
Sayang, apakah Hulk mu ini pun tidak boleh berada di sini, eum ?
Mendengar suara yang begitu di rindukannya dan begitu di tunggu kedatangannya, Mentari mendongak, cepat cepat berbalik dan langsung mendekap tubuh kekar Biru.
""Hulk....hiks...hiks.. Amma Hulk, Amma---"" Mau mengadu namun suara Mentari tak kuat sampai ke sana, Hanya tangis yang mampu berbicara.
""Hey, Tenang lah sayang. nanti air mata mu kering !"" Biru sengaja berbicara konyol tentang air mata kering biar istri lempengnya yang pintar menjabarkan segala Ensiklopedia ini di jabarkan lagi kepadanya. Tapi.... Mentari diam saja masih menangis, kepekaan terhadap Ensiklopedia lagi eror server rupanya.
Tangan Biru memaksa wajah itu mendongak ke wajahnya, menangkup kedua rahang lembut Mentari. ""Amma akan baik baik saja, percayalah !"" Ujarnya yakin.
""Benarkah ?"" Binar harap Mentari.
""Eum benar...! Aku kan sudah berjanji kepada mu, jadi jangan menangis lagi, Ok !"" Biru menghapus air mata Mentari yang mengenang di pipi. ""Petite ku sangat jelek jika sedang menangis...."" Godanya ""....dan aku rindu ini.....Cup !"" Biru dengan lembut dan penuh kasih sayang mengecup dan melamu* mesra bibir kenyal istrinya cukup lama. Namun Mentari diam saja tak membalas kecupan mesra Suaminya, ia hanya pasrah. Hatinya memang sudah lega...tapi belum seratus persen, takut takut Biru hanya berbohong untuk sekedar menghiburnya saja.
Merasa tidak ada respon, Biru melepaskan pangutannya dengan bibir mencibik cemberut, Akting.
""Hulk, Kamu tidak sedang berbohong kan ? Kamu bukan hanya menghibur ku saja kan ? Apa kamu berhasil mendapat kan penawarnya ?"" Cerca Mentari meminta keyakinan pasti.
""Be---!""
""Pipi mu ? Pipi mu kenapa memar ungu begini ? Apa kamu habis berantem ? kenapa ? berantem sama siapa ?"" Cerewet Mentari baru menyadari bahwa Pipi Biru terlihat lebam.
""Ini bukti....Bukti kalau suami mu ini berhasil mendapatkan penawarnya, walau dengan cara keras dulu---...Ah, sudah lupakan masalah lebam ini yang----!""
Cup cup cup cup
Kini perkataan Biru di potong kecupan dari Mentari. Semua wajah tampan dan sedikit lebam itu di absen oleh istrinya. Suaminya rela bertarung entah siapa di sana.
""Terimakasih..... Terimakasih, beribu terima kasih, Aku beruntung.... Sangat beruntung memiliki mu !"" Dan giliran si imut ini yang menyerang bibir Biru penuh kasih sayang dan kemesraan.
""Ment-----Hais !"" Dari pintu roof top, Jum dan Satria muncul...Niat ingin memberi kabar ke Mentari kalau Rose sudah tidak dalam keadaan kritis lagi...Tapi Wow, Jum mendapat pemandangan langkah dari pasangan suami-istri yang baru bertemu dalam beberapa hari ini.
""Mesra ya Jum ? Kamu mau nggak ?"" Goda Satria menaik turunkan alisnya beberapa kali di hadapan Jum.
""Astaga, beginikah kelakuan orang kota, Seenak jidat mengajak begituan, Gue beri Lo sini !"" Oceh Jum mengepalkan tangannya, mengancam Satria.
__ADS_1
""Hahaha, Bercanda...ayo kita pergi jangan ganggu suami istri itu yang tidak mengenal tempat !"" tawa garing Satria menyadarkan Suami istri yang masih kangen kangenan tersadar.
""Ayo, Kita ke bawah... Menanyakan keadaan Amma ke dokter Farel."" Ajak Biru.
""Eum, ayo ! Tapi....""
""Gendong ? iya kan ? tak masalah...aku rindu sikap manja ini !"" Biru berjongkok di depan Mentari. Dan wanitanya itu dengan santai melompat pelan ke punggung Biru. Sehingga sudah seperti monyet yang menggantung di belakang tubuh induknya.
...*****...
Sampai di koridor rumah sakit, Posisi Mentari masih sama, di punggung Biru seraya berjalan mendekat ke rombongan keluarga. Dan itu berhasil mengundang mata seluruh keluarganya yang masih setia berada di luar ruangan Rose di rawat. Radja menggeleng geli akan kelakuan ponakannya dan Mantan mahasiswanya ini.
Senja pun di buat penasaran, Mendekat dengan rasa cemas... takut takut adiknya itu dalam keadaan tidak baik.
""Bi ? Mentari kenapa ?""
""Tidak apa apa, dia hanya sedang malas berjalan. iya kan Petite ? Tanyanya ke Mentari.
""Apanya ? dia itu terpejam ?"" Ujar Senja memberi tahukan.
""Bawa saja dia pulang mungkin dia sedang capek. Dan Bi, Terima kasih atas perjuangan mu, Aku berhutang budi pada mu, berkat dirimu, Amma akan sembuh dalam beberapa hari ini !"" Senja mengatupkan kedua tangannya di hadapan Biru untuk rasa sopan dan Terima kasihnya.
