
Congratulations...
Congratulations...
Congratulations...
Para tamu juga krabat bergantian memberikan selamat menempuh hidup baru untuk Gema dan Jum.
Yap... Beberapa menit yang lalu, mereka sudah di persatukan dalam ikatan pernikahan, kini di resepsi Sedang berlangsung di ballroom hotel, Banyak tamu undangan penting yang datang baik dari relasi radja maupun relasi Gema sendiri.
Diatas pelaminan, Mentari dan Biru yang mendapatkan kesempatan untuk memberikan congratulations untuk mempelai.
""Jum !"" Mentari menggoda dengan kedipan mata,jenaka.
""Apa !"" Aneh Jum.
""Kenapa baju seksi yang bermotif macan tutul tidak kamu pakai, eum ? Takut ya ?"" Bisik Mentari.
""Ah, diamlah Mentari, Ngemeng Ngemeng ini acara kapan selesainya, Kok geu pegal ya, Dan kenapa hiburannya bukan orkestra bin dangdutan sih, Tari. Kayak resepsi Lo dan Biru waktu ntu. kan seru tuh, Gue kepingin joget bebek nungging dua kali kekanan, satu kali kekiri. Heboh pasti."" Keluh Jum berbisik. Gema dan Biru setia melihat gerak gerik mereka.
""Oh, bebek nungging ya, Live bebek nunggingnya di dalam kamar nanti, sama Gema aja."" Mentari menoel noel dagu Jum dengan kata kata Ambigunya.
tidak ada nungging nunggingan bin desah ******* manjaaaah di kamar, kecuali Bang Sam yang masuk. Batin Jum melirik Gema sekilas.
""Wah pak bro, Selamat menempuh hidup baru, wah wah wah.. Ternyata sama si sekretaris toh, mainnya.""
Setelah Mentari Biru turun, Pria yang di kenal baik oleh Jum naik, Jum merinding ding jijik, pria inilah yang dulu di pangku Gema satu tahun lalu.
""Kita bagaimana nih bro ?""
Mereka pelukan, iiiiih...
""Feno, jangan bercanda di hari special gue bini gue dari dulu sampai sekarang mencurigai kita ga* bego, dan itu karena kegilaan Lo yang iseng."" Bisik Gema.
Orang yang bernama Feno atau sahabat lama Gema, Tersenyum jahil ke Jum, Ia dan Gema adalah pria tulen, cuma di waktu itu ia hanya menggoda sahabatnya, Perihal...Gema sang sahabat ini tidak pernah jalan dengan perempuan satu manapun, Dan Fano memastikan sahabatnya Ga* atau bukan dengan cara tetiba duduk di pangkuan Gema dan berakhir Jum melihatnya.
""Selamat kaka ipar."" Fano beralih ke Jum. ""Kamu merebut kekasih ku, Jum."" Jahilnya dengan mimik sedih.
""Aduuuh, Ya maaf pak Feno, Tapi tenang saja, Pak Gema nggak bakalan saya pegang pegang kok, kan dia kekasih bapak, anti pelakor lho saya pak, Hanya status saja kok, mau kal---""
Bugh... Gema memukul geram lengan Fano yang semakin menggoda Jum dengan kata kata unfaedanya, Kalau nanti malam Jum minta pulang kan bahaya bagi adik nya.
""Hahaha."" Gelak Fano turun dari pelaminan.
"Jangan dengar kan dia."" Ujar Gema.
" Kenapa ? kasihan tau, Lagian bapak ko tega amat sih ngambil jalan ini, Bapak tidak memikirkan masa depan saya juga masa depan pak Fano, kalau beliau Setelah dari sini menghampiri jembatan kan brabe !"" Cemberut Jum, iya sakit hati di jadikan tumbal bagi Pak bos Trenggiling ini.
""Jembatan mau ngapain ?"" Heran Gema.
""Terjun bebas lah Karena patah hati.""
