
""Itik...! Tidur kah ?"" Lirih Langit, Senja bersandar di bahunya sudah tidak ada isak dan pergerakan lagi.
""Sat."" Panggilnya pelan ke Satria yang asyik dengan layar pipih di tangan.
""Eum ?"" Satria menoleh dari posisi yang berjarak sedikit jauh darinya.
""Tidur kah ?"" Tunjuknya ke Senja, bertanya ke Satria. ia tidak bisa melihat wajah Senja yang tertunduk bertengger tenang di bahunya
Satria mengangguk sebagai jawaban. berjalan pelan, Mendekat. ""Pergilah, Biar saya saja yang berjaga sebentar, Biru mengirim chat, memberi tahukan kalau dia mengirim anak buahnya untuk menjaga Amma di sini, setelah mereka datang, saya akan menyusul mu."" Jelasnya dengan suara pelan agar Senja tidak terganggu.
Langit pun dengan perlahan meraup tubuh Senja untuk pergi meninggalkan rumah sakit.
""Sat, terimakasih !"" Pamitnya pergi.
""Hati hati, mungkin ada mata yang mengintai !"" Bisiknya masih penasaran dengan bayangan yang sempat di tangkap oleh mata ngantuknya tadi.
...****...
Biru sempat panik mengubun saat balik ke unit apartemennya, ia tidak mendapati keberadaan istrinya di sana.
Tapi setelah melacak posisi Mentari melalui alat canggih yang tersambung di layar pipih Mentari dengan layar miliknya, Bernafas lega.... Mentari sekarang ada di unit apartemen peninggalan Dewa yang sudah lama tidak terhuni.
Dan di sinilah Biru, Sedang mengetuk pintu unit itu namun tidak ada respon dari Mentari sejak tadi.
"" Hu, Petite, buka dong pintunya. Sudah tidur kah ?"" Gumamnya khawatir. Biru yakin kalau Istri imutnya itu tidak akan bisa tidur kalau sedang dalam kondisi tidak baik.
Biru pun menghubungi Radja melalui seluler, berharap Radja tahu akan kode pin unit milik peninggalan Dewa.
Alhamdulillah, Syukurnya saat Radja langsung merespon panggilannya di malam yang sudah larut ini.
Tak basa basi, Biru langsung to the point menanyakan berapa pin unit milik Dewa.
Di seberang telepon, Radja memberikan angka dan Biru mendengar kan seraya langsung memencet tombol.
""Terimakasih, Om !"" Ucapnya langsung menutup sambungan seraya menerobos masuk.
""Mentari ?"" Panggilnya mencari seraya matanya menikmati keindahan interior design unit dan isi barang barang dengan kata mewah yang seakan meneriakinya.
__ADS_1
""Petite !"" Panggilnya lagi, Samar samar saat membuka pintu kamar, ia mendapati suara percikan air dari arah kamar mandi. ia pun dengan cepat beranjak ke arah sana.
""Astaga, sayang ! apa kamu mau sakit dengan cara begini ?!"" Kaget Biru mematikan aliran air. Mentari sengaja mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower dengan posisi duduk meringkuk memeluk lutut dengan mata memerah menangis terus di dalam percikan air dingin. Hati Biru begitu teremas sakit melihat terpuruknya Mentari saat ini.
""Maafkan saya, Amma ! maaf kan saya !"" Racaunya terus menyalahkan diri sendiri. Mata Mentari terlihat kosong dengan bibir pucat kedinginan. ia terus meracau lirih dengan bibir bergetar hebat.
""Sayang !"" Sedih Biru akan kondisi Mentari yang begitu terpukul saat ini. Biru dengan cepat membuka kain basah yang membalut tubuh Mentari sampai polos.
""Kamu tidak boleh seperti ini, Kamu harus kuat demi kesembuhan Amma, Mentari ku adalah wanita hebat dan kuat, Amma pasti sembuh, percaya lah !"" Biru memberikan kata kata penyemangat untuk wanitanya. Mentari hanya diam bahkan seakan tidak memperdulikan Biru yang ada di sampingnya.
Setelah menaruh tubuh polos Mentari di atas kasur, Biru langsung mematikan pendingin ruangan, ia ikut berbaring di samping Mentari, satu selimut bersama dan memeluk erat tubuh istrinya untuk memberi kehangatan.
""Tolong jangan seperti ini, sayang ! kuatkan lah dirimu, ku mohon !"" Sedih Biru ikut terenyuh. Sejurus kemudian ia memberi kehangatan di bibir pucat kedinginan Mentari agar berhenti meracau dalam kekosongannya.
...****...
Di kediaman Satria tepat di salah satu kamar tidur yang di tempati Langit.
""Tubuh mu berat juga itik !"" Keluh Langit menaruh tubuh Senja yang terpejam di atas kasur. ""Tapi di lihat lihat, kamu tidak kalah cantik dari adikmu."" Senyum tipis Langit seraya menghapus air mata yang tersisa di sudut mata Senja.
