RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 200


__ADS_3

" MENDUNG ! APAKAH KAMU LUPA DENGAN WAJAH ISTRI MU INI ?""


Mampus ! Suara tajam penuh penekanan itu....? ""SENJA ?"" Batinnya.


Langit yang tadinya melengos melewati berdirinya Senja dapat tekanan suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia sudah kekeuh ke Satria, kalau itu adalah Senja, Tapi kata Satria... Lo itu sedang ngantuk bro, Masa wanita lain Lo kira Senja, Waaaah parah euy !


Awas kau asisten, potong gaji !


""Mana ada, Sayang ! Aku hanya bercanda, haha !"" Kelitnya tertawa garing dengan wajah tak berdosa, Berbalik penuh kebelakang tepat di hadapan Senja.


"" Begitu kah ? Aku kira sudah bosan hidup."" Ketus Senja. Satria terkikik pelan di belakang Langit yang berhasil menggoda sang Boss plus sahabatnya.


Pertengkaran ketus itu hanya di bibir saja, karena eksepsi tubuh mereka sedang berpelukan mesra penuh kerinduan satu sama lain. Membuat Satria seperti obat nyamuk saja.


""Aku hampir gila karena merindukan, Itik.!"" Langit mengeratkan pelukannya.


""Kalau kamu gila, maka aku akan kabur...."" Sahut Senja masih dengan godaannya. melepaskan pelukannya. ""....Ayo kita pulang."" Lanjutnya ke Satria menyuruh bergabung dalam satu mobilnya.


""Hmm, Sorry nih ya, Gue nggak bisa ikut, pertama karena gue ada perjalanan keluar kota, mumpung sekarang ada di bandara, jadi sekalian saja. kedua, gue nggak mau jadi obat nyamuk di dalam mobil."" Sindirnya.


Langit menatap wajah Satria dengan selidik, Bukan karena penuturan godaannya, melainkan yang katanya ada perjalanan keluar kota. Perasaan pekerjaan di luar kota lagi kosong.


""Keluar kota ?"" Selidiknya dengan alis terangkat.


""Iya, pribadi boss, izin satu atau dua hari ok, demi masa depan Asisten setia mu ini."" Satria mendekat ke telinga Langit. "" Jum !"" Lanjutnya berbisik.


""Hahaha."" Geli Langit mengejek perjuangan Satria yang belum ada hasilnya selama tiga tahun lebih mengejar pujaan hatinya. ""Satu minggu untuk mu."" Lanjutnya memberi dukungan. Satria memberi Jempolnya, memuji akan pengertian Langit.


"Haloha...Apa ada rahasia yang tak boleh aku ketahui, woman ini seperti tak kasat mata saja."" Senja menatap dua pria di hadapannya bergantian.


""ini urusan perjuangan sayang, ayo kita pergi...Sat, sukses bro !:"


Langit pun pergi menuju parkiran meningkalkan Satria yang kembali masuk ke arah pembelian tiket, mendadak.


Di parkiran, Langit naik duluan ke kabin belakang, Senja yang akan membuka pintu kabin depan sebelah kemudi jadi bingung, Siapa yang nyetir kalau Langit di belakang, apa ia lagi ? Kan ia kesini tidak di sopirin melainkan ia sendiri yang menjemput.


""Tuan Langit, Apa kah istri mu ini yang akan menjadi sopir mu, eum ?""


""Kamu ke sini---?""


Senja langsung mengangguk.

__ADS_1


""Astaga, berani ya sekarang tanpa sopir, aku tidak suka itik, kalau ada apa apa di jalan bagaimana eum ? ayo masuk."" Langit keluar dari kabin belakang seraya melipat lengan kemejanya sampai sikut.


Senja hanya tersenyum manis akan ocehan penuh perhatian suaminya. duduk santai dengan mata Terus memperhatikan wajah Langit yang nampak lelah.


""Petir ada di mana ?""


