RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 52


__ADS_3

Huaaaaa... Astaghfirullah adzim


Mentari kaget mangap mangap seperti kepedasan sambel berlevel Up bukan main, saat Arkan tiba tiba menghadangnya di pintu samping restoran dengan decakan pinggang galak, ia telat lagi yang kedua kalinya setelah beberapa hari yang lalu. Kena semprot lagi, hadeeeeh.


""Bagus ya ! Kamu telat datang tujuh menit, lima puluh satu detik, bagus bagus ! besok besok ulangi lagi ya untuk yang ke tiga kalinya maka saya akan memecat kamu di hari itu juga. apa kamu tahu nona lempeng, berapa jumlah pengangguran di Indonesia itu se-----?""


""Jumlah pengangguran di Negara kita di tahun ini yang sudah tercatat sebanyak 133,94 juta orang, Naik 2,39 juta orang di bandingkan tahun kemarin, Berarti TPAK alias Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah sebesar 69,20 persen, Meningkat 0,18 persen poin, Saya yakin persentasinya Valid, Saya bisa mempersentasikannya di luar kepala. Jadi apa ada lagi yang pak Arkan ingin tanyakan ?""


Mentari menatap lurus lurus Arkan, berharap sang bos ketus terkesima dengan kepintarannya yang memang di atas rata-rata.


"" What the fu*k are you talking about ? Saya tidak menyuruh mu untuk menghitung jumlah orang pengangguran Ta----?""


""Tadi kan pak Arkan sendiri yang bertanya, ya...saya jawab !"" Potong Mentari lagi tanpa dosa sudah membuat Arkan kesal bukan kaleng kaleng.


Arkan sampai meremas rambutnya, Frustasi ! dengan kepintaran Mentari dalam akademis tapi parah pakai banget dalam kepekaan. Jika terus menerus beradu argument dengan Mentari maka di pastikan, sakit Migrennya akan semakin parah.


""Ah, Sudah lah, Sana ganti pakaian mu, temui ibu Bina di pantry."" Arkan mengibaskan tangannya untuk mengusir Mentari, Berangsur memijat keningnya.


Drrrt Drrrt...


"" pak Arkan, Maaf sebelumnya, ibu saya tiba-tiba terkena serangan jantung dan masuk ke rumah sakit, jadi tolong jangan marah...saya tidak bisa menemani bapak untuk meeting hari ini, sekali lagi saya minta maaf ya pak ""


""Tidak apa-apa, Semoga ibu kamu cepat sembuh ?"" klik, Arkan Langsung mematikan telpon dari sekretarisnya. Masalah lagi, Si Nisa sang sekretaris cerdasnya tidak bisa mendampinginya Meeting dengan klien, padahal poin poin persentasi ada di otak sekretarisnya itu, sedangkan Meeting memperebutkan menjadi penjamu tamu di acara Gathering perusahaan besar harus ia dapatkan, Tapi waktunya sangat mepet satu jam dari sekarang, Bagaimana ini ? Siapa yang akan membantunya ?


Arkan berpikir keras, ia pun memiling miling nama nama para Staffnya, Siapa kah yang mempunyai gambaran cerdas yang bisa menemaninya.


Ahaaa...

__ADS_1


Ia akan membawa si nona lempeng, Otak waiters itu kan seperti ensiklopedia berjalan, otaknya fresh dalam menghitung angka angka dan kalimat. Fixed ! Manis Matahari eh Mentari Let's go.


Sepuluh menit kemudian, Mereka pun sudah berada di perjalanan. Arkan memberikan beberapa File untuk Mentari pelajari di jalan dengan hanya waktu kurang satu jam.


""Dengar ya Mentari, kamu harus membantu saya jika saya sedang mempersentasikan, kamu tidak boleh salah dalam persentase masalah angka angka profit, pokoknya kita harus bisa mengalahkan pesaing-----""


""Bisa diam tidak pak !"" Mentari menyela kecerewetan Arkan


""Apa ? Kamu kurang ajar ya ! Bos sendiri di suruh diam. Yang bos kan saya, kenapa kamu membent---!""


"" Saya sadar yang bos itu bapak, tapi kan saya butuh ketenangan untuk mempelajari file ini, bagaimana saya menghafal angka angka dengan cepat jika ada mulut cerewet yang menggangu.""


""Ya sudah, pelajari kembali !""


