
""Apa keuntungannya buat gue atas pertolongan gue ke Lo!"" Ujar Langit. sudah menterjemahkan bahasa negara panda yang berbelit di otak Senja.
""Apa pun ? yang penting gue bisa mendapatkan tumbuhan penawarnya dari gunung yang Satria beri tahukan."" Sahut Senja rela melakukan apapun untuk kesembuhan Ammanya.
"" Ok ! Kalau gue meminta Lo untuk menggugat cerai gue duluan, bagaimana ? Di tambah Lo juga harus menjelaskan tentang Fitnaan Lo ke Gue di kala waktu itu ke semua orang, bersedia ?"" Pinta Langit bernegosiasi ingin bebas dari pernikahan bodoh bersama Senja dan ingin pula bersih namanya dari tuduhan Senja. "" Satu lagi, Lo juga harus mundur dari perusahan yang Lo pimpin sekarang."" Tambahnya.
"" Eum, baiklah...Apa pun itu Permintaan yang kamu inginkan, saya akan turuti.!"" Setuju Senja, tapi di dalam hatinya, ada rasa berat untuk menyetujui keinginan Langit. Senja mulai sadar kalau sebenarnya ia lah yang kalah, Hatinya akan terluka dalam permainannya sendiri, ia bodoh tidak membatasi hatinya dalam permainan ini, ia tidak terlalu memperdulikan peringatan keras dari Bang Sam. Senja sudah jatuh cinta plus akan patah langsung seperti ranting kering sebentar lagi.
Begitulah lah kurang lebih pembicaraan Antara Langit dan Senja di saksikan oleh Satria dalam perbincangan singkat semalam.
Dan di sini lah Senja dan Langit berada, di kaki gunung. Setelah menempuh perjalanan dini hari dari kota, sampai juga di kampung asri di pagi hari ...di bawah gunung di salah satu kampung yang terkenal mempunyai tetumbuhan berkhasiat untuk kesehatan. atas saran dari Satria tentang bukit yang lumayan tinggi. gunung ini akan di daki oleh kaki lembut Senja di temani Langit di sampingnya yang ikut dalam rasa senang, karena perjanjian telah di sepakati. Langit akan terbebas dari Itik ini... pfhuuuuu.... Legah rasanya. Senangnya dalam hati. Berhasil atau tidaknya obat yang akan di buat oleh Senja...di sini Langit tidak perduli, Ia sudah menang, pikirnya, akan membuat Senja terhempas dari kehidupan bebasnya.
""Mulai !"" Ujar Senja melirik Langit yang nampak semangat.
""Ya Ayuk....mulai dengan cepat agar semuanya kelar !"" Sahut Langit penuh maksud. Senja berjalan duluan untuk memulai pencariannya di atas bukit. berdoa dalam hati agar usahanya kali ini membuahkan hasil yakni kesembuhan Ammanya. Masalah hati, biarkan terluka baginya, waktu akan menyembuhkannya yang penting sebagai anak, ia bisa membantu Amma-nya.
Perjalanan satu jam pun mendaki, Tapi belum mendapatkan hasil, mereka baru sampai di tengah tengah bukit, Perjalanan yang tadinya lancar lancar saja, kini mulai sedikit berliku karena begitu banyak terjal yang tak terkira dari hutan di tambah tumbuhan ganas berduri pun semakin banyak yang harus di lewati.
Senja masih memimpin jalan, dengan kayu panjang di tangan sebagai alat bantu pembuka dari rerambatan tumbuhan liar.
""Itik masih lama nggak sih ? gue capek tau nggak."" Keluh Langit seperti anak manja.
Senja berhenti dan berbalik menatap Langit yang duduk asal asalan. ""Ck, manja tahu nggak !"" Ledeknya seraya mengeluarkan air mineral dari ransel punggung sedang. ""Nih, minumlah !" Tawar Senja. ia tahu pasti Langit sedang haus karena pria bodoh ini tak membawa bekal apapun hanya membawa tubuh kekarnya saja layaknya akan bergaya di catwalk.
__ADS_1
Langit tak menggapainya, hanya melirik selidik saja layaknya sedang curiga. apakah ada racun di sana ?
""Ck, Ya sudah kalau tidak mau, mati saja dalam kehausan."" cebik Senja. dengan perlahan ia sendiri yang meneguk duluan air itu sampai setengah.
""Hais, Lo nawarin tapi mau menghabiskannya sendiri."" Rebut kasar Langit sampai air itu berakhir tumpah ke baju Senja.
""Hu."" Kesal Senja tertahan, ia hanya melirik malas ke wajah tampan Langit tapi ngeselinnya ke ulu hati. ""Bagus ! nikmati kehausanmu sampai dalam waktu tak menentu."" Delik Senja memulai kembali pencariannya.
""Itik ! tungguin, istirahat kenapa ? Lo kagak capek apa ?""