""Ya bagus !"" Pungkas Gema, cuek. pokoknya malam ini ia akan membuktikan ke Jum, kalau pikiran woman ini salah besar ke dirinya. Lihat saja, tak ada ampun bagi Jum walaupun woman ini merengek minta berhenti.
__ADS_1
Dasar pak Trenggiling...
""Selamat dan aku minta maaf atas kesalahan ku, semoga kalian berbahagia sampai maut memisahkan, dan semoga di lembaran baru kalian menerima kata maaf dari ku.""
Jum langsung menegang mendengar suara yang ada di belakangnya. Satria !
Gema sudah pasang badan saja, sigap menggenggam tangan Jum, memberi kode untuk tenang dan rileks saja. Namun tangan kanan Jum yang bebas menerima jabatan tangan Satria. Tapi Gema tahu, Jum berusaha mati matian menepis ke takutannya, sudah jelas tangan kiri Jum yang di pegangnya sudah berkeringat dingin.
""Terima kasih ! sudah mau datang ke acara kami, berbahagialah Satria."" Jum menampilkan senyum terbaiknya, berharap Satria mengerti kalau di antara mereka sudah tidak ada lagi hubungan asmara, Inilah kenyataannya. Tapi kalau boleh jujur dari hati yang paling dalam, Jum masih ada rasa sedikit untuk Satria, berdosa kah dirinya ? Kalau berdosa maka salah kan saja hatinya. Tapi ia akan membunuh rasa itu, sekarang ia sudah menjadi istri orang, walaupun istri istrian saja bukan istri benaran pada umumnya yang bisa mendapatkan nafkah batin, tentu Gema tak bisa memberikan hal itu, Pikirnya namun santai saja.
""Gem, Jagalah baik baik istri Lo, Ada pria lain yang siap menampungnya kalau Lo sedikit saja menyia-nyiakannya."" Ambigunya seraya tangan itu di udara memberi kode selamat untuk Gema yang sudah berhasil menikungnya.
Gema pun menerima jabatan Satria dengan datar tanpa berniat mengeluarkan satu kata pun, ia menjaga emosinya khusus untuk hari spesialnya.
Dari table, Gemi melihat keberadaan Satria di atas pelaminan. Tangannya tak sadar mencengkeram erat gelas yang di pegangnya. Hatinya sakit mengingat dirinya tak bersegel lagi. Tapi mau marah, marah sama siapa, sampai saat ini pun ia tidak tahu kenapa tubuhnya di waktu itu minta pelepasan. itulah teka tekinya yang tidak mengerti hal semacam itu.
"" Kamu kenapa Mi ?"" Rose yang berada di dekat Gemi mendapat gelagat tak tenang di wajah Gemi.
""Tidak Amma."" Senyumnya palsu. Rose hanya manggut-manggut.
""Jangan sedih dong cantik, ada Bang Sam kok yang jadi pengganti abang kamu yang berhasil di kantongin Jum."" Goda Bang Sam.
Gemi tak merespon candaan Bang Sam, beranjak menuju kamar mandi.
""Hahaha, Bang Sam di cuekin."" Tawa kecil Mentari.
""Eh, pipi bolong...kita nyanyi yuk. Kita gemparkan isi ballroom hotel ini."" Ajak Bang Sam. ""Yuk Daeng, kita goyang hot."" ajak nya pun ke Senja yang sedari tadi diam saja.
Biru dan Langit kompak mendelik tajam ke Bang Sam, Enak saja istri gue mau di jadi kan tontonan orang.
""Hehe, Salahkan Bang Sam, Mendung ! dia yang mengajak."" Senja tertawa garing.
""iya Hulk, Tapi seru tau Hulk, kita goyang sama sama sekali saja, pasti seru deh."" Mentari membujuk. Bang Sam yang di salahkan pura pura sibuk menoel noel pipi Petir yang di pangku Crish.
""Silahkan saja kalian naik ke panggung berjoget heboh, tapi jangan salahkan saya kalau Pesta ini ricuh mati lampu seketika."" Ancam Biru. Di angguki Langit.
