RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 192


__ADS_3

""Nda, cepat tembuh ya "


"" Kami pelgi dulu.""


Pelangi dan Badai bergantian naik ke atas kursi untuk bisa mencium pipi Bundanya yang berwajah bingung dapat panggilan Bunda dari anak anak manis di hadapannya. Topan pun mengikuti cara kedua adiknya tanpa banyak suara, Topan langsung mengecup sayang di pipi Mentari. Ketiga pasang mata itu berbinar senang.


Alhamdulillah, Mentari tak membantah panggilan anak anak. Lega Biru dalam hati, menggiring Tripletsnya keluar ruangan, Biru sengaja menyuruh Dito untuk membawa pergi anak anaknya, Takut takut ada perkataan yang membuat si kembar salah paham terhadap Bundanya sendiri.


""Amma, Amang...Anak anak itu siapa sih ? Kenapa mereka memanggil Tari Bunda ?"" Keluar juga pertanyaan itu yang sedari tadi Mentari bingung kan.


Radja dan Rose saling lirik, Bingung harus mengatakan apa. Biru yang baru masuk lagi pun mendengar sepenggal pertanyaan Mentari.


"Dia anak anak kembar ku..... Lebih tepatnya anak kita Mentari, Maaf atas kelancangan mereka dan tolong maklumi karena mereka telah haus kasih sayang dari seorang Bunda."" Ujar Biru sendu.


""Tari sayang, tak apa kan mereka manggil kamu seperti itu, Mereka kan masih kecil jadi tidak baik mematahkan hati yang masih polos itu."" Timpal Rose membantu Biru.


""Mereka itu anak anak manis sayang, jadi tak apa ya mereka manggil kamu Bunda, kan nanti seru tuh...balik dari sini, Tari punya teman tiga sekaligus."" Bujuk Radja pun.


Mentari mengangguk membetulkan perkataan Radja rasa Amang-nya, Yang katanya anak kecil itu anak anak yang manis. Buktinya saja ke tiganya memijat mijat nya penuh perhatian.


""Baiklah, Tari mau ! Tapi satu pertanyaan Tari, Bunda mereka ke mana ?""


Ketiga pasang mata sekarang ini lagi lempar pandang. jawabannya apa ?


""Kecelakaan mobil berujung koma."" Jawab Biru dengan suara bergelombang.


Kasian juga ya ! Batin Mentari.


""Amma, Terus Om Cabu* ini siapa ? Kenapa dia masih di sini ?""


Mentari begitu bawel di telinga Rose. Biru berpikir keras mencari alasan agar bisa terus di sisi Mentari, apalagi kata Dr Farel, Mentari harus terapi Tulang terlebih dahulu biar bisa jalan kembali normal, Kaki itu melemah tak bisa jalan karena sarafnya selama tiga tahun ini tidak di pergunakan.

__ADS_1


""Saya Dr, Ya Dr !""


Rose dan Radja kompak menatap Biru atas jawabannya yang berbohong. Dr Farel yang kebetulan baru masuk pun terdengar lucu. Senyum kecil mengembang di bibirnya.


""Dr ? Kenapa tidak memakai seragam seperti Dr satu itu. Apa Om Cabu* bohong ya ?"" Selidik Mentari ragu, Tadi soalnya si Om ini menciuminya selebar wajahnya. Mana ada dokter seperti itu ? Pikirnya, Pasti Dr Cabu*.


""Seragam ?"" Lirik Biru ke sampingnya yang sudah ada Farel, berdiri menunggu alasan apa lagi yang akan Biru ucapkan.


""Wah, Kamu ya asisten apa sih ?! berani beraninya memakai seragam milik saya, ayo copot ! Copot berikan ke saya ! saya pecat jadi asisten, mau ?!"" Galak Biru.


Dan Farel dengan geli menggeleng geleng, tanda tak mau di pecat seraya mencopot jas putih itu dan menyerahkannya ke Biru.


""Jangan pecat ya pak DOKTER, maaf !!!"" Farel menahan senyumnya, Biru begitu kocak di matanya, Sangat tidak cocok memakai seragam dokter miliknya. Lihat saja mata tajam itu...ish, Dokter kok terlihat tajam...nanti kasihan pasiennya, bukannya sembuh malah bertambah komplikasi kejang kejang ayam setelah mendapat delikan dingin dari Dr Sagara.


Rose hanya menggeleng salut atas perjuangan mantunya yang sayang ke Mentari melebihi apapun.


Sementara Radja menahan cekikannya dengan cara menutup mulutnya menggunakan satu telapak tangannya.