""Hais, Kenapa harus begitu... pakai berterima kasih segala...Amma mu adalah Amma ku juga, Aku kan menantunya...Jadi santai lah...aku pulang Semuanya !"" Pamit Biru melirik satu persatu keluarga Mentari. Sejurus kemudian matanya bersibobrok dengan keberadaan Vane-Mamanya yang memasang wajah imutnya. ""Ma, Mau di antar ?""
""Tidak, pergilah ! ada Dito yang akan mengantar Mama pulang !"" Jelas Vane tersenyum hangat ke Biru.
Biru melirik Dito yang berada di samping Satria.
""Dit, jagain mama ku sampai masuk ke rumah, Jangan sampai ada gores sedikitpun, Nanti kamu akan di makan oleh Tuannya alias Pak Titan yang sibuk itu."" Tengil Biru mendumelin Papanya sendiri yang masih bekerja di kantor. Vane menggeleng geli akan ucapan anaknya.
""Siap Bos !"" Takzim Dito. Dan Biru pun berlalu pergi dengan Mentari tidur nyenyak di punggungnya. Hati Mentari tenang di dekat Biru, Begitupun sebaliknya....Hati Biru tenang jika Mentari ada di sampingnya. Begitulah salah satu definisi pernikahan mereka...saling menenangkan dan saling melengkapi satu sama lain.
...****...
Langit membawa paksa Senja untuk menemui Chris di kediamannya di waktu malam hari setelah Senja dari rumah sakit pria itu tak memberi kesempatan kepada Senja walau hanya sekedar ganti baju.
__ADS_1
Dan di sinilah mereka di depan ruang kerja Chris masih berdiri. Senja mengetuk pintu dengan perlahan seraya bersuara. Langit hanya berdiri di belakang Senja seraya melipat tangannya di dada.
""Masuk !"" Suara Chris terdengar dari dalam. Pasangan suami istri yang sedang merencanakan perpisahan itu pun masuk dengan Senja berjalan di depan.
""Malam, Pa !"" Sopan Senja terus berjalan mendekati Chris yang Sibuk membersihkan pigura keluarga kecilnya dengan tissu... Langit kecil dan mendiang istrinya ada di pigura tersebut. dan mata Langit tertuju ke objek yang di bersih kan papanya.
""Wow, Papa kedatangan anak mantu, manis sekali... apakah ada kabar baik sayang...Senja sini... Lihatlah ini !"" Tunjuknya ke Pigura keluarga kecilnya.
Rasa tak enak hati menyerang Senja kali ini, ia tidak tega akan hal penyampaian perpisahannya dengan Langit. Berat...tapi Senja harus maju demi Langit yang ingin bahagia karena mendambakan kebebasan dari pernikahan bodohnya.
""Ini Langit sewaktu masih kecil ! Lucu kan ?"" Senyum hangat terlukis di bibir Chris. Ia melirik Langit yang membuang wajah.
Reflek Senja tersenyum melihat foto Langit yang terlihat gembul memancing untuk di jawil gemes. ""Apakah ini istri Papa ?""
""eum, cantik kan ? seperti dirimu, cantik dan pintar.... Langit beruntung memiliki mu !"" Goda Chris.
Langit masih dalam mode diam tenang. Senja membuang Nafasnya gusar. ""Tidak pa ! Sebenarnya Saya kesini ingin menyampakian kalau kami memutuskan untuk berp----!""
""Senja... tolong ! Tolong ambil obat jantung papa di....!"" Tinjuk Chris di meja lain dengan tangan memegang dada seakan kesakitan.
""Jantung ?"" Kaget Senja. Langit pun terkesiap hebat. Papanya punya penyakit jantung ? kapan ? perasaan papanya tidak pernah mengeluh akan kesehatannya.
Spontan mereka berdua beranjak ke meja tersebut. Langit mencekal obat dan Senja menarik segelas air minum.
""Pelan pelan pa !"" Ujar Senja setelah Langit menyuapai Dua butir langsung kedalam mulut Chris dan Senja dengan lembut membantu memegangi gelas yang di tengguk perlahan oleh Chris.
Sepuluh menit berlalu hanya keheningan, Senja dan Langit masih diam menunggu kestabilan jantung Chris.
""Ayo katakan ada apa ?"" Chris mulai mengeluarkan suaranya.
Senja dan Langit saling pandang. Apakah ini waktu pas untuk menyampaikan maksud di antara mereka. Apakah penyakit jantung yang entah kapan adanya akan terpengaruh nantinya jikalau mendengar keputusan mereka... Entahlah... Tapi Senja tidak mau mundur, Ia tidak mau melanjutkan pernikahan bodoh ini yang akan membuat hatinya semakin terluka
dalam. Apalagi si Mendung selalu saja menghina dan merendahkan dirinya.
""Nanti setelah Farel ke sini !"" Langit menarik Senja cepat untuk pergi dari hadapan Papanya.
__ADS_1
Kepergian anak mantunya, Chris tersenyum licik. Apa pun itu, Papa tidak akan membiarkan kalian berpisah... Panggil sana, Panggil Dokter Farel... siapapun itu, papamu ini akan menyumpel Farel demi kalian. Liciknya dalam rencananya bersama Satria.