
""Aah, Akhirnya.""
Nafas itu terdengar legah, di saat Rose dan Radja pamit pulang setelah sekian menit di beri kultuman gegara mantan sialan datang bagaikan dedemit main templok aja.
Biru segera beranjak ke kamar, mencari keberadaan Mentari yang sedari tadi dirinya di sidang, tapi wajah imut itu tak terlihat di mata.
Terkesiap, Tentu saja ! Mentari tidak ada di dalam kamar, Biru hanya mendapati sepatu yang di pakai Petitenya tadi, tergeletak di lantai kamar begitu saja.
Di kamar mandi kah ? Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk mengecek Istrinya.
""Hais, kemana dia ?"" Monolognya sudah merasa getar getir. Mentari juga kagak ada di kamar mandi.
Apakah bersama Bara ? Tidak bisa di biarkan.
""Jangan hukum aku dengan cara begini sayang !"" Terkanya kalau Mentari benar bersama Bara.
Dengan ingat, ia mengecek keberadaan istrinya melalui chip khusus yang di pasangkan di layar pipih Mentari dan sekarang bertambah di jam khusus pemberiannya yang sudah di desain khusus olehnya.
" Mentari ada di sini kok ?"" Biru pun keluar kamar, memeriksa kamar sebelah namun tak ada juga.
""Petite, kamu di mana sayang ?"" Teriak Biru mencari.
Serasa kosong ! Biru pun keluar dari kamar sebelah, beranjak ke ruangan kerja miliknya yang sekarang ruangan kerja itupun di pakai oleh istrinya...Satu ruangan berdua.
Huaaacin
Tapi Langkahnya berbelok ke arah dapur yang samar samar mendengar suara bersin. Rupanya di dapur toh sejak tadi.
Mata Biru membola, ia mendapati Mentari duduk di atas kursi dapur dengan cara menyilang kan kaki. Di hadapan Petite-nya terdapat banyak pembungkus cemilan yang sudah kosong berserakan ke mana mana. serta sekarang... Istrinya ini lagi menikmati semangkuk mie instan dengan toping cabe rawit segitu banyak mendominasi mie tersebut.
__ADS_1
""Jangan makan ini, tidak sehat...nanti perutmu bisa sakit !"" Tarik Biru akan mangkuk itu, tangan satunya pun sigap menahan suapan Mentari yang hampir masuk kedalam mulut...Bukan mie yang akan Mentari makan... tapi Cabe rawit. membuat Biru meringis sendiri yang melihatnya.
Mentari hanya mendongak sekilas ke raut wajah Biru, menarik kembali mangkok mienya tanpa satu kata pun.
""Petite, sayang... jangan makan ini ya... Kalau kamu lapar biar aku masakin makanan yang sehat."" Biru mengambil sendok Mentari terlebih dahulu. ""ayo katakan, kamu mau makan apa ?"" Tawar Biru lembut.
Mentari berdecak lidah, bangkit sekilas hanya meraih sendok baru. Ia memang suka makan banyak plus pedas jika ia sedang menahan kekesalannya, melampiaskan ke makanan dengan cara mengunyah terus . Ia sebenarnya ingin meraung raung marah namun percuma karena tak ada faedahnya...Buang buang tenaga saja. Lebih baik diam, makan banyak... kenyang dan tidur.... masalah Biru, biarkan saja Hulk nya itu berceloteh apa pun...Ia tidak mau dengar apa pun untuk malam ini. Titik. Ia kesal mengingat tubuh suaminya di dekap wanita lain.
Biru menghembuskan nafas beratnya, Mentari marah besar kepadanya sampai tidak mau berbicara. Biru tidak membiarkan Mentari memakan makanan yang akan memberi efek perut istrinya sakit parah nanti. Dengan kasar merebut mangkuk itu dan hendak membuang isinya kedalam tong sampah.
Mentari yang melihat itu, bertambah kesal.. beranjak kasar meninggalkan Biru di dapur.
" Mentari hey, tunggu.... maafkan aku, ku mohon jangan diam saja...ayo caci saja diri ku biar kamu puas... asalkan kamu mau memaafkan ku.""
Biru menghentikan langkah Mentari dengan cara menarik pergelangan tangan istrinya sedikit tenaga dan berujung Mentari berbalik menubruk dada Biru.
Kesempatan, Biru langsung memeluk tubuh istrinya erat... Istrinya jika sedang cemburu begini amat...nakutin.
