
Suara tangisan bayi menggemah di dalam ruangan persalinan.
Rose, Chris, Radja juga Bang Sam, serta Satria di luar ruangan terpekik legah. Rupanya sudah brojol, pikir mereka.
Bang Sam saking tak sabarnya kepingin tahu rupa bayi itu mirip siapa ? mengintip sedikit di cela pintu yang tidak terkunci. Namun....Bugh ! terjerembab plus ketahuan ngintipin persalinan bini orang.
""Ngapain Lo ?!!"" Langit yang membuka pintu berdiri pas jatuhnya Bang Sam, Sampai Bang Sam sedikit mengendus sepatu mengkilap miliknya.
Bang Sam segera bangkit, menggeleng geleng dengan khas senyum lenjenya.
Hihihi... Chris, Radja, Bang Sam dan Satria tertawa pelan geli.. Melihat penampilan Langit yang berantakan parah. Baju acak acakan, Rambut kimis kimis jadi awut awutan. Rose hanya menggeleng kecil datar. Sementara Bang Sam yang pas berada di depan Langit sudah terbahak bahak. Tidak ada lagi Langit rapi tampan, melainkan pria yang rasa rasanya habis di lecehkan.
""Ck, ada yang lucu kah ?"" Malas Langit. Namun wajah itu terlihat semberinga. ia senang sudah menjadi Papa. Tak perduli penampilannya, yang menjadi objek pelampiasan senja pas lagi persalinan, Cakaran senja pun ada di beberapa titik inci tubuhnya.
""Bagaimana ? Cucu dan anak Amma, Sehat !"" Rose ingin masuk, Namun di tahan oleh Langit.
""Sehat semua Amma ! Cuma itu--!"" Langit mendekat satu langkah di hadapan Rose. ""Cuma 'Itu' nya lagi di jahit sama Dr Anita...Eh, entah sakit atau entah baru merasakan malu, Jadi Senja pingsan !"" Lanjutnya berbisik karena ia tidak mau para laki laki lain di hadapannya ini bertraveling, Para laki laki di hadapannya pun pada bingung, Langit berbisik apa ke Rose ?
""Ada rahasia kah ?"" Penasaran Chris dengan wajah keponya.
Satria, Radja juga Bang Sam pun penasaran, kompak menunggu sahutan dari Langit atau dari Rose dengan wajah seriusnya.
""Makanya mantu Amma ! ini tuh peringatan keras ! Kalau wanita itu perlu di agungkan oleh para laki laki, Kenapa ? Karena perjuangan seorang wanita melahirkan kalian kalian tuh penuh perjuangan antara hidup dan mati. Ngedennya serasa memecahkan pembuluh darah. ingat ya Langit... Setelah ini puasa ehem ehemmya selama empat puluh hari atau tiga bulan sekalian.""
Dan Rose pun beranjak masuk meningkalkan lima kepala laki laki yang mencerna perkataan Rose. Sejurusnya mereka pada meledek Langit tentang perkataan Rose yang katanya berpuasa ehem ehemmya.
""Ck, kalian ya... Selalu menyebalkan !"" Dengus Langit. Tapi berhambur masuk kedalam pelukan hangat Chris. ""Cucu papa jagoan... Tampan seperti aku !"" Adunya senang.
__ADS_1
""Selamat sayang !"" Tepuk Chris di pundak anaknya.
Selamat !!! Kompak tiga pria yang lainnya.
Kebahagiaan hangat itu di lihat oleh Biru dari kejauhan, tidak ada niat ingin mendekat untuk berbasa-basi sedikit pun. Hidup mu beruntung Langit, selamat berbahagia. Jujur...dari hati yang paling dalam, ada rasa iri yang menghinggapi jiwanya....andai Mentari-nya tidak sakit...maka yang paling bahagia adalah dirinya. Namun Tuhannya sedang sayang kepadanya, mengujinya di titik paling terendah.
Di diri itu, sudah tidak ada lagi yang tengil, ramah, hangat di dalam keluarga besarnya saat ini...Ia Bagaikan orang lain, berubah menjadi dingin sedingin dinginnya, saat ini mungkin yang bisa menghangatkan hati itu...Ya cuma satu, Mentari atau juga mungkin anak anaknya.
...****...
"" Nit, Boleh ?""
Astaghfirullah
Anita terperanjat kaget, ruangannya main di terobos Biru dengan suara datar singkat dingin. Mendadak atmosfer ruangan jadi berbeda.
""Boleh ? Apa tuh ?"" Bingung Anita kurang mengerti keinginan Biru.
Setdaaah..singkat amat. Batin Dr Anita nambah ngeri aja akan perangai Biru yang semakin hari semakin ngeri di penglihatan. Ia tahu maksud Biru setelah mendengar kata NICU, yang minta ijin untuk menemui Tripletsnya secara kontak fisik langsung.
