
Mentari mengerjapkan matanya berkali kali, meringis pelan seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing, perutnya pun terasa sangat nikmat... nikmat sakit nya ! ia bingung ada di mana ? Seingatnya tadi, ia berada di pelataran parkiran hotel acara resepsi Gemi. Namun tetiba Gelap ! Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi dan bangun bangun di dalam ruangan yang ia tahu ini adalah klinik praktek dokter, rumah sakit ? Tentu bukan, ruangan rumah sakit Besar tidak sempit begini, Ada macam poster balita, ibu hamil dan banyak lagi gambar kesehatan untuk ibu dan balita terpatri di dinding. Ini berarti klinik atau ruangan khusus kehamilan
""Hay Mentari ! Lama tak jumpa !""
Mentari menoleh ke asal suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Anita. ada Sahabatnya pun yang sedari tadi menatap nya diam duduk di kursi. Bang Sam.
""Hay Juga ka--!""
""Berbaring lah, kondisi mu masih lemah."" Potong Anita. Mentari tidak jadi bangun karena Anita kembali memeriksa nya menggunakan stetoskop. memeriksa tensi nya pun dalam diam.
""Apa yang kamu rasakan sekarang ?""
Mentari diam, ia fokus melihat kesibukan tangan Dr Anita yang mengambil Gel khusus yang Mentari tahu itu adalah clear ultrasound gel yang akan di oleskan ke perut orang hamil untuk memudahkan pendeteksi jantung janin. Tapi itu buat apa ? ia tidak hamil, buat apa Dr Anita mengolesinya di perut ratanya yang belakangan ini ia memang sering mengeluh keram tetiba. Apa jangan jangan...?
""Dr Anita, apa yang anda lakukan ? aku kan tidak hamil !"" Bingung Mentari. Namum ia kembali berpikir lagi, sudah dua bulan ia telat mendapatkan bulan. Kenapa ia tidak berpikir ke sana sebelum nya. Ogeb.. Rutuknya yang tidak engeh dengan tanda tanda mualnya di setiap pagi dan mualnya di setiap menghirup aroma Biru yang sekarang kebanyakan alkohol mendomasi suaminya itu.
""Tidak hamil ? Terus ini suara apa ? Tidak mungkin ini suara perut keroncongan kan."" Dr Anita tersenyum sumir, melihat senyum di wajah Mentari dengan tangis harunya seraya mengelus perutnya sendiri.
""Tar, apa gue harus nelpon laki Lo, nyuruh dia kesini ?"" Bang Sam bersuara, ia kasihan akan sahabat di depannya yang terlihat rapuh tapi sok sok kuat, bertopeng, ia sudah lama kenal Mentari, jadi air muka si Lempeng ini cepat di baca. Dan tadi di pelataran parkiran, untung saja ia mengekori langkah Mentari yang meninggal kan acara Gemi, jadi ia bisa menolong Mentari yang tetiba pingsan di hadapan matanya. Serta merta keberuntungan berpihak, ada Dr Anita pun di parkiran tersebut, tadi. dan berakhir mereka ada di kediaman Dr Anita malam malam begini.
Mentari menggeleng, menolak. ia takut kehamilan nya menjadi fitnah baru, kalau Biru mengetahuinya sekarang sebelum fitnah awal belum ada titik terang nya. bungkam lebih baik terlebih dahulu. Ia takut kalau janin nya di ragukan oleh Biru, Ia takut ! Takut mendengar penolakan Biru untuk anaknya sendiri, kalau sampai ia mendengar penolakan itu maka susah baginya untuk bersabar lagi.
""Kenapa Tari ? Biru pasti senang dapat kabar baik ini, Secara suami mu itu sangat mencintai mu."" Puji Dr Anita akan sikap Biru ke Mentari yang tidak tahu apa apa sekarang.
Sangat ? entah lah...aku pun sudah tidak mengenalnya. Batin Mentari perih. Tersenyum kecut menertawakan diri sendiri.
__ADS_1
""Kondisi janin saya, sehat kan Dok ?"" Mentari mengalihkan pertanyaan Dr Anita. ia tidak mau sedih untuk malam ini, demi kandungan nya.
""Nah itu dia, saya bertanya tadi, apa yang menjadi keluhan mu sekarang, Soalnya detak jantung janin mu dalam keadaan tidak normal, Tensi mu pun sangat kurang 90/60 mmHg dan itu sangat berbahaya bagi ibu hamil."" Jelas Dr Anita, menatap dalam manik Mentari yang terlihat banyak masalah.
""Perut ku sering keram, Kalau habis melakukan---!"" Mentari terdiam, ia tidak mungkin berkata sesungguhnya jikalau setelah Biru menggalinya dengan kasar dalam keadaan mabuk. dan ah....pantas ia sering mual menyium aroma tertentu, rupanya kehamilan ke-dua nya sangat cengeng kali ini tidak seperti saat mengandung si Triplets.