""Bang Sam, apa kamu dengar."" Tekan Langit. Mentari dan Senja kompak Tersenyum geli akan Bang Sam yang pura pura budek.
""Hah ? Apa pak Manly, juga pak brownies ? Kalian ngajak saya berjoget ria ? Ayuuuk lah kalau begitu !"" Goda Bang Sam tak takut.
Nah Lho, Biru dan Langit kompak berdiri dari duduknya, Memutari table khusus kumpulan Keluarga mempelai. mereka ingin membeli godaan Bang Sam secara ekstrim.
""Pipi bolong, daeng Cantik ! Tolongin gue !"" Namanya saja yang di lontarkan Bang Sam. Tapi Bang Sam malah berlindung cepat ke Rose dengan cara mengaitkan tangannya di lengan Rose. ""Amma !"" Rengeknya.
Rose menggeleng geli, akan kelakuan anak mantunya yang nampak berwajah seram menakuti Bang Sam.
""Langit Biru ! Kalian sudah punya buntut masing masing, jangan seperti anak kecil !"" Lerai Rose, kedua mantunya langsung kicep, Alon Alon mundur kembali ke kursi masing masing. Bang Sam Tersenyum puas.
""Kalau masih sayang tangan, di harapkan singkirkan tangan anda dari lengan istri saya.""
Eeetdah...Ada yang lebih seram. Cepat cepat Bang Sam melepaskan tangannya dari kulit Rose, saat mendengar peringatan keras dari pak Radja. ia segera ngacir menuju toilet. alis cetarnya rasa rasanya seketika bengkok tak sinkron lagi saat mendapat tekanan dari tiga singa sekaligus.
Namun langkah bang Sam berbelok saat melihat Satria dan Gemi berjalan ekor ekoran seperti truk gandeng, menuju ke lorong sepi. mencurigakan ! Batinnya.
__ADS_1
""Ada apa ?"" desis Gemi, setelah dari toilet, Satria menghadang jalannya.
""Malam ini gue mau pergi ke Thailand."" Ujar Satria.
""Terus ? hubungannya apa buat gue ?"" Gemi tak tenang, matanya sesekali menggerlya, takut takut ada yang melihat.
""Sekali lagi gue mau minta maaf atas kesucian lho yang sudah gue ambil tanpa sadar."" Pungkas Satria. Bang Sam di buat melotot dalam persembunyian. gue nggak budek kan ini. Batinnya Terkejut.
Gemi langsung menginjak geram kaki Satria. ""Diamlah manusia bodoh, Lo mau mati sia sia di sini Sebelum menginjakan kaki Lo di negara orang tua Lo hah, Kalau papa atau Gema dengar maka matilah kau, tangan Lo yang masih di gips ini akan hilang gipsnya serta tangan Lo sekalian."" desis Gemi dengan nada pelan namun terkesan menekan setiap untai kata katanya.
""Om tantik ! Om lagi petak umpet ya, kami ikutan ya !"" ujar Pelangi.
Yah bocah bocah nyebelin. kalian sama saja sama Ayah serta papa kalian. Bang Sam menaruh telunjuknya di bibir, mengkode agar si kembar plus Petir tak berisik yang sebenarnya ia sedang bersembunyi di balik tirai panjang.
Tentu Gemi dan Satria menoleh ke asal suara anak kecil tersebut. dan seketika tahu kalau pembicaraannya ada yang mendengar.
Gemi berjalan ke sisi anak anak. Bang Sam mengumpat kasar dalam hati.
"Anak cantik, siapa itu Om cantik ?""
Pelangi langsung menunjuk tirai yang di dalamnya ada Bang Sam. Sedari tadi ke empat bocah ini sudah membidik Bang Sam saat mendengar kata joget bareng yang mengajak orang tuanya, kalau orang tuanya tidak mau kan, ada mereka berempat yang mau, eh..tiga Ding, Topan mah ogah ogahan, ia mengikuti ketiga saudaranya hanya sekedar menjaga apalagi pelangi yang notabenenya adik perempuannya.
