
Hari hari cepat berlalu, namun hari hari itu sangat berat dan sangat tercekik sesak yang di jalankan oleh Biru. Hampir satu bulan ini sang istri tidak adanya tanda tanda ingin bangun. seakan Mentari sangat menikmati mimpi indahnya di dalam sana.
Serangakaian pengobatan sudah dokter Farel dan dokter para master pun di terapkan, tapi Hanya sia sia. Rose semakin prustasi memikirkan keadaan putri bungsunya, kesehatan Rose pun akhir akhir ini menurun, Untung ada Radja di sampingnya yang selalu memberi semangat, tiap hari ada perhatian untuk Rose dari Radja...Dan Rose tak masalah akan hal itu.
Kerabat dan keluarga bergantian datang tiap hari hanya sekedar berbagi cerita ke Mentari, berharap wanita imut lempeng ini Bangun dari tidurnya.
Bang Sam, Jum dan Senja sekarang ada di dekat Mentari, berceloteh...! Biru pun ada, duduk dingin datar di sudut ruangan memperhatikan Kaka ipar dan sahabat sahabat istrinya yang berusaha merangsang otak Mentari dengan menceritakan hari hari bahagianya.
""Yaelah, pipi bolong ! Lo kenapa sih tidur melulu ? Lo semedi ya kayak di tipi tipi ntu...Yang jika bangun dari tidurnya, maka akan mempunyai mata sakti. Gue kepingin lihat, kekuatan mata apa yang Lo dapat dari semedi ini, tembus pandang kah ? Ayo bangun pipi Bolong, Tebak...Gue makai dalaman warna apa ?""
Ctaaak !!
Ucapan ngaur Bang Sam di hadiah jitakan gemes dari Jum, Senja hanya menggeleng geli akan kelakuan sahabat sahabat adiknya ini.
""Apa sih Jum ?"" Cemberut Bang Sam.
""Auh ah, Surem hidup Lo !"" Malas Jum.
""Lo yang surem ! anak orang di PHP-in doang ! Eh Pipi bolong, Bangun gih...Marahin teman deso Lo ini, masa dia tebar pesona sok cantik sana sini sementara ada Gema juga Satria yang berharap...Gue sumpain kualat Lo ntar Jum, Gema gue doain dapat cewek yang soleha, Bang Satria yang Manly seperti pak Langit jatuh cinta ke gue.""
Setelah bertutur ngaur, Bang Sam menangadakan tangannya, berdoa seraya mulut itu berkomat kamit seperti Mbah dukun.
""Hahaha, Sampai lebaran kodok pun...Bang Satria kagak mungkin naksir Lo Bang Sam, masa batang on Batang sih ! iiiiih...naji* gue akan mulut Lo ntu, Tar....Bang Sam tuh, kepingin di bom butiknya.!"" Aduhnya merengek.
""Eum, di bom pengunjung ! terima ikhlas ridho gue. iya nggak bos cantik."" Tanyanya ke Senja.
""Eum, sajalah ! Udah ah..kalian berhenti ngomongnya...takut takut calon anak gue di dalam perut mencatat omongan unfaeda kalian di memorinya lagi. idiiiih...amit amit cabang bayi."" Senja mengelus elus perut buncitnya yang perkiraan dokter Anita hari persalinannya sudah lewat, tapi Senja berpikir positif, ia kepingin merasakan perjuangan tarik nafas buang nafas dalam melahirkan sang bayi.
__ADS_1
Ceklek, Gema dan Langit masuk ke dalam ruangan. Gema melangkah ke peraduan Mentari, sementara Langit menghampiri Biru di sudut ruangan, menepuk pundak Biru pelan. "" Bi, Sabar ya !"" Ucapnya. Biru hanya mengangguk kecil.
""Jum, waktu istirahatnya sudah habis, ayo kita berangkat...Klien mungkin sudah menunggu kita.""
Heran gue dengan penilaian orang orang, Pak Gema naksir apanya coba ke gue ? wong e saja datar begitu kagak ada manis manisnya...Aneh otak Bang Sam ini. Rusak parah minta di rongsok.
"Jum ! Tidak budek kan ?"" Sembur Gema.
""Eeeeh... Kayaknya sih... Budek !""
Jum segera beranjak setelah meledek kalem bos nya ini, Mentari lagi... Kenapa harus koma sih...Kan jadinya gue terus yang berada di dekat Gema-lama ini. Dumelnya dalam hati.