""Percaya sajalah ! Jadi Om ca---Pak Dr, kapan Tari bisa pulang ? Tari bosan di sini, pasti embe embe Tari minta makan deh !"" Mentari mengira kalau ia berada di desa.


""Tari sayang, dengar kan Amma ! Kita sekarang bukan di desa lagi, kita sekarang ada di kota, kambing Tari sudah Amma jual semua bu---!""


""Hah ? di jual ? si Tor, kesayangan Tari di jual juga, kok bisa Amma, Amang ? Tor kan jelmaan pangeran Tari, Kalau Tor sudah di jual , pangeran Tari siapa dong. ish..Amma sama Amang tega amat jual Tor ku !!!""


Wajah pucat itu terlihat murung, Si tor atau kambing jantan kesayangannya di masa itu di jual Ammanya, Padahal si Tor sudah di sebelih qurban atas nama Mentari sendiri di kala itu.


""Sudah sudah, Kenapa malah cemberut begitu, Amma dan Amang kamu itu terpaksa menjual siapa tadi tuh nama kambing kamu...""


"" Si Tor."" Ketus Mentari menyahut Biru.


""Ya itu, si Tor mu di jual karena terpaksa, Amma mu tidak punya uang untuk merawat mu dan membawa mu ke kota cuma sekedar berobat. Sekarang kamu istrihat lagi, besok terapi penyembuhan saraf tulang akan di mulai, Asisten... Tolong beri dia obat penenang.""

__ADS_1


Dan Farel pun memberikan hormat benderanya ke Biru. Sang Asisten yang bekerja layaknya dokter, Cuy ! Batin Farel ada lucunya tapi ada juga gondoknya ke Sagara ini yang seenak jidat dan sok tahu akan pekerjaannya yang sudah di tekuninya.


Berangsur Mentari pun memejamkan matanya setelah obat bius cair masuk ke tubuhnya melalui selang infusnya.


""Kalian pergilah, Mentari biar aku yang jaga dan Amma, tolong jaga Triplets ya, malam ini aku akan tidur di sini !"


""Serahkan kepada Amma !"" Tepuk lembut di pundak Biru, Rose dan Radja Serta Farel pun beranjak akan pergi.


""Eits, Dr Cabu*, Tolong kembalikan jas kebesaranku dong !"" Farel mengoda, saat berkata Dr Cabu* Suaranya di lenje sebisa mungkin.


"" Cih, Jas bau juga !"" Copot Biru ke seragam itu. Farel tertawa kecil.


"" Bau bau juga membantu mu Dr Cabu*, Hahahaha."" Gelaknya tak bisa di tahan lagi.


"" Ya, Ni ambil lah...Besok gue minjam lagi, gue nggak mau ya terapi besok Lo pegang pegang kulit istri gue...Lo hanya perlu memberikan instruksi saja, biar gue yang bekerja, Ok Asisten..Good out !"" Songongnya mengusir.


Dr Farel sigap menangkap jas putihnya yang di lemparkan Biru. "" Terimakasih dong atau besok jas penolong Lo ini akan gue beri ta* kucing di sakunya supaya pasien spesial mu kagak betah di dekatmu."" Godanya mengancam.


"" Pergilah, Thanks sekebon !""


""Hahahaha, gitu dong !"" Farel menutup ruangan itu masih membawa gelak gelinya sudah berhasil menggoda si Datar Biru.


Kepergian Farel, Biru beranjak ke sisi peraduan Mentari yang tidur karena obat penenang. Ia rindu, sangat rindu ingin memeluk istrinya dalam berbaringnya, selama ini ia tidak bisa berbaring di dekat istrinya karena adanya alat medis yang terpasang sana sini untuk penopang kehidupan Mentari.


""Petite, aku senang kamu sudah sadar sayang, dan semoga secepatnya kamu mengingat ku.""


Biru mengabsen wajah itu dengan kecupan rindunya. Terakhir bibir itu pun ia beri...Manis ! selalu manis walaupun tak ada respon dari Mentari, tapi ia akan sabar menunggu lagi.


"" I Love Petite."" Bisiknya di telinga Mentari, memeluk erat setelah kepala istrinya di taruh di lengannya sebagai pengganti bantalnya.


Biru tak ada henti-hentinya mencuri aroma istrinya yang selama ini di rindukannya. Hanya kesempatan ini saja mungkin ia bisa memeluk istrinya, Karena adanya memori indah itu yang hilang.

__ADS_1


__ADS_2