Biru terpaksa melepas pelukannya, memeriksa kebenaran ucapan Mentari. "" Damn it !"" Umpatnya dalam hati. kedatangan Shanum Membuat keharmonisan rumah tangganya terusik. ini pertama kalinya selama dalam berumah tangga... Mentari marah besar kepadanya karena kebodohannya. Ya bodoh...bodoh karena ia mau mau saja di peluk oleh Shanum di depan mata Mentari...Biru mengerti kecemburuan Mentari...sebab ia juga sama, Cemburu kalau istrinya ada yang melirik.
"" lihatlah....ini jelas jelas bukan lipstik aku, karena sedari tadi kan aku tidak di perbolehkan memakai riasan apa pun dengan alasan kamu tidak rela ada pria lain memandang ku. Terus aku apa ? apakah aku suka melihat Suaminya di peluk oleh wanita lain yang terbilang orang spesial di masa lalu....mana meresapi lagi pelukan itu."" Imbuhnya dengan nada datar tapi mata Mentari memancarkan kekesalan.
Mentari pun kembali melangkah cepat menuju kamar. Tentu saja Biru tak berhenti untuk terus mendapat kata maaf.... jangan panggil namanya Sagara jika tidak bisa mematahkan kekesalan si Petitenya... Ingat itu !
Seraya mencopot baju sialan yang terdapat bekas parfum dan cap bibir Shanum, Biru terus merengek dengan nada memelas sampai di depan pintu kamar.
""Jangan ikut masuk ! Diam di sini, MENGERTI !""
Mampus ! Tanda tanda si Otong akan kedinginan malam ini, terus tanda tanda Nama Sagara akan berubah menjadi Egg head alias Kepala Telur. Ah, tidak bisa di biarkan, bagaimana ia bisa tidur tanpa ada candunya di dekatnya...apa pun caranya, ia harus bisa mengalahkan emosi Mentari yang sedang naik.
__ADS_1
""Petite, jangan dong... lihatlah tubuh ku, aku perlu mandi terus butuh pakaian ganti."" Alibinya.
""Tunggu di sini !"" Setelah memperhatikan dada polos si Sagara... Mentari masuk dan menutup pintu rapat-rapat. pokoknya malam ini, Suaminya harus mendapat hukuman. Titik.
""Yaaak, di kunci !"" Keluh prustasi Biru dengan tangan mengusap wajahnya kasar.
Tak lama pintu kembali terbuka, Mentari keluar dengan satu pasang baju tidur untuk Biru dan satu pasang Bantal beserta selimutnya. membuat Biru menelan ludahnya kasar.
Alamak, malam ini gue bergulat dengan bantal guling.
""Ini Ambillah semua !""
Biru menggeleng geleng terus, tanda tidak mau, bibir itu pun mengerucut cemberut sedih, sinarnya redup tanpa ada Mentari yang menghiasi warna Biru ini. ""Patite, maafkan aku ! Aku tidak mau tidur di luar, aku tidak akan bisa tidur tanpa mu, ku mohon."" Rengeknya Membiarkan barang barang yang di berikan Mentari tergeletak begitu saja di lantai. Dan maju memeluk Mentari, mengecup sayang pucuk kepala Mentari.
Mentari menikmati sesaat harum maskulin dada polos Hulk-nya. Malam ini saja, sebagai peringatan keras dari ku, Hulk. Maafkan aku ! Batinnya seraya melepas sedikit paksa dekapan Biru tanpa ada satu ucapan lagi.
Praaak...
Hanya geprakan pintu tertutup sebagai jawaban rengekan Biru. Si Petite benar benar tega membuatnya kedinginan malam ini.
""Mentari, buka pintunya... kepala ku sakit sayang ! Ambilkan obat untuk ku."" Bohongnya berteriak di depan daun pintu.
""Jangan manja, kotak obat ada di luar, minum sendiri bisa kan ?!"" Balas teriak Mentari, di dalam.
""Perut ku pun sakit ini...aduh, aduh...aku pingsan ini...!"" Lebaynya berakting.
""Pingsan saja, biar tidak bawel !"" Kejam Mentari. Ia tahu...si Sagara pasti melakukan alibi berbagai cara untuk merayunya.
Nasib nasib ! Dapat pelukan Mantan, eeh.. balasannya tak dapat pelukan hangat dari sang isteri. Sial benar deh ah...
__ADS_1
Biru tak berteriak lagi, ia menerima hukuman Mentari malam ini...Mulai malam ini jangan panggil dia si Sagara, Tapi Panggil dia Egg head alias Kepala Telur.