Kepergian Gema dan Jum, Senja tetiba meringis sakit ! Membuat Langit dan Bang Sam panik di buatnya. Sementara Biru masih saja tak bergeming dalam terpuruknya. Tidak ada yang menarik bagi Biru saat ini kecuali kondisi Mentari dan juga anak anaknya yang masih saja di inkubator yang sampai saat ini, Biru tak pernah menyentuh dan mencium aroma khas bayinya, itu salah satunya penderitaan oleh Biru pun dalam diamnya.
""Astaga sayang !"" Langit tetiba panik memuncak saat melihat ada cairan yang mengalir dari pangkal paha Senja sudah merembes ke betis.
""Pipi Bolong, Ponakan Lo akan melihat dunia, Lo juga harus bangun melihat dunia ini lagi, bye..Muaaach !"" Pamit Bang Sam dengan Kiss bye nya dari jarak jauh, mana berani bang Sam ini menyium sayang sahabat rasa adiknya kalau ada si Biru yang sekarang terlihat seram di Semua mata orang, Biru terlihat acak acakan dan tatapan matanya juga semakin dingin tajam menusuk tulang.
""Dengar kan Petite ? Daeng mu akan melahirkan Ponakan mu, Mereka akan berbahagia, Sementara kamu masih saja menghukum ku."" Suara itu terdengar pilu. Biru menampakkan kelemahannya jika sedang berdua saja dengan Mentari.
...****...
Tarik nafas, buang teratur !
Seraya menunggu pembukaan sempurna, Dr Anita sebelumnya memberi pengarahan untuk Senja. Namun saat Senja mengatur nafasnya, Bang Sam dan Langit yang menemani Senja ikutan berjamaah mengatur nafas masing-masing.
""Aduh ! aduh..Pyuhuuuu !""
__ADS_1
Plaaak...
""Diam Lo, Bang Sam !""
Langit menggeprak kepala Bang Sam bagian belakangnya, Orang lagi panik malah ikutan aduh aduhan seperti kepekikan Senja kalau lagi kontraksi hebat.
""Tarik nafas, jangan ngedeng bos cantik... belum sempurna pembukaannya."" celoteh Bang Sam cerewet.
""Berisik Bang Sam ! Sok tahu Lo !"" Tukas Langit ketus.
""Yeee, kagak Percaya bos Manly ini. Iya kan sus ?""
Sang suster yang menemani mereka mengangguk, Dr Anita memang sekarang ada pasien darurat, seraya menunggu pembukaan Sempurna Senja, Dr Anita mengurus pasien lainnya dulu.
""Awwww, Sakit mendung... sakit banget !"" Tangan Senja reflek mencekal kerah kemeja Langit. Bang Sam tersenyum geli melihat aksi galak Senja yang membuat penampilan Langit berantakan.
""Itik, gue juga sakit sayang !"" Terasa tercekik akan tarikan Senja, Langit mengatur nafasnya yang panik pakai banget.
""Pyuhuuuu, haaaaa ! Kalian jangan ada yang meledek ku !!!""
Preeet.. Preeet..Proot...
Glek....Saat Senja menarik ulur nafasnya, Bang Sam dan Langit pun kompak menarik nafas. Namun membuangnya tertahan karena mendengar suara ancaman Senja yang katanya di Ledek, padahal mereka ikutan meringis melihat perjuangan sosok calon mama muda. dan berakhir...Suara kentut berjamaah dari Bang Sam juga Langit karena mereka menahan nafasnya dalam-dalam dan keluar sudah dari pintu belakang tubuh mereka.
Sang suster Tersenyum menahan tawanya ingin keluar.
""Hais, kalian malah mencemarkan udara segar ku, Hu..Ha...Aku nggak kuat menahan nafas lama lama,. Tapi aku juga nggak mau mencium aroma busuk kalian, ishhh busuk sekali, kalian makan bangkai apa ?"" Senja berceloteh dengan tangan Memencet hidung rapat rapat, mulut yang berceloteh pun mangap mangap mencuri nafas.
__ADS_1
Bang Sam santai santai saja, Tapi wajah tampan Langit sudah merah menahan malu yang sudah buang gas sembarangan di hadapan Senja pula. Hancur sudah pamor cool cool nya.