RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 44


__ADS_3

Wanita mana yang mempunyai otak jernih menerima kata kata yang menyinggung hatinya mungkin sebagian wanita akan senang di perebutkan seperti piala bergilir tapi gadis desa manis Mentari tidak.


Piala ? Cih...! Hebat sekali mantan bos dan dosennya itu, bertarung dengan dirinya yang di jadikan piala ! Apa mereka tak berpikir dulu bahwa si piala miskin ini mau tidaknya menjadi barang taruhan mereka, Jika di perhatikan, apa sih yang menarik dari dirinya, tidak ada yang bisa di banggakan yang menempel dari dirinya, ia hanya punya pikiran naif yang menganggap singa adalah kucing. Miris kan dirinya. Sungguh... Mentari sangat kecewa dengan pengakuan Biru... Kalau rasanya sudah hambar maka gue akan kasih ke Lo...! Damn it....Suara Biru terngiang menari nari di otak lempeng polosnya.


harga dirinya seperti di injak injak jika harus meladeni orang orang seperti mereka. Mentari mungkin tidak akan sakit hati jika orang lain yang bertutur tak berfilter itu, tapi indera-nya langsung mendengar kata itu dari mulut Biru ! Bos yang berhasil membuat hatinya bergetar syahdu di hari hari terakhir bersama dan sekarang hati itu sudah lebur remuk sebelum terbingkai.


Mentari terus berlari keluar dari gedung Ostia Club tanpa memperdulikan ada orang yang memanggil namanya dan ia tahu suara itu milik Biru, Si pemenang kontes adu jotos. Mentari tidak mau menjadi piala mereka. Ia lebih baik kabur secepatnya dari pada harus tenggelam lebih dalam dari permainan Biru.


""Mentari hey tunggu !"" Panggil Biru. Mentari kecil kecil, larinya kencang juga. Apa Mentari mendengar ucapan dirinya yang asal asalan keluar dari mulut bodohnya, Mungkin saja, Sebab Petite-nya main kabur tak memperdulikannya yang jelas jelas melihat dirinya terluka lebam. Ia harus menjelaskannya agar Mentari tidak salah paham, Pikirnya.


Mentari terus berlari walaupun harus menerobos hujan deras mengguyur dirinya.


""Ah sial !"" Biru meringis saat luka di beberapa tubuhnya terkena air hujan, perih. dan rasa itu memperlambat langkahnya untuk mengejar Mentari yang sedang terlihat menghentikan angkot umum.


""Aargh...Lamban.!"" Rutuknya, Biru tak berhasil mengejar Mentari, ia kembali berlari masuk ke area parkiran Ostia Club untuk mengambil mobilnya berniat mengejar angkot umum yang di tumpangi Mentari. Dan lagi lagi Biru mengumpat kasar, Tas kecil berisi kunci mobilnya tertinggal di dalam loker petarung.


Beberapa menit di atas angkot umum, Mentari turun di jalan raya dengan hujan masih mencerca tubuh mungilnya, Bukannya pulang ke kontrakan sendiri tapi gadis desa manis bak gula itu turun di sekitaran tak jauh dari Kontrakan milik Bang Sam, Satu satunya teman yang tulus selama ini di sampingnya. dan mudah mudahan Bang Sam ada di rumah petaknya. ia tidak mau pulang kekontrakannya sendiri, takut takut ada Biru ke sana dan malah membuat rusuh di Sona nyamannya.


Ceklek... Pintu kontrakan Bang Sam terbuka lebar setelah Mentari mengetuknya sekali doang.

__ADS_1


""Mentari ?!"" Dahi Bang Sam mengkirut melihat keadaan basah kuyup Mentari, Di tariknya masuk dan segera memberikan handuk kecil untuk Mentari.


Bibir mungil Mentari terlihat gemetaran menggigil kedinginan. Dengan Bang Sam membantu mengeringkan rambut Mentari yang masih bisu tak menjawab secercah pertanyaan Bang Sam.


""Tunggu sebentar."" Bang Sam beranjak dengan hanya mengesot beberapa esotan ke lemari mungil, Maklum luas kontrakan Bang Sam hanya berukuran kecil, begitu lah anak Rantau recehan serba kekurangan.