""Sebenarnya sih tak masalah untuk bayi prematur yang tanda kutip tidak terlalu kecil. Tapi Bi, Anak anak mu butuh penjagaan khusus dari pada prematur bayi lainnya, kamu tidak boleh asal sentuh saja...Bayi mu rentan akan virus jika asal asalan. Dan disisi lain sesekali memang di perbolehkan orang tuanya untuk bersentuhan langsung, tapi peran itu harusnya Mentari yang melakukannya, ASI nya Mentari sangat lah membantu si kembar, tapi di sini-----ah, maaf ! saya mengijinkan mu tapi dengan satu syarat ?" Anita hampir menampar Biru dengan kata katanya yang Mentari sedang Koma. Walaupun kenyataannya begitu, tapi ia mengerti akan hatinya Biru yang sesak akan kondisi isterinya.
"" Syarat ?"" alis itu terangkat penuh
""Eum, pulang lah terlebih dahulu... Bersihkan diri mu dari kuman kuman suram...Ish, kalau Mentari sadar nanti, mungkin saja Istrimu tidak akan mengenalimu, Biru teman yang baik dan juga teman tampan gue sudah hilang."" Canda Anita sudah mood teman bukan sebagai dokter.
"" Gue pergi !"" Pamitnya masih kaku tanpa ada senyum sedikit pun.
__ADS_1
Pyufhuuuu... Cepat lah sadar Mentari, laki Lo seperti monster sekarang.
...****...
Tak butuh waktu lama, Biru kembali lagi kerumah sakit dengan penampilan rapi layaknya Biru yang dulu saat saat bersama Mentari. Ada sedikit rasa hangat di hatinya, akhirnya dalam beberapa Minggu bayi bayinya di lahirkan, ia akan melihat secara dekat dan menyentuh buah hatinya walaupun hanya sebentar saja.
""Bapak harus melakukan serangkaian prosedur sterilisasi agar di perbolehkan masuk yang Juga sangat penting bagi kesehatan bayi bayi bapak.""
Biru hanya mengangguk tipis sebagai persetujuan peringatan dari suster penjaga NICU.
Tap...Tap...Tap... Langkah Biru semakin dekat dengan bayi pertamanya, Haru dan sedih bercampur aduk. "' Boy !"" Sapanya keanak pertamanya yang sampai saat ini pun ia belum menyematkan nama ke anak kembarnya. Biru masih berharap Mentari sendiri yang akan memberi nama ke anak kembarnya. ""Little boy dan my princess."" Senyum itu seketika hangat. Saat melihat putrinya, Menurut Biru, Bayi perempuannya mirip dengan Mentari. Ia seakan-akan melihat istirnya di sosok bayi kecil itu.
""Daddy, papa Or ayah ? cocoknya yang mana bayi bayi ku, eum ?!"" ingin sekali rasanya Biru menciumi bayi bayinya, namun peringatan dari Dr Anita teringat keras, it's ok....Yang penting bisa menyentuhnya walaupun seujung jari pun.
""Ayah dan Bunda, Ok ? Ya... Kalian harus memanggil kami dengan sebutan hangat itu, ayah menunggu kalian sayang, cepat tumbuh layaknya bayi bayi sehat seperti lainnya.""
Nyeeees... Kembali sesak terasa di dada Biru, teringat akan bundanya si bayi bayinya ini yang sekarang berjuang antara hidup dan mati. Apakah ada hari bahagia untuk keluarga kecilnya ? Kapan ? Rasanya... Mentari baru kemarin kemarin memeluknya hangat, tapi kanapa berubah menjadi dingin.
""Biru tersenyum hangat jika berada di antara bayi bayinya, Van !""
Di balik dinding kaca luar ruangan, Rose, Radja dan orang tua Biru memperhatikan gerak gerik Biru yang sesekali tersenyum hangat untuk bayinya.
""Benar Rose, anak ku sangat terpukul dalam kondisi Mentari, aku tidak bisa membayangkan nanti kalau sampai Mentari tidak bertahan...aku tidak mau kehilangan anak ku yang satu satunya, Rose....Biru dan Mentari Kompak pernah berbicara kalau mereka itu saling bernafas satu sama lain. Dan itu berarti...Jika salah satunya tidak bernafas..maka satunya pun---- Hiks...hiks.""
""Tenang lah sayang, Mentari akan bangun... cepat atau lembat.. Percayalah, Menantu kita itu wanita kuat dan juga wanita bertanggung jawab."" Titan menarik tubuh Vane masuk kedalam dekapannya yang terisak pilu.
"" Kehilangan memang sangat menyakitkan, aku pernah berada di posisi itu, dan aku berharap jangan sampai terjadi lagi."" Batin Rose, Meneteskan air matanya pun dalam diamnya.
__ADS_1
""Jangan menangis terus ! Ingat kesehatan mu !"" Radja mensentil air mata Rose dengan lembut.
Walaupun dalam keadaan diam, Radja pun sedih luar biasa... Sedih karena setiap hari melihat dan mendengar Rose menangis di dalam kamar yang sengaja di gelapin.