""Di rumah Papa !""


""Bagus !"" Seringai Langit dengan tatapan mata penuh rencana.


""Bagus ? Apa tuh ?""


Langit hanya tersungging tipis Seraya menyalakan mesin mobilnya. Di otaknya sudah tak sabaran ingin bermesraan dengan istrinya.


...****...


""Hotel ?""


mobil Langit memasuki pelataran hotel, membuat Senja Bingung, kenapa suaminya berhenti di hotel ?


""Apa Ada urusan di sini ?"" Tanya Senja penuh kebingungan, turun dari kabin yang sudah di bukakan pintunya oleh Langit.


""Ya... urusan sangat penting !""


Senja akhirnya tahu maksud si mendung ini yang memesan suite room, cuma ia hanya berpura-pura bodoh di setiap sela langkahnya.


Sampai di kamar, Langit seketika meraup tubuh Senja yang langsung terpekik hebat.


""Mendung, Untung Jantung aku tidak ada masalah."" Ketus Senja akan terkesiapnya. "" Kalau aku mati menda---Mmmph.""


Tak suka dengan penuturan asal alasan Senja, Langit segera membungkam mulut Senja dengan serangan bibirnya yang masih dalam gendongannya yang seperti koala. duduk perlahan di sofa panjang dengan bibir itu masih menyatu.


Terlepas paksa akan rontaan Senja yang sudah kekurangan oksigen, tangan itu pun menjawil mesra ujung hidung Langit yang masih di atas pangkuan suaminya. ""Sudah tidak sabar rupanya !!!"" Sindirnya menggoda.


""Eum, Petir butuh teman sayang."" Rayunya membujuk.


""Lakukan !""


Tatapan Langit langsung mendamba, mendapat lampu hijau dari istrinya, ia kembali bermain lembut di bibir sensual Senja dengan tangan sudah merambat nakal membuka kancing demi kancing baju milik Senja.


Dan tanpa ada gangguan dari siapapun, mereka berulang kali main Smackdown smackdownan sambil saling piling pilingan dengan suara Ah uh ih, tanpa adanya wasit di dalam ruangan suite room itu.

__ADS_1


...****...


Di kediaman Batara, Rose dan Radja duduk berjauhan di ruang keluarga dengan Bima dan Risma di antara mereka yang sedang bersidang nyap nyap dengan pasal dan UU yang di buat buat keruh oleh mereka.


Pasalnya, Risma dan Bima mendapat laporan dari si pintar Triplets kalau dua sejoli yang tak memiliki hubungan halal ini tidur satu ranjang semalaman di apartemen Biru. Bunda mereka semalaman kan tidur berlima dalam kamar pribadi Ayahnya. Jujur si Badai dengan polosnya mengaku ke Risma dan di iyakan Biru di layar telpon dengan takut takut, Takut sang Mertua marah kepadanya, kalau Radja...kagak mungkin marah dia, palingan juga jingkrak jingkrak dalam hatinya...Batin Biru.


""Ma, Pa ! si Kembar di percaya, itu hanya kenakalan mereka saja. Kami memang satu kamar, tapi demi semesta kami tak melakukan zina, kecuali pelukan dan ciuman tak sengaja.""


Rasa rasanya, Rose seketika ingin menggigit lidahnya sendiri yang main ceplos mengakui kejadian di malam itu.


""Kan ada Mentari di antara kami !"" Lanjutnya membela diri.


""Mentari semalaman tidur bersama Biru Rose, masa Mantu dan anak anaknya yang masih suci berbohong."" Ujar Risma membantah.


Mata Rose melirik tajam ke Radja yang duduk santai macam di pantai. Ini manusia satu kagak ada pembelaan satu kata pun, nyebelin ! Umpat Rose yang tak mau jelek namanya.