""Terimakasih Bang Sam."" Mentari meraih pakai ganti milik bang Sam untuk ia kenakan, maklum baju Bang Sam kebanyakan model cewek punya jadi serasi serasi saja ia pakai walau sedikit tenggelam di tubuh mungilnya.


Mentari sudah berganti pakaian, ia kembali membuka pintu untuk bang Sam yang sebelumnya di suruh keluar, walaupun Bang Sam tidak doyan dengan tubuh wanita dengan kata lain mempunyai penyimpangan seksual tapi tetap saja ia tidak mau buka bukaan di depan orang lain.


""Ini minum lah, biar hangat !"" Tawar bang Sam minuman jahe ke Mentari. "" Lo kenapa datang datang basah kuyup dengan mata bengkak terlihat habis menangis.?"" Selidik Bang Sam.


Bang Sam mencibik. ""Cih, eh pipih bolong, Lo pikir gue lempeng polos kaya lo, yang bisa di kibulin, Gue tau Lo itu lagi ada masalah, tapi gue nggak akan maksa Lo untuk bercerita kalau Lo nggak bersedia untuk membaginya, dan tanamkan baik baik ke otak pintar tapi kadang bodoh itu, Gue bang Sam sudah nganggep Lo sebagai adik gue sendiri, jadi Lo tidak usah sungkan untuk membagi masalah Lo ke gue.""


Mentari langsung menyenderkan kepalanya di bahu bang Sam, Bang Sam sangat baik kepadanya. Betul kata Bang Sam ! dirinya memang polos bodoh yang menganggap semua orang itu baik.


""Mentari memang ada masalah, tapi Mentari malas untuk menceritakannya, tidak apa apa ya Bang. Mentari hanya menunggu waktu saja untuk membuang masalah itu dan biarkan Mentari tidur dulu, Insyaallah besok hari cerah akan menyapa ku.""


It's ok! Mentari tidak mau bercerita, dan Bang Sam hanya bisa menarik nafas panjang tidak mau memaksa.

__ADS_1


""Tidur lah, adikku sayang ! dan semoga kita tidak di gerebek oleh warga di sini.! Goda Bang Sam.


Mentari kembali menarik tubuhnya yang baru saja di rebahkannya di lantai tak beralas. ""Benarkah, kalau begitu Mentari balik saja deh.!" Ucapnya gelagapan mengerlyatkan matanya mencari tasnya.


Bang Sam terkekeh geli. ""Tenang lah sayang, Gue hanya bercanda, gue sudah ijin ke ibu kontrakan, lagian mereka pada tahu jika gue sukanya batangan."" Bang Sam terbahak setelah mendapat wajah masam Mentari yang langsung kembali rebahan.


""Selamat malam, Bang Sam."" Pejamnya Langsung.


...****...


Beberapa menit yang lalu, Biru sedari tadi sudah menunggu kedatangan Mentari di depan halaman kontrakan Mentari. ia memandangi pintu petak Mentari yang masih tergembok dari atas mobilnya, ia akan menunggu sampai Mentari pulang seraya mengobati luka lebamnya sendiri.


""Kamu di Mana, petite.? Maafkan aku yang asal asalan berbicara, pasti kamu tersinggung dengan ucapan bodoh ku."" sesalnya berbicara sendiri.


Kalau rasanya sudah hambar maka gue akan kasih ke Lo...


Biru meremas kemudi kuat yang aslinya tangannya sendiri yang merasakan sakit yang sebelumnya sudah terluka dan kembali merasakan sakit saat mengingat ucapan bodohnya sendiri.


""Bego Lo Sagara ! Bodoh kok di pelihara, Mentari pasti kecewa berat ke Lo, dan siap siap saja mendapat sangsinya dari Mentari. Gue rela di hukum Mentari asalkan kamu tidak menjauhi ku."" Geplak Biru ke mulut tak berfilter sendiri setelah berucap sedih.

__ADS_1


Vote dan Lika juga Bunga bunga 🌹😘


__ADS_2