""Amma ! Temani saya tidur."" Racau Senja berhalusinasi, mata lelahnya yang terbuka sedikit mengira wajah Langit adalah wajah Rose.
Pelan pelan Langit mencoba melepas pelukan Senja yang begitu erat, tapi Senja malah membuatnya guling dengan lengannya di jadikan bantal oleh itik ini.
""Pfuuu, Saya ini laki laki normal itik, kamu bisa saja membangun kan Adik ku kalau terus seperti ini."" Dumel Gumamnya sangat lirih.
Wangi tubuh Senja menyeruak terus di pengendusan Langit, ia memaksakan diri untuk terpejam dengan posisi begitu menempel dengan tubuh Senja yang tidak ada jarak sama sekali.
Matanya kembali terbuka, melirik ke wajah Senja yang sudah damai, Entah ada Saitoni apa yang merasuki otak nakalnya sehingga ia tergiur dengan bibir sensual itu. Sekelebat...ia teringat saat Senja menyosornya di hadapan orang waktu itu. Manis ! Di majukan wajahnya perlahan... Cup, seketika ia bermain sendiri di bibir itu dengan lembut.
""Uh..""
Hais, Aksi Langit tersadar sendiri saat Senja melenguh sesak akan ulahnya, ia berpura pura memejamkan matanya seakan sudah pulas dari tidurnya.
Senja hanya melenguh sekilas tanpa sadar sedang tidur begitu dekat dengan siapa ? Mata dan tubuhnya saat ini seakan sedang mati suri, lelah ! ia kembali terlelap pulas.
Langit sendiri yang tadinya hanya berpura-pura tidur berkelit, sekarang malah bernafas teratur dalam pejamnya.
__ADS_1
...***...
Pagi hari pun menyerang, Senja mengulet pelan dalam rangkulan tidur Langit dengan bantalan masih dalam lengan otot kekar suami dadakannya.
Matanya mengerjap perlahan beberapa kali untuk melaraskan penglihatan.
Senja menggeleng saat melihat wajah Langit tepat satu jengkal kecil di hadapan wajahnya, ia berpikir ini hanya halusinasinya saja.
Tapi alangkah terkejutnya, Saat benar benar kesadarannya terkumpul. "" Aah, Mendung ?"" kagetnya lirih, agar Langit tidak terganggu.
Senja segera ingin menarik tubuhnya menjauh dari Langit, tapi pergerakannya kalah cepat oleh Langit. Tetiba Langit bergerak dan tangan kekar itu mencekal salah satu gunungnya.
""Aaarg."" Jerit Senja mendorong dada Langit sampai tubuh kekar itu jatuh ke Lantai.
""Apa, apa ,apa ! ada gempa kah ?"" Kaget Langit tak sadar berucap konyol.
""Iya, Gempa Langit sedang runtuh !"" Dumel masam Senja. ""Tangan di kondisikan saat tidur, Lo tadi megang pay----Paha gue.!"" Senja malu, hampir keceplosan kalau Langit tadi meremas gunungnya.
""Astaga ! Hanya megang paha saja sampai segitunya, Kepala gue sakit tahu nggak kebentur lantai. semalam saja, narik narik gue untuk tidur bareng, Mana gue di bikin guling lagi."" Balas dumel Langit, berangsur kembali naik ke ranjang untuk kembali tidur.
""Gue ?"" Senja menunjuk wajahnya. "" Narik Lo yang ga* ini tidur bareng ! Cih..Ngarang !"" Senja mendumel seraya menjauh dari Langit.
Mata kantuk Langit terbuka dengan seringai jahilnya saat mendengar kata ga* terucap dari bibir sensual itu. Langit tetiba menarik tubuh Senja yang hampir berdiri dari kasur. Menindihi tubuh goals itu.
""Ga* ? bagaimana kalau kita buktikan saja lewat pergerakan pagi ini, gue ga* apa hanya pura pura."" Goda Langit berbisik nakal di telinga Senja.
Otak Senja memberi lampu bahaya, apa si Mendung ini ingin memakannya ? aaah, jangan sampai....!
""Langit, minggir !"" Bentak Senja meronta memukul dada Langit dengan kedua kepalannya.
Langit tersenyum nakal, ia melihat wajah merona merah Senja. Lucu ! Semakin nakal, ia menghukum Senja dengan cara menyatukan paksa bibirnya ke bibir Senja yang terus meronta tak ada efek sakit pukulan itu.
"" Mmmmppp."" Ronta Senja yang sudah terkuras akan oksigen.
"" Itu balasan ciuman gue saat tempo hari Lo sudah berani mencium gue di hadapan adik Lo."" Setelah berhasil membuat Senja terbungkam, Langit kabur masuk ke kamar mandi.
"" Amma ? kok saya di sini ? bukannya semalam saya di .....?""
__ADS_1
Senja pun berlari ke kamar mandi, menggedor kuat ruangan itu agar Langit cepat selesai, ia tidak boleh jauh jauh dari tubuh sakit Ammanya, bahaya !