Langit berdiri, dengan cepat menarik Senja kebelakang sehingga tubuh semampai itu terpental masuk ke dadanya.
Seketika mata itu bersibobrok cukup lama dalam terdiamnya masing-masing, Senja lagi lagi merasakan jantungnya jedag jedug hebat. Matanya terhipnotis akan ciptaan Tuhan di hadapannya ini.
Senja tak menjawab, ia menurut menjauh dan memilih menghadap kedepan untuk menetralisir dadanya yang bergerumuh bodoh."" Ayo lanjutkan perjalanan, nanti bisa bisa akan terjebak kemalaman, saya tidak akan pulang sebelum tumbuhan itu ada di genggaman saya.""
""Tumben banget nadanya begitu lembut, kesurupan kah, aneh ?"" Gumam Langit seraya mengikuti langkah Senja. Sejurus ia mengulas senyum manisnya begitu saja tanpa di paksa.
Langkah demi langkah letih berlalu, peluh pun semakin menghiasi tubuh mereka, kini Senja dan Langit sudah berada di atas puncak gunung.
""Wow, keren !"" Takjub Langit senang akan pemandangan alam. Senja yang melihat itu ikut tersenyum manis di samping Langit. Ia mengeluarkan ponselnya, diam diam memotret Langit yang sedang merentangkan tangan dengan mata terpejam.
""Tampan."" Celetuknya spontan.
__ADS_1
Langit samar samar mendengar celetukan Senja yang lirih. ia membuka matanya, tapi melihat Senja sudah mulai berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
Senja mulai sibuk dalam dedaunan yang di butuhkan, senyum penuh harap selalu terhias manis di bibir seksinya. Dari arah sedikit jauh, Langit melihat senyum itu. ""Cantik ! tapi menyebalkan.!"" Gumamnya. Seraya menunggu Senja selesai dengan kesibukan yang bodo amat olehnya. Ia memilih untuk memotret dirinya sendiri dengan pemandangan luar biasa indah ciptaan Sang kuasa.
Cekret...
Tiba tiba Senja masuk dalam selfi Langit dengan pose bersama begitu manis dan Mesra di hadapan Langit seraya tersenyum lebar.
""Yaak, itik ! apa apaan Lo ini ! sudah seperti setan saja."" Cebik Langit memperhatikan potret Senja bersama dirinya di dalam layar tersebut. Senja tersenyum manis akan kecemberutan si mendung ini, biarkan saja si mendung mendumelinya sesuka hati, toh.... sebentar lagi mereka akan end alias pisah dalam ikatan pernikahan bodoh yang membuat dirinya yang terjebak akan perasaannya sendiri, biarkan ia memendamnya sendiri, Cintanya mungkin baru tumbuh, tapi rasa itu sudah mendaging di dalam sana. Tumbuh sendiri, maka akan mati sendiri.
""Cantik kan, gue ? jangan di hapus buat kenangan Lo di saat kita sudah pisah, nanti."" Bangga Senja akan perangainya.
""Cih, siapa Lo ? terserah gue, hp hp gue, mau gue hapus atau tidak, hak gue !"" Langit ingin mendelete foto tersebut, Tapi dengan cepat Senja merebutnya dan berlari menjauh.
"" Yak itik, balikin hp gue !"" Tukasnya mengejar Senja.
"" Pinjem sebentar saja, Biarkan gue yang menyimpan foto ini."" Seraya berlari, Senja mengotak atik hp Langit, berniat mengirim ke layarnya.
Hap, Sebelum Senja menekan tombol kirim, Langit sudah merebut kembali layar pintarnya. "" Jangan harap bisa ngambil apa pun itu dari milik gue, Lo kagak berhak... Walaupun sekedar foto gue, mengerti ! tidak ada gunanya menyimpan foto seseorang yang hanya membuat luka dan membuat perasaan sakit di hati, dan Lo harus tahu, Lo bagi gue tidak pantas untuk di kenang, Bikin masa indah gue yang akan datang menjadi buruk saja, Paham !"" Langit memasukkan layar pintarnya ke dalam sakunya sebelum si itik ini merebutnya kembali.
""Eum, benar ! Tidak perlu di kenang !. saya adalah kesalahan dalam hidup mu yang tiba-tiba datang menghancurkan hari bahagia mu, maaf untuk itu, ayo kita pulang, jangan sampai kemalaman di atas gunung."" Senja berjalan cepat di depan, meningkalkan Langit yang tetiba mematung.
Entah kenapa, Perkataan Langit begitu menusuk hatinya. Senja sudah game over dalam permainannya sendiri. Bodoh amat sih gue ! Hahaha, miris sekali dirimu Senja. menyedihkan. Ledeknya akan dirinya sendiri. ia berjalan seraya menghapus foto Langit yang baru saja di ambilnya saat Langit merentangkan tangan dengan mata terpejam. Benar, kata Langit, tidak perlu di kenang.
__ADS_1