RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 127


__ADS_3

Mentari mengamuk di dalam ruangannya, isi meja kini berada di lantai semua.


"Aarg, kenapa masalah tetiba datang bertubi-tubi, kenapa harus Amma yang menjadi korban orang yang entah siapa, dan ingin apa orang itu melakukan ini, Amma saja tidak pernah mengganggu orang kota satu pun tapi terdampak kepadanya, Siapa sih dal---- Apa jangan jangan....?"" Curiganya mengingat nama seseorang. Ia menenggelamkan wajahnya di atas meja dengan tumpuhan kedua jenjang lengannya. berpikir keras. Apakah Ammanya bisa sembuh seperti sedia kala. Tuhan memang maha pencipta dan penghancur, Tapi sungguh....ia tidak ikhlas kalau Ammanya amit amit akan pergi menemui Amang-nya di alam lain dalam waktu singkat ini.


Biru datang, menggeleng sedih melihat ruangan Mentari berantakan layaknya kapal pecah.


""Petite !"" Elusnya di rambut Mentari. ""Jangan berubah sayang, Tetap lah menjadi Petite ku yang seperti dulu, yang kuat tidak gampang menyerah dalam keadaan , Dan sabar lah... semua ini pasti ada jalannya !"" Ucapnya Menenangkan. "Percaya padaku, dalam waktu dekat ini saya akan membawakan orang itu berlutut di hadapan mu."" Janjinya.


Mentari menampakkan wajahnya yang tenggelam dalam meja, mendongak ke wajah tampan Suaminya, ia tersenyum hambar...Laki laki di depannya ini adalah laki laki hebat yang sabar akan dirinya, Yang begitu mencintainya... yang selalu ada untuk dirinya dalam senang maupun sedih... Apapun yang terjadi di hari yang akan datang...Biru adalah cinta sejatinya, Walaupun akan ada rumor buruk yang akan menjelekkan nama Suaminya, Ia tetap akan berada di samping suaminya berdiri. Ia percaya akan Suaminya sepenuhnya, itulah janjinya kecuali Biru sendiri yang mengusirnya, maka terpaksa ia akan pergi.


""Maaf !"" Mentari memeluk erat perut Biru yang berdiri di samping duduknya. Biru tersenyum lega.""Maafkan saya atas sikap kasar ku tadi yang membentak mu."" Ucapnya.


""Tentu Sayang, tanpa meminta maaf pun aku tidak akan pernah marah kepada mu, Kita jalani dan lewati hari berat ini bersama sama, oke ?""


Mentari mengangguk di dekapan perut Biru.


""Mentari, mau kah kamu bekerja sama sayang ?""


""Apa ?""


Biru melirik ke arah pintu yang tertutup rapat ia juga sudah mengunci pintu itu, takut takut kecurigaannya benar kalau ada kuping yang sedang menempel. Ia punya rencana sendiri untuk membuka kedok orang yang di curigainya, menunggu Dito sangat lah lama memberikan kabar, sedang kan Tangannya begitu gatal untuk membekap tersangka. Bisa saja Biru langsung menangkap orang yang di curigainya, cuma ia takut orang itu mempunyai sekutu, Biru berniat satu tepukan dua atau tiga lalat yang mati. karena orang jahat ini sangat lah pintar berkedok...dan menuduh tanpa bukti sekarang, sangatlah tidak etis.


Biru pun dengan berbisik pelan, menceritakan rencananya, ia menyuruh Mentari untuk tetap bersikap dingin layaknya sedang hancur, menyuruh istrinya juga untuk tetap bersikap dingin ke Senja dalam rencananya ini, bahkan Biru memerintahkan Mentari untuk saat ini berpura-pura memusuhi marganya sendiri yakni Batara. Biru sudah memprediksi bahwa mungkin orang yang sedang mencari masalah di hidupnya sengaja memecah mereka, Biru menyadari ini,setelah mempelajari laporan keuangan perusahaan RD Batara yang tergeletak di ruangan Gema tadi, Tidak mungkin kan tetiba ada laporan palsu tanpa bertuan. Gema dan Mentari kekeuh akan pendiriannya masing-masing yang merasa tidak bersalah. Jadi...ada orang ketiga di sini. pikirnya.

__ADS_1


""Kita juga ? Cekcok ?"" Mentari menyerinyit, matanya memicing tajam ke wajah Biru yang sedang tersenyum devil. Suaminya ini menyuruhnya pula untuk saling bermusuhan.


""Kamu mencurigai siapa ?"" Tanyanya pelan penasaran.


""Sena ! Eh, maksud ku Sena berwajah Sella...apa kamu tidak curiga dengan suara itu sayang, itu adalah suara Sena...coba ingat-ingat kembali saat kamu masih jadi asisten ku dulu."" Bisiknya sangat pelan di telinga Mentari bahkan dengan nakal Biru sengaja menghembuskan nafas berat seksinya di telinga Mentari sebagai hukuman untuk Mentari yang hari ini tidak mendapat kecupan sayang dari pagi sampai saat ini.