Dan Arjun Arkanas pun terdiam, kembali menyetir dengan tenang, Sesekali melirik si manis otak lempeng berkomat Kamit menghapal poin penting dalam file yang di pegangnya. Tanpa sadar bibirnya melengkung mengulas senyum manis. Selain manis ternyata si lempeng polos memang pintar.


""Hahaha, kamu hebat Mentari, Salut dengan otak mu itu, Kita menang dalam peraduan di ruang meeting itu."" Arkan menepuk nepuk lembut lengan Mentari yang sudah kembali menyetir setelah hasil meeting ia genggam. Pria keturunan Batak ini begitu senang dengan hasil persentase profit Mentari, Bahkan Arkan yakin jika Nisa sang sekretaris tidak akan bisa bertutur menyela dan menyela si lawan, Namun si boneka manis dari desa ini membuat para pesaing Skatmat.


Mentari melirik tangan Arkan yang masih bertengger di lengannya. ""Ih, pak ! Tangan bapak tuh berat ! Singkirkan, takut takut ada mbak Zila yang melihatnya dan berujung saya di tuduh sebagai pelakor.""


Mentari beringsut menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Setelah tangan Arkan mengudara, Memejamkan matanya yang sudah mulai berat setelah terjaga dari dini hari.


""Apa Zila pernah melabrak mu ?"" Tangan Arkan mencekal kuat setir mobil.


""Iya ! Di kampus, tapi sudah aman, dan Maafkan saya, apa kah setelah kejadian itu pak Arkan bertengkar dengan mbak Zila, ku harap si tidak ! biar saya tidak di tuduh lagi, saya tuh bukan tipe orang yang suka jadi pelakor."" Mentari berceloteh dengan mata terpejam, dan mata itu semakin berat untuk di bawa terbuka.


""Kalau Lakornya yang ingin di rebut bagaimana, apa kamu mau ?"" Arkan sudah mulai mengkode kode keras. Tidak ada sahutan dari Mentari, ia pun melirik ke samping. Aduh Buyung... Si boneka manis lempeng rupanya tertidur pulas dengan posisi meringkuk kedinginan di terpa AC mobil.

__ADS_1


Arkan berakhir menepikan mobilnya di pinggir jalan, Membuka jas hitam pekatnya untuk menyelimuti tubuh kedinginan Mentari. Gadis Rantau itu tidak terganggu saat Arkan menstail kursi mobil sedikit kebelakang agar Mentari nyaman di posisi tidurnya.


""Kamu sangat Manis Mentari."" Bahkan Mentari masih tidak terganggu saat Arkan menelusuri seluruh wajah Mentari dengan gerakan telunjuknya.


Cup..


Tanpa bisa menahan diri, Arkan mengecup ujung hidung mancung Mentari sekilas, Namun tetap saja boneka manis ini masih setia terpejam. Aduh ini anak orang kok gemesin banget ya ?


Shit, masalah besar ! dirinya akan terkena amukan keluarnya kalau ia jatuh cinta dengan Gadis lain, membatalkan rencana pertunangan dengan Zila tidak masalah baginya demi Mentari, Tapi....argh, Keluarga bagaimana ?


Dan Double shit untuk Arkan, Jantungnya kok jedag jidug tiba tiba ia rasakan ! Di tekannya dada itu yang sedang bergerumuh cepat.


berada di dekat Mentari, Lama lama ia bisa terkena penyakit jantung.


Aku benar benar akan mendapat masalah jika hati ini menulis nama mu di sana, Mentari.


Batin Arkan.


Tok Tok...


Arkan terkesiap, tersadar dari kekaguman atas kemanisan wajah Mentari yang masih terpejam saat ada orang yang telah mengetuk mobilnya. Arkan menurunkan kaca jendela mobil tepat di samping Mentari. Pak polisi !


"" Kenapa anda memarkirkan mobil di pinggir jalan pak ? apa boleh saya lihat surat surat penting untuk mobil ini, Sekalian SIM A anda."" Pak polisi lalu lintas melirik wajah terpejam Mentari, beralih menatap Selidik ke Arkan yang dengan sigap menyodorkan surat kepemilikan mobil.


Masalah lagi... Dumelnya menggumam, tapi sekilas tersenyum saat Mentari menggerakkan kepalanya yang hampir terjatuh, tapi dengan sigap Arkan memasang pundaknya sebagai penyangga kepala Mentari yang tidur seperti kebo.


Vote dan Bunga bunga

__ADS_1


__ADS_2