""Rose, benar pa, ma ! Kami tidak melakukan apa-apa."" Akhirnya Radja bersuara juga, tapi dalam hatinya, berkata... desak aja ma pa, aku siap bertanggung jawab.


""Tapi tidur bersama pun namanya dosa sayang."" Risma menatap lembut manik Rose.


""Terus, bagaimana dong ? Rose tahu...Tapi ini kan demi Mentari ma, Pa ! Dia mengira Radja adalah Bang Dewa. Ah..Serba salah aku !"" Desis Rose prustasi.


""Nikah saja sayang, agar tak ada fitnah dan dosa !"" Bima yang sedari tadi diam, mengeluarkan suara tegasnya dengan nada lembut. Rose terdiam memikirkan segala sesuatunya dengan matang. Menikah ? dengan usia yang sudah di bilang akan tuir.


Dalam hati Radja, sudah memuji muji jaya papanya. Tapi ia tidak mau egois dengan kesenangannya sendiri, ia juga tidak mau melukai hati Rose yang terpaksa akan keadaan yang di anggapnya malam itu hanyalah hal sepele.


""Pa, Ma ! Radja tidak mau menikah dengan paksaan, apalagi wanitanya menerima karena desakan...Ingat kan kalian masa lalu Radja bersama Mantan istriku. Tapi kalau boleh jujur sih, Radja memang menginginkan Rose menjadi istri Radja, Bukan karena surat Dewa yang menyuruh kita menjaga Rose dan keluarganya, melainkan hati ini memang menginginkan Rose, dan kamu Rose...Masa lalu indah bersama Dewa memang hak kamu untuk mengenangnya, semua punya masa lalu, Tapi masa depan itu perlu, Perlu bahagia dalam kenyataan, bukan bahagia mengenang masa lalu yang tidak bisa dan mustahil di gapai... kamu juga butuh kebahagiaan di masa masa tua mu nanti, anak anak tak selamanya ada di saat kita butuh hiburan, tapi yang namanya pendamping pasti selalu ada di dekat kita. Sakit, bahagia, bersedih, dan apapun itu sang pendamping hidup akan selalu berada di dekat kita. Ma Pa, jangan paksa Rose, lupakan Ucapan ngaur si kembar. Permisi !""


Radja beranjak setelah bertutur panjang lebar penuh keseriusan setiap kata katanya. Bima dan Risma speechless menatap punggung Radja yang pergi begitu saja.


Mata hati Rose seketika ternganga lebar lebar, Benar kata Radja, Masa lalu hanya masa lalu. Cintanya pada Dewa hanya masa lalu yang indah untuk di kenang namun sudah tak nyata, Tapi cinta Radja yang besar penuh perhatian kepadanya wajib di balas dengan cinta nyatanya. Pria ini sudah begitu sabar menunggunya, cintanya Radja sangat besar untuknya.


""Aku mau menikah dengan mu, Radja ! Bukan karena alasan lain yang embel-embel ini itu, ini dari lubuk hati ku yang paling dalam. Tapi dengan syarat, Kita harus bersabar menunggu Mentari sembuh dalam Ingatannya, Karena tanpa persetujuan dari anak anak maka di dalam hubungan yang belum di mulai ini pasti tidak akan berkah.""


Radja berhenti dari langkahnya yang hampir termakan oleh pembatas tembok, mengucak ucak daun telinganya, berharap ia tidak salah dengar. Ia pun berbalik penuh dengan tatapan minta mendengar ucapan Rose yang kedua kalinya.


""Coba sekali lagi !!!""


""Tidak ada pengulangan !"" Ketus Rose merasa malu seketika menyadari kalau ada Risma dan Bima di hadapannya.


""Hahaha !"" Gelak Bima dan Risma menggoda.

__ADS_1


Yes...yes....yes !! Jingkrak Radja meninju angin. Kelakuannya sudah seperti Abegeee yang baru puber. Rose malu sendiri, bahkan wajah itu sudah blush on alami.


__ADS_2