""Hist, Geli !"" Usapnya mengambil jarak dari bibir Biru. Tapi benar juga ya...Dasar Mentari bodoh. Batinnya baru menyadari kalau sekretarisnya itu sedikit mencurigakan, apalagi tadi Mentari sudah menangkap basah ada seringai senang dari Sella, saat ia dan Gema sedang bertengkar hebat masalah keuangan. "" Baiklah, mari bermain..."" Ajaknya menyetujui.


Braaak..


Mentari langsung melempar figura berbeling ke Lantai sehingga menimbulkan suara keras keluar ruangan. Biru melotot terkejut atas pergerakan tetiba Mentari. ""Katanya berantem, ya... Ayuk !"" Gelinya melihat ekspresi terkejut Suaminya.


Kirain kesurupan ! Lega Biru.


""Yakin kah kamu sayang kalau ada orang di luar !"" Ujar Mentari pelan.


""Laptop ya ? Mmm...di sini ?"" Cengir Mentari sudah mengamankan layar pentingnya di laci, Sebelum menjadi pelampiasan kekesalannya tadi. Banyak ide pundi pundi di dalam leptopnya, jangan sampai rusak, bisa hancur RD nanti.


Biru menggeleng geli... Ngamuk kok pilih pilih barang, tadi laptop Gema di biarkan hancur, sendirinya, hadeeeeh...kau memang Species langkah sayang.


""Lihat ya !"" Biru menampilkan CCTV lorong ruangan milik Mentari. Lantai ini memang hanya ada dua ruangan... antara punya Gema peninggalan Radja dan ruangan Mentari peninggalan Dewa. di tambah meja terbuka untuk hak sekretaris, jadi jarang sekali karyawan yang tidak berkepentingan menginjakkan kakinya ke lantai itu.


""Wow, ada cicak najis di pintu ku !"" Mentari menepuk jidatnya melihat Sella benar adanya sedang menguping di luar, ia merasa bodoh sudah memelihara serigala berbulu domba di kantornya.

__ADS_1


""Ayo kita berantem sayang !"" Kaki Biru menendang barang barang Mentari yang entah apa di bawah karena penglihatan dan juga tangannya mengangkat tubuh mungil istrinya untuk duduk di meja, setelahnya ia langsung duduk di atas kursi kebesaran istrinya.


""Ayo !"" Senyum Mentari terlihat geli.


Kaki Biru kembali menendang barang, tapi tangan nakalnya mencoba menggoda mesra tubuh Mentari.


""Hais, berantem itu seperti ini !"" Mentari menepis tangan nakal Biru yang ingin menelusup masuk ke kemejanya, dengan polos menampar pipi Biru dengan sekuat tenaga.


""Petite ! aah, sakit tahu !"" Cibiknya cemberut menarik Mentari naik ke pangkuannya.


""Eits, ini kantor ya ?"" Mentari memundurkan wajahnya cepat saat wajah nakal suaminya begitu dekat ingin mencuri ciumannya.


Biru menggeprak meja keras sampai membuat Mentari menjerit kaget, sengaja agar jeritan itu sampai ke kuping Sella alias Sena yang masih di depan pintu padahal sudah di pecat oleh Mentari. ""Hulk mu ini belum mendapat vitamin penyemangat dari semalam sampai saat ini !"" Rengeknya meminta jatah.


""Berantem sayang !"" Goda Mentari mengingat kan. "" Bukan bercumbu tapi BE...RAN...TEM."" Ejanya menekan dengan sangat lirih di telinga Biru. Mentari tidak sadar sudah membangun kan Sagara junio* di bawa sana dengan bisikannya itu.


""Eum berantem, begini kan !"" Kaki Biru kembali bersuara keras, tapi bibir nakalnya sudah mengendus di leher Mentari.


""Hulk, ini kantor.""


""Eum aku tahu...tapi ini hak ku. lagian pintu sudah ku kunci rapat rapat."" Mata dan tangan Biru sudah menggelap. Dengan cepat ia menarik tengkuk istrinya dan menyerang dengan pergerakan lembut. Sekali lagi kakinya menendang asal asalan di bawah sana. Tapi tendangannya kali ini membuatnya sakit karena tulang kering betisnya terbentur keras di bawah meja.


""Aww !" Pekik Biru melepaskan pangutannya. Mentari terkikik pelan.

__ADS_1


""Sakit tidak sayang ?"" Tanya Mentari menggoda. Turun dari pangkuan Biru dan langsung menjerit hebat untuk meyakinkan Sena di luar jika dirinya sedang mengamuk hebat.


Hahaha, Gue puas dengan hasil kucingan ku hari ini.... selamat menderita Mentari. Bahkan Lo juga bersikap aneh di hadapan Biru. Semoga Biru Terbuka matanya...kalau Lo itu wanita aneh.. calon penghuni rumah sakit jiwa seperti ku sebelumnya. Ah, Biru... tunggu aku sayang...Sena mu ini telah kembali dengan berwujud wajah lebih cantik lagi.


__ADS_2