
Tap...
Tap...
Tap..
Langkah Biru begitu lemas berjalan ke brankar tempat peraduan damai Mentari. ia memilih mengambil antrian terakhir untuk menjenguk Istrinya, para Keluarganya sudah pergi untuk beristirahat kerumah masing-masing.
Rose pun terpaksa pergi karena paksaan dari Vane yang bertutur... Kalau kamu sayang kepada Mentari, maka jagalah kesehatan mu, bukan hanya demi Mentari tapi demi cucu kembar kita, Kita butuh tubuh sehat untuk bisa merawat si kembar bersama demi Mentari !!!
""Petite !" Biru mengecup lama punggung tangan Mentari yang terbebas dari selang infus, memejamkan matanya, mencoba kuat dan berpikir positif. Namun, Lagi lagi sesak dada yang terasa ! Dalam kecupan itu, air matanya menetes kembali namun langsung di usapnya, ia tidak mau lemah di hadapan istrinya, Ya....Ia tidak mau membuat istrinya terbebani lagi dalam kondisi koma seperti ini.
Tapi rasanya sesak sekali, melihat tubuh mungil itu di penuhi alat alat medis khusus. Kepala sampai kening terbungkus perban medis karena adanya luka benturan keras. Pengendusannya pun harus di bantu selang oksigen, Bahkan masih banyak lagi alat alat medis canggih untuk menempel di tubuh mungil istrinya sebagai penopang kehidupannya. Bagaimana ia bisa kuat melihat itu, Pasti sangat sakit rasanya. Batinnya bersedih.
""Sayang ! anak kita membutuhkan mu, apa kamu tahu sayang ? anak kita ternyata Triplets... Dua boy, Satu Girl ! Mereka sangat kecil kecil...Apa kamu mau melihatnya sayang ? Apakah kamu mau menyentuhnya Petite ? Kalau kamu mau, ku mohon ! Bangun lah dari tidur mu, Bangun dan beri mereka nama sesuka hati mu ! Kamu tidak boleh tidur terlalu lama ya sayang ?! kalau aku rindu suara mu bagaimana eum ? kalau aku rindu tingkah polos mu, bagaimana ?"" Suara Biru kembali bergelombang. Ia mengatur nafasnya yang mulai berat.
""Terimakasih sayang ! Terimakasih sudah memberikan anak sekaligus tiga untukku, kamu memang is the best."" Bisik Biru di telinga Mentari.
Hulk, Kamu curang ya ! Giliran aku yang berucap kata terima kasih ! Kamu selalu menghukum ku, aku pun mau menghukum mu hulk.
Biru tersenyum getir... Mengingat penuturan protes Mentari di waktu itu. Di larang mengucapkan kata terima kasih dalam hubungan hangat Mereka, Tapi di sini...Biru sengaja melanggarnya... berpikir, Kalau Mentari akan bangun dari komanya, dan langsung menghukumnya sekarang juga. "" My breath is you, Petite ! so you to wake up, Please !!!""
Biru perlahan menaruh telapak tangan dingin Mentari di pipinya, memegangi tangan itu agar tidak terkulai. ""Aku menunggu mu bangun dari tidur mu, Sampai kapan pun itu sayang ! Percayalah....Hulk mu akan menunggumu sampai di akhir hidup ku, Hati ku hanya milikmu, Jadi jangan membuat penantian ku sia sia ya sayang !""
Tes...Tes...Tes ! Gelombang sesak tertahan kembali tumpah dengan refleknya, membasahi punggung tangan Petite-nya...Hati seseorang sangat lah reflek terenyuh sakit jika melihat orang yang begitu di cintainya terluka walaupun hanya tergores sedikitpun, seperti Biru saat ini...Biru bahkan rela buta penglihatan agar dirinya tidak melihat tubuh itu dalam keadaan tak berdaya antara mati dan hidup. Rasa rasanya ia tidak kuat dengan cobaan ini, Tapi hatinya kembali positif jika mengingat bahwa dirinya sekarang punya dua jagoan dan juga punya ratu kecil di dalam ruangan NICU yang harus di pertanggung jawabkan sebagai orang tua.
"" Boss !"'
Biru segera menghapus air matanya, mendengar suara Dito yang tetiba sudah ada di dalam ruangan. Beranjak ke sofa yang berada di sudut ruangan.
__ADS_1
"" Jelaskan ?!""
Deg...
Dalam hati, Dito menciut mendengar suara singkat tapi sangat dingin dan penuh penekanan. Bos-nya berada di mood seram.
""Mobil orang yang oleng tersebut mempunyai kendala dalam ban bocor. Jadi itu yang membuat si pengemudi tidak stabil berkendara, di tambah lagi... Pria itu juga sedang dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol, bukti konkret sudah di tangan, Bos ! " Lapor Dito.
Biru mengeraskan rahangnya, suara gigi gemeletuk terdengar ngilu di telinga Dito, Astaga...Sisi singanya bangkit.
""Apa laporan mu ini sudah valid ? bisa di percaya ?""
""Valid dan saya yakin jika ini kecelakaan murni !"" Jawab Dito mantap.