""Habis ?"" Tanya Dr Anita, sejurus kemudian mengangguk mengerti akan ketidak nyamanan Mentari yang akan berucap intim, ia kan Dr...jadi ia tahu kenapa ?
Dan Dr Anita pun sedikit memberi saran untuk tidak melakukan itu dulu secara berlebihan, dan menjelaskan berapa umur kandungan Mentari dalam perkiraannya, serta mengingat kan pola makan seperti biasa untuk ibu hamil pada umumnya.
Tujuh minggu ? Bahkan Bunda tidak pernah memperhatikan mu, sayang ! Maaf, Bunda baru tahu akan kehadiran mu. Mentari menangis lagi, sangat cengeng. Rutuknya.
""Dr Anita, Terima kasih banyak akan pertolongan mu dan semuanya, saya pamit."" Merasa sudah enakkan, Mentari beranjak dari tempat tidur di bantu Bang Sam.
Mentari hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya pun yang sudah berada di dalam kabin mobil Bang Sam.
Aih, Kalung Mentari terjatuh. Pungutnya di teras. Membaca inisial itu. Sagara ! manis sekali. Batinnya memuji.
""Pasti kalung nya sangat berarti untuk Mentari, ah..aku telpon saja lah untuk memberitahu kan.""
Namun, suara telpon asing pun berbunyi di sela tempat tidur yang di gunakan Mentari, Tadi.
Ceroboh sekali kamu Mentari. Geleng nya... Handphone Mentari pun tertinggal.
...*****...
__ADS_1
""Dari mana kamu ?""
Mentari terloncat kaget di depan pintu, Lampu kamar tetiba menyala terang yang tadinya gelap gulita. Mabuk lagi. Batin Mentari malas untuk menjawab Biru.
""Hulk, menjauh lah... Aroma mu sangat menjiji--- hoek !"" Mentari terjeda akan rasa mualnya. ia berlari cepat menuju tempat membuang hasrat jijiknya. ia keluarkan air kekuningan nya di pertengahan malam seperti ini, dulu....Waktu hamil Tripletsnya, ia akan lapar di jam jam malam ini, tapi ini.... jangan kan mengingat makanan, rasa rasanya... perutnya sudah kenyang dikerjai Biru.
""Kamu dari mana hah ? larut malam begini baru pulang ? habis dari Langit, begitu ? Hahaha....aku menunggu mu di sini Men---Petite. Ayo sini... layani aku seperti kamu mela----!""
Plaaak....plaaaak.
Dua kali tangan lembut Mentari mengenai pipi Biru yang akan mungkin berucap ngaur dan berujung menghinanya sebagai istri yang berkhianat tapi sungguh...ia masih terjaga. Ia terluka tapi tidak berdarah darah. ia menangis tapi hanya dalam diam. itulah perasaannya sekarang. Hancur.
Ah, harusnya ia tidak pulang malam ini saja sekalian. harusnya ia tahu Biru akan berakhir bermain kasar padanya sampai suaminya yang sudah tak tergapai nya ini puas memilikinya. ia tidak mau melakukannya bukan untuk menolak permainan kasar Biru, melainkan demi janin nya di dalam sana yang tidak boleh mendapatkan pergerakan kasar. Bagaimana ini ? Bagaimana cara menolak Biru yang saat ini sudah berhasil menariknya ke atas kasur yang terlihat sangat meracau kemana mana. ini bukan Biru melainkan setaaan sialan menyerupai suaminya.
""Jangan lakukan Biru ! ini bisa menyakiti ku dan menyakiti Janin ku !"" Pinta Mentari menolak.
""Kenapa kamu menampar ku, Mentari ? apa aku salah dalam berucap ?"" Biru tak sadar akan apa yang di ucapkan Mentari.."... Bantu aku Mentari ! Bantu aku untuk membuang separuh ingatan ku yang sudah di penuhi Penghianat mu, aku benci Penghianat seperti mu, tapi separuh hati ku masih menginginkan Penghianat ini. aku lelah ! Sangat lelah !"
Aku akan membantu mu, Hulk. Kamu tidak akan lelah jika aku.... pergi.
Mentari hanya bisa berbicara dalam hati dengan air mata tertumpa tanpa suara di bawah tindihan Biru yang sekarang menghabisi kemanisan bibirnya.
Aku sudah di titik-titik terendah, sudah cukup...!!!
Walaupun kecewa, Mentari selalu memberikan kecupan selamat tidur di kedua mata Biru yang sudah tidak sadarkan diri, terpejam lelah setelah menggalinya dengan lagi lagi berujung Membuat perut Mentari meronta keram.
__ADS_1