalau kamu benar-benar sembuh dan tidur di pundak ku sebagai suami mu bukan sebagai orang lain.""


__ADS_2