""Bagaimana kondisi orang tak bertanggung jawab itu ? sialan benar !!! sudah mabuk malah berkendara !"" kesalnya.
""Meninggal Bos ! Pria itu meninggal dunia saat di evakuasi, Dia sudah merenggang nyawa di atas Ambulance."" Dito melirik takut takut air muka Biru yang sedikit dikit mengeraskan rahangnya, dan sedikit dikit hangat teduh mata itu jika Netranya melirik ke peraduan Mentari.
""Baik Boss ! Permisi.""
...*****...
Keesokan harinya...
Pekerjaan Dito di listnya bertambah lagi, Pagi dan sore hari, Dito harus membawa baju kantor Biru di pagi hari, sore hari..ia juga harus membawa kan baju santai untuk Biru.
Biru tidak mau lepas menjaga Mentari kecuali ia harus ngantor dan hanya untuk melihat anaknya dari kejauhan tanpa bisa di sentuh.
""Sayang ! Suami mu pamit bekerja ya ! Aku harap...saat aku pulang kerja, kamu sudah bangun ! Assalamualaikum !"" Hanya punggung tangan yang bisa biru kecup Karena selebar wajah Mentari di tenggeri Ventilator.
__ADS_1
""Ayo Dito !""
Biru pun keluar ruangan di kuntit Dito yang di belakangnya.
""Nah, ini kah orangnya ? Orang yang menabrak suami saya sampai meninggal ? kamu harus bertanggung jawab pria sialan ! aku menjadi janda karena mu, kamu akan saya penjarakan.""
Baru dua langkah pendek Biru dan Dito di lorong. Langkanya di cegah oleh makian tuduhan dari wanita lumayan cantik yang di perkirakan oleh Biru jika umur wanita ini sebaya dengannya.
Dada Biru di pukul pukul oleh wanita di hadapannya ini. Dan ia tidak suka ada wanita lain yang menyentuhnya, Hanya Mentari yang berhak menyentuhnya atau memukulnya. Dengan dingin dan tak menghiraukan kalau di hadapannya ini adalah seorang wanita, Biru menghempaskan tubuh molek wanita itu, terduduk keras di bangku tunggu.
""Jaga bicara anda ! jadi anda ini Istri dari pengendara mabok itu, eum ? Asal anda tahu Nyonya ! bukan saya akar dari kecelakaan ini, Tapi suami anda yang sedang dalam keadaan mabok ! dan ya.... kalau istri saya sampai tidak bertahan, maka siap siap saja anda mendapat hukuman dari saya. MENGERTI ?"" Dingin Biru dengan ancaman penekanan, Dito yang sudah berada di dekat Biru, bisa menebak kalau bos-nya ini tidak bermain-main dalam ancamannya walau pun itu adalah seorang perempuan.
Sang wanita manggut-manggut, menciut... dalam hati mengumpat kasar dan malah menyumpahi istri pria ini untuk meninggal dunia saja.
Putaran pijakan kaki Biru berbalik lagi yang tadinya akan pergi. maju ke hadapan wanita tersebut.
""Nyonya dari almarhum Abiyaksa Pramudya, Mantu dari salah satu Mentri negara ini. Betulkan ? Kalau menangis dan bersedih itu harus penuh emosi alami, bukan hanya di buat buat. dan sekedar mengingatkan, jangan berniat setitik pun untuk bermain-main dengan saya, atau bahkan mengusikku ! Kalau itu terjadi maka...."" Biru sengaja menjeda. ia ingin melihat wajah penasaran wanita ini. Dito dan anak buahnya kalau bekerja tidak lah setengah setengah untuk Biru, dari A-Z Dito menggali semua info dari orang yang berurusan oleh Biru.
Deg ! siapa laki laki ini ? apa dia tahu ?
"" Maka apa hah ? dan jangan menuduh saya hanya berpura-pura sedih atas meninggalnya suami saya.""
"" Begitukah ? bagaimana kalau saya membeberkan pose pose tak senonoh anda dengan si duda mertua sendiri."" Bisik Biru mengancam. Smirk devil pun terbit di bibir Biru, si wanita ini terkejut bukan main rupanya !
Deg...Air muka si wanita ini berubah pucat, rahasianya di ketahui orang... sangat bahaya untuk nya dan untuk sang pejabat negara mertuanya. ""Permisi !""
""Ya... pergilah ! selagi saya masih baik !"" Usir ketus Biru.
Saat ini, Biru hanya konsen dengan kesembuhan Mentari juga konsen dengan kesehatan perkembangan bayi bayi kecilnya.
__ADS_1
""Dit, kita ke NICU sebentar, aku ingin melihat anak anak ku. dan ohya..Utus Empat anak buah mu untuk menjaga istri dan anak-anak ku.""
""Siap Bos !"" Gugup Dito menjaga, Dari semalam setiap kata yang di ucapkan Biru terdengar sangat Dingin dan penuh penekanan. Cepatlah sadar ibu Boss, saya bisa kaku berdiri kalau sikap pak Boss semakin dingin tak berperasaan lagi.