Ketahuan, Bang Sam keluar dengan cengengesan bodohnya. "" Om cantik ketahuan deh, ayo kita lanjut lagi petak umpatnya sayang."" Bang Sam berkelit, segera menarik lembut tangan Pelangi.
""eeeh, mau kemana ?"" Tarik Gemi akan ujung baju belakang Bang Sam. seketika lekong itu mundur mundur cantik akan kelakuan tenaga Gemi yang seperti laki laki saja.
"Anak anak murid ante muay, kalian pergilah main atau makan sepuasnya, Ante Muay mau pinjam Om cantik dulu ya."" Lembut Gemi ke empat bocah di hadapannya. Satria yang sedari tadi diam tanpa sadar Tersenyum manis. Ia kira Gemi itu tidak ada lembut lembutnya jadi perempuan secara Wanita ini mainnya club muay terus.
Mampus gue ! Desis Bang Sam.
""Apa yang kamu dengar maka tutuplah rapat rapat mulut kamu itu, kalau masih sayang kuping serta bibir maka diam lebih baik."" Tembak Gemi tak main main dengan mimik sudah Ingin mengunyah Bang Sam memakai jab nya.
""Apa yang gue denger tadi itu musik romantis dan suara sorak lempar bunga dari mempelai sert----!""
""Gue bukan orang bodoh !"" Serka Gemi.
""Iya..iya...iya, Puas ! sudah ya, panggilan alam memanggil nih."" Bang Sam benar benar di buat sial malam ini, kabur menuju toilet dengan langkah terburu buru.
""Kenapa harus takut, kalau mereka tau memang nya kenapa ? itu kan hak diri lo !""
Plak... Gemi berhasil memberi pipi Satria yang terdengar santai mengejeknya. Sakit, pasti sakit pipi itu, Kekuatan Gemi bukanlah gadis pada umumnya, sampai sudut bibir Satria menampilkan darah sedikit di sana.
""Pergilah, Semoga kita tidak bertemu lagi, dan tamparan barusan, anggap saja pembayaran lunas atas darah khusus gue yang lo udah ambil, entah mengapa gue bisa berurusan dengan Lo ini. Pergi Satria, Gue benci melihat wajah Lo itu, Apalagi mata Lo masih saja mendamba Kaka ipar gue, dan ya...awas saja kalau Lo masih mengusik istri kembaran gue, Gue nggak bakalan tinggal diam, Gue bisa saja menyuruh Gema untuk menghancurkan perusahaan mama lo itu yang sebenarnya hanya bergantung dari investor investor seperti dari RD."" Geram Gemi menggebu-gebu, Kalau tidak mengingat ini adalah hari besar Gema, maka ia pasti sudah bertingkah di luar nalar.
"Gue heran akan pikiran Kalian semuanya, pengennya menang sendiri. Gue juga malas berurusan dengan keluarga kalian lagi, Termasuk Gema dan Lo, Yap...gue akan pergi, dan semoga kita tak bertemu lagi, kalau kita bertemu lagi berarti kita itu jodoh wanita judes."" Satria berlalu, seraya menghela lembut pipi Gemi yang nampak menahan emosi dengan senyum ejeknya.
""Sialan, gue patahin juga itu tangan !!!"" Gemi hanya meraih udara, karena Satria jeli segera manarik jari jarinya berlalu santai.
Selamat tinggal semuanya !!! Pamitnya dari jauh saat mata itu membidik Keluarga besar Mentari, Biru juga Langit. Mereka adalah keluarganya selama ia menetap di kota ini. apalagi Langit lah yang sudah seperti saudara baginya sejak mereka kuliah bersama.
Berbahagialah Jum. Aku merelakan mu, Aku
bukan jodoh mu. Senyumnya tulus dari kejauhan, tanpa Satria sadari, sejak tadi Jum pun melihatnya dari kejauhan.
__ADS_1
Pergilah Satria, aku mendoakan mu, semoga hidup mu lebih bahagia